
Bahaya! Kak Zian menyebut-nyebut namaku! Degup jantungku jadi tak karuan.
Kubaca lagi pesan di bawahnya.
[Sepertinya, mas ini lupa, mungkin akibat benturan di kepalanya. Ditanya namanya, asalnya dari mana, dia tidak menjawab. Anehnya, yang dia sebut-sebut adalah nama Mbak. Mbak, jemput si Mas ini ya. Kami tiap hari keluar untuk mencari barang bekas, kasihan masnya tidak ada yang menjaga kalau siang]
Aku mengusap dada karena tegang.
Kuketik balasan ....
[Saya bukan keluarganya. Saya tidak tau siapa dia]
Centang satu karena ini masih jam 3 pagi. Setelah mengirim pesan itu, ponsel kumatikan. Kenapa harus aku yang menjemput? Enak saja!
Meski agak takut dan khawatir, pagi jam lima kuhidupkan ponsel. Ada balasan dari orang yang menolong Kak Zian.
[Kenapa Mbak bilang tidak kenal? Di buku hariannya, berulang kali mas ini menuliskan tentang Mbak. Kami terpaksa membacanya karena butuh informasi, dan menemukan nomor Mbak juga akhirnya]
Menulis tentang aku? Kak Zian kurang kerjaan banget.
[Emangnya dia menulis apa?] tanyaku, semakin gelisah. Orang yang menolong sedang online. Dia sedang mengetik balasan.
[Dia banyak menulis tentang Mbak, baca sendiri nanti. Intinya, Mas ini kenal sama Mbak, kok Mbak bilang tidak kenal? Mbak adik iparnya, kan?]
Ujung-ujungnya, perbuatan anarkis yang dilakukan teman-teman Reno pada Kak Zian, aku juga yang mendapat getahnya.
Aku tidak segera menjawab pesan itu.
Pesan yang kembali dikirim oleh bapak yang menemukan Kak Zian membuat aku melotot.
[Kalau Mbak nggak mau menjemput masnya, kami ke kantor polisi saja biar semuanya segera tertangani]
Kalau lapor polisi, bisa tambah runyam. Apakah aku harus menjemput Kak Zian? Kalau aku yang jemput Kak Zian yang konon sekarang lagi lupa siapa dirinya, mungkin Kak Zian amnesia, apa itu lebih baik?
Nanti aku pikirkan cara agar tidak disangkut pautkan dengan pengeroyokan itu, yang penting Reno tidak boleh tahu kalau Kak Zian sudah ditemukan.
Karena bingung, aku pun membalas pesan itu.
[Tunggu saya, sebentar lagi akan meluncur ke sana]
[Nah, gitu, dong!]. Balaasan dari orang yang menemukan Kak Zian.
❤❤❤
"Mbak kenapa sarapan sedikit?" tanya Naya. "Kayak sedang gelisah gitu?" terka Naya memperhatikanku yang hanya mengaduk-aduk bubur ayam dalam baskom.
"Lagi gak nafsu makan, kayaknya aku mau sakit," sahutku asal.
"Bawa istirahat setalah ini, Nak," ucap Mama perhatian. Papa juga mengangguk.
"Iya, jangan banyak mikir yang berat-barat."
"Iya," sahutku pendek.
Naya heran saat aku meminta Pak Adam menyiapkan mobil setelah sarapan.
"Katanya Mbak nggak enak badan, kok mau keluar?"
"Aku mau ke makam Mas Raka," jawabku tidak jujur. Entah, semakin ke sini, aku sering berbohong dan menutupi masalah yang aku hadapi.
"Oh, tumben nggak ngajak-ngajak?" Naya mengikuti langkahku yang bersiap akan keluar setelah pamit pada orang tuaku.
"Mbak lagi pengin sendiri saja, kalau bareng kamu, adanya cuma bisa ngerecoki."
"Awas ntar ada orang gila lagi di kuburan, nggak ada Kak Zian yang akan menolong."
Tak kutanggapi guyonan Naya. Masuk ke mobil yang sudah disiapkan Pak Adam.
Dengan sangat terpaksa aku mendatangi rumah sederhana yang letaknya tak jauh dari jurang.
Aku menarik napas panjang mengusir tegang sebelum mengetuk pintu.
__ADS_1
Bapak yang punya rumah membuka pintu. Beliau mempersilakan aku masuk.
Debaran di dadaku tambah mengencang.
Di ruang tamu sederhana itu, Kak Zian duduk dengan punggung bertumpu pada bantal yang ditata. Dia tidak memakai baju, sehingga luka-lukanya jelas terlihat. Pun luka bekas tusukan di perutnya yang sixpack.
Dia melihat ke atas genteng, tak menoleh padaku yang dipersilakan duduk di dipan yang sama dengan yang ditempati Kak Zian.
"Mas ini sudah di suapi bubur barusan, Mbak," ujar istrinya.
"Oh, ya, terima kasih Bapak dan Ibu sudah merawat dia dengan baik." Aku tidak ingin tampak songong dan sombong di hadapan suami istri yang menolong Kak Zian. Banyak yang aku pertimbangkan. Pura-pura baik itu ... lebih baik untuk sekarang ini.
"Iya. Saya Pak Ramlan dan istri Saya Aminah." Pak Ramlan memperkenalkan dirinya.
"Iya, Pak Ramlan, Bu Aminah. Dia memang kakak ipar saya. Tapi hubungan kami tidak begitu baik.”
"Iya Mbak, apa pun masalah kalian, bapak mengucap terima kasih karena Mbak sudi menjemput masnya,” kata Pak Ramlan.
“Saya yang terima kasih, Bapak dan Ibu sudah telaten mengurus Kak Zian.” Aku mengucap Terima kasih.
“Mas, lihatlah. Mbak Faizara sudah datang menjemput.” Si Bapak mengajak bicara Kak Zian.
Kak Zian tidak merespons, tetap memandang ke atas. Si bapak mengulang kalimatnya beberapa kali.
Lebih baik Kak Zian hilang ingatan terus dan lupa dengan semua kejadian sebelumnya, agar aku tidak terseret kasus ini juga. Harapku, agak jahat memang.
Kak Zian beralih melihat padaku. Cukup lama. Tatapan mata itu tidak seperti biasanya. Kalau dalam kondisi normal, Kak Zian tidak mungkin menatapku selama itu. Dia tipe pria yang menjaga pandangan.
"Ini Mbak Faizara, orang yang Mas sebut-sebut siang dan malam." Pak Ramlan kembali menegaskan.
"Faizara?" gumam Kak Zian, dia menatapku semakin lekat, seperti berusaha mengingat, kemudian dia mengeluh sakit sambil memegang kepalanya.
"Tidak usah memaksakan untuk ingat, Mas. Nanti setelah pulang, Mas harus segera diobati biar pulih," ucap Pak Ramlan.
Kak Zian memejamkan matanya.
"Kami hanya mengobati pakai ramuan tradisional, Mbak. Telur dan Madu agar tenaga masnya segera pulih."
"Iya, semoga semuanya akan baik-baik saja ke depannya," doa Bu Aminah.
"Faizara ... Faizara ... Faizara ... Faizara ...." Kak Zian menyebut namaku, matanya masih terpejam.
Pak Ramlan tersenyum. "Ini sudah ada Mbak Faizara Mas, Mas bisa pulang bersamanya."
"Iya, ayo pulang, Kak,” ajakku. Dalam hati kesal, kenapa Kak Zian tidak menyebut nama mamanya, atau nama Aris saja? Merepotkan!
Bu Aminah mengambilkan baju di ransel Kak Zian. Menyerahkan padaku. Lagi-lagi dengan sangat terpaksa aku memakaikan kemeja pada Kak Zian. Dan aku risi karena Kak Zian terus menatap wajahku.
Aku memberikan sejumlah uang pada Pak Ramlan dan Bu Aminah. Mereka menolak karena ikhlas membantu, tapi aku tetap memberikan uang itu sebagai tanda terima kasih.
Kak Zian dibawa masuk ke mobil, aku juga sudah menyewa mobil pick up untuk membawa motornya.
"Kak Zian tuh, nyusahin!" Sambil menyetir aku marah-marah pada Kak Zian. Pria yang kumarahi, melihat padaku, cukup lama.
"Kenapa Kak Zian menatapku begitu? Heran ya, kenapa aku berbaik hati menjemput Kak Zian? Hadeh! Awas saja nanti Kakak mengadu kalau dipukuli oleh teman-teman Reno, ini tuh salah Kak Zian sendiri, ngapain ngikutin mobil Reno?!"
Aku nyerocos.
"Hm ...." Kak Zian hanya menggumam. Dia lalu kembali menyebut-nyebut namaku.
“Faizara ... Faizara ... Faizara ....”
“Ck! Kak Zian gak usah konyol. Mana ada orang hilang ingatan masih ingat dengan namaku. Kak Zian lagi akting, kan? Hadeh!” tuduhku sambil mengerem mendadak.
Kak Zian masih melihat padaku dengan tampang sok polos.
“Ngaku, deh! Kak Zian hanya pura-pura saja, kan?”
“Faizara ... Faizara ....” Kak Zian lalu menggaruk kepalanya.
“Capek, deh!” Aku kembali melajukan mobil menuju rumah Kak Zian.
__ADS_1
Bagaimana reaksi mama mertua setelah melihat anak sulungnya berubah tidak wajar seperti ini?
Aku turun dari mobil. Kupanggil tukang kebun yang lagi menyiram tanaman untuk membantu Kak Zian turun.
Ada Ina di teras. Melihat pada kami dengan raut khawatir.
"Ina, Mama ada?"
"Ada, eh Non ... itu mas Zian kenapa?"
"Kecelakaan," sahutku spontan.
"Ya Allah!" Ina pun masuk memberitahukan pada mama.
❤❤❤
Aku sudah menjelaskan pada Mama Ani dan Aris, kalau Kak Zian kemungkinan kecelakaan tunggal dan jatuh ke jurang. Ada yang menolong, dan mengabari aku via telepon karena melihat nomorku di buku Kak Zian.
"Nak ... kok bisa begini? Mama kira kamu sudah sampai di rumah nenekmu." Tangis Mama pecah setelah bertemu Kak Zian di ruang tengah.
Kak Zian tidak menjawab pertanyaan Mama dan Aris. Dia hanya terbengong melihat suasana rumahnya.
Para pembantu ikut menangis melihat kondisi Kak Zian.
"Kak Zian sepertinya hilang ingatan, Ma," ucapku hati-hati.
"Apa? Astagfirullah ...." Mama semakin erat memeluk Kak Zian. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Mata Aris juga berkaca-kaca.
“Ya Allah ....” Aris mengusap pipi Kak Zian.
“Aris, segera panggilan dokter, atau kita bawa Zian ke rumah sakit saja?” tanya Mama sambil mengusap air matanya.
“Kita bawa Kak Zian ke rumah sakit, Ma.”
“Iya, Ina ... segera siapkan pakaian buat Zian, kita akan ke rumah sakit.”
“Iya, Nyonya ....”
"Faizara ... Faizara ... Fiazara ....”
Mama melerai pelukan mendengar Kak Zian menyebut namaku.
"Ini ada Nak Faizara di sini, kamu ingat padanya?" tanya Mama.
Kak Zian menoleh padaku. Seperti kebingungan.
“Faizara?” Kak Zian seperti bertanya.
“Iya, ini Nak Faizara, kamu ingat sama dia?” ulang Mama Ani.
Mama Ani mengajak Kak Zian duduk di sofa panjang. Beliau memintaku duduk di samping Kak Zian. Mama sepertinya berharap sekali Kak Zian segera ingat.
“Ini Nak Faizara, ini Mama, dan ini Aris? Kamu ingat yang mana, Nak?”
Mama terus berusaha mengajak Kak Zian bicara.
“Faizara ... Faizara ....”
“Oh, kamu ingatnya cuma sama Nak Faizara?” tanya Mama dengan raut sedih.
Aku kaget setengah mati saat tangan kanan Kak Zian menyentuh tanganku.
Kak Zian terus menyebut-nyebut namaku seperti orang tidak waras. Dan kesalku semakin bertambah-tambah karena Kak Zian tak mau melepas pegangan tangannya. Dia menautkan jari-jari tangannya pada jari-jari tanganku.
Saat tiba-tiba kepalanya menyandar ke bahu kananku, ingin rasanya aku mencak-mencak dan memarahinya. Tapi, aku tak akan bisa melakukan itu di hadapan keluarga Kak Zian.
“Kak Zian jadi manja sama Mbak Fai. Maafkan dia, karena kakak sedang tidak normal, kita akan bawa Kak Zian ke rumah sakit,” ucap Aris.
“Ya, ya, segera bawa Kak Zian ke rumah sakit.”
Aku berkata cepat. Tak ingin berlama-lama dalam posisi tak jelas begini. Mana bulu-bulu di pipi Kak Zian bikin geli saat menempel pada kulit di bahu kananku yang hanya memakai baju berbahan tipis. Pyuh!
__ADS_1
Bersambung