Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Status WA Naya


__ADS_3

Selain diobati secara medis, Reno juga membawa seorang terapis agar kakiku bisa segera pulih.


Sekarang, aku bisa berjalan dengan dua kruk. Agak menyulitkan, tapi lumayan membuat aku bersemangat untuk sembuh.


"Gimana kondisimu, Sayang?" tanya Reno, dia menemuiku di taman samping rumah.


"Sudah lumayan, Ren." Aku tersenyum padanya.


Reno juga tersenyum, lalu mengecup keningku. "Kalau kamu sudah sembuh, aku akan segera melamarmu. Oke." Dia mengacungkan dua jempolnya.


Napas Reno beraroma alkohol.


"Kamu minum, Ren?"


"O iya, kamu nanti akan menjadi ratu dalam rumahku." Reno tertawa, dia tidak menjawab pertanyaanku. Kedua matanya merah, aku yakin Reno habis minum alkohol.


"Kenapa kamu tidak jawab pertanyaanku, Ren? Kamu minum?" Aku bertanya ulang.


Reno menyugar rambutnya, lalu beralih menangkup pipiku dengan dua tangannya.


"Sedikit, Faiza ... barusan teman-teman mengajakku. Karena nggak enak, jadi aku ikutan minum. Dikit, kok."


"Ck! Katanya kamu akan berubah untuk jadi lebih baik lagi? Kalau kamu beneran serius sama aku, buanglah kelakuan burukmu, Ren."


Reno tertawa lagi. "Faiza, Faiza ... belum jadi istri, kamu sudah melarang-larang aku. Cocok banget, nih. Nanti jadi istri idaman yang selalu mengingatkan."


Reno mendekatkan wajahnya, belum sempat aku mencegah, Reno mengecup bibirku ringan.


"Ren ...." Aku memalingkan wajah. "Jangan ciuman di sini, nanti dilihat keluargaku. Kita belum ada ikatan."


Aku berjalan hati-hati. Menghindari Reno.


"Kenapa harus malu, Faiza ... kita kan saling mencintai." Reno berjalan dan berhenti di depanku.


Sampai saat ini, aku belum bisa mencintai Reno dan hatiku juga belum mantap untuk menjadikan Reno pendamping hidup.


Bunga mawar merah yang bermekaran, mataku kuarahkan ke arah sana. Tak tega melihat Reno yang sepertinya ingin menanyakan perasaanku padanya.


"Kamu mencintaiku, kan, Fai?"


Reno semakin mendekat padaku. Kedua matanya yang merah berkaca-kaca. Mungkin dia ingin mendengar aku mengucap kata cinta untuknya.


"Iya." Lolos juga satu kata itu. Kata yang hanya terucap di bibir dan sama-sekali tidak tembus di hati. Agar Reno senang, itu saja ....


"Makasih, Faiza ... makasih cintaku .... " Senyum Reno merekah. Reno tanpa kusangka tiba-tiba membopong tubuhku.


"Turunkan aku, Ren! Nanti aku jatuh!"


Reno tidak mendengarkan, dia berputar-putar sambil tertawa bahagia.


❤❤❤


"Hai Gaes, aku sedang berada di daerah pegunungan, hawanya sejuk. Apalagi ditemani sesosok pria tampan yang lagi menanam batang-batang pohon singkong."


Aku mengernyitkan dahi melihat video Naya di status WA-nya. Dia sedang berdiri di tempat tinggi. Kameranya menyorot suasana sekitar. Juga sesosok pria yang dia maksud sedang duduk berjongkok membelakangi kamera.

__ADS_1


Dari postur tubuhnya, itu seperti Kak Zian ....


Naya ke gunung? Dia mendatangi kebun singkong Kak Zian? Itu anak, bener-bener ya!


Aku ngedumel dalam hati. Tadi pagi Naya pamit mau melihat suasana kampusnya, eh nggak tahunya, dia sudah berada di gunung! Huh!


Dua puluh menit setelah video itu, Naya bikin status lagi. Mengunggah foto nasi dan lauk pauknya di atas dipan bambu.


Lalu dia mengirim status video lagi.


"Makan siang ready. Mari makan semuanya. Masakan nenek maknyus banget. Makanan sederhana, tapi membuat aku pengin nambah terus."


Naya seperti bangga makan di dapur sederhana itu. Dia menyorot kamera pada nenek yang duduk di dekat Naya. Juga ... Kak Zian yang tersenyum sambil menunduk pegang piring bersiap makan.


Naya biasanya tidak mau makan nasi jagung dan kami sekeluarga tidak pernah makan nasi jagung, kecuali pembantu kami yang kadang masak nasi jagung untuk mereka sendiri.


Kulihat di video itu, Naya begitu lahap makan nasi jagung.


Apaan sih, Naya? Aku membalas statusnya dengan perasaan jengkel.


[Selamat menikmati jadi orang gunung!]


Naya langsung membalas ....


[Mbak jangan iri ya, aku lagi bahagia berada di rumah Kak Zian]😍😍


Aku mencibir sambil mengetik balasan.


[Gak usah pulang! Tinggal saja di sana!]


Naya membalas dengan emotikon tertawa ngakak.


Wew! Ngawur saja! Untuk apa aku cemburu?


❤❤❤


"Papa kok ngizinin Naya berangkat sendirian ke rumah Kak Zian?" tanyaku saat makan siang bersama Papa dan Mama.


"Naya sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga diri, Nak." Papa rupanya setuju Naya main-main ke rumah Kak Zian. Ya, sudahlah.


Naya datang menjelang Magrib. Dia banyak membawa oleh-oleh khas pegunungan. Gula aren, opak singkong, keripik pisang, keripik singkong, talas, dan entah apalagi yang dia bawa.


Naya menceritakan keseruannya di rumah Kak Zian pada kami saat makan malam.


"Sejuk banget kalau tinggal di gunung, pengin banget balik lagi ke sana, Pa. Papa kapan-kapan ikut ya, sama Mama juga. Mbak Fai mau ikut juga?"


Naya nyengir ke arahku.


Aku lekas menggeleng, "Nanti dikasih makan nasi jagung. Perut bisa-bisa kembung!" Aku mengejek.


Papa dan Mama tertawa mendengar ucapanku.


"Nasi jagung enak tauuu! Dipadu sayur kelor, sambal terasi, ikan asin, tahu dan tempe goreng. Makan sederhana seperti itu, enak loh, Mbak." Naya menyebutkan apa yang dia makan siang tadi.


"Dah pantas jadi anak gunung! Semoga dapat jodoh orang gunung," ledekku sambil menjulurkan lidah.

__ADS_1


"Biarin! Yang penting bisa lihat pemandangan indah, dan melihat cowok kekar dan ganteng! Kak Zian is the best!" Naya mengacungkan dua jempolnya.


"Dih, is the best apaan? Masih banyak pria yang jauh lebih tampan dari Kak Zian."


Naya tertawa. "Ya memang banyak, tapi yang seperti Kak Zian itu langka. Sudah ganteng, tidak gengsi kerja di kebun. Idaman banget pokoknya ...."


Mata Naya berbinar-binar. Aku memajukan bibir.


"Puji terus kakak gunungmu itu!"


Aku bergidik. Papa dan Mama hanya menyimak perdebatan kami sambil geleng-geleng kepala.


Hari-hari selanjutnya. Naya jika libur kuliah, dia jalan-jalan ke rumah Kak Zian. Kadang dia ramai-ramai bersama teman-teman kampusnya.


Terserah, lah! Mungkin Naya sudah mulai jatuh hati pada Kak Zian.


Aku fokus untuk kesembuhan kakiku. Tidak peduli dengan tingkah Naya yang kini persis orang gunung. Makan nasi jagung, perkedel jagung, dan sayur asam yang pakai jagung!


Byuh!


❤❤❤


Tiga bulan berlalu ....


Kaki kiriku sudah bisa ditapakkan. Aku juga sudah bisa berjalan pelan-pelan setelah diterapi.


Seminggu ini, Reno katanya sibuk dengan pekerjaannya. Jadinya dia tidak datang ke rumah.


Reno sekarang baru datang dari luar kota dan sedang istirahat di apartemennya.


Aku pamit pada orang tuaku, malam ini mau ke apartemen Reno untuk memberikan surprise atas kesembuhan kakiku. Ini juga berkat Reno yang mendatangkan tukang terapi, semua biaya dia yang tanggung. Jadinya, Reno patut dikasih kejutan.


Papa memperbolehkan aku ke apartemen Reno asalkan pakai sopir, tidak nyetir sendiri. Aku pun setuju.


Sampai di sana. Aku memencet bel. Cukup lama, hampir sepuluh menit, Reno belum membuka pintu. Mungkin Reno sedang istirahat.


Tidak enak juga mengganggu Reno, aku pun berbalik hendak melangkah. Suara pintu di buka.


Aku menoleh pada pintu yang dibuka sedikit oleh seorang wanita, rambutnya agak acak-acakan, memakai terusan tanpa lengan warna merah mencolok hanya sampai paha.


"Siapa?" tanya wanita itu dengan wajah tak suka.


"Aku Faizara, Reno mana?"


"Kamu siapa? Untuk apa tanya pacarku? Mengganggu saja!" omelnya dengan mata membulat.


Pacar? Jadi ini wanita ini pacar Reno? Ternyata Reno belum juga berubah. Ada rasa kecewa yang tiba mendera hatiku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ingin segera pergi dari tempat ini.


"Siapa yang datang, Beb?" Reno ikut melongok ke luar, dia sepertinya teler. Matanya berkedip-kedip, agak sempoyongan. Hanya memakai celana kolor tanpa baju, tanda merah-merah di leher dan dadanya menunjukkan kalau dia dan wanita ini sudah bermesraan atau mereka selesai melakukan hubungan tak halal?


Aku berjalan agak cepat walau langkah kakiku belum begitu sempurna.


"Fai ... Faiza ...." Reno mencoba mengejar setelah dia tahu aku yang datang. Suara wanita itu mencegah Reno mengejarku.


"Faizaaaa ...! Maafkan aku!" teriak Reno. Aku menoleh, Reno yang sempoyongan dibawa masuk oleh wanita yang mengaku pacar Reno.

__ADS_1


Air mataku jatuh, aku belum mencintai Reno, tapi rasa kecewaku begitu besar karena dia masih saja membawa wanita ke apartemennya. Bagaimana jika dia nanti menikah denganku dan tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya?


Bersambung


__ADS_2