Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Tega


__ADS_3

Kak Zian masih tidur. Dengan gerakan pelan, kulepas pegangan tangan Kak Zian. Sudah subuh, Mama Ani selesai salat dan masih duduk di sajadah.


"Ma ... Fai pamit pulang, ya."


"Iya, terima kasih sudah ikut menemani Zian, Nak. Tapi, kalau Zian menyebut namamu lagi, bisakah kamu datang lagi kemari?"


Aku memperbaiki rambut yang agak acak-acakan. "Fai nggak janji, Ma. Takutnya ada kesibukan."


Aku menolak secara halus. Emang aku siapanya? Harus selalu ada buat Kak Zian, ogah!


"Iya, hati-hati pulangnya, Nak."


Kucium tangan mama mertuaku. Lalu keluar.


Sampai di tempat parkir. Aku mengeluarkan ponsel dari tas, akan meminta dijemput Pak Adam, tapi urung kulakukan saat melihat mobil Reno ada di tempat parkir.


Reno tahu aku di rumah sakit? Ya, ampun! Aku lupa kemarin tidak bilang pada Naya agar tidak memberitahukan pada Reno kalau aku menunggui Kak Zian.


Reno keluar dari mobilnya sambil menguap.


"Selamat pagi, Sayang. Kenapa bengong?"


"Eh, kamu ...."


"Iya, ini aku Reno. Calon suamimu. Dari tadi malam aku tidur di mobil. Menunggumu." Reno menatapku tajam.


"Me-menungguku?" Lidahku tercekat.


"Kemarin hampir seharian aku menghubungimu tapi panggilanku sama sekali tidak kamu angkat, kan?"


"Maaf, a-aku ...." Aku tak kuasa untuk menjelaskan pada Reno.


"Iya, tidak apa-apa, Sayang ...." Reno mendekat. "Kemarin aku cari ke makam Raka, karena kata Naya kamu ke makam Raka. Tapi kamu tidak ada di makam. Terus, aku tanya lagi ke Naya, eh ... dia menjawab kamu sedang menemani Zian ke rumah sakit." Reno bertepuk tangan. "Hebat, kamu."


Reno menyindirku. "Kalau ngangkat telponku kamu takut Zian terganggu, ya? Secara ... dia sekarang lagi butuh ketenangan untuk memulihkan ingatan, dia juga tak ingin melepas pegangan tanganmu. Super!"


Reno bertepuk tangan lagi, wajahnya jelas memperlihatkan kecemburuan. Dia memang sangat posesif.


"Ren, aku minta maaf karena tidak mengangkat telponmu, aku gak enak sama ... dokter ...."


"O ya? Gak enak sama dokter atau ... tak ingin diganggu karena lagi berdekatan dengan Zian, hm?" Reno membelai pipiku, sambil tersenyum sinis.


"Ren, aku terpaksa ikut menemani Kak Zian di rumah sakit, a-aku ...."


"Iya, aku paham, Sayang. Jangan tegang gitu, dong ...." Reno tertawa ngakak. "Ayo kita pulang, nanti malam, kamu nggak usah ikut jaga Zian lagi. Terpaksa itu tidak enak, kan, Sayang? Zian, Zian ... dia selalu membuat calon istriku ini jengkel. Nanti malam, setelah dia disuntik dokter, dia akan tenang selamanya ...."


"Maksudnya, Ren?" Aku mengernyitkan dahi.


"Sssssttt ...." Reno menarikku ke pelukannya. "Kita bicara di mobil, di sini ada CCTV-nya."

__ADS_1


Aku tak paham maksud Reno. Dia membawaku masuk ke mobilnya.


"Kenapa, Sayang, kok wajahnya penuh tanda tanya gitu? O iya, mobilmu masih di rumah Raka ya? Kemarin kamu sudah jadi anak baik menjemput Kak Zian yang hilang ingatan ...." Tawa Reno kembali meledak.


"Nggak, mobilku sudah ada di rumah, Pak Adam sudah membawa mobilku pulang." Aku menjawab sewajarnya.


Tidak mau membahas tentang penjemputan Kak Zian di rumah orang yang sudah menemukannya.


Mobil sport Reno bergerak meninggalkan tempat parkir.


"Ya, ya, aku masih tak menyangka, kamu bela-belain menjemput Zian, bukannya membiarkan dia di gubuk pemulung itu, jadi sekarang agak menyulitkanku untuk ... menghabisinya. Eh, tapi nanti malam, akan ada dokter abal-abal yang akan menyusup ke kamar di mana Kak Zian yang amnesia itu dirawat. Pak Dokter akan suntik Zian, dan ... end, deh!"


Aku menoleh cepat dengan mata membulat, kudapati wajah culas Reno. Dia menyeringai.


"Tapi, Ren ...."


"Tapi, apa Faiza?"


Jantungku berdetak cepat, dua tanganku jadi sedingin es. Ngeri dengan rencana jahat Reno. Dia ... kenapa jadi sejahat itu?


"Ren, jangan bilang akan menghabisi Kak Zian, aku ngeri." Bulu kudukku berdiri semua membayangkan adegan pembunuhan.


"Ngeri? Faiza ... Faiza ... kamu takut karena aku sudah persis psikopat?" Reno tertawa.


"Ngg ... bukan begitu."


"Lalu kenapa? Aku hanya ingin orang yang mencoba mengganggu hubungan kita harus lenyap." Reno mengedipkan sebelah matanya padaku. Senyumnya jadi menakutkan.


"Karena hilang ingatan itulah Faiza, dia harus segera dihabisi. Kalau sudah ingat, dia bisa-bisa menjebloskan aku ke penjara, kan?"


"Kalau kamu menghabisi Kak Zian, kamu juga akan dipenjara dan kamu tidak akan jadi menikah denganku, Ren."


Reno terkekeh geli. "Polisi tidak akan bisa melacak, tenang aja Faiza. Jangan menakutiku seperti anak kecil. Kita akan tetap menikah dan hidup bahagia, Sayang." Reno menyentuh pipiku.


Aku tidak menjawab, menatap ke arah jalanan yang ramai lancar. Dalam hati belum mantap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Reno. Apalagi Reno sangat jahat. Aku takut kalau hidup bersama pria seperti Reno.


"O iya, Sayang, jangan mau kalau diminta menjaga Zian lagi. Rugi kamu buang-buang waktu sama dia. Oke!"


"Oke." Aku mengangguk membuat senyum Reno semakin lebar.


"Calon istriku ... sudah cantik, penurut lagi," puji Reno. Aku sulit untuk tersenyum. Jantungku masih berdebar kencang. Takut dengan rencana Reno, yang bisa saja jika ketahuan aku juga bakalan terseret dengan kasus ini.


❤❤❤


"Mbak bisa ke sini, Kak Zian memanggil-manggil nama Mbak lagi." Aris meneleponku tepat di jam tujuh malam.


"Aku lagi ada acara, mau keluar, Dek."


"Mbak, sebentar saja. Bisa ya?" Aris agak memaksa. Suara Kak Zian memanggil-manggil namaku bisa aku dengar. Juga suara mama mertua menenangkannya.

__ADS_1


"Tidak bisa, Dek. Maaf." Aku akan menutup telepon.


"Mbak ... Kak Zian ngamuk-ngamuk, barusan dia menarik selang infusnya. Dokter sebentar lagi akan menyuntik Kak Zian agar tenang katanya. Apa Mbak tidak bisa ke sini? Sebentar saja, Mbak.”


Aris memohon padaku.


"A-apa?"


Kak Zian akan disuntik? Jangan-jangan, orang suruhan Reno akan segera beraksi. Aku jadi tegang.


"Kalau bisa Mbak ke sini, Mbak bisa dengar, kan? Kak Zian ngamuk-ngamuk sambil marah-marah. Gegar otak itu membuat saraf otaknya kacau."


"Maaf, aku tidak bisa, Dek." Telepon kututup bersamaan dengan mobil Reno yang kulihat masuk ke halaman.


"Mbak, kenapa Mbak menolak diminta ke rumah sakit dan memilih keluar bersama Kak Reno? Apa Mbak nggak kasian pada Kak Zian?" Naya rupanya mendengar penolakanku barusan.


Dia sudah berdiri di teras dengan wajah lesu. Aku tidak menjawab, melihat ke arah Reno yang keluar dari mobilnya sambil membawa beberapa paper bag.


"Mbak nggak enak sama Kak Reno? Biar aku yang akan bicara padanya.”


"Tidak, Nay ... jangan bicara apa pun, dan jangan ikut campur urusanku," cegahku lalu menyambut Reno.


"Malam, Ren."


"Hei, malem, Sayang. Sudah siap untuk berangkat?" Reno mencium pipi kanan kiriku. Dia juga menyapa Naya.


"Siap, dong ...." Aku menjawab, mencoba untuk ceria.


"Adekku, nih ... oleh-oleh buat kamu juga buat om dan tante, ya." Reno menyerahkan paper bag pada Naya.


"Terima kasih." Naya tak bersemangat. "Kak Reno ...."


"Iya ....”


Sepertinya Naya akan membahas tentang Kak Zian, sebelum itu terjadi. Aku segera menggandeng Reno untuk berangkat. Barusan aku juga sudah izin sama Papa.


“Tunggu, Kak. Kak Zian sepertinya butuh Mbak Fai agar bisa tenang, bisakah kalian mampir sebentar ke rumah sakit?” tanya Naya dengan suara gemetar, dia tampak sedih karena aku menolak untuk ke rumah sakit.


“Kami mau ke butik untuk melihat pakaian yang akan dipakai nanti untuk acara lamaran, mungkin agak lama juga. Jadi, kami tidak bisa ke rumah sakit. Lagi pula, di sana sudah ada dokter yang menangani Zian, kenapa masih butuh Faizara?” Kutahu Reno hanya berasalan saja agar aku tidak ke rumah sakit. Dia lalu menggandeng lenganku turun ke halaman.


Bisa kudengar desah berat Naya. "Sebentar saja kan bisa, Kak?"


"Tidak bisa, Dek Sayang. Dadah ... kamu nitip oleh-oleh, nanti kakak belikan, ya," sahut Reno melambaikan tangannya pada adikku yang bertampang masam dan membukakan pintu mobil sport-nya untukku.


Saat mobil sudah keluar dari halaman, ponselku berbunyi. Pesan dari Naya.


[Mbak tega amat! Nanti Mbak menyesal kalau terjadi apa-apa dengan Kak Zian karena lebih memilih keluar bareng Kak Reno. Memang ya, wanita yang baik akan mendapatkan pria yang baik pula. Sebaliknya juga begitu, wanita yang nggak bener, akan mendapatkan pria yang nggak bener pula]


Naya seakan menyumpahiku dapat pria yang tidak baik. Aku tahu dia kirim pesan seperti ini karena kecewa padaku.

__ADS_1


Aku mencoba tidak peduli dan mengabaikan chat dari Naya.


Bersambung


__ADS_2