
"Assalamualaikum ...." Suara Kak Zian dari arah pintu. Dia datang bersama Mama Ani, mertuaku.
"Waalaikum salam ...." Mama mempersilakan Kak Zian dan Mama mertua masuk.
Duh, Kak Zian bagaikan hantu. Tiba-tiba datang pas dirasani.
"Bagaimana kondisinya, Om?" tanya Kak Zian pada Papa.
"Sudah lumayan, Nak. Jangan panggil om, panggil saja papa," pinta Papa membuat Kak Zian salah tingkah.
"Ecieee ... kedatangan calon mantu," celetuk Naya membuat semuanya jadi tertawa kecil. Hanya aku yang diam. Seperti biasa dalam hati dongkol.
Papa tambah semringah dengan kedatangan Kak Zian.
"Papa bahagia kalau ada Zian. Papa sempat khawatir karena ada pencuri masuk rumah. Terima kasih, Nak. Sudah menolong dan melindungi Faizara."
Papa bahagia kalau ada Kak Zian? Aku tambah sebal.
"Iya, Om, eh ... Pa. Semoga Papa senantiasa bahagia agar sakitnya segera pulih. Tadi malam itu, saya sangat takut Faizara diapa-apain sama dua pencuri ...."
Kak Zian pun menceritakan kejadian semalam. Aku menguap. Bosan. Apalagi melihat binar bangga di mata Papa. Papa tentunya semakin mendukung Kak Zian agar menjadi suamiku.
Hadeuh!
Naya tak berkedip melihat Kak Zian bercerita. Kusenggol lengannya. Naya mendekatkan bibirnya ke telinga.
"Aku kasian liat muka Kak Zian. Bonyok gara-gara menolong Mbak, tapi Mbak nggak berterima kasih padanya, sungguh terlalu," bisik Naya membuatku mual. Ngapain juga aku berterima kasih padanya?
"Meski lebam, tapi Kak Zian tetap tampan," bisik Naya lagi. Aku semakin enek mendengar kata tampan.
"Hoek ... hoeeekkk!" Aku mau muntah. Semua mata tertuju padaku.
"Kenapa, Fai?" tanya Kak Zian mendahului yang lainnya. Dia seperti refleks sampai berdiri dari duduknya.
"Nggak, apa-apa, kok ...." Aku menutup mulutku. Kak Zian sok perhatian terus.
"Mungkin kamu masuk angin karena semalam kehujanan, hatciiiih!" Kak Zian bicara lalu bersin.
"Ehhem! Ada yang sangat perhatian rupanya. Masuk angin saja kompakan. Pasti karena semalam habis hujan-hujanan bareng. " Naya kembali menggodaku dan Kak Zian.
Pengin kujewer telinga Naya.
Kak Zian menggaruk rambutnya. Terlihat malu. Mama mertua dan Mama Papaku juga bergantian melihat pada kami.
"Ngg ... saat tadi malam menjemput Faizara di acara ulang tahun temannya, kami kehujanan. Terus, masih harus berurusan dengan pencuri itu." Kak Zian bersin-bersin lagi.
"Iya, pasti kalian kelelahan. Setelah pulang segera istirahat," saran Mama.
__ADS_1
"Iya, Ma." Aku dan Kak Zian tanpa sadar menjawab kompak.
"Ecieeee ... so sweeet bangeeeet ...."
Naya terus menggoda. Kucubit lengannya membuat dia mengaduh. Semuanya tertawa membuat suasana hatiku semakin jelek, yakin kakak iparku semakin gede rasa karena didukung keluargaku. Asem!
❤❤❤
Sepulang dari rumah sakit, aku mengajak Naya ke makam Mas Raka.
"Mas ... kenapa Mas harus pergi secepat ini? Aku merasa terombang-ambing setelah Mas pergi. Hidupku jadi tak karuan."
Aku tak kuasa menahan tangis. Memeluk batu nisan Mas Raka erat. Rasa sedihku kembali membuncah.
Ingat kebersamaan kami yang penuh cinta dan kasih sayang. Tak akan ada pria lain yang bisa menggantikan Mas Raka. Tak akan ada.
Naya di sebelahku membaca Alfatihah untuk Mas Raka. Sampai siang dan matahari bersinar terik, rasanya enggan untuk pulang.
"Ayo, pulang ... Mbak," ajak Naya.
"Kamu pulang duluan saja."
"Ya udah, aku pulang bareng sopir. Aku akan telpon Kak Zian biar Mbak dijemput."
"Enak saja!" dengkusku. Aku mencium batu nisan Mas Raka. Lalu berdiri dan mau diajak pulang. Takutnya Naya serius dengan ucapannya, kalau dia menelepon Kak Zian bagaimana?
Sampai di dalam mobil aku masih menangis.
"Masa depanku sudah hancur, Nay ...."
"Ya elah, Mbak ngomongnya negatif terus. Masih ada Kak Zian yang akan membahagiakan Mbak. Percaya deh sama aku."
"Kamu sok tau! Mana ada orang yang sangat aku benci akan membahagiakan aku?"
Aku cemberut. Air mata tak mau berhenti keluar sampai kedua mataku perih.
"Ya itu karena Mbak mendramatisir kejadian yang sudah lalu. Hanya berawal dari surat dari Kak Zian itu, kan? Padahal tujuannya baik, kok. Mbak saja yang lebay sampai sebegitu bencinya pada Kak Zian. Papa dan Mama pasti bahagia bila Mbak menikah dengan Kak Zian, Mas Raka juga bakalan tenang di alam sana ...."
"Hati tidak bisa dipaksakan, Nay. Lagi pula aku sudah punya calon. Pria yang mencintaiku dari dulu. Hatiku lebih condong padanya ketimbang Kak Zian." Aku melihat ke luar kaca mobil. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir seiring dengan ide yang tiba-tiba muncul.
"Jadi Mbak nggak mau menikah dengan Kak Zian? Serius?" Mata Naya melebar.
"Serius, lah!"
"Kalau gitu, ini membuka peluang untukku untuk bisa mendekati Kak Zian." Naya merentangkan tangannya sambil tersenyum jail.
"Nikah aja sono!" Aku menanggapi cuek lelucon Naya yang tidak lucu. Aku sedih, dia bercanda terus. Mana yang dia bahas Kak Zian terus.
__ADS_1
❤❤❤
"Faiza, aku minta maaf banget karena tadi malam itu aku mabuk berat, terus paginya Papa memintaku mengurus bisnis barunya. Jadi sampai sore aku sibuk. Baru sekarang aku bisa datang ke sini."
Malam ini Reno datang ke rumah. Tampak penyesalan di wajahnya. Dia duduk di ruang tamu.
"Iya, aku hanya kecewa pada si Heni itu. Dia sepertinya mencampur minumanku dengan obat perangsang." Aku mengeratkan gigi-gigiku bila mengingat kejadian itu.
"Hah? Apa? Awas saja dia! Kurang ajar sekali!" Reno emosi, dua tangannya mengepal. "Tapi, kamu tidak apa-apa, kan? Terus siapa yang menjemputmu?"
"Kak Zian ...."
Saat kusebut nama Kak Zian, Reno mengusap wajahnya kasar.
"Kalian tidak ngapa-ngapain, kan?" Suara Reno terdengar berat. Ada nada cemburu dari nada suaranya.
"Tidak, lah. Bukan hanya itu. Rumah ini juga didatangi pencuri. Kak Zian yang menolongku saat dua pencuri hampir memperkosaku."
"Ya ampun, untunglah kamu baik-baik saja ...." Reno berkata pelan. Lesu.
"Kamu kenapa loyo begitu? Kamu kira aku terkesan dengan kakak iparku?" tanyaku, memperhatika Reno yang terlihat tidak bersemangat.
Reno menunduk. Menautkan jari-jari tangannya.
"Aku cemburu, Fai ...." Reno melepas napas berat.
"Ren, kamu cemburu? Berarti kamu benar-benar cinta kan, sama aku?" Aku memegang dua tangan Reno.
Seketika Reno mendongak dan menatap kedua mataku.
"Aku sangat mencintaimu, Faiza ... jangan diragukan lagi," kata Reno mantap.
"Kalau begitu, kenapa kamu dari dulu hanya diam saja? Kenapa mau-maunya jadi makcomblang buatku dan membiarkan hatimu sendiri yang terluka? Kalau kamu mencintaiku, segera lamar aku pada orang tuaku, sebelum keduluan orang lain, sebelum keduluan Kak Zian ...."
Reno membulatkan matanya. "Serius, Faiza? Kukira kamu nyaman denganku hanya sekadar sahabat saja makanya aku tak pernah mengungkapkan perasaanku agar tidak merusak persahabatan kita. Aku nggak menyangka ... kamu mau menjadikanku ... sebagai pasangan hidupmu!"
Reno saking bahagianya dia menarikku ke pelukannya. "Terima kasih, Faiza ... terima kasih. Kalau Om sudah pulang dari rumah sakit. Aku akan mengajak Papa untuk melamarmu."
Reno berkata penuh semangat.
Aku mengangguk. "Iya, lebih cepat, lebih baik, Ren."
Reno semakin memelukku erat. "Sahabatku, cintaku. I Love you ...."
Reno mencium puncak kepalaku membuatku terkesiap.
Aku terpaksa melakukan ini agar tidak dinikahkan dengan Kak Zian. Aku tak pernah punya perasaan lain pada Reno selain hanya menganggapnya sebagai sahabat saja ....
__ADS_1
Aku juga hanya memperalat Reno. Aku tersenyum, licik memang. Tapi, aku harus segera bertindak.
Bersambung