Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Kecewa


__ADS_3

Aku tertegun melihat Kak Zian mematung melihat pada Salma yang digotong masuk mobil. Rasa cemburu menyeruak melihat suami yang sangat aku cintai masih ... khawatir pada Salma.


Apakah Kak Zian terpaksa mau memenuhi permintaan terakhir Mas Raka? Beberapa waktu lalu, saat membeli serabi ... dan ibu penjual serabi mengatakan Kak Zian sering membeli serabi untuk Salma, aku juga cemburu berat.


Rasa cemburu memudar saat Kak Zian meyakinkanku kalau dia mencintaiku, makanya dia menikahiku.


Rasa cemburu itu kini kembali bergolak, lebih parah dari sebelumnya.


"Zian, jangan laporkan Salma ke polisi. Kita bicarakan baik-baik, ya. Aku mohon padamu." Ustadz Hanafi masih sempat memohon pada Kak Zian sebelum masuk ke mobil yang akan membawa Salma ke rumah sakit.


Kak Zian tidak menjawab apa pun, justru Lek Hasyim yang merespons permohonan Ustadz Hanafi.


"Salma menyuruh Ratih menghanyutkan istri Zian, aku tak mau hanya anakku tersangkut kasus ini, padahal Salma-lah yang merencanakan pembunuhan!"


Nada suara Lek Hasyim masih tinggi. Tak peduli Ustadz Hanafi mulai berkaca-kaca, seorang bapak pasti tak ingin anaknya dijebloskan ke penjara.


"Zian ... kita bicarakan baik-baik, ya." Ustadz Hanafi menangkupkan dua tangannya.


Kak tidak merespons.


"Zian, kasian Salma. Dia melakukan perbuatan tak terpuji juga karena kamu." Suara salah satu tetangga Salam.


"Maafkan saja." Yang lain ikut menimpali.


"Salma mungkin dalam kondisi tertekan, bayangkan ... orang yang dia cintai menikah dengan orang lain. Stres pastinya Salma, duh ... kasian."


Kak Zian yang tadi menggebu-gebu ingin melaporkan Salma ke polisi, dia hanya terdiam melihat ke arah mobil, masih dengan tatapan khawatir.


Ustadz Hanafi lalu buru-buru masuk karena sudah dipanggil sopir.


Orang-orang yang berkerumun ikut memohon-mohon pada Kak Zian.


"Bubar! Bubar! Jangan kalian mengatur-ngatur Zian. Salma itu jahat!" Lek Hasyim masih emosi.


"Ratih juga jahat!" balas salah satu dia antara mereka.


"Betuuuuul!" koor suara tetangga Salma. Seperti paduan suara membuat Ratih menutup telinganya dan menarik tangan bapaknya untuk pulang.


Kak Zian, menarik lenganku juga mengajakku pulang. Di atas motor, Kak Zian hanya diam, tidak seperti biasanya.


Aku tidak menunjukkan kalau aku sedang cemburu, justru berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak fokus lagi pada Salma.


Aku tak bisa menebak bagaimana perasaan Kak Zian pada Salma, yang jelas Kak Zian sekarang milikku! Hanya milikku!


Tanganku melingkar di perut Kak Zian. Daguku kutempelkan di pundak kanan Kak Zian. Pokoknya, aku tak ingin Kak Zian berlarut-larut memikirkan Salma.


"Dingin banget malam ini, Kak."


"Ya." Jawaban pendek Kak Zian, tangan kirinya memegang tanganku di yang melingkar di perutnya.


Kak Zian ternyata tetap perhatian, tapi dia tidak bicara apa pun lagi sampai di rumah Nenek. Pun, Kak Zian hanya menjawab pendek saat ditanya Nenek.


Masuk kamar, Kak Zian merebahkan diri. Tidur telentang. Sebelah lengannya menyilang di depan wajahnya. Khas lagi galau.


"Kakak nggak apa-apa, kan?" Aku bertanya hati-hati. Duduk di ranjang, ada rasa tidak enak saat suamiku berubah, tidak seperti biasanya.


"Nggak apa-apa. Aku lelah. Mau istirahat." Begitu kata Kak Zian.


Kak Zian tidur, sedangkan aku tidak bisa tidur. Semalaman. Memikirkan tentang Kak Zian dan Salma. Semakin dipikirkan, kepalaku berdenyut sakit.


Kulihat Kak Zian sudah mendengkur halus. Kupeluk tubuh atletisnya. Kak Zian begitu lelap, tak bereaksi saat kukecup keningnya sambil berkata lirih, "Semoga Kakak tidak mencintai Salma. Cintai aku seutuhnya, yaa ...."


Kucoba pejamkan mata, tapi tetap terjaga sampai saat Subuh tiba.


❤❤❤


Kami sarapan pagi ini. Kak Zian tak membahas apa pun. Dia makan sedikit, persis sedang patah hati.


Lagi-lagi, perubahan sikap Kak Zian membuatku tak enak hati.


Nenek mengerti, beliau tidak menanyakan tentang Salma. Nenek berbisik padaku saat kami mencuci piring dan Kak Zian keluar setelah sarapan.


"Zian, kalau ada masalah berat, dia jarang mengungkapkan. Dipikir sendirian. Nenek bahkan tidak tau kalau Zian dan Salma punya hubungan sebelum menikah denganmu, Nak. Jangan kecewa pada sikap Zian ya, Nak. Nanti Zian juga bakalan cair lagi sikapnya." Nenek menatapku lembut.


"Iya, Nek. Aku belum begitu paham dengan karakter Kak Zian."


"Ya, kalian masih pengantin baru. Butuh waktu lama untuk mengetahui watak pasangan, kalian saling menghargai dan menghormati ya, Nak."


"Insya Allah, Nek."

__ADS_1


Aku bertekad untuk lebih sabar menghadapi ujian ini.


Setelah mencuci piring, kulihat Kak Zian masuk mengambil wadah lalu keluar lagi dari pintu dapur.


"Kak Zian mau memerah susu sapi?" tanyaku. Ikut keluar.


"Iya." Kak Zian jadi irit bicara.


"Aku mau belajar juga." Kuikuti langkah Kak Zian ke kandang sapinya. "Boleh ya?"


"Jangan." Lagi-lagi Kak Zian hanya menjawab pendek.


"Kenapa jangan, Kak? Aku kan mau belajar."


"Nanti tanganmu kotor."


"Nggak apa-apa." Aku tersenyum semanis mungkin, berdiri di samping kandang sapi.


"Baiklah." Kak Zian hanya sekilas melihat ke arahku. Dia kemudian duduk di dekat sapi berwarna putih campur hitam itu. Sapinya ada empat.


Aku juga ikut duduk di dekat sapi gembul itu. "Gimana caranya?"


"Sebelum diperah, bersihkan terlebih dahulu ambing dan ****** susu sapi dengan air hangat untuk merangsang keluarnya susu." Kak Zian mulai membersihkan.


"Oh begitu," ucapku sambil memperhatikan Kak Zian.


"Keringkan ambing dan ****** dengan lap bersih. Oleskan minyak kelapa atau bahan pelicin lain yang aman untuk memudahkan pemerahan serta menghindari luka pada ****** saat diperah."


Aku terus menyimak. Kak Zian melalukan apa yang dia jelaskan.


"Perah empat ****** susu dengan tangan hingga susu habis. Setelah selesai memerah, cuci lagi ambing dan ****** susu dengan air hangat. Saring susu hasil perahan dengan kain penyaring untuk memisahkan bulu, kotoran, atau sisa makanan yang masuk ke dalam susu. Setelah susu sudah diukur dengan alat penakar, pindahkan susu ke dalam wadah atau kantung plastik bersih. "Susu siap untuk dijual."


"Baiklah. Coba contohin dulu."


"Begini," kata Kak Zian sembari memegang ****** susu sapi perah itu, setelah melakukan langkah-langkah sebelum memerah susu sapi. Kak Zian lalu memencetnya. Keluar susunya ke wadah yang di sediakan.


Sepertinya mudah.


"Oh. Aku coba ya."


"Silakan."


Kak Zian segera mengelap wajahku dengan tangan kanannya. Dia tersenyum kecil. Aku ikut tertawa pelan melihatnya mulai tersenyum.


"Begini, Sayang." Kak Zian membawa tanganku. Lalu mengarahkan jariku untuk memencetnya.


"Oh begini. Aku ulangi lagi, Kak."


"Oke."


Aku pun mengulangi. Dan kali ini berhasil. "Yeyyy!"


"Nah, gitu dong."


"Susunya mau dijual ke mana, Kak?" Aku melanjutkan memerah susu sapi dengan hati bahagia.


"Ada KUD yang menampung susu sapi dari warga. Di jual ke sana, nanti dikelola, dikemas dengan bagus. Dijual susu aslinya, ada yang dijadikan yoghurt, permen susu, keju, dan banyak lagi. Di dekat KUD itu ada tempat wisata. Jadinya, produk dari susu itu laris dibeli pengunjung."


"Wah, aku mau ikut ke sana, sekalian mau beli olahan dari susu." Aku semakin semangat.


"Ya, sekaligus untuk oleh-oleh karena besok kita akan pulang, Mama katanya ingin membicarakan sesuatu. Kita juga akan menginap di rumahmu. Biar adil, keluargamu pasti juga kangen ingin kumpul-kumpul bersama kita."


Aku baru tahu kalau Kak Zian dan aku akan pulang, aku bahkan tidak tahu kapan mama mertua menelepon Kak Zian.


"Kita mau pulang?" Aku berhenti memerah susu sapi. "Lalu Nenek sendirian di sini."


"Nggak apa-apa. Kita bagi waktu untuk orang-orang yang kita sayang."


"Baiklah." Aku mengangguk setuju.


Kami memeras susu sapi sambil bercanda. Rasanya senang sikap Kak Zian sudah mencair.


"Zian. Ada tamu. Ustadz Hanafi katanya mau bicara denganmu," ucap Nenek dari arah pintu dapur.


Kak Zian menoleh, "Ya, sebentar, Nek."


Ada apa lagi, sih? Aku jadi cemberut karena ada bapaknya Salma.


Kak Zian berdiri. "Aku mau menemui bapaknya Salma dulu, ya."

__ADS_1


Aku hanya mengangkat bahu, perasaanku kembali jadi tidak enak. Ikut berdiri dan mengikuti Kak Zian ke ruang tamu.


"Nak Zian. Jangan laporkan Salma ke polisi ya." Pria itu berkata dengan mulut gemetar dan berjalan mendekat. "Nduk, maafkan kelakuan Salma. Bapak yakin, Salma telah menyesali perbuatannya dan mendapatkan hukuman dari yang Maha Kuasa. Salma ...sekarang kritis, dia belum siuman."


Ustadz Hanafi menangkupkan dua tangannya sambil mengangguk padaku. Kulirik Kak Zian yang menarik napas berat. Memejamkan mata sesaat.


"Ustadz yakin Salma menyesali perbuatannya?" Kak Zian bertanya, rahangnya mengeras seperti geram.


Tidak ada wajah khawatir pada Salma seperti tadi malam, meskipun pagi ini Ustadz Hanafi mengabarkan berita sedih. Itu membuatku menaruh harapan, bahwa Kak Zian sudah tidak mencintai Salma. Dia hanya mencintaiku.


"Yakin, izinkan bapak mendidik Salma lebih baik lagi ke depannya agar dia tidak ceroboh ...."


"Bukan hanya ceroboh, dia merencanakan pembunuhan!" potong Kak Zian dengan nada lantang. "Dan harus dilaporkan ke polisi."


"Jangan, Nak!" Ustadz Hanafi seperti putus asa, dia menjatuhkan dirinya, menyentuh kaki Kak Zian sambil menangis. "Tolong maafkan Salma, maafkan dia ...."


Kak Zian menunduk, melihat pria yang sudah berumur itu menyentuh kakinya.


"Bangunlah, Ustadz. Kita bicara di kursi." Kak Zian menyentuh dua pundak Ustadz Hanafi memintanya berdiri, bagaimana pun, gak elok juga membiarkan orang tua menyentuh kaki Kak Zian.


Walaupun dalam kondisi emosi, Kak Zian masih menghormati orang yang lebih tua. Kami duduk di kursi.


"Nduk, anakku punya salah besar padamu, tapi ... jangan bawa kejadian ini pada yang berwajib. Izinkan anakku memperbaiki diri ...." Untuk kesekian kalinya bapak Salma memohon.


Ustadz Hanafi melihat padaku, ekspresi wajahnya tak bisa digambarkan. Aku tak tahu harus menjawab apa. Memilih diam, biar Kak Zian yang menangani semuanya. Aku setuju Salma dilaporkan ke polisi.


"Ustadz ...." Kak Zian menarik napas panjang. “Saya berhutang budi pada Njenengan ....”


Punya hutang budi apa Kak Zian pada Ustadz Hanafi?


Ustadz Hanafi mengangguk pelan. Sementara aku penasaran.


“Sayang, dulu waktu aku kelas 4 SD, saat mandi di sungai aku terseret arus. Dari pagi sampai sore aku tidak ditemukan. Warga mengira aku meninggal.” Kak Zian berhenti sejenak. Menatapku lembut, lalu beralih melihat pada Nenek.


“Nenek mengira Zian sudah meninggal, Nak. Nenek menangis terus, putus asa,” sambung Nenek yang juga ada di ruang tamu.


Aku menyimak, semakin penasaran dengan cerita Kak Zian.


“Ustadz Hanafi yang waktu itu pulang ke rumah ibunya dekat sungai, saat hampir Magrib menemukan tubuhku nyangkut di akar pohon di pinggir sungai. Beliau juga mengira aku sudah meninggal. Beliau menolongku, melakukan CPR**, juga bantuan napas sampai aku siuman. Jadi, aku tak dapat membayangkan jika tidak ditemukan Ustadz Hanafi.” Kedua mata Kak Zian seperti menerawang ke masa lalu.


"Alhamdulillah, Nak. Allah masih memberikan kehidupan padamu." Uatadz Hanafi mengusap pelan punggung Kak Zian yang duduk di sampingnya.


"Jadi, Sayang. Aku bingung, dan mempertimbangkan masalah ini. Aku tidak akan membawa Salma ke polisi. Aku memilih jalan damai, agar hidup kita semua tenteram ke depannya."


Kak Zian mengusap kepalaku yang seketika kecewa dengan keputusan Kak Zian. Seharusnya tidak semudah ini melepaskan Salma. Keputusan Kak Zian berbalik 180 derajat hanya karena dulu bapaknya Salma menolongnya.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih, Nduk. Masya Allah, semoga selalu hidup bahagia." Ustadz Hanafi memeluk Kak Zian.


Kak Zian, semudah itukah memaafkan Salma?


"Sama-sama, Ustadz. Ustadz harus janji untuk mengawasi dan mendidik Salma, jangan sampai dia melakukan kesalahan yang sama dan jangan sampai kembali mengganggu rumah tanggaku lagi."


"Insya Allah, Nak." Ustadz Hanafi menangis tersedu-sedu.


Aku sewot, langsung berdiri kemudian berjalan menuju kamar. Aku kecewa pada Kak Zian! Bilang saja Kak Zian masih mencintai Salma sehingga tidak mau orang yang Kak Zian cintai itu di penjara.


Seharusnya aku protes! Kenapa aku hanya diam saja? Sampai terdengar Ustadz Hanafi pulang, aku tak bisa melakukan apa-apa selain mengambil pakaianku di lemari dan memasukkannya ke koper sambil berlinang air mata.


"Sayang ... kenapa menangis?" Kak Zian masuk, dia langsung duduk di dekatku, mengusap air mataku.


"Aku mau pulang," sahutku.


"Iya besok."


"Sekarang!" pekikku dengan suara parau. Air mata membuat pandanganku kabur. Tangan masih memasukkan asal pakaian ke koper dengan tangan gemetar.


"Kenapa? Ada apa, Sayang?" tangan Kak Zian menghentikan tanganku agar berhenti memasukkan pakaian. Tangan itu aku tepis.


"Aku kecewa pada Kakak. Orang yang berencana membunuh istrimu dimaafkan begitu saja! Kak Zian plin plan! Hanya karena Kak Zian masih mencintai Salma, kan?! Pantas saja kan Zian galau, pusing, tak ingin Salma dipenjara! Kenapa Kak Zian memenuhi keinginan Mas Raka untuk menikahiku jika Kak Zian mencintai Salma! Nikahi saja Salma! Salma lagi kritis, jenguk ke rumah sakit, Kak! Aku mau pulang!"


Aku tak dapat mengontrol emosi, baju di koper aku hamburkan. Lalu berlari ke pintu kamar. Hampir saja aku menabrak Nenek yang terlihat kebingungan di depan pintu kamar.


"Sayang, Sayang ...."


Kak Zian mengejarku, sebelum sampai di pintu depan, Kak Zian berlari dan menghalangi langkahku.


Sayangnya tekadku sudah bulat, aku mau pulang dan aku mau ....


"Ceraikan aku, Kak!" teriakku frustrasi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2