Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Pura-pura


__ADS_3

Kulihat Kak Zian sedang memangkas rumput di halaman samping. Dia memakai kaus singlet, sehingga lengan kekarnya yang berkeringat terlihat mengilat saat diterpa matahari.


Suara Mama mertuaku sampai ke balkon ini. Rupanya Mama juga ada di halaman samping.


"Nak, nanti capek kalau kamu bersih-bersih seluruh pekarangan ini."


"Nggak apa-apa, Ma. Ini pekerjaan enteng saja."


Mama tertawa. Bibirku mengerucut melihat Kak Zian. Cari muka saja, ngapain sibuk memangkas rumput di halaman samping dan halaman belakang yang lumayan luas? Toh, ada tukang kebun juga di rumah ini.


"Iya tapi jangan terlalu capek juga, Nak." Mama berkata pengertian. Kak Zian tersenyum.


"Kalau Zian diam saja, malah pegal-pegal semua, Ma. Sudah biasa aktivitas berat di ladang," katanya pada Mama.


Hm, mumpung Kak Zian lagi sibuk. Aku punya ide cemerlang. Segera aku membuka lemari. Mencari benda berharga yang aku simpan rapi dalam kotak.


Aku mengendap-endap keluar kamar. Turun ke lantai bawah dan menuju kamar yang ditempati Kak Zian. Untung kamarnya tidak dikunci. Sumpah aku deg degan sekali. Baru kali ini aku melakukan hal licik begini, hanya karena marah pada kakak iparku itu.


Tanganku terulur, membuka resleting tas ransel warna hitam itu lalu aku segera meletakkan kotak perhiasan yang jadi mas kawin Mas Raka buatku di antara baju-baju dan celana Kak Zian.


Kotak perhiasan yang berisi kalung, sepasang anting, dua cincin, dan gelang sudah aku masukkan ke tas ransel Kak Zian. Aku lalu tersenyum miring dan buru-buru keluar sebelum si nyebelin itu datang.


❤❤❤


Bagaimana caranya aku akting menangis? Aku tidak bisa menangis kalau tidak sedih. Demi mulusnya rencana ini, aku mengambil obat tetes mata, lalu meneteskannya pada kedua mataku. Aku mengerjapkan mata, rasanya perih.


Selanjutnya, aku membuka ponsel, memanggil lewat video, kebetulan Mas Raka sedang online.


Begitu terhubung ....


"Assalamualaikum, istriku Sayang ...." Mas Raka menyapaku.


"Waalaikum salam, Mas ...." Aku terisak-isak. Lebih tepatnya pura-pura menangis.


Lidahku terasa kelu. Gara-gara begitu kuatnya keinginanku agar Kak Zian segera pulang, aku berbohong pada suamiku sendiri.


"Hei, Sayang, ada apa kok nangis?" Mas Raka agak panik.


"I-itu Mas ... tapi kalau aku cerita Mas gak akan marah, kan?" Aku kembali akting menangis.


"Cerita saja, Sayang. Ada apa? Kamu tidak apa-apa, kan? Apa luka di tanganmu masih sakit?" Mas Raka terlihat sangat khawatir.


"Bukan karena luka ini aku menangis, Mas. Tapi kotak perhiasan mas kawin yang aku simpan di lemari ... raib." Aku semakin terisak-isak. "Sepertinya ada yang mencuri."

__ADS_1


"Duh, coba cari lagi yang teliti, Sayang." Mas Raka menyarankan.


"Sudah, Mas. Tetap gak ada. Aku eman banget, set perhiasan mas kawin itu sangat berharga buatku." Aku menutup wajah, sesenggukan.


"Sabar, Sayang. Minta bantuan mama nyarinya. Kalau gak ketemu, nanti aku ganti." Mas Raka menenangkanku.


"Iya, Mas. Apa pembantunya baik semua?" Aku mulai pura-pura mencurigai tiga pembantu di rumah ini.


"Bik Fatma dan anaknya Ina sudah lama bekerja di rumahku, mereka pembantu yang jujur. Marini juga orang baik, tak mungkin mereka mencuri." Mas Raka meyakinkanku.


"Lalu?" kejarku. Ingin menyebut nama Kak Zian tapi ragu.


"Ya, aku yakin pembantu di rumah tak akan mencuri. Dua tahun lalu pernah pencuri masuk rumah dan mengambil barang-barang berharga di ruang tengah. Setelah itu, tak ada kejadian seperti itu lagi."


"Oh ... jangan-jangan, semalam ada pencuri masuk rumah atau ...." Aku kembali ragu untuk menyebut nama Kak Zian.


"Dicari dulu, Sayang. Siapa tau nanti ketemu."


"I-iya, Mas."


Setelah video call berakhir, aku mengusap dada. Kupejamkan mata dan menarik napas panjang.


"Maafkan aku, Mas."


❤❤❤


Mama tampak terkejut. "Kok bisa hilang, Nak?"


"Fai juga tidak tau, Ma," sahutku semakin terisak-isak.


Mama lalu memanggil tiga pembatu di rumah ini dan menanyakan pada mereka. Pada Ina, pada Bik Fatma, dan pada Marini. Marini yang bertugas bersih-bersih di dalam rumah, dia biasanya pulang sore, tidak menginap karena rumahnya dekat.


"Saya tidak tau, Nyonya, Non. Sumpah. Tadi menyapu dan ngepel di kamar Non, tapi saya sama sekali tidak membuka lemari."


Marini berkata dengan sungguh-sungguh tapi agak gemetar. Dia kelihatan takut dituduh. Kepalanya menggeleng kuat-kuat. Melihat ke Mama dan padaku.


Kasihan juga melihat Marini ketakutan.


"Kamu letakkan di mana, Nak?" Mama bertanya dengan raut prihatin padaku.


Kulirik Kak Zian yang memotong rumput menghentikan aktivitasnya. Dia melihat ke arah kami.


"Di lemari, Ma." Aku menyeka air mata buayaku.

__ADS_1


"Kamu nggak keluar ke mana-mana kan, pagi ini?" tanya Mama lagi.


"Tadi Fai ke halaman sebentar waktu ada tukang sayur." Aku memang tadi ikut membeli camilan, Ina dan Bik Fatma juga berbelanja kebutuhan dapur.


"Non, jangan tuduh saya, ya. Saya tidak tau ... demi Allah." Marini kembali meyakinkan kami.


"Mari kita cari, siapa tahu kamu lupa meletakkan di mana, Nak. Atau Raka yang memindahkan." Mama menepuk pelan pundakku.


"Aku sudah menghubungi Mas Raka, Ma. Dan Mas Raka juga tidak tau."


Aku menelan ludah berat, gara-gara Kak Zian aku jadi bersandiwara dan berbohong. Demi agar dia tidak betah di rumah ini. Mungkin ini sudah keterlaluan, tapi mau bagaimana lagi.


Aku menjelma menjadi jadi orang yang tega ....


❤❤❤


Mama membantuku mencari perhiasan yang kubilang hilang di kamarku.


Nihil. Aku merasa kasihan juga pada mama mertuaku, ada rasa tak nyaman dalam hati, tapi rasa lain mendominasi. Aku lakukan ini, untuk memberi pelajaran pada Kak Zian! Itu yang membuat aku membela diri sendiri.


Pintu kamarku diketuk. Aku agak deg degan. Saat kubuka pintu, Kak Zian memegang kotak perhiasan sambil menaikkan sebelah alisnya, tampangnya kebingungan.


Dia terlihat sudah mandi setelah membersihkan rumput. Rambutnya basah, aroma sampo menguar bercampur aroma maskulin parfumnya. Di wajahnya, ada sisa-sisa air membuatnya terlihat segar.


“Loh, ini kak kotak perhiasan yang aku cari?” Aku pura-pura terkejut sambil menunjuk kotak perhiasan di tangan Kak Zian.


"Fai ... aku tidak tau bagaimana bisa perhiasan yang kamu cari ada di tas ranselku," kata Kak Zian. Dia mengembuskan napas berat sampai berembus ke wajahku.


Kak Zian mengangsurkan kotak perhiasan itu padaku.


Aku menangis dan mengambil kasar kotak perhiasan dari tangan Kak Zian. "Kenapa Kakak bilang tidak tau? Dikira kotak perhiasan ini punya kaki dan jalan sendiri masuk ke ransel Kak Zian?"


Suara aku nyaringkan, agar mama mertuaku yang ikut mencari di kamar percaya kalau perhiasan itu ... Kak Zian yang mengambilnya.


"Aku juga tidak tau, dari tadi aku membersihkan rumput. Dan untuk apa juga aku mengambil perhiasanmu?" Dia mengangkat bahu.


"Kalau ada di ransel Kak Zian, kenapa Kakak tidak mengaku saja kalau Kak Zian yang mengambil?" tuduhku sengit.


"Lah, kalau aku niat mencuri, ngapain juga aku serahkan ke kamu?" Kak Zian balik bertanya. Memicingkan matanya. Menatapku lekat membuat jantungku berpacu kian kencang.


Duh, aku tidak boleh kalah. Sebaiknya aku mengucapkan apa? Untuk meyakinkan mama mertuaku kalau Kak Zian-lah yang mengambil kotak perhiasan berikut isinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2