
Dia tanpa berkata-kata lagi meneteskan obat merah pada lukaku, dan dengan segera membalutnya dengan perban. Aku terisak dan mendesis karena perih.
Kami berdiri berhadapan, wangi parfumnya yang maskulin tercium hidung. Pun napasnya hangatnya berembus ke mukaku karena kami berdiri cukup dekat.
Aku sama sekali tidak senang dengan tindakannya ini karena masih sangat kesal padanya meski dia berusaha membantuku begini, sama sekali tidak meredakan emosiku padanya.
Saat dia selesai memasang perban ....
“Minggir!” ucapku kasar, tak sudi mengucap terima kasih padanya.
Kak Zian mendongak, sejenak tatapan kita bertemu.
“Minggir!” ulangku. Kali ini aku sambil melotot padanya. “Apa lihat-lihat!”
Kak Zian menautkan dua alis tebalnya, memberikan jalan dengan bergeser ke arah kiri sambil mengusap dadanya.
Mungkin kaget karena aku terus marah-marah padanya.
“Lewat saja, Fai. Gak usah marah-marah,” katanya dengan nada lembut.
“Huh! Dasar pembawa sial!” gerutuku sambil mengentakkan kaki dan pergi dari dapur.
Perut sakit, luka di tanganku juga terasa perih. Ditambah masih kesal dengan kakak iparku itu. Membuatku tak bisa menahan tangis sampai di kamar.
Kututup mulutku agar suamiku tak mendengar tangisku. Tapi, Mas Raka menggeliat, lalu membuka matanya.
"Hmmm, Sayang, belum tidur?" Mas Raka memicingkan matanya sambil melihat padaku.
"Be-belum, Mas."
"Hei, kenapa kamu menangis, Sayang?" Mas Raka beringsut setelah menyadari aku menangis. Wajahnya keheranan.
"Ini, tanganku kena pisau." Kutunjukkan tanganku yang diperban.
"Ya Allah, kapan? Kok bisa malam-malam kena pisau?" Mas Raka meniup-niup tangan kananku.
"I-itu aku ...." Aku tak ingin menjelaskan kalau barusan marah pada Kak Zian sambil menggebrak meja lalu tanganku terkena pisau. "Aku barusan ke dapur karena perutku sakit. Kalau haid aku selalu begitu."
Itu yang keluar dari mulutku. Lagi-lagi tak jadi memberitahu yang sebenarnya.
"Oh, kok nggak bangunin aku, Sayang. Hmm ... gimana sekarang?" Mas Raka beralih mengelus perutku. Masih dengan nada khawatir.
"Sudah mendingan." Aku tak ingin pembahasan ini berlanjut. Padahal perutku masih sakit.
"Biasanya diapain biar sembuh?" Mas Raka mengusap air mataku.
"Dikompres air hangat, atau minum kunyit asam. Hanya, aku tidak punya persediaannya."
"Oh. Ini belum dikompres?" tanya Mas Raka perhatian.
"Belum, aku gak jadi mengambil air karena tangan kena pisau." Aku menjelaskan tidak nyambung.
"Biar Mas ambil air hangat, ya." Mas Raka tersenyum. Dia memintaku berbaring. Diusapnya air mata di pipiku lagi dan dikecupnya keningku.
"Maaf mengganggu Mas malam-malam begini."
"Nggak apa-apa, Sayang ...." Mas Raka menyentuh pipiku dengan lembut. Perlakuannya selalu membuatku meleleh.
Mas Raka keluar, tak lama masuk lagi membawa baskom air hangat dan sepiring ... singkong rebus.
"Kak Zian ngerebus singkong malam-malam. Pasti enak ini, kamu mau, Sayang?"
__ADS_1
Berarti Mas Raka bertemu Kak Zian? Semoga dia tidak menceritakan apa-apa.
"Ti-tidak, Mas. Makasih, aku tidak suka singkong," tolakku. Aku tidak suka singkong, dari kecil memang eneg kalau makan singkong meski sedikit.
Mas Raka memintaku berbaring. Dia mengambil handuk kecil dan mengompres perutku.
"Hm, melihat perut begini, mas jadi gak sabar pengin perut ini membuncit ...."
"Yeee, jadi Mas lebih suka perut buncit daripada perut langsing begini?"
Mas Raka tertawa kecil. "Bukan Sayang, maksud Mas, pengin perut ini ada isi dedek bayinya gitu, anak kita."
Aku pun jadi sedikit terhibur dan ikut tertawa pelan, "Oh ... kukira Mas penginnya aku gendutan."
"Mau langsing atau gendut, Faizara adalah cinta sejatiku. Cinta hidup dan matiku.”
"Dih, gombaaaal! Jangan sebut kata mati, dong, Mas.” Aku berkata manja.
“Emang kenapa kalau bilang cinta hidup dan matiku, hm?” Mas Raka mencubit pipiku.
“Aku takut kalau bilang mati,” sahutku.
Mas Raka tertawa. “Semua yang hidup ya bakalan mati, Sayang. Masa mau hidup terus?”
“Iya, jangan bahas kata itu, ah!” Aku memeluk suamiku tersayang. Merasa nyaman berada di pelukannya.
“Oke, Sayang.” Mas Raka pun menggodaku dengan memelukku sangat erat.
“Jangan kenceng-kenceng, Mas!”
“Why?”
“Sesaaaak!”
“Yuk, cobain makan singkong rebus, ini alami. No bahan pengawet.” Mas Raka tiba-tiba ingat dengan singkong rebus buatan Kak Zian. Dia mengajakku bangun.
Alamak! Mas Raka mengambil sepotong dan mendekatkan ke mulutku.
“Nggak mau, Mas!” Aku menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Coba bayangin singkong rebus ini makanan favoritmu, Sayang. Nanti kamu juga bakalan suka. Yuk, cobain.”
Aku melihat sepotong singkong rebus itu, yang terbayang bukan makanan favoritku, tapi ... wajah pria berkulit sawo matang, dengan cambang tipis di kedua pipinya ....
“Hueeeek, hueeeek!” Aku langsung mau muntah. “Jauhkan, Mas. Jauhkan ...!”
Kudorong tangan Mas Raka yang memegang singkong.
“Maaf, maaf, Sayang.” Mas Raka meletakkan kembali singkong itu di piring.
“Hiiih, wajah singkongnya jelek!” ejekku kembali mau muntah.
“Hah? Sejak kapan singkong punya wajah?” Mas Raka bertanya heran.
“Maksudku, singkongnya jelek.” Aku bergidik. Jelek persis yang ngerebus! Wew ....
“Oalah, kamu ini lucu, Sayang. Singkong ini dibawa jauh dari gunung oleh pria tampan dan berbadan kekar ....” Mas Raka tersenyum simpul. Memuji kakaknya.
“Dih!”
❤❤❤
__ADS_1
Naya tertawa ngakak saat aku curhat via video call. Mas Raka sudah ke kantor, jadi aku memilih cerita pada Naya pagi ini.
"Ih, Dek. Apanya yang lucu? Mbak lagi bete malah diketawain," sewotku. Melihat adik semata wayangku itu terpingkal-pingkal.
"Lah, kakak ipar Mbak itu gak salah apa-apa. Dia benar, memperingatkan agar Mbak nggak pakai handuk saat jemur cucian, lalu Mbak marah padanya. Apanya yang salah? Sampai Mbak marah-marah pada dia?"
"Iya, tapi aku sebal, dia sudah melihat tubuhku saat handukku jatuh." Ah! Aku mengeratkan gigi.
Kulihat adikku yang baru saja lulus SMA itu menutup mulutnya sambil membulatkan matanya.
"Hah? Jadi handuk Mbak ... melorot?"
"Iya." Aku menyahut sambil mendesah berat.
"Berarti kakak iparnya melihat ...? Waduh!" Naya tepuk jidat.
"Iya, lah. Seandainya dia tidak mengirimi surat itu. Aku tidak akan tau kalau dia melihat auratku, huh! Dia sengaja membuat aku malu, itulah kenapa aku marah padanya," keluhku manyun sambil melihat tangan kananku yang masih diperban.
"Yeee, Mbak kan memang pakaiannya masih mini-mini.”
“Iya, sih. Tapi dia melihat tubuh telanjangku, Nay!”
“Iya, apalagi tubuh Mbak ada korengnya.” Naya tanpa rasa bersalah kembali menggodaku.
“Ck! Mulus tau!”
“Lagian tumben Mbak nyuci sendiri, kan ada pembantunya? Mbak kan paling malas kalau urusan cuci mencuci."
"Aku cuma cuci pakaian dalamku, kok.”
Di rumahku sendiri, aku memang tak pernah mencuci pakaian yang berat. Hanya kadang mencuci pakaian dalamku saja.
"Terus apesnya handuknya melorot dan diliat kakak iparnya lalu Mbak emosi kepingin si kakak ipar segera enyah dari sana." Naya lagi-lagi tertawa geli.
"Iya, aku sebel pokoknya sama dia! Lihat, tanganku tadi malam kena pisau saat aku marah-marah padanya." Aku memperlihatkan tangan kanan yang diperban, luka ini masih terasa sakit.
"Hah? Mbak marahin dia? Sambil pakai pisau, waduh ... Mbak kok sadis!" Naya bergidik.
"Bukan mau nusuk dia juga kaleee ... ini karena Mbak menggebrak meja tak sadar ada pisau."
Naya menyemburkan tawanya," Mbak kena karma itu!"
Aku memajukan bibir. Di otak mulai mencari cara agar kakak iparku itu tidak berlama-lama lagi di rumah suamiku. Tapi bagaimana caranya?
"Dek, ada ide? Agar si Zian itu tidak betah di sini?" tanyaku sambil memicingkan mata.
"Serius Mbak ingin mengusir kakak iparnya?"
"Serius, Dek. Hih, aku berasa alergi ada dia di sini."
"Ya ampun, Mbak Fai jahat banget, sih?" Naya menggelengkan kepalanya.
"Biarin, Mbak mau dia segera pulang."
"Huu ... aku jadi penasaran sama kakak iparnya, seperti apa sih wajahnya?"
"Jelek!" sahutku jutek. "Brewokan, penampilannya ndeso banget."
"Kalau kita benci sama seseorang, ya jelas terlihat jeleknya saja lah, Mbak. Coba kalau kita cinta, yang baik-baik saja kan yang dilihat. Dah lah, Mbak jangan terlalu benci sama kakak iparnya," saran Naya. Tumben adikku itu tidak mendukungku.
"Sok bijak," cibirku membuat Naya kembali tertawa.
__ADS_1
Bersambung