
Kulihat Naya hampir sampai ke sini. Dia sendirian, entah dimana Aris? Aku kembali berlari, berhenti di batas sungai yang terbuat dari semen.
"Fai, itu sungainya dalam!" Kak Zian berlari sambil agak membungkuk. Dua tangannya ada di perutnya.
Berdiri di pinggir sungai dengan air keruh, aku bingung. Apa aku harus nekat menyeberangi sungai?
"Ayo, kembali!"
"Minggir orang jelek, jangan ke mendekat!" bentakku. Melotot, menyeringai pada Kak Zian.
"Iya, tenang ... tenang, kita pulang." Kak Zian berhenti tak jauh dariku. Kelihatan sekali dia takut aku melompat.
Apa katanya, kita pulang? Oh, tidak semudah itu, Ferguso! Aku tidak akan pulang.
"Mbak, capek tau main kejar-kejaran. Ayo, balik! Nanti gila sungguhan!" Naya pun ngos-ngosan, dia sampai terbatuk-batuk.
Aku mahir berenang, kulirik air sungai, tidak beriak tanda sungainya dalam.
"Fai, jangan berpikir untuk melompat!" Kak Zian peka, dia takut aku melompat.
"Zian jelek, Zian jelek!" Aku meleletkan lidah.
"Iya, aku ngaku jelek. Kamu tenang, jangan melompat ke situ." Kak Zian kakiknya juga seperti bersiap akan berlari kalau aku melompat.
"Kak Zian tampan dibilang jelek, itu setannya yang jelek, makanya Mbak usir, Mbak harus melawan, jangan mau dikibuli setan." Naya akan mendekatiku.
Aku sedikit mundur, dan akan melompat.
"Aarrgghhh! Lepaskan! Biarkan aku melompat! Biarkan!"
Kak Zian mendekap tubuhku dari belakang.
"Eeewww! Biarkan saja Mbak Fai melompat, Kak. Dia seminggu tidak mandi, biar sekalian mandi. Kok, Kak Zian kuat memeluk adik iparnya yang bau itu?"
Asem! Naya malah meledek. Dia seperti enggan ikut memegangi aku. Apa aktingku sebagai orang gila kurang perfect? Kurang meyakinkan?
"Aku mau melompat! Aku mau mandiiiii ... hihihi, air jernih, aku aku mandi, air jerniiih!" Aku menunjuk-nunjuk ke sungai. Sambil cekikikan. Padahal, dalam hati mangkel banget. Kedua lengan kekar Kak Zian melingkar sampai ke perutku. Dua tanganku dipegangnya erat.
"Jernih itu di kamar mandi, Fai. Makanya ayo, pulang. Mandi di rumah, ya, jangan di sungai kotor," bujuk Kak Zian. Persis membujuk anak kecil yang lagi tantrum tepat di telinga kananku.
Ck! Dada Kak Zian menempel ke punggungku, dia terus memegangi dari belakang. Kak Zian makin punya kesempatan untuk pegang-pegang dengan alasan mengejarku.
Kusikut keras perutnya.
"Aduh!"
Pegangan Kak Zian terlepas. Aku akan melompat, dan akan berenang ke seberang. Mereka pasti akan kehilangan jejak. Begitu rencanaku.
Aku bersiap ....
"Fai, stop!"
Sebelum kakiku melompat, Kak Zian kembali menangkapku. Kali ini dia memegangi dua kakiku. Lalu ... happ!
Dengan mudahnya mengangkatku, dipanggulnya aku seperti karung beras.
"Lepas! Zian jelek! Lepas!" Aku memukuli punggungnya.
"Hadeh! Kasian almarhum Mas Raka. Kasian juga Kak Zian. Mbak Fai nyusahin," gerutu Naya mengikuti langkah lebar Kak Zian.
"Lepasin! Aku mau mengejar Mas Rakaaaa ...."
Aris datang membawa motor matic. "Naikkan Mbak, Fai, Kak. Kakak yang nyetir biar aku pulang jalan kaki."
Aris turun. Kak Zian menurunkan aku dan mendudukkan di boncengan motor. Kupukul terus Kak Zian. Kena kepalanya, bahu dan dadanya.
Aris dan Naya membantu memegang lenganku.
__ADS_1
"Mbak, Kak Zian sakit digebukin terus, plis ... sadarlah! Terimalah kenyataaan kalau Mas Raka sudah tiada."
Sempat-sempatnya Naya menceramahiku.
"Mas Rakaaaaa!" Air mataku mengalir deras. Hidupku terasa kacau tanpa Mas Raka.
Naya naik di belakangku. Kak Zian memegang kemudi motor, lalu melajukannya.
Duduk di tengah, terlalu dekat dengan orang yang sangat aku benci, ingin rasanya melompat dari atas motor. Tapi, ini terlalu berbahaya.
Sampai di rumah Mas Raka. Tak ingin lagi dipanggul Kak Zian, begitu turun dari motor, aku berlari masuk rumah sambil tertawa-tawa. Melewati para tamu, semua mata tertuju padaku.
"Kasian ya, padahal masih muda dan cantik," ucap salah satu pelayat dengan tatapan miris.
"Iya, semoga masih bisa diobati," sahut tamu yang lain.
❤❤❤
"Mandi ya, Nak." Papa mengelus rambutku yang mulai berbau apek dan sangat gatal seperti ada kutunya.
Wajah Papa tampak pucat sore ini, beliau lagi tidak enak badan, masih menyempatkan datang menjengukku setelah Naya mengabari aku kabur di siang tadi.
"Mandi, Mbak. Biar setannya hilang." Naya menyiapkan handuk dan baju ganti untukku.
"Iya, semangat ya anak Mama, ayo mandi sama Mama," ajak Mama lembut.
Badanku terasa lengket, khawatir juga takut kena gatal-gatal, akhirnya aku pasrah saat Mama dan Naya membawaku ke kamar mandi.
Aku tak dapat menolak. Hanya diam saat Mama memandikanku. Naya memasang sampo ke rambutku.
"Mbak, harus bersih dan cantik, nanti pasti akan bahagia setelah menikah dengan Kak Zian. Hm, padahal, dia tuh cowok idamanku. Tapi, jika Mas Raka yang mewasiatkan agar Kak Zian menikahi Mbak, aku rela kok!"
Ngawur!
"Aaarrrhhh! Brrrrr!" Kusembur saja Naya yang bicara sembarangan.
❤❤❤
"Nak, kalau mau pulang ke rumah ayo. Mungkin kamar ini membuatmu terus mengingat Raka. Untuk menenangkan diri, pulang ke rumah tidak apa-apa. Mertuamu pasti memaklumi." Mama mengajakku pulang.
Sebenarnya, dalam hati yang paling dalam. Aku tidak ingin pergi ke mana-mana. Ingin selalu berada di kamar ini.
Tapi, sedih yang begitu mendalam, belum lagi diminta menikah dengan Kak Zian membuatku masih ingin terus menjadi orang gila. Dan terpaksa ingin pergi dari rumah ini. Bukan ke rumahku sendiri. Ke mana saja, asal bisa meredakan rasa sedihku, juga bisa jauh dari kakak iparku.
"Mau ikut kami pulang?" tanya Papa. Kembali membawaku ke pelukannya.
Nenek dan Mama mertua juga masuk ke kamar untuk melihat kondisiku.
Aku hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan apa pun.
"Mungkin, Nak Faizara tidak mau ikut pulang, Pak," kata Mama mertua menanggapi ucapan Papa. Mama mertua duduk di dekatku. Kutahu beliau sangat menyayangiku.
"Iya, asal jangan lari-larian lagi, ya Nak," pesan Papa. "Kami akan pulang sore ini, besok Papa dan Mama akan datang lagi."
"Iya silakan, kami akan menemani Nak Faizara, ada Zian juga yang siap menjaga." Mama mertua mengusap punggungku.
Apa? Huh! Kak Zian akan menjagaku? Aku mual mendengar itu.
Papa dan Mama pulang karena melihat aku tenang malam ini. Naya juga pamit, hari-hari ke depan, dia akan sibuk untuk mempersiapkan mendaftar kuliah.
Jam satu dini hari. Mama mertua yang tidur di kamarku tampak begitu lelap. Aku bertekad untuk pergi dari rumah ini. Berharap keluargaku tidak mengkhawatirkanku.
Hanya membawa uang dan ponsel di saku, aku mengendap-endap keluar dari kamar.
Di ruang tengah yang temaram, Kak Zian tidur di sofa panjang.
Aku melangkah sepelan mungkin, sampai di ruang tamu. Pintu dikunci, tapi kuncinya tergantung di sana. Jadi dengan mudahnya aku bisa membuka pintu depan dan berlari ke halaman.
__ADS_1
Kakiku memanjat gerbang dengan lihai, waktu kecil, meski perempuan aku memang suka memanjat-manjat pohon buah-buahan di halaman rumahku. Jadi, kakiku terbiasa dan tanpa kendala naik ke gerbang.
Akhirnya, aku keluar dari rumah Mas Raka. Antara lega dan nyesek juga. Rumah suamiku, tempat paling nyaman seperti rumahku sendiri.
Aku akan menelepon seseorang untuk menjemputku sambil berjalan cepat. Baru saja tangan merogoh saku celana untuk mengambil ponsel ....
"Faizara, mau ke mana?"
Dia lagi, dia lagi? Kak Zian seperti hantu. Dia sudah ada di belakangku.
Aku lari, sayangnya tak ada taksi yang lewat.
KaK Zian mengejarku. Ini orang bisa tidak memberiku kebebasan?
Kejar-kejaran kembali terjadi.
Aku masuk jalan sempit yang sepi.
Bunyi anjing menggonggong mengagetkanku. Jalan semakin melebar, kanan kiri seperti bangunan kosong.
Di depan, ada beberapa pria, berjalan sempoyongan ke arahku.
Mereka mabuk? Gawat.
"Hei ... lihat, itu ada bidadari lewat!" Satu diantara mereka ada yang menyadari keberadaanku. Kalau aku putar balik, akan dengan mudah bertemu Kak Zian.
"Ayo kita samperin!"
Jantungku berpacu kian kencang.
"Faizara, balik saja! Mereka mabuk, di depan sana tak ada jalan!" Kak Zian datang menyusul.
Pyaaaaar!
Satu orang memecah botol miras, dari lampu yang menerangi, pecahan botol yang dipegang diacungkan ke arahku.
"Ada yang menghalangi, mari kita seraaaang ....!"
Lima pria di depan meski sempoyongan, kini berjalan cepat menuju ke arahku.
Kak Zian meraih sebelah tanganku. "Ayo lari!"
Capek. Jauh-jauh berlari, ujung-ujungnya Kak Zian berhasil mengejarku. Mengajak lari bersama saat pria-pria mabuk semakin dekat ke arah kami. Tak kehabisan akal, kubawa tangan Kak Zian ke mulutku lalu menggigitnya.
"Aduh! Aduh, Fai ....”
Saat tangan Kak Zian terlepas, aku berlari, tapi bukan berbalik, tapi masuk ke salah satu rumah kosong. Gelap. Badanku gemetar. Jujur aku takut, tapi aku mencari jalan, sampai bisa tembus ke belakang rumah yang ditumbuhi rumput-rumput liar menyulitkan langkahku.
Di atas sana, bulan purnama menerangi.
"Fai, Faizara!!!" Kak Zian memanggil-manggil namaku.
Sumpah, capek banget. Saat merogoh celana, ponselku tidak ada!
Aku mengumpat, pastilah ponselku jatuh. Tubuhku semakin gemetar, mulai dilanda ketakutan.
“Faizara! Kamu di mana!” Suara Kak Zian semakin dekat, juga suara-suara orang mabuk yang mungkin juga ikut mengejar ditingkahi bunyi botol minuman yang mereka benturkan ke tembok. Mengerikan!
Mereka bisa saja berbuat anarkis.
Aku bangun, meraba-raba.
“Ayo, kita cari bidadari itu, kita nikmati tubuhnya dan pukul saja pria yang mengikutinya!”
Nikmati tubuhnya?
Pria-pria mabuk itu begitu menakutkanku ....
__ADS_1
Bersambung