
Aku keluar dari rumah Nenek dengan langkah tergesa-gesa. Kak Zian terus mencoba mencegahku.
"Aduh, Sayang ... ini sudah malam, besok saja ya kalau mau pulang," katanya sambil meraih sebelah tanganku.
"Aku tetap mau pulang sekarang! Gak usah diantar!" Kutepis kasar tangan Kak Zian dan kembali kulanjutkan langkah kakiku yang kini semakin jauh dari rumah Nenek.
"Tidak ada angkutan kalau malam," ucap Kak Zian sambil mendesah berat. pasti karena aku tak dapat dicegah untuk pulang malam ini juga.
Air mataku terus keluar, mengingat Kak Zian ternyata sebelum menikahiku ... dia mencintai Salma. Kurasa dia hanya terpaksa menikahiku, karena tidak enak bila tidak menepati permintaan Mas Raka.
Kini, tak kupedulikan lagi ucapan Kak Zian yang memohon agar aku tidak pulang. Kedua kaki ini berlari kencang. Saat sampai di depan warung serabi, beberapa pembeli sontak melihat ke arahku.
"Zian ada apa? Itu istrimu, kan? Kenapa lari-lari?" tanya salah seorang ibu-ibu heran.
"Iya." Kak Zian menjawab singkat, dia kembali mengejarku. "Sayang, di depan gelap. Sudah tidak ada rumah penduduk."
Kak Zian berhasil mengejarku dengan napas ngos-ngosan. Sama, aku capek dan berjalan biasa lagi.
"Biarain!" Aku sok berani. Melihat ke depan, jalan tampak gelap. Dia atas sana, bulan yang awalnya terang kini tertutup awan.
"Sayang, kasian Nenek, beliau pasti nungguin mau makan serabi."
"Serabi kesukaan Salma, kan?" Aku kembali berlari. Kakiku lalu tersandung batu karena jalanan gelap. "Aduh!"
Aku lantas berjongkok memegang jempol kaki yang sakit sekali. Aku meringis.
"Sayang, kenapa?" Kak Zian bertanya khawatir sambil ikut duduk.
"Sa-sakit ...." Aku benar-benar kesakitan.
"Kamu kesandung? Ayo, gendong. Kita pulang." Kak Zian langsung membopongku sebelum aku sempat menolaknya. Dia lekas berjalan ke arah jalan pulang.
"Aku mau pulang, turunkan aku!" Aku memukul dada Kak Zian.
"Aduh, Sayang ... ini sudah malam, kita balik ke rumah Nenek ya." Kak Zian berkata lembut.
Detak jantungnya agak cepat terdengar ke telingaku karena pipiku menempel ke dadanya.
"Sekarang Kak Zian jujurlah, Kakak masih cinta kan, sama Salma?"
"Tidak, dia hanya masa lalu, aku sudah menikah denganmu itu artinya aku mencintaimu." Kak Zian berkata tegas. Aku yakin dia menunduk, napasnya yang segar mengarah ke hidungku. Suasana gelap jadi aku tidak bisa melihat wajah Kak Zian.
"Kakak tidak bohong, kan?"
"Aku jujur, Sayang ...." Kak Zian berkata lembut.
Jalan menanjak, suamiku ini tambah ngos-ngosan, dia pasti capek membopongku. Aku kasihan, Kak Zian berusaha meyakinkanku bahwa dia sekarang mencintaiku.
Aku melingkarkan dua tangan di belakang leher Kak Zian. Sekarang aku percaya dengan apa yang dikatakannya.
Ada rasa bersalah dalam hati, saat sampai di jalan yang diterangi lampu, wajah Kak Zian tampak berkeringat. Dia sesekali menunduk menoleh padaku sambil tersenyum.
"Kak ...."
"Hm ...?" Kak Zian kembali menunduk.
"Maafkan aku ya, Kak." Aku berkata tulus.
Kak Zian tersenyum. "Tentu, aku memaafkanmu, Sayang."
Aku juga tersenyum. "Aku berat ya, Kak? Kalau Kakak capek, turunkan aku."
"Nggak apa-apa. Aku kuat, kok."
Kusentuh pipi Kak Zian yang berkeringat. Rasa sayangku bertambah-tambah. Aku merasa beruntung mendapatkan suami seperti Kak Zian.
Sampai di depan warung serabi, beberapa orang menggoda Kak Zian karena membopongku.
"Pengantin baru mesra sekali, ya ...."
"Zian gitu terus sampai tua, ya."
Kak Zian hanya menanggapi dengan tersenyum. Aku malu tapi bahagia.
__ADS_1
Nenek tampak duduk di teras, sambil terus memandang ke arah jalan. Aku kembali merasa bersalah melihat Nenek begitu khawatir makanya setelah Kak Zian menurunkan aku di teras. Wajah tua beliau berubah semringah.
"Nek, maafkan saya." Aku langsung menyalami Nenek.
Nenek mengelus kepalaku. "Iya, Nak. Nenek khawatir karena Nak Faiza bersikeras mau pulang malam-malam begini."
"Itu tandanya istriku sangat sayang sama aku. Dia cemburu buta. Mengira aku masih mencintai Salma, Nek." Kak Zian menjelaskan membuat wajahku memanas karena malu. Sedangkan Kak Zian malah tertawa.
"Iya. Semoga kedepannya kalian langgeng." Nenek mendoakan kami. Kami mengaminkan.
Serabi yang tadi dibeli, kami makan. Serabinya memang enak. Pantas Kak Zian mengajakku ke warung itu. Bukan karena Kak Zian masih mencintai Salma. Itu hanya pikiran burukku saja.
❤❤❤
Pagi bersinar cerah, secerah hatiku. Setelah tadi malam aku ngambek dan sempat ingin pulang, setelahnya aku dan Kak Zian semakin romantis. Kami melewati malam penuh cinta.
Aku membantu Nenek menggali pohon rempah-rempah di pekarangan rumah. Ada jahe, kunyit, lengkuas, temu lawak, temu kunci dan entah rempah apa lagi.
Kak Zian sehabis sarapan tadi, kembali beraktivitas. Dia pergi ke bawah sana, di mana sawahnya yang luas katanya panen padi.
Sambil mengambil rempah-rempah, Nenek bercerita kalau sawah luas milik almarhum Kakek di berikan untuk Kak Zian. Kak Zian juga punya hampir seratus sapi. Kata Nenek, sapi-sapi itu dipelihara oleh warga sekitar. Kambingnya juga banyak, setiap tahun Kak Zian berkurban dengan beberapa hewan yang dimilikinya itu.
Belum lagi pekarangan ini yang lumayan luas juga sudah di atas namakan Kak Zian. Kak Zian pekerja keras, dia juga ada ladang luas ditanami singkong dan jagung.
Kak Zian, kata Nenek, sekarang adalah orang yang paling kaya di desa ini. Sehingga banyak yang ingin menjadikannya menantu.
Aku tersenyum mendengar cerita Nenek. Kak Zian orangnya sederhana dan tidak sombong, tampan dan terlihat gagah.
Ah, aku jadi kangen dengan suamiku itu. Pengin cepat-cepat Kak Zian pulang.
"Nek, Kak Zian nanti pulannya jam berapa, ya?"
Belum sempat Nenek menjawab, Ratih muncul membawa nampan.
"Cie, cie ... kangen Bang Zian nih, yaaa ...." Ratih rupanya mendengar pertanyaanku barusan.
"Eh, Ratih ... bawa apa itu?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ayo bawa ke dapur." Aku mengajak Ratih ke dapur. Dia membawa nampan berisi tiga mangkuk soto ayam itu ke dapur. Aku mengikutinya.
"Mbak, Faizara ... kita ke sungai, yuk!" ajak Ratih saat dia mengantar makanan ke dapur.
"Apa kakimu tidak sakit? Kemarin kan kena beling?" tanyaku sambil melihat kaki Ratih yang diperban. "Kakiku juga agak sakit karena tadi malam tersandung."
Ratih juga melihat ke kakiku.
"Oh, ya nggak apa-apa, toh. Anggap saja kita olah raga pergi ke sungai. Bang Zian lagi nggak di rumah, kan?" Wajah Ratih tampak ceria.
"Kak Zian lagi ke sawahnya."
"Iya, ayo ke sungai," ajak Ratih lagi.
"Aku nggak enak pergi tanpa Kak Zian. Belum izin juga." Aku menolak dengan halus.
"Kan bisa izin lewat telpon. Sungai di sini jernih, airnya seger. Kalau kamu datang sekali saja, pasti akan ketagihan." Ratih agak memaksa.
Aku membayangkan air jernih dan segar yang tidak aku temui di kotaku.
"Gimana, mau kan ke sungai? Kita cuci pakaian lalu mandi." Ratih tambah berbinar-binar.
Aku jadi tertarik. "Oke. Aku telpon Kak Zian dulu."
"Iya, silakan." Ratih tersenyum manis.
Aku masuk kamar, mengambil ponsel dan menghubungi Kak Zian. Setelah terhubung, aku mengucap salam. Kak Zian menjawab dengan suara lembut.
"Kak ...."
"Iya, Sayang ... ada apa?"
"Hmm, Kak aku mau izin ke sungai bareng Ratih." Aku langsung mengutarakan maksudku.
"Iya boleh, tapi hati-hati jalannya licin." Kak Zian mengizinkan.
__ADS_1
"Makasih, Kak. Kak ...." Aku begitu rindu pada Kak Zian. Aneh, apa seperti ini rasanya jadi pengantin baru?
"Iya, Sayang? O iya, aku rindu kamu." Kak Zian berkata lirih.
"Apa? Ka-kak juga rindu aku? Aku juga rindu Kakak." Aku semakin senang, karena Kak Zian merasakan rasa yang sama.
Kak Zian terdengar tertawa. "Nanti sore kita akan melepas rindu. Sabar ya."
"Iya, tak sabar menunggu nanti sore.”
“Wah, sama dong!” ucap Kak Zian membuatku tambah ge-er.
“Aku mau ke sungai ya." Suaraku berubah manja.
"Ya, hati-hati, Sayang."
"Siap, Kak."
Kami mengakhiri panggilan.
"Bang Zian membolehkan, kan?" tanya Ratih. Dia menungguku di dapur.
"Iya dibolehin. Ayo kalau mau berangkat. Aku ambil cucian kotor dulu, ya. Setelah itu mau pamit ke Nenek."
Ratih mengangguk. Dia keluar, berjalan cepat ke rumahnya untuk mengambil cucian kotor.
Aku pamit ke Nenek. Tak lama setelah itu, Ratih keluar dari rumahnya dengan membawa timba.
Akhirnya aku berangkat ke sungai bersama Ratih. Jalannya memang agak licin, tapi begitu sampai ke sungai setelah lima belas menit berjalan, aku begitu antusias melihat air mengalir jernih. Sungainya sepi. Aku mengangkat sedikit rok dan menurunkan dua kakiku. Airnya begitu segar.
"Sungainya bagus, kan?" tanya Ratih
"Iya, bagus." Aku mengangguk.
"Cuu ... Cuu ... bantuin nenek menyeberang!" Suara serak berasal dari seberang sungai.
Aku agak kaget, barusan tidak ada orang selain aku dan Ratih, sekarang ada nenek tua dengan rambut memutih minta tolong untuk menyeberang sungai.
"Itu nenek Sariya, ayo bantuin dia." Ratih meraih sebelah tanganku. Mengajakku ke tengah sungai untuk membantu nenek itu.
"Ratih, airnya di tengah agak deras. Apa nenek bisa menyeberang?"
Aku ragu. Aku saja yang masih sehat tidak seimbang berjalan di air deras. Apalagi nenek-nenek.
"Dia sudah biasa, mau mengunjungi cucunya di desaku." Ratih memegang tanganku kuat-kuat. Dia juga hampir jatuh.
Begitu sampai di pinggir, Nenek Sariya mengulurkan tangannya. Aku yang meraih, kaki Nenek mau ke air.
"Hati-hati, Nek," ucapku.
"Iya." Nenek itu menyeringai. Gigi-giginya merah karena dia mengunyah sirih.
Bertiga kami berpegangan. Sampai di tengah sungai. Aku kaget. Ratih melepas pegangan tangannya, aku jadi tak seimbang karena arus sungai yang deras.
Belum sempat aku bertanya. Aku tambah kaget, melotot saat Nenek yang aku pegang sebelah tangannya tiba-tiba mendorong dadaku.
"Aaaa ... to-tolongin aku, Ra-Ratih!"
Aku berteriak, jatuh duduk di air. Dingin, sakit. Dengan cepat air membawa tubuhku. Aku menggapai-gapai, heran karena Ratih dan Nenek Sariya sempat kulihat tertawa terbahak-bahak melihat tubuhku hanyut.
"To-looong!"
Aku minum banyak air, batu-batu membentur tubuhku. Sangat sakit saat kepalaku membentur batu besar.
Ternyata sungai ini semakin dalam, aku tak bisa melawan arus air. Tidak bisa berenang di air yang deras meski aku mahir berenang di kolam.
Kak Zian ... tolong aku!
Kak! Aku tenggelam!
Suara hatiku begitu riuh sebelum akhirnya, aku tidak bisa bernapas. Dunia ini terasa gelap.
Bersambung.
__ADS_1