
Aku diperbolehkan pulang setelah seminggu di rawat. Pulang ke rumah nenek, itu keinginanku sendiri. Orang tua dan mertuaku tidak keberatan aku sementara tinggal di rumah neneknya Kak Zian lagi.
Aku juga tidak menceritakan tentang Ratih. Tak ingin membuat mereka khawatir. Kak Zian, menuruti permintaanku untuk tidak menanyakan apa pun pada Ratih sebelum aku benar-benar pulih.
Banyak tetangga Kak Zian yang menjengukku, Ratih ikut sibuk memasak bersama beberapa tetangga lainnya membantu Nenek untuk menyajikan hidangan pada para tamu.
Dia seperti tak mengenal lelah, tiap ada tamu selalu membantu. Ternyata orang desa sangat kompak, hampir semua warga desa datang menjenguk.
"Ratih rajin sekali bantu-bantu, Kak. Dia pasti capek, sudah dua hari sibuk membantu di sini." Aku menyandarkan kepala ke pundak Kak Zian, tamu-tamu sudah pulang. Saatnya kami istirahat.
"Ya, meskipun begitu, aku akan tetap akan menginterogasi Ratih, Sayang. Bisa jadi dia tak ingin dicurigai." Kak Zian mencium puncak kepalaku.
"Iya bisa jadi begitu." Kupeluk Kak Zian, menyukai wangi parfum di badannya. Kak Zian juga memelukku.
"Ya, sekarang kita istirahat. Jangan berpikir yang berat-berat, Sayang. Semoga kita segera diberi momongan. Tak sabar rasanya ingin menimang bayi kecil."
Kak Zian mengubah topik pembicaraan. Wajahnya terlihat semringah.
"Kak Zian ingin segera punya anak?" tanyaku tersipu malu saat kami saling bertatapan.
"Iya, pastinya. Makanya aku semangat, sekarang malam Jumat, kan?" Kak Zian mengedipkan sebelah matanya sambil menyunggingkan senyum manis lalu mencium pipi kananku.
"Eh? Iya malam Jumat," jawabku grogi.
"Semoga nanti anak-anak kita sholeh dan sholeha," bisik Kak Zian.
"Aamiin." Aku aminkan doa Kak Zian.
Namun, dalam pikiranku masih penasaran, apakah benar Ratih merencanakan pembunuhan terhadapku? Kalau iya, dia begitu kejam.
"Mikirin apa?" Kak Zian menjentikkan jarinya di depan wajah.
"Aku ... mikirin Ratih." Kuhela napas berat.
Kak Zian mencium pipiku lagi. "Cepat atau lambat, semuanya akan terungkap. Aku juga geram pada Ratih. Tapi, malam ini, aku ingin kita rileks."
"Sama, aku juga ingin tenang, rileks ...."
Kupejamkan mata, membiarkan tangan Kak Zian melakukan belaian di kepalaku, turun ke pipi, dan ke bagian tubuhku yang lainnya ....
❤❤❤
"Ratih, kamu sengaja ingin menghanyutkan istriku?" Kak Zian memanggil Ratih setelah Ratih selesai membantu di dapur nenek sore ini.
Kami duduk di dipan dari bambu. Nenek ikut duduk juga.
"Mak-maksud Bang Zian?" Mata Ratih berulang kali mengerjap.
"Sudah jelas apa yang aku tanyakan? Jawab jujur, kamu merencanakan pembunuhan pada istriku." Kak Zian berkata tegas.
"Bang Zian menuduh aku? Mana mungkin aku ingin menghabisi nyawa Mbak Faizara. Aku bukan wanita jahat!" Wajah Ratih agak memerah. Dia menggelengkan kepalanya. Jelas dia emosi.
"Kalau kamu tidak mengaku, aku akan bawa kasus ini ke polisi. Kamu mengaku saja." Kak Zian menekan suaranya. Wajahnya begitu serius.
"Ya ampun, Bang. Untuk apa aku sengaja ingin menghanyutkan Mbak Faizara? Sumpah, aku tidak melakukan itu, Bang! Membunuh itu perkara jahat, mana mungkin aku melakukan perbuatan sekeji itu?" Suara Ratih berubah meninggi.
"Ya sudah! Aku akan bawa kasus ini ke polisi."
Mendengar itu Ratih tambah gelisah, tubuhnya gemetar dan air matanya jatuh ke pipinya.
"Bang Zian tak percaya padaku?!" Ratih berubah berapi-api lalu berdiri.
"Siapa nenek itu? Kenapa bukannya menolong istriku saat hanyut, kamu dan nenek itu malah tertawa? Itu yang membuatku curiga!" Suara Kak Zian juga meninggi.
Baru kali ini aku melihat Kak Zian semarah itu membuat Ratih semakin gugup."
"Itu nenek Sariya." Dia menjawab sambil menunduk. "Sumpah aku tak ada maksud apa pun. Murni ingin membantu nenek Sariya menyeberang sungai sama Mbak Faizara juga."
Nenek Sariya, iya kata Ratih nenek itu namanya Sariya waktu itu, aku jadi ingat. Berarti Ratih tidak berbohong.
"Tidak ada nama nenek Sariya di desa ini," tepis Kak Zian.
"Di desa seberang sungai ada," potong Ratih. "Nenek tau sama nenek Sariya, kan?" Ratih berganti bertanya pada Nenek.
"Tidak tau, selama tinggal di sini, nenek tidak kenal yang namanya Sariya." Jawaban Nenek membuatku bingung. Apakah Ratih berbohong?
"Di seberang sungai nggak ada rumah penduduk." Kak Zian semakin menatap tajam pada Ratih.
"Ada, Bang." Ratih masih kekeh di sela-sela tangisnya.
"O ya? Ayo kita buktikan," tantang Kak Zian.
Ratih semakin gelisah. Dia menggigit kuku di jari tengahnya.
__ADS_1
"Ada apa ribut-ribut?" Muncul Lek Hasyim, bapak Ratih dari arah pintu dapur yang terbuka.
"Pak, aku dituduh merencanakan pembunuhan pada Mbak Faizara oleh Bang Zian." Ratih langsung mengadu pada bapaknya. Dia berlari ke arah bapaknya sambil menangis.
"Heh, Zian! Apa yang kamu tuduhkan apa Ratih? Jangan macam-macam, akan kulaporkan pada polisi nanti!" Pria berkumis itu tak terima anaknya dituduh merencanakan pembunuhan.
"Nggak kebalik, Lek? Justru aku yang akan melaporkan kasus ini pada polisi. Ratih dan nenek itu tertawa saat istriku hanyut. Pikir sendiri, bukankah seharusnya dia bukannya panik."
Bapak Ratih memilin kumisnya. Wajahnya terlihat emosi melihat Ratih.
"Nggak, Pak. Aku tidak me ...."
"Jujur pada Bapak, apa benar yang Zian tuduhkan?!"
"Sumpah, Pak ..."
"Sumpah demi Allah kalau kamu memang tidak melakukannya." Bapak Ratih ternyata tegas. Dia tidak membela Ratih begitu saja.
Ratih terdiam. Tangisnya semakin menjadi.
"Katakan pada Bapak, apa yang sebenarnya terjadi. Jangan mempermalukan keluarga kita, Ratih."
Ratih semakin larut dalam tangis. Seolah benar dia yang berencana membunuhku.
"Sumpah demi Allah, Ratih. Kenapa kamu diam saja?" Bapak Ratih meminta Ratih bersumpah.
"Maafkan Ratih, Pak. Maafkan Ratih Bang, Mbak. Kalau aku jawab jujur, Bang Zian tidak akan melaporkan aku ke polisi, kan?" Ratih mengiba melihat padaku dan Kak Zian.
Kak Zian semakin mengerutkan alisnya. Tidak menjawab permintaan Ratih.
"Bang, aku hanya disuruh ...."
"Disuruh siapa?!" Bapak Ratih seakan tak percaya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Kak Zian, napasnya tambah memburu tanda dia semakin emosi.
Ratih disuruh seseorang untuk membunuhku? Astagfirullah ....
"Disuruh siapa, Ratih?" Lek Hasyim tak sabar. Sama, aku pun penasaran dengan jawaban Ratih.
"Salma."
Jawaban Ratih menyebut nama Salma membuatku dan Kak Zian membelalakkan mata.
"Salma? Kurang ajar sekali dia! Kamu sama-sama kurang ajarnya dengan Salma! Sadis sekali ingin melenyapkan nyawa orang, Bapak kecewa padamu, Ratih! Minta maaf sama Zian dan istrinya!" perintah bapaknya, Ratih wajahnya seketika pucat, bibirnya bergetar.
"Ma-afkan aku, Mbak. Maafkan a-aku, Bang ...." Ratih pandangannya berubah juling sebelum akhirnya dia ....
"Ratih!" Bapaknya segera menangkap tubuh Ratih yang pingsan.
Aku dan Kak Zian juga refleks membantu Lek Hasyim akan memegangi Ratih, tapi Lek Hasyim mencegah.
"Biar aku yang bopong. Nanti malam kita ke rumah Salma untuk menanyakan kebenarannya. Maafkan kelakuan Ratih. Sebagai bapak aku merasa terpukul."
Sambil membopong Ratih, terlihat wajah Lek Hasyim terlihat sekali wajah kecewanya.
Kak Zian hanya mengangguk.
Setelah Ratih dibawa pulang. Kami sejenak terdiam, masih duduk di dipan dapur.
"Kejadian ini adalah salah satu ujian dalam rumah tangga kalian, Nak. Semoga kalian selalu sabar menghadapi ujian apa pun dalam rumah tangga. Semoga langgeng, Nak." Nasihat bijak Nenek.
"Iya, Nek. Aku syok mendengar Salma mau menghabisi istriku ini." Kak Zian menyentuh tangan kananku, menyatukan jari-jemarinya dengan jemari tanganku.
Aku juga syok. Gadis cantik, berjilbab, bapaknya guru ngaji, tapi Salma ... ternyata jahat.
"Nenek juga sangat menyayangkan perilaku Salma. Dia mungkin cemburu dengan Nak Faizara, itu bisa jadi penyebabnya," terka Nenek.
"Iya, bisa jadi begitu, Nek." Kak Zian menggaruk rambutnya.
Kupandangi wajah Kak Zian. Tampan, baik hati, bertanggung jawab, itu pasti yang membuat Salma tak Rela Kak Zian menikah denganku.
Aku jadi takut ....
Malam harinya, bapak Ratih mengajak Kak Zian ke rumah Salma. Ratih juga akan ikut, agar semuanya jelas.
Kak Zian bersiap, memakai kemeja warna putih, bawahannya sarung kotak-kotak biru. Aku tak bisa lepas memandang Kak Zian. Kak Zian akan bertemu Salma, entah bagaimana reaksi Salma, dia kayaknya gak bakalan bisa mengelak lagi.
"Aku berangkat, ya." Kak Zian mengulurkan tangannya. Tangan Kak Zian tidak aku sambut.
"Aku berangkat, Sayang," ulang Kak Zian sembari semakin mendekatkan tangan kanannya. Akhirnya aku sambut tangannya lalu tangan imamku ini.
Ada rasa berat dalam hati, membayangkan Kak Zian akan bertemu Salma, wanita cantik yang sangat mencintai Kak Zian sampai-sampai dia merencanakan pembunuhan padaku.
__ADS_1
Kak Zian mengecup keningku. "Assalamualaikum. Doakan semoga semuanya berjalan lancar. Salma mengakui semua rencana buruknya, dan aku akan membawa kasus ini ke polisi. Kamu istirahat ya, Sayang."
"Waalaikum salam." Aku mengangguk, lesu.
Kak Zian bergegas keluar kamar karena Ratih dan Lek Hasyim sudah menunggu di halaman.
"Kak ... bolehlah aku ikut?" Kususul Kak Zian yang hampir membuka pintu ruang tamu, kakiku agak sakit karena berjalan cepat.
"Ikut?" Kak berbalik. "Kamu masih sakit, Sayang."
"Iya aku mau ikut, tak rela rasanya Kak Zian ke rumah Salma tanpa aku." Jujur kukatakan apa yang ada dalam hatiku.
"Iya boleh, aku takut kamu kenapa-kenapa karena belum pulih." Kak Zian tampak ragu.
"Aku gak apa-apa, Kak." Kak Zian berjalan ke arahku, lalu menuntunku keluar.
Ratih matanya sembab, dia tertunduk. Tanpa basa basi kita berangkat ke rumah Salma memakai motor karena aku belum begitu kuat berjalan.
Sampai di rumah Salma, bapak dan ibunya keluar, mushollanya sudah sepi, santrinya sudah pulang.
"Salma mana Pak ustadz?" tanya Lek Hasyim.
"Ada di kamarnya, ada apa?" Ustadz Hanafi balik bertanya.
"Salma merencanakan pembunuhan pada istri Zian, dia menyuruh Ratih menghanyutkan istrinya Zian!" Lek Hasyim langsung berbicara dengan nada tinggi.
"Astagfirullah, mana mungkin Salma melalukan itu?!" Ibu Salma langsung panik.
"Tidak mungkin Salma sejahat itu! Kalian jangan mengada-ada!" Ustadz Hanafi tak kalah tegang. "Anakku dididik dengan ilmu agama yang kuat, dia lulusan pesantren!"
"Maaf Ustadz Hanafi, Salma menyuruh Ratih menghanyutkan istriku di sungai." Kak Zian mencoba menjelaskan.
"Betul itu, Ustadz. Aku mengikuti permintaan Salma. Aku merasa sangat menyesal." Ratih jujur.
"Mana mungkin?! Salma ... Salma!" Ibunya berteriak memanggil Salma.
Tak ada sahutan dari Salma. Kedua orang tua Salma kembali memanggil Salma. Masih tak ada sahutan.
"Itu Salma! Salma lari!" pekik Ratih. Kami menoleh ke jendela, terlihat Salma berlari ke pekarangan yang gelap.
"Sudah jelas, kan! Salma otak dari rencana pembunuhan istrinya Zian!" Lek Hasyim berkata lantang.
Ibu Salma menangis. "Tidak mungkin, anakku bukan pembunuh! Bukan pembunuh!”
"Salma!" Ustadz Hanafi berlari keluar untuk mengejar Salma.
"Tunggu di sini, Zian. Aku akan mencari Salma, enak saja dia main kabur!" Lek Hasyim ikut berlari keluar, ke arah pekarangan yang gelap.
"Jangan dia-apain anakku!" Ibu Salma juga berlari keluar sementara Salma sudah tidak terlihat lagi dalam gelapnya pekarangan.
Kupegang erat lengan kiri Kak Zian, tak memperbolehkannya ikut mengejar Salma. Para tetangga keluar dari rumah masing-masih. Bertanya apa yang terjadi. Sebagian ikut mengejar Salma. Setelah Kak Zian menjawab, mereka tak menyangka Salma tega merencanakan pembunuhan.
"Salma sangat mencintai Zian."
"Iya dia terpukul, sedih, dan patah hati karena Zian tidak menikahinya."
"Salma tidak bisa disalahkan."
"Betul."
"Zian, kok kamu tega menyakiti Salma?
Suara-suara dari tetangga Salma membuatku semakin memegang erat lengan Kak Zian. Kak Zian balas menyentuh tanganku.
"Karena aku mencintai Faizara, istriku ini. Juga karena aku memenuhi permintaan Raka almarhum adikku." Jawaban Kak Zian membuatku agak tenang.
"Benarkah kamu mencintai atau hanya karena permintaan mendiang adikmu sehingga kamu menikahi Faizara? Secara kamu dan Salma sudah hampir tunangan. Kamu mengorbankan perasaanmu sendiri, kami semua warga tau kalau kamu dan Salma saling mencintai."
Kalimat salah satu warga sangat menohok hatiku yang barusan agak tenang. Hatiku seolah hancur mendengar itu semua.
Belum sempat Kak Zian menjawab. Suara riuh warga yang ikut mengejar Salma, menggotong Salma ke sini diiringi suara tangisan ibunya.
"Salma mencoba bunuh diri, dia menyayat pergelangan tangannya dengan pisau. Cepat siapkan mobil, Salma tidak sadarkan diri." Salah satu warga melaporkan.
Jadi Salma berlari sambil membawa pisau? Nekat banget dia.
Kak Zian seperti terkejut, refleks maju selangkah membuat peganganku di lengannya terlepas.
"Salma ...." Meskipun lirih, suara Kak Zian terdengar ke telingaku. Pandangannya tertuju pada Salma, pergelangan tangan kirinya mengucurkan darah.
Tiba-tiba, aku yang awalnya sangat yakin Kak Zian mencintaiku, seketika berubah. Kini rasa ragu yang mendominasi. Ragu akan cinta Kak Zian padaku saat melihat wajah Kak Zian tampak khawatir pada Salma. Kak Zian mengusap wajahnya, mengacau rambutnya seperti frustrasi ... dengan kondisi Salma.
Bersambung
__ADS_1