Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Mantan Pacar


__ADS_3

Dokter datang, kali ini dokternya beda dari yang tadi memeriksaku. Wajahnya sangat aku kenal. Wajah putih bersih itu milik Aldi ... dia Aldi.


Karena aku kesakitan, tak peduli dan tidak malu menangis meski dokter yang akan memeriksaku adalah mantan pacarku.


"Fai, tenanglah ... awalnya kenapa bisa begini?" tanya Aldi sambil menyentuh perutku.


"Ti-dak diketahui awalnya, tau-tau perutku tambah besar." Aku menjawab di sela-sela tangisku.


Kak Zian, Papa, Mama, Naya dan mama mertua berdiri mengelingi ranjangku.


Aldi mendesah berat, dia kemudian melihat hasil rontgen. "Perlu pemeriksaan lanjutan untuk mendiagnosis penyakit Faizara. Faizara tidak punya penyakit dalam kan, Om?" tanya Aldi pada Papa.


"Tidak ada, Dok. Saya juga bingung karena tiba-tiba Fai kesakitan setelah acara ijab kabul."


"Oh ...." Aldi mengangguk dan beralih melihat pada Kak Zian. Jadi ingat saat pernikahanku dengan Mas Raka, Aldi datang, saat menyalamiku di pelaminan, kedua matanya berkaca-kaca.


Aldi adalah salah satu pacarku yang dulu sangat mencintaiku, tapi aku memutuskan sepihak karena aku lebih memilih Mas Raka. Dia pasti patah hati berat, karena aku dan Aldi awalnya begitu lengket.


Aldi sepertinya juga bingung untuk mendiagnosis penyakit yang aku derita. Dia meresepkan obat, sambil mengatakan dia dan dokter lainnya akan melakukan pemeriksaan lanjutan padaku.


"Kak, aku tidak ku-at ...." Aku mengerang sambil memegang erat tangan Kak Zian.


"Kamu pasti kuat." Kak Zian memberikan semangat, tangannya kanannya mengusap keringat di wajahku. Dan ... Aldi melihat ke arah kami sebelum keluar ruangan.


"Mbak itu wanita tangguh dan pasti sembuh." Naya ikut memberikan semangat.


"Pasti sembuh, Nak," sambung Mama dan Papa.


Setelah menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan, kondisiku tak kunjung membaik. Perutku semakin besar, dan semua dokter tidak bisa menjelaskan penyakit yang aku derita.


Kak Zian mengambil obat di apotek, Naya pulang mengambil pakaian gantiku dan Kak Zian. Papa dan Mama salat Magrib di musala rumah sakit.


Aldi masuk ke kamar rawat ini, melihatku menangis, dia menghampiriku.


"Sabar ya, Fai. Penyakitmu ini sepertinya non medis ...."


"Maksudmu, aku kena santet?" Aku terisak-isak, tak kuat menahan rasa sakit di perut.


"Kemungkinan begitu."


"Al, kamu ini dokter, kenapa malah menakutiku?"


"Bukan begitu, Fai ... aku kasian melihatmu kesakitan begini ...." Tangan Aldi bergerak, aku terkejut saat dia menghapus air mata di pipiku bertepatan dengan datangnya Kak Zian dari arah pintu.


Aldi salah tingkah, dia memeriksa tekanan darahku, lalu pamit keluar. Untungnya Kak Zian tidak menanyakan siapa Aldi. Kalau tahu Aldi adalah mantan pacarku, takutnya Kak Zian cemburu. Semoga saja Naya tidak memberitahukan pada Kak Zian kalau Aldi adalah mantan pacarku.


Lagian kenapa Aldi dengan berani mengusap air mataku? Tak seharusnya dia melakukan itu.


Aku kesakitan lagi setelah Aldi keluar. Kak Zian menyentuh perutku dan membacakan doa dan membacakan ayat-ayat Ak-Qur’an, tak lama setelah itu, perutku berkurang rasa sakitnya. Malam ini aku bisa memejamkan mata dan istirahat.


Tengah malam aku terbangun karena kebelet pipis. Rasa sakit di perut sudah mendingan. Aku membangunkan Kak Zian yang tidur duduk di samping ranjangku.


"Kak ... aku mau ke kamar mandi." Kuelus kepala Kak Zian. Dia menggeliat, dan membuka mata.

__ADS_1


Wajahnya terlihat lelah. Dia baru saja tidur, dari tadi membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sambil memegangi perutku, ampuh sekali meredakan sakit di perutku sehingga aku tenang dan bisa tidur.


"Ya, Sayang ...." Kedua matanya yang merah melihat padaku. Kak Zian memanggilku sayang, aku jadi ge-er.


"Aku mau pipis."


"Oke." Kak Zian mengecup keningku, lalu membopongku ke kamar mandi.


"Maafkan aku, Kak. Jadi nyusahin begini," ucapku saat Kak Zian menurunkan aku di dalam kamar mandi.


"Tak apa, yang penting kamu sehat." Kak Zian balik badan saat aku akan buang air kecil. Setelah selesai buang air kecil, Kak Zian membopongku kembali ke ranjang, aku ingat perkataan Aldi.


Aku masih melingkarkan kedua tangan di leher Kak Zian. "Kak, setelah tadi Kakak bacakan ayat-ayat Al-Qur'an, sakit di perutku jadi mendingan. Apa ini tanda kalau sakitku ini non medis? Seperti kata dokter Aldi."


Wajah Kak Zian tepat berada di depan wajahku, dia tampak berpikir. "Dokter Aldi berkata begitu?"


"Iya, dia tadi bilang begitu."


"Apa pun penyakit yang kini bersarang di tubuhmu, semoga segera pergi ...."


"Aamiin."


Belakang leher Kak Zian semakin aku tarik sehingga keningnya menyentuh keningku. Napas kami beradu .....


"Istirahat ya," lirih Kak Zian lalu mengecup pelan bibirku. Wajahnya dia jauhkan, mungkin takut dilihat Naya yang tidur di sofa.


“Naya tidur lelap,” ucapku menggoda Kak Zian. Kembali menarik belakang lehernya.


“Kamu ini ....” Kak Zian menowel hidungku karena aku minta dicium lagi. Dia mencium bibirku sekali lagi. “Tidur, ya ....”


“Kak ....”


Kak Zian akan menjauhkan wajahnya. Tapi dia tersenyum. “Apa, pengin lagi?”


“Bukan, perutku sakit lagi ....”


Kak Zian berdoa lagi, berdzikir, membaca sholawat syifa, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an sampai pagi.


Pagi ini, perutku semakin membesar seperti hamil 9 bulan. Besar secara cepat membuat Kak Zian keheranan, dia kembali membacakan ayat-ayat Al-Qur'an lalu meniupkan ke perutku.


Namun, rasa sakit ini kembali menguat. Dokter Aldi menyarankan di-rontgen lagi. Dan ... hasilnya sungguh mengejutkan. Ada benda-benda aneh di dalam perutku. Seperti paku, gunting, pisau kecil, dan entah apalagi.


Itu di luar nalar. Aku kena santet! Di zaman yang sudah modern begini, ada saja orang-orang yang melakukan kejahatan lewat ilmu hitam.


"Astagfirullah ...." Papa menggelengkan kepala setelah melihat hasil rontgen. Semuanya terkejut. Kak Zian , Naya, Mama, dan mama mertua yang pagi ini kembali datang menjengukku tak kalah terkejut.


"Aku takut, Kak ...."


"Perbanyak berdoa sama Allah, agar dimudahkan segala urusan." Kak Zian memberikan nasihat sambil memegang tanganku.


Aldi menyarankan agar aku segera dioperasi.


Keluargaku setuju. Aku akan segera dioperasi. Ada rasa takut yang luar biasa, aku meminta Kak Zian menemani di ruang operasi, Aldi selaku dokter bedah setuju.

__ADS_1


Begitu tegang saat aku memasuki ruang operasi. Semua dokter berdoa dulu sebelum melakukan pembedahan.


❤❤❤


Operasi berjalan lancar. Benda-benda tak wajar yang ada di perutku sudah dikeluarkan.


Mengerikan, pakunya karat, guntingnya juga karat, semua benda yang ada dalam perutku berkarat. Sungguh terlalu orang yang sudah mengirimkan sihir ini padaku.


Aku berjanji pada diriku sendiri, setelah pulih akan lebih rajin beribadah, agar tak ada lagi sihir atau ilmu hitam yang kembali menghampiri.


Apa yang dikatakan Aldi benar, sakit yang kuderita adalah sakit non medis.


Sekarang aku sudah dipindahkan ke ruang rawat inap untuk pemulihan pasca operasi. Di jam makan malam, kamarku sepi karena orang tuaku pulang ke rumah. Naya sedang keluar membeli makanan dan Kak Zian yang menungguiku masih ada di kamar mandi, katanya barusan mau BAB.


Aldi masuk kamar ini. “Gimana kondisimu, Fai?”


“Alhamdulillah sudah tidak ada rasa sakit lagi.” Aku menjawab sewajar mungkin.


“Syukurlah, aku khawatir melihatmu kesakitan, dan ....”


Aldi melihatku intens, “Aku tidak tau kamu sudah menikah lagi setelah kepergian Raka. Padahal, aku masih mengharapkanmu, Fai ....”


Apa maksud Aldi berkata begitu? Aku masih belum pulih, sebagai seorang dokter, tak pantas Aldi membahas hal pribadi yang hanya akan membuatku kepikiran dan yang lebih membuatku tak nyaman, Aldi tiba-tiba menyentuh tanganku. Aku segera menjauhkan tanganku membuat wajah Aldi tampak kecewa.


“Maaf, Al. Aku sudah punya suami. Kamu ke sini tidak untuk memeriksaku, kan? Jadi sebaiknya kamu tidak menggangguku.” Aku berpaling ke arah lain. Aldi ternyata masih baper dan mengharapkanku. Aku tak menyangka sama sekali. “Aku berterima kasih padamu, kamu benar tentang penyakit non medis yang aku alami.”


Aku berterima kasih pada Aldi, tak dapat kumungkiri dia memang benar menebak penyakitku.


Terdengar Aldi mendesah berat, suara air dari kamar mandi menandakan Kak Zian sebentar lagi akan keluar.


“Ya, sama-sama, Fai. Dan bolehkah aku bertanya, apakah kamu menikah dengan suamimu yang sekarang bukan karena terpaksa? Soalnya, dia ... kulitnya tidak putih. Bukankah pria idamanmu pria yang berkulit putih? Sepertiku ....” Aldi tertawa mengejek.


Pintu kamar mandi dibuka. Kak Zian keluar.


“Malam, Dok ....” Kak Zian menyapa Aldi.


“Malam. O ya, Fai ... kalau kamu butuh krim untuk memutihkan kulit, kamu bisa menghubungi aku.”


Aldi jadi gak profesional begini, apa sih maunya? Dia terang-terangan menyindir Kak Zian.


“Aku tidak butuh krim pemutih, Dok, karena aku menyukai yang hitam manis,” sindirku balik. Aldi mengangkat bahunya dan keluar dari kamar ini.


“Dokter bahas apa, Sayang? Dia kenal ya sama kamu? Panggilnya pakai nama kamu, sepertinya akrab sekali?” Kak Zian datang menghampiri dan berdiri di sisi ranjangku.


“Di-a temanku. Kak ke sini, dong! Deket aku. Aku gak mau jauh-jauh dari Kak Zian.” Aku mengalihkan pembicaraan sambil menarik lengan kanan Kak Zian agar mendekat.


“Kalau gak pengin jauh-jauh, kenapa barusan gak ikut sekalian ke WC, hm?” Kak Zian menunduk dan mengusap kepalaku sambil senyum-senyum menggodaku.


“Ya udah kapan-kapan aku ikut.” Aku membalas candaan Kak Zian sambil melingkarkan sebelah tangan di belakang lehernya, tanganku yang satunya masih ada selang infus.


Kak Zian sepertinya tahu apa yang aku inginkan. Dia mengecup keningku, lalu mencium pipi kanan dan kiriku. Aku begitu menikmati ciuman mesranya.


Kak Zian akan mencium bibirku ketika pintu dibuka dan suara Naya membuat Kak Zian spontan menjauhkan wajahnya.

__ADS_1


“Ups! Sorry, aku gak niat ganggu Mbak dan Kakak ....” Naya berdiri seperti patung sambil menutup mukanya dengan tangan.


Bersambung


__ADS_2