Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Selamat


__ADS_3

Aku ingin membuka mata, tapi terasa sangat berat, akhirnya aku tetap memejamkan mata. Seluruh tubuhku juga terasa sangat sakit.


Tenggorokan terasa kering saat aku menelan ludah. Telingaku mendengar suara jangkrik dan suara katak yang saling bersahutan.


Tubuhku hangat, sepertinya aku memakai selimut yang sangat tebal.


"Kak, Zian ...."


Suaraku serak, tangan meraba-raba. Tak ada siapa-siapa di sisiku. Ke mana Kak Zian? Aku ingin bertanya pada Kak Zian, kenapa tubuhku sangat sakit.


"Kak, Zian ...." Aku mengulangi. Berharap Kak Zian mendekat. Tapi, tak kudengar suaranya, dan tak kurasakan sentuhannya.


Aku mencoba membuka mata, pelan-pelan, dan ....


"Aaaaa ... si-siapa kamu! Siapa?!" Kaget, ada pria berdiri di samping ranjang. "Siapa, kamu? A-aku di mana?!"


Aku berteriak, mendapati tubuhku yang sakit semua berada di atas ranjang. Kulihat sekeliling, aku berada di sebuah gubuk dengan dinding bambu, bersama pria bertelanjang dada, bawahannya memakai celana pendek. Apa yang dia lakukan padaku?


Dia hanya diam sambil memandang wajahku. Cahaya dari lampu teplok, membuatku seolah berada di zaman dulu.


"Kamu siapa? Kamu apakan aku!"


Aku berusaha untuk bangun, tapi badan begitu lemah, sementara pria itu terus mengamatiku.


"Tenang, tenang ... jangan bangun kalau tidak kuat. Kamu siapa? Apakah kamu bidadari yang mandi di sungai lalu kehilangan selendang dan tidak bisa balik ke kayangan?"


Pria itu lalu tersenyum.


"Jangan ngaco! Aku mau pulang!" Aku kembali berteriak. Seiring kepalaku yang berdenyut sakit.


"Pulang ke mana? Tinggallah di sini. Aku yakin, kamu adalah wanita yang dikirim Tuhan untukku."


Pria ini semakin melebarkan senyumnya, aku hanya bisa menangis. Takut dan khawatir jadi satu. Dia telah melakukan apa saat aku tak sadar? Apakah dia sudah menjamah tubuhku?


"Aku mau pulang!" Kembali mencoba untuk bangun. Sayangnya, kepalaku sakit.


"Sudahlah, bidadariku ... jangan bangun. Biar aku yang merawatmu." Pria itu berkata lembut.


"Hei, aku Faizara! Bukan bidadari! Aku mau pulang!" Suaraku serak.


Dia tertawa kecil. "Faizara? Nama yang bagus. Tinggallah di sini bersamaku. Jadilah istriku."


Apa katanya? Aku mau dijadikan istrinya? Mungkin dia pikir aku hilang ingatan setelah terseret arus sungai, aku masih normal, aku ingat Ratih dan si Mbah itu seperti sengaja mendorongku agar hanyut.


"Aku istrinya Zian. Antarkan aku pulang!"


"Zian siapa? Di sini tidak ada yang namanya Zian." Pria itu mengangkat bahunya.


"Zian, dia tinggal di desa Curah Sawo, aku minta tolong, bilang kepadanya kalau aku masih hidup." Aku menutup wajahku. Membayangkan Kak Zian kelimpungan mencariku.


"Tidak ada nama desa itu di sini." Dia menggelengkan kepalanya.


"Desa itu ada!" Aku ngotot.


Pria berbadan tegap itu kembali menggeleng, kemudian berjalan keluar. Seolah tidak mau mendengar penjelasanku.


Seandainya ada ponsel, aku ingin menelepon Kak Zian, agar dijemput. Aku tak ingin berlama-lama berada di gubuk ini dengan pria yang tidak aku kenal. Meskipun pria itu yang kemungkinan besar telah menolongku.


Dari dinding gubuk ini ada lubang kecil, tampak cahaya api di luar sana. Lalu wangi rempah-rempah tercium hidungku. Entah apa yang dilakukan pria itu.


Aku berharap, Kak Zian segera mengetahui keberadaanku. Aku sangat takut, pria yang menolongku itu ... bisa saja melakukan perbuatan buruk padaku.


Melihat ke arah pintu gubuk ini, ada dua pintu, aku berinisiatif untuk pergi dari sini dari pintu yang satunya agar tidak ketahuan. Bagaimana caranya? Tubuhku begitu lemah. Tapi, karena tekadku sudah bulat, aku sekuat tenaga bangun, lalu duduk.


Tulang-tulangku terasa remuk. Pasti karena sungai berbatu berarus deras itu, mengombang-ambingkan tubuhku.


Mengatur napas. Aku akan turun saat pintu yang satunya lagi dibuka. Pria itu mengernyitkan dahinya.


" Kamu sudah bisa duduk? Aku masak bubur untukmu. Makanlah. Dan ... kalau kamu mau pipis biar aku gendong ke luar."


"Tidak-tidak ...." Aku menggeleng kuat-kuat. Digendong keluar oleh pria yang tidak aku kenal? Tidak, aku tak akan mau.


"Tidak? Kenapa? Kamu takut aku apain? Kalau aku mau, saat kamu tak sadarkan diri, aku sudah mengambil kesempatan itu." Pria itu tertawa. Seakan mengejekku. Bubur di baskom dia letakkan di dekatku. "Makanlah, kamu butuh tenaga."


Aku tidak menjawab. Takut di bubur itu ada apa-apanya, meskipun kelihatannya begitu menggoda dengan topping ayam suwir.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu takut mau makan bubur in? Takut ada racunnya?" Dia pengangkat sebelah alisnya. Bibirnya melengkung, mengejekku.


"Aku tidak mau makan, aku hanya mau pulang."


Pria itu kembali tertawa. "Bagaimana kamu akan pulang dalam kondisi tubuh lemah dengan perutmu kosong. Jangan egois, makanlah bubur ini. Atau, kamu mau disuapi?" Pria tampan ini kembali menggodaku.


Bunyi perutku tidak dapat dikompromi. Aku melirik bubur ayam, rasa lapar yang teramat sangat membuat tangan kananku meraih baskom.


"Makanlah.”


Bubur yang masih mengepul itu, aku sendok. Tak sabar ingin memakannya. Aku makan dengan lahap, rasanya masih lapar dan pengin nambah. Pria yang masih berdiri sambil melihatku itu peka.


"Sini baskomnya, aku mau tambah buburnya."


Aku mengangsurkan baskom pada pria itu, dia tersenyum. "Gak usah malu calon istriku ...."


"Aku bilang sudah punya suami!" Aku langsung meradang, sedangkan pria itu tertawa ngakak sambil berbalik dan berjalan ke arah pintu lalu berbalik dan menatapku lekat.


"Aku tetap akan menikahimu," katanya lalu keluar.


Aku mengusap dada. Lalu beristigfar. Masalah apa lagi ini?


❤❤❤


Pikiran dipenuhi dugaan buruk yang akan terjadi padaku. Seharian aku menahan pipis. Pria ini menungguiku, duduk di bawah beralaskan tikar.


"Ayo aku akan menuntunmu kalau mau ke kamar mandi. Aku sudah siapkan air." Dia terus membujukku.


"Tidak!" Aku menjawab ketus.


"Yakin tidak mau pipis?"


Bukan hanya kebelet pipis, perutku mulai sakit. Rasanya ingin BAB. Bagaimana ini?


Pria ini menghela napas berat, lalu keluar dari gubuk ini. Cukup lama, entah ke mana dia.


Saat itulah, aku mencoba duduk. Lalu dua kaki kuturunkan pelan. Rencanaku mau keluar untuk pipis dan pergi dari sini meski kondisiku tidak memungkinkan.


"Di mana istriku, Her?"


Ada suara dari arah luar. Suara yang sangat aku kenal. Suara Kak Zian!


"Kak aku di sini!" teriakku sambil menangis. Apa yang aku takutkan ternyata tidak terjadi. Kak Zian datang!


"Sayang!" ucap Kak Zian sambil membuka pintu dari anyaman bambu. Raut wajah suamiku tampak kacau, ada air mata menggenang di kedua matanya.


Kak Zian berlari ke arahku, langsung memelukku. Air matanya hangat jatuh ke pundakku. "Alhamdulillah, aku khawatir ... Sayang, aku takut kamu pergi meninggalku."


"Aku juga takut, Kak ... takut tidak bisa pulang ...." Kupeluk Kak Zian semakin erat.


Pria yang menolongku masuk, diikuti Naya, Aris, juga Papa, Mama, Mama mertua. Beberapa tetangga Kak Zian juga ikut. Mereka pasti ikut mencariku.


Suasana hatiku tambah haru. Sampai tercekat saat Papa dan Naya berdiri di dekatku. Kak Zian melerai pelukan. Berganti Papa yang memelukku.


"Pa, Ma ...." Hanya itu suara yang aku bisa ucapkan. Papa mengusap punggungku.


"Syukurlah, Nak. Papa sangat mengkhawatirkanmu." Papa kemudian mengusap air mataku.


"I-iya, aku ... hanyut saat mau menolong nenek yang mau menyeberang sungai." Meski aku berpikir Ratih sengaja agar aku hanyut, tak enak juga aku menuduh, apalagi ada bapak Ratih masuk ke gubuk ini.


Kedua mata Mama berkaca-kaca, semua yang ada di gubuk ini larut dalam keharuan.


Mama berganti memeluk dan menciumi wajahku. "Alhamdulillah, Mama sangat khawatir."


"Iya, Ma. Sama." Air mataku mengalir


"Aku juga khawatir, takut Mbak nggak ketemu. Kan, kasian Kak Zian ... dia sangat sedih," celetuk Naya.


Kak Zian menarik napas lega. "Betul kata Naya, kalau istriku ini tidak ketemu, bagaimana nasibku? O iya, dia Herman, sahabatku sejak kecil, terima kasih ya, Her."


Kak Zian menepuk pundak Herman. Pria itu tersenyum tipis. "Ya, sama-sama. Kukira, wanita yang kutolong adalah jelmaan bidadari dari kayangan, soalnya cantik banget. Ternyata dia istrimu."


Bisa-bisanya Herman bicara seperti itu pada Kak Zian, konyol banget dia membuat beberapa orang yang ikut mencariku tersenyum.


“Iya, dia istriku. Faizara.” Kak Zian memberitahukan namaku.

__ADS_1


Aku menyalami mama mertua. Beliau lalu memelukku. "Ya Allah, alhamdulillah menantuku selamat.”


“Alhamdulillah, Ma.”


Kami larut dengan rasa syukur.


Setelah berterima kasih pada Herman, kami pulang. Aku dibawa dengan memakai tandu yang sudah disediakan warga yang ikut mencari. Untuk sampai ke jalan besar, cukup lama dan jalannya menanjak.


Mobil Papa parkir di pinggir jalan, aku dibawa masuk, dibopong oleh Kak Zian. Aku akan dibawa ke rumah sakit terdekat.


Selama perjalanan, tanganku tak ingin berhenti memegang tangan Kak Zian.


"Kak ...."


"Hm?" Kak Zian menunduk, kepalaku di pangkuan Kak Zian.


"Seandainya aku tidak ketemu, lalu ditemukan meninggal, apa Kak Zian akan menikah dengan Salma?" Tiba-tiba terlintas pikiran negatif.


Kak Zian menatapku lembut. "Tidak boleh berandai-andai begitu, Sayang. Kamu sekarang sudah ditemukan, kok malah berpikir yang tidak baik?"


"Iya tidak boleh bilang begitu, Mbak.” Naya yang duduk di depan menoleh padaku.


"Iya, deh." Aku tersenyum, saling pandang dengan Kak Zian yang juga tersenyum padaku. Aku gemas melihat cambang di pipi Kak Zian, tak sabar pengin ... menciumnya.


❤❤❤


"Aku nggak sempat menolong Mbak, sampai Mbak hanyut. Maaf, ya ...." Ratih wajahnya memelas, dia dan orang tuanya menjengukku di rumah sakit.


Keluargaku dan keluarga Kak Zian masih keluar untuk Shalat di musholla rumah sakit.


"Iya nggak apa-apa." Tak ingin menuduh sembarangan meski aku curiga Ratih sengaja, karena dia tertawa saat aku terseret arus sungai.


"Mbak Fai baik banget, beruntung Kak Zian mendapatkan istri seperti Mbak Fai." Ratih wajahnya ceria.


Kak Zian tersenyum, “Ya, aku bersyukur berjodoh dengan Faizara.”


Ratih sepertinya buru-buru ... dia langsung pamit pulang, mengatakan masih ada acara lain.


"Kak, waktu aku terseret arus, Ratih dan nenek itu tertawa." Aku curhat saja sama Kak Zian membuatnya mengerutkan alis.


"Tertawa? Nenek siapa?" Wajah Kak Zian seperti heran.


"Ada nenek yang mau menyeberang sungai, katanya nenek itu mau ke desa kita. Aku dan Ratih mau bantuin nenek itu."


"Sebelah sungai itu tidak ada rumah penduduk. Bagaimana mungkin seorang nenek tinggal di sana dan ingin datang ke desa ini?"


Pertanyaan Kak Zian yang terheran-heran dengan apa yang aku katakan membuatku seketika bergidik ngeri dan semakin yakin kalau Ratih sengaja membuatku celaka.


"Apa mungkin Ratih sengaja?" Kak Zian bertanya-tanya sendiri.


"Kupikir juga begitu."


"Kalau itu benar, sungguh keterlaluan Ratih." Rahang Kak Zian mengeras, tanda dia marah. "Akan kususul dia."


Kak Zian akan berbalik, tapi aku mencegahnya dengan menyentuh tangannya. "Jangan, Kak. Aku gak mau Kak Zian dan Ratih ribut di rumah sakit. Lagi pula Ratih tidak akan mengakui kalau dia sengaja, kan? Barusan saja dia terburu-buru."


Kak Zian menarik napas panjang, pasti menahan emosi. "Benar, aku akan cari tau siapa nenek itu dan apa kaitannya dengan Ratih sampai dia sengaja mengajakmu ke sungai, lalu ada nenek mau menyeberang, memintamu ikut membantu nenek itu. Dia jelas sengaja."


Kak Zian seperti detektif, wajahnya serius, pasti sedang berpikir keras.


"Iya, Kak. Diam-diam saja kalau mau menyelidiki masalah ini. Jika benar Ratih sengaja, dia ingin memisahkan aku dan Kak Zian. Kok tega banget?" Aku tak habis pikir dan merasa tak punya salah pada Ratih.


Kak Zian menganggukkan kepala, "Aku jadi yakin Ratih mencintaiku, makanya sengaja ingin membunuhmu. Ini sudah bukan perkara yang main-main."


"Iya." Suaraku serak, aku juga emosi.


Kak Zian membungkuk, memberikan kecupan di keningku. Cukup lama membuatku tenang.


"Jangan banyak berpikir agar cepat pulih. Biar suamimu ini yang akan mencari tau kebenarannya.” Kak Zian menatapku. Tatapannya menyejukkan hatiku. Aku hanya mengangguk.


Entah kenapa, ditatap seperti ini aku menjadi salah tingkah. Seolah baru bertemu dengan suamiku yang gagah dan ganteng ini.


Saat Kak Zian mencium bibirku lembut dan memejamkan kedua matanya, aku menyentuh pundaknya karena pintu dibuka dan ada yang masuk.


Kak Zian begitu menikmati ciuman ini sampai tidak sadar meski aku mengguncang pundaknya, suara papa berdehem membuat Kak Zian melepaskan ciumannya dan menoleh ke pintu membuat Kak Zian meringis dan spontan berdiri.

__ADS_1


Ya ampun ... ternyata, Papa, Mama, Naya, Mama mertuaku, dan Aris sudah masuk kamar ini dan semuanya mematung melihat padaku dan Kak Zian membuatku dan Kak Zian malu.


Bersambung


__ADS_2