Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Buruk Rupa


__ADS_3

Aku minta diantar ke makam Mas Raka setelah dari apartemen Reno. Sungguh aku syok melihat Reno berada di kamarnya dengan wanita lain. Semakin besar keraguanku pada Reno. Dia bukan pria yang layak mendampingiku.


Malam ini, suasana sepi kuburan tak aku pedulikan. Angin malam membawa aroma bunga Kamboja ke hidungku.


Duduk di sisi makam Mas Raka, aku menangis.


"Mas, tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Sulit bagiku untuk bisa membuka hati untuk orang lain. Aku kecewa pada Reno, Mas. Aku tak akan menerima dia untuk menjadi pendamping hidupku."


Aku berbicara seolah-olah ada Mas Raka di hadapanku. Mencurahkan semua keluh kesahku sambil mengelus batu nisan Mas Raka.


❤❤❤


"Mbak kenapa nangis? Mbak seharusnya bahagia kan, sudah bisa jalan lagi?" tanya Naya, menyusulku ke kamar karena melihat aku menangis.


"Bilang sama semua orang rumah, kalau ada Reno, jangan dibolehkan masuk. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi." Aku masih terisak-isak.


"Mbak berantem sama Kak Reno?"


"Bukan, Nay. Mbak kecewa, Reno belum berubah. Dia masih minum alkohol dan main wanita." Aku mengempaskan diri ke kasur.


"Tuh, kan! Mbak sih, lebih memilih Kak Reno daripada Kak Zian, sekarang Mbak kena batunya." Naya ikut duduk di ranjangku.


"Mbak lagi sedih, tolong jangan membuat hati Mbak tambah kacau." Aku menutup wajah dengan dua tangan.


"Ya sudah, semoga Mbak segera sadar, dan ... membuka hati untuk Kak Zian. Itu permintaan terakhir Mas Raka." Naya mendesah berat. Lalu keluar dari kamarku.


Membuka hati untuk Kak Zian?


Seketika kepalaku berdenyut, pening.


❤❤❤


"Faiza! Faizaa! Izinkan aku bicara!"


Suara Reno berteriak dari depan pintu gerbang.


Aku sudah mewanti-wanti Pak Karman tukang kebunku agar tidak membukakan pintu untuk Reno.


Sampai satu jam, Reno masih berteriak-teriak. Nomornya sudah aku blokir, tapi dia memakai nomor lain untuk mengirimiku pesan.


[Faiza! Maafkan aku, aku janji tidak akan mabuk dan tidak akan membawa wanita lain ke apartemenku]


Aku abaikan pesan dari Reno dengan mematikan ponselku. Jika dia memang serius ingin melamarku, seharusnya dia menjaga perbuatannya agar tidak membuatku sakit hati.

__ADS_1


"Kalau tidak bisa menerima Reno, bilang baik-baik padanya, Nak. Agar Reno tidak terus berharap padamu," nasihat Mama padaku. Beliau datang ke kamar karena mendengar Reno berteriak di depan pintu gerbang.


"Iya, Ma." Aku menjawab lesu.


"Biar papa nanti yang bantu bicara," sambung Papa yang ikut datang ke kamar.


Aku mengangguk. "Papa saja yang bicara sama Reno. Fai tidak mau menemuinya lagi."


Aku menutup kepala dengan bantal.


❤❤❤


Keesokan harinya, Papa mendatangi rumah Reno. Aku menunggu kedatangan Papa di rumah dengan gelisah.


Sepulang Papa dari rumah Reno, aku memberondong Papa dengan banyak pertanyaan. Kata Papa, Reno menyesali apa yang dia perbuat. Dan merasa sedih, karena aku tak bisa menerimanya.


Entah apa saja yang Papa bicarakan dengan Reno, sejak saat itu, Reno tidak pernah menghubungiku lagi.


Aku sedikit lega. Berharap ke depannya aku bisa hidup dengan tenang.


❤❤❤


"Aduh!"


Setelah itu, jempol kakiku luka. Ada rasa gatal di jempol dan telapak kakiku, lalu menjalar ke seluruh kaki dan betisku.


Kukira hanya gatal-gatal biasa, tapi begitu aku garuk, langsung luka. Semakin lama semakin naik ke paha. Dalam jangka waktu tiga hari, gatal-gatal itu sampai ke dada.


Papa membawaku ke dokter. Setelah diperiksa, kata dokter hanya alergi biasa. Untuk sementara, aku tidak diperbolehkan makan telur, mie instan dan seafood.


Aku mengikuti saran dan petunjuk dokter. Sayangnya, gatal-gatalku semakin parah. Juga terasa sakit. Apalagi saat gatal-gatal sampai ke leher dan pipiku. Aku menjerit, wajahku seperti alien.


Gatal-gatal yang aneh, semua dokter yang kudatangi mendeteksi gatal-gatal ini karena alergi. Hanya alergi, tapi kok sampai bisa separah ini?


Aku juga pernah beberapa hari di rawat di rumah sakit, sama sekali belum ada hasilnya, malah semakin parah.


Aku jadi panik dan sedih, seluruh tubuhku jadi bersisik seperti ikan. Tak terkecuali wajahku.


Perawatan mahal untuk kulit dan wajahku jadi tak ada gunanya lagi. Wajah glowingku sudah rusak. Aku yakin, semua orang yang melihatnya bakalan jijik.


Semakin hari, aku lebih suka menyendiri, bengong, kadang menangis seharian di kamar. Mengeluh karena rasa gatal di tubuhku tak kunjung berhenti. Ngeri melihat wajahku yang kini buruk rupa. Tak mau keluar dari kamar, tak mau diajak makan bersama keluargaku.


Aku mengunci kamar, hanya akan membukanya bila Mama membawa makanan, atau saat Papa dan Naya datang menemaniku untuk menguatkan dengan menghiburku.

__ADS_1


Mereka selalu memberikan support agar aku tidak putus asa dan yakin akan sembuh dari penyakit kulit tak biasa ini.


Mama mertua datang ingin menjengukku. Aku tidak mau menemui beliau dan tak mengizinkan mama mertua masuk kamarku. Aku jadi terkesan tidak sopan pada mamanya Mas Raka. Namun, rasa malu begitu besar, aku tak ingin wajahku jadi tontonan.


Tambah hari, aku semakin frustrasi dan putus asa. Sudah lima bulan menghabiskan waktu di kamar saja. Bisa dibayangkan, biasanya sehari saja aku hanya berdiam diri di rumah merasa bete. Sekarang lima bulan tidak hangout menjadikan aku berasa manusia paling tidak beruntung dan paling tidak bahagia di dunia ini.


Saat melihat ke luar jendela, ada tali panjang di meja taman samping rumah. Terlintas pikiran buruk, bagaimana jika aku menjerat tali itu ke leher?


Aku membayangkan tubuhku kaku karena mati bunuh diri. Lalu apa untungnya jika aku mati konyol?


Aku bergidik. Sambil menggaruk-garuk bagian tubuhku yang gatal. Tiap saat, dua tanganku sibuk menggaruk sampai pegal. Sungguh penyakit ini menyiksaku.


"Heiii ... Mbak lagi mikirin apa?" tanya Naya mengagetkanku. Wajahnya tiba-tiba ada di luar jendela.


"Apa, sih?!" sewotku sambil menggaruk kaki, lengan, sampai ke wajahku.


"Mbak lagi ngelamun ya? Buka pintu kamarnya, dong! Aku ingin masuk. Daripada Mbak bengong sendirian, takutnya kesambet."


Adikku yang ceria itu minta dibukakan pintu kamar. Aku pun membukanya. Naya lalu masuk kamarku.


"Mbak, sakit yang Mbak derita, bisa jadi itu azab karena Mbak sombong, sering berkata kasar yang menyakiti orang lain. Cobalah Mbak mulai menutup aurat, juga jangan egois. Bicaralah yang lembut.” Naya sok tahu. Mendengar ucapannya, aku merasa jadi manusia paling jahat. Dibilang kena azab segala.


"Nay, Mbak nggak butuh dinasehatin kalau ujung-ujungnya disalahin."


Naya tertawa kecil. Dia mengambil bedak untuk gatal-gatal, membantu menaburkan bedak itu ke lengan dan mengusap-usap lenganku tanpa rasa jijik.


"Mbak, bisa jadi seperti itu. Coba Mbak dengan tulus minta maaf sama Kak Zian ...."


"Kok bawa-bawa Kak Zian?" Aku melotot pada Naya. "Jangan-jangan dia punya niat jahat lalu mengirimkan santet agar aku kena gatal-gatal!"


Aku marah saat pikiranku menyimpulkan demikian.


"Astagfirullah ... jangan suudzon dong, Mbak. Dengan sakit gatal-gatal seperti ini seharusnya Mbak introspeksi diri. Siapa tahu, ini karena Mbak nggak mau memenuhi permintaan terakhir Mas Raka."


Naya menakutiku.


"Maksudmu? Aku kudu menerima Kak Zian, gitu? Halah!" Aku mengibaskan tangan.


“Iya, siapa tau kalau Mbak menikah dengan Kak Zian, penyakit Mbak bisa sembuh.” Mata Naya mengerling.


“Apa hubungannya coba? Dah, lah ... jangan mengait-ngaitkan penyakit ini dengan pernikahan!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2