
Sebelum Kak Zian masuk, aku segera duduk di meja rias dan menyisir rambut untuk mengalihkan rasa gugup.
Pintu dibuka, Kak Zian masuk. Dari cermin, terlihat jelas Kak Zian tersenyum ke arahku, dia lalu menghampiriku.
Jantungku berdebar tak karuan, apalagi ketika Kak Zian memelukku dari belakang, lalu memberikan ciuman di pipi kiriku, tubuhku jadi menegang.
"Sini aku yang sisir rambutnya, Sayang." Kak Zian mengambil sisir di tanganku dan mulai menyisir rambut sebahuku semakin membuat perasaanku jadi tak menentu.
Dia kembali mencium pipiku, sembari berbisik mesra. "Sudah siap, Sayang?"
Rasa grogi semakin menjadi-jadi, apalagi kami sama-sama melihat ke arah cermin, dua mata elang itu ... melihat lekat ke wajahku.
"Jangan tegang, dong ...." Kak Zian mengerti apa yang istrinya ini rasakan. Sebelah matanya mengerling, menggoda. Bibirnya tak berhenti tersenyum.
Aku hanya mengangguk, sulit untuk berkata-kata.
"Kita ke kasur, yuk ...." Ajakan Kak Zian membuatku menunduk dan mengangguk.
Kak Zian mengajakku berdiri. Dia lalu mengangkat tubuhku untuk di bopong, padahal kasurnya dekat. Pasti Kak Zian mencoba membangun suasana romantis.
Aku melingkarkan dua tangan di belakang lehernya, salah tingkah karena Kak Zian terus menatapku.
Kami sudah di tempat tidur dan memulainya dengan membaca doa.
Kak Zian perlahan mencumbuku. Aku menikmati setiap sentuhan Kak Zian, sampai suasana mulai memanas. Napas kami berembus cepat. Baju kami sudah dilepas dan jatuh ke lantai.
Kak Zian sudah siap, aku memejamkan mata. Tapi ... yang terbayang di pikiran adalah ... wajah Mas Raka.
Seharusnya, aku dan Mas Raka menikmati malam pertama, sayangnya dia ... meninggal sebelum kami mereguk manisnya malam pertama.
Suasana hatiku mendadak berubah, aku awalnya menikmati cumbuan Kak Zian di seluruh tubuhku, sekarang ...?
Air mata luruh begitu saja. Isakan sebisa mungkin aku tahan. Sayangnya, bibirku tak dapat mencegahnya.
"Kenapa, Sayang?" Suara Kak Zian terengah-engah, menghentikan apa yang seharusnya dia lakukan.
Aku membuka mata, wajah Kak Zian buram karena kedua mataku penuh air mata.
"Kenapa? Kamu takut?" Lirih suara Kak Zian sembari menghapus air mataku.
"A-aku ingat Mas Raka, seharusnya aku dan Mas Raka melaksanakan malam pertama, tapi ...." Tak sanggup melanjutkan kalimatku. Aku jujur dengan apa yang kurasakan.
Kak Zian menelan ludah, lalu menarik napas panjang. Mengatur napasnya yang memburu.
"Berarti kamu belum siap menerima nafkah batin dariku ...." Kak Zian membaringkan tubuhnya di sampingku, menatap ke plafon.
Bukan begitu, aku siap, hanya ... aku ingat dengan Mas Raka. Air mataku tak kunjung berhenti. Aku ingin mengatakan kalimat itu, tapi mulutku tak keluar kalimat apa pun selain tangisan.
Kak Zian menarik selimut sampai ke dadaku. Kembali mengusap air mata yang mengalir deras.
Dia sendiri bangun, mengambil sarungnya yang jatuh ke lantai dan mengambil rokok di meja.
__ADS_1
"Aku keluar dulu, ya ...." Kak Zian berjalan cepat ke arah pintu lalu menutupnya. Kak Zian pasti kecewa padaku, dia memilih keluar kamar.
Setengah jam berlalu, Kak Zian tak kunjung kembali ke kamar. Sampai satu jam, Kak Zian belum juga masuk kamar. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar setelah memakai baju tidur kembali.
Kak Zian duduk di teras, mengisap rokoknya dalam-dalam, dan mengembuskan kasar. Dia sepertinya tidak menyadari aku keluar ke teras.
"Kak ...." Kuhampiri Kak Zian, dia menoleh, wajahnya tidak semringah, pertanda dia kecewa padaku.
"Iya? Aku masih merokok." Dia menjawab datar. "Kenapa belum tidur?" Kak Zian kembali melihat ke halaman.
"Merokok sampai satu jam, lama sekali. Aku menunggu Kakak ...."
Kak Zian menoleh padaku sambil mengernyitkan kening. "Kenapa tidak tidur duluan?"
"Apa? Iiiih ... Kak Zian kalau marah kok begitu? Aku tau Kak Zian kecewa karena aku ... mengungkit tentang Mas Raka ...."
Aku tidak nyaman karena Kak Zian berubah agak dingin. Aku tidak rela dia bersikap begitu padaku.
Kak Zian malah tertawa pelan. "Kemarilah ...." Dia meraih sebelah tanganku, memintaku untuk duduk di sebelahnya. "Siapa yang marah, hm? Aku tidak marah dan tidak akan memaksa bila kamu belum siap menerima nafkah batin dariku ...." Tangan Kak Zian masih memegang sebelah tanganku.
"Aku siap, Kak. Siapa bilang aku tidak siap? Kak Zian aja yang keburu marah dan kecewa."
"Aku tidak marah, Sayang ...."
"Tidak marah kok keluar meninggalkan aku?" Pipiku menggelembung, pura-pura ngambek.
Kak Zian menyentuh pipiku sambil menghela napas berat. "Aku tidak marah, hanya ...."
"Kamu tau, gairahku begitu membuncah, tapi seketika down saat kamu menangis dan kukira belum siap untuk melakukan penyatuan, begitu."
"Maafkan aku kalau begitu. Ayo, kita mulai lagi, Kak. Aku tak ingin berdosa karena tidak melayani suami dengan baik."
Kedua tanganku melingkar di leher Kak Zian, kutarik pelan belakang lehernya sementara wajahku maju. Aku merasa bertanggung jawab karena barusan sudah membuat suamiku ini kecewa.
Kak Zian mungkin tak menyangka aku tanpa canggung mencium bibirnya. Hingga kami sama-sama terlena.
“Oke, ayo kita ke kamar.” Kak Zian membopongku masuk ke kamarnya.
Kami tanpa banyak bicara, kembali bersemangat menjalankan malam pertama ....
❤❤❤
Kak Zian membangunkan aku dengan menciumi seluruh wajahku. "Bangun, ayo mandi, sudah hampir subuh."
Aku menggeliat, membuka mata mendapati pria yang semalam memperlakukan aku dengan manis selama kami melaksanakan malam pertama itu tersenyum di dekat wajahku. Aku bersyukur telah menjadi istri seutuhnya bagi Kak Zian.
"Iya ayo, Kak. Apakah Nenek sudah bangun?" Aku segera bangun, tiba-tiba ingat sesuatu.
"Sudah, kenapa? Malu ya kalau ketahuan keramas?" Kak Zian menebak dengan tepat isi pikiranku.
"Iya ...." Aku tersipu malu.
__ADS_1
"Pakai jilbabnya selesai kermas." Kak Zian tertawa kecil, menggodaku sambil mengecup keningku. "Sudah biasa suami istri keramas sebelum Subuh. Lagi pula, mandi sebelum subuh bagus untuk kesehatan."
Aku mengangguk, kemudian balas mengecup kening Kak Zian. Kami lalu bangkit dari tempat tidur. Terlihat ada bercak darah di seprei warna putih itu.
"Biar nanti aku yang mencucinya, biar kamu gak capek." Kak Zian menatap lembut padaku yang tertegun melihat bercak darah itu.
"Iya, Kak."
Aku semakin bersyukur mendapat suami yang pengertian.
❤❤❤
Hampir seharian kami menghabiskan waktu di dalam kamar. Sebagaimana pengantin baru pada umumnya, kami mengulangi bercinta. Dunia rasanya seperti milik kita berdua.
Waktu Asar, kami ke kamar mandi dan berwudu untuk salat Asar. Aku mengambil wudu terlebih dahulu, dan ke kamar duluan.
"Aduuuh! Kakiku kena beling!" pekik Ratih. Aku bisa melihatnya dari jendela. Dia meringis sambil mengangkat sebelah kakinya. Wajahnya menahan sakit ....
"Bang Zian, tolongin aku ...." Ratih melihat ke arah kamar mandi.
"Kenapa Ratih?" Suara Kak Zian. Suami itu terlihat menghampiri Ratih di samping rumahnya.
"Aku kena beling, bantu aku jalan ke rumah."
"Oke, ayo ...." Kak Zian akan membantu Ratih dengan menggandeng lengan kanannya, tapi Ratih malah melingkarkan lengannya itu ke belakang leher Kak Zian. Merangkul suamiku sementara bagian tubuh kirinya menempel pada Kak Zian. Seketika aku kesal, apalagi Ratih berkata manja.
“Kak ... aku gak kuat jalan, gendong saja, ya.”
Aku mengeratkan gigi-gigiku melihat Ratih merajuk pada Kak Zian.
“Sudah dekat, lewat dapurmu saja biar cepat sampai.” Untung Kak Zian menolak permintaan Ratih.
Kak Zian mengantar Ratih ke rumahnya. Agak lama Kak Zian di sana, aku mulai terbakar api cemburu. Terus melihat ke arah rumah Ratih, tak sabar menunggu Kak Zian keluar.
Kak Zian keluar dari dapur Ratih, berjalan cepat ke kamar mandi, pasti mau wudu lagi setelah barusan menyentuh tangan Ratih.
"Kenapa Kakak mau saja dirangkul Ratih? Ratih tuh cari perhatian ke Kak Zian, dia sengaja kayaknya menginjak beling agar ditolong Kakak. Kak Zian ngapain juga berlama-lama di rumah Ratih?"
Aku langsung mengeluarkan unek-unek saat Kak Zian masuk kamar.
"Ratih kena belingnya parah, dia tak mungkin pura-pura, Sayang ...." Kak Zian tidak percaya dengan perkataanku.
"Kakak pokoknya gak usah dekat-dekat dengan Ratih lagi!" Aku cemberut dan memberikan warning.
Kak Zian tersenyum, dia berdiri di depanku. "Masa ada orang kena musibah tidak kita tolong?"
"Itu akal-akalan Ratih, percaya deh sama aku, Kak." Aku ngotot.
"Oke, oke. Kita salat Ashar dulu yuk." Kak Zian sepertinya tidak mau berdebat denganku. Dia mengajakku salat berjamaah.
Ratih ... Dia sepertinya sengaja agar aku cemburu. Apa, sih maunya dia?
__ADS_1
Bersambung.