Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Kejutan Manis


__ADS_3

"Mbak, kita balik ke rumah sakit." Naya tiba-tiba muncul dari dalam saat aku dan Reno sedang berpelukan di ruang tamu. Aku dan Reno kompak menoleh pada Naya.


Naya tertegun sesaat, dia kemudian menyapa Reno. "Kak Reno sudah dari tadi?"


"Eh, Nay ... barusan saja, kok," sahut Reno sambil melepas pelukannya. "Kenapa bengong calon adik iparku?"


Naya nyengir kuda. Dia terkejut karena Reno memanggilnya calon adik ipar.


"Dia calon yang aku maksud, Nay. Jadi dalam waktu dekat, Reno akan melamarku." Aku berkata penuh percaya diri. Agar tidak terlihat ragu di depan Naya.


"Oh, ya? Jadi Kak Reno yang akan melamar Mbak? Cocok, serasi ...." Aku yakin Naya hanya basa basi. Di hatinya pasti dia tidak setuju aku dilamar Reno.


Naya tersenyum makin lebar. Seperti mengejekku.


"Ya iya, dong! Hanya cowok tampan dan tajir yang akan menjadi pendampingku, iya kan, Ren?"


Kedua mata Reno tambah berbinar-binar. "Tentu, Faiza. Aku akan membahagiakanmu. Kamu tidak akan aku buat sedih apalagi kecewa. Mau apa saja pasti akan aku penuhi."


Reno kembali memelukku.


"Waduh, Mbak dan Kak Reno belum halal, jangan terlalu lengket dulu." Naya memperingatkan. Membuat Reno melepas pelukannya.


"Suka-suka kami, lah!" Aku mengangkat bahu. Naya menggelengkan kepalanya. Tanda dia miris mendengar ucapanku yang tidak mau dinasihati.


"Kalian mau ke rumah sakit? Kalau gitu aku pulang dulu karena masih ada urusan." Reno berdiri.


"Iya, Sayang ... jangan lupa makan dan jangan ke rumah cewek lain." Aku menggandeng lengan Reno.


Reno tertawa. "Siap Nyonya Reno. Play boy ini akan insaf bila sudah bersama wanita yang sangat dicintai ...."


Reno lalu mengacau rambutku. Naya melihat kami dengan tampang tak suka.


Reno pulang. Aku bersiap akan ke rumah sakit. Naya mengikutiku sampai ke kamar.


"Mbak gimana, sih? Kok malah sama Kak Reno?"


"Emangnya kenapa? Reno baik, dia sangat mencintaiku. Apalagi yang perlu diragukan?"


"Tapi nanti keluarga kita dan keluarga Mas Raka kecewa loh, Mbak. Aku takut Papa akan kepikiran dan tambah parah. Papa akan pulang besok, sedangkan Mbak mau berulah lagi. Capek, deh!" Naya menepuk jidatnya.


"Ini adalah hidupku. Orang lain tidak boleh mengatur-atur. Meskipun itu keluarga sendiri." Aku berkacak pinggang.


Naya mendesah berat. "Mbak tau kan, kan Reno banyak ceweknya?"


"Tau." Aku menyahut pendek sambil mengganti pakaian.


"Kenapa Mbak mau sama Kak Reno?"


"Karena dia sudah sabar mencintaiku dalam diam. Itu selama bertahun-tahun. Kebayang betapa tersiksanya dia. Tidak ada cewek yang dia seriusin, karena Reno hanya mencintaiku. Reno sudah bilang barusan, kan? Dia akan insaf bila sudah bersamaku."


Naya terdiam. Melihat ke arah jaket hitam yang tergantung di gantungan baju.


"Itu jaketnya Kak Zian? Kenapa Mbak nggak kembalikan?" Fokus Naya berganti pada jaket si nyebelin.


"Lupa." Aku menjawab pendek.


Naya bangkit. Mengambil jaket Kak Zian lalu memakainya. "Hm ... wanginya enak. Wangi pria idaman ...."


Naya tersenyum sambil memejamkan mata.


"Dih, norak!"


"Biarin! Ntar lagi mampir ke rumah Kak Zian, Mbak. Kita balikin jaketnya."


"Ogah! Kamu aja yang ke sana, aku nggak."


"Apa Mbak tidak ingin mampir ke rumah Mas Raka? Mama mertua Mbak pasti rindu sama Mbak."


Aku menarik napas berat. Tak sanggup rasanya datang ke rumah almarhum suamiku. Pakaian dan barang-barangku masih di sana. Aku juga belum pamit untuk pulang dari rumah Mas Raka.


Kami berangkat menuju rumah sakit, Naya minta berhenti sebentar saat mobil lewat di depan rumah Mas Raka. Hatiku seketika merasa sedih. Makanya, aku tidak ikut turun dari mobil.


"Mbak, ayo ikut masuk. Nggak sopan loh."

__ADS_1


"Tapi, Nay ...." Aku menangis. Tak sanggup rasanya masuk ke rumah Mas Raka.


"Ya, sudah tunggu di sini."


"Jangan lama-lama," pintaku. Sungguh tak sanggup berlama-lama ada di depan rumah almarhum suamiku.


"Kenapa? Mbak iri kalau aku di dalam ngobrol sama Kak Zian?" canda Naya.


"Aku lagi sedih, jangan ngajak bercanda!"


"Iya, deh." Naya masuk ke gerbang rumah Mas Raka.


Lima menit berlalu. Aku tak sabar menunggu Naya yang tak kunjung keluar.


Ponselku berdering. Reno memanggil lewat video.


"Sayang? Kenapa kamu menangis? Ada apa?" Reno memberondongku dengan pertanyaan setelah kuangkat VC-nya.


"Aku sedih ...."


"Sedih kenapa? Dan itu kamu lagi di mana?"


"Di depan rumah Mas Raka."


"Sayang ... kenapa pergi ke sana kalau hanya membuatmu sedih saja? Jangan pernah ke sana lagi agar kamu cepat move on."


Saat itu juga Naya masuk ke mobil.


"Iya. Aku cuma ikut Naya mengembalikan jaket ...."


"Oh. Mulai sekarang. Jangan ke sana lagi. Oke," ujar Reno.


"Oke."


Kami mengakhiri panggilan.


"Mbak. Kak Reno gak pantas juga ngelarang-ngelarang Mbak seperti itu. Kalian belum ada ikatan apa-apa Kak Reno sudah mengekang ...."


"Siapa yang mengekang? Reno benar!" Aku membentak Naya sambil menangis.


❤❤❤


Papa sudah dua hari pulang dari rumah sakit. Aku takut Kak Zian datang melamar mendahului Reno. Sebelum itu terjadi, aku meminta nomor ponsel Kak Zian pada Naya.


"Mbak mimpi apa semalam? Mbak mau menghubungi Kak Zian agar cepat-cepat dilamar, kan? Akhirnya mbakku sadar ... aku mendukung seratus persen."


Naya melompat kegirangan. Dia lalu memelukku setelah mengirim nomor Kak Zian padaku.


"Apa sih, Nay? Bukan itu."


"Lalu untuk apa Mbak minta nomornya Kak Zian?" Naya melepas pelukan. Dia meneliti wajahku.


"Mau tau aja urusanku. Nggak usah kepo!" Aku buru-buru keluar dari kamar Naya. Setengah berlari masuk kamar dan menguncinya.


Setelah mengatur napas. Aku menelepon pria yang sangat aku benci.


"Assalamualaikum ...."


Jeda sesaat, karena aku ogah menjawab salam dari Kak Zian. Berhubung menjawab salam itu wajib akhirnya aku jawab.


"Waalaikum salam. Aku Faizara ...."


"Faizara?" Suara Kak Zian terdengar kaget.


"Iya. Kita butuh bicara, nanti malam jam delapan, kami tunggu Kak Zian di kafe Permata."


Kali ini Kak Zian terdiam, mungkin sedang berpikir. "Oh, baiklah."


"Kak Zian datang sendiri saja," pintaku.


Kak Zian terdiam lagi. "Iya." Dia menyanggupi.


"Oke." Aku menutup telepon tanpa mengucap salam.

__ADS_1


Dan malam ini pun tiba. Aku tak ingin berlama-lama membiarkan Kak Zian merasakan bangga, ge-er, dan berharap bisa bersama denganku dalam mahligai suci pernikahan. Jangan mimpi!


Kami memilih meja pojok agar bisa bicara dengan serius. Sengaja, aku dan Reno datang lebih awal sebelum Kak Zian datang.


Masalah ini harus segera clear.


"Tuh, pria gunung sudah datang." Reno menunjuk Kak Zian yang masuk ke kafe. "Penampilannya norak!"


Kak Zian menggunakan kemeja kotak-kotak biru, dipadu dengan jins warna putih. Dia melihat sekeliling, dan menghampiri saat Reno melambaikan tangan.


Kak Zian mengucap salam lalu bersalaman dengan Reno. Dia seperti bingung karena mungkin dia mengira aku datang bersama Naya.


"Selamat datang, Bro. Mau pesan minuman apa?" Reno bertanya pada Kak Zian, dengan senyuman hambar. Khas permusuhan.


"Kopi saja," sahut Kak Zian. Kak Zian juga tersenyum.


Reno memanggil pelayan lalu mencatat pesanan kami.


"Jadi begini, kami ngajakin kamu ketemu di sini untuk membahas tentang Faizara. Silakan Sayang, kamu mau bicara apa?" Tak banyak basa basi, to the poin. Reno seperti tak sabar pada tujuan kami.


Kak Zian mengangguk kecil.


"Langsung saja, aku tidak bisa memenuhi keinginan Mas Raka agar dinikahi oleh Kak Zian. Hati tidak bisa dibohongi dan tidak bisa dipaksa. Dan aku ... memilih Reno untuk menjadi pendamping hidup, karena dia sangat mencintaiku dari dulu.”


Kurasa cukup jelas apa yang aku katakan. Kuharap Kak Zian tidak komplain dan bisa menerima keputusanku.


"Santai, Bro! Jangan langsung tegang ...." Reno memperhatikan gerak gerik Kak Zian.


Kak Zian mengusap wajahnya dengan dua tangannya. Di wajah itu masih ada bekas lebam saat dia menolongku melawan pencuri.


Kak Zian diam beberapa saat.


"Jadi, mulai saat ini. Jangan lagi mendekati Faizara, jangan juga cari muka pada keluarga Faizara. Karena dalam waktu dekat, aku akan melamar Faizara."


Reno memberikan peringatan tegas. Sebelah tangan Reno membawa tangan kananku ke atas meja untuk digenggam.


Kak Zian mengangguk. "Baiklah, jika seperti itu. Jaga Faizara, semoga kalian berbahagia."


Kak Zian berkata lembut. Tidak ada komplain. Lagi pula, untuk apa dia mempermasalahkan pilihanku.


"Oke. Tapi ingat, jangan dendam karena Faizara menolakmu." Suara Reno agak keras.


"Tentu, aku bukan pria yang suka mendendam." Kak Zian berkata datar. Heran, dia itu sepertinya punya stok sabar yang banyak karena tidak terlihat emosi sama sekali.


"Syukurlah kalau begitu, mari kita ngopi dulu." Suara Reno terdengar jemawa.


Pelayan datang membawa pesanan kami. Bukan cuma satu pelayan, tapi ada beberapa pelayan yang berbaris. Ada yang membawa buket bunga, ada yang membawa kado-kado warna pink berhiaskan pita cantik.


Setelah pelayan meletakkan minuman dan makanan di meja. Dari arah panggung yang sedang live musik. Ada lagu romantis yang dinyanyikan.


"Lagu ini spesial buat pasangan yang lagi berbahagia Mas Reno dan Mbak Faizara di meja pojok sana."


Pengunjung kafe melihat ke arah kami. Diiringi lagu dari suara merdu vokalisnya.


"Apa ini, Sayang ...?" Aku speechless karena pelayan bergantian memberikan apa yang dia pegang.


Buket bunga mawar yang wangi ... juga beberapa kado.


"Surprise! Sayang ... terima kasih sudah memilihku untuk dijadikan pendamping hidupmu. Semua hadiah ini untukmu. Coba lihat apa yang ada di buket bunga mawar itu."


Aku begitu antusias melihat pada tengah-tengah buket bunga mawar. Di sana ada yang berkilauan. Emas murni seberat 100 gram lengkap dengan nota pembeliannya.


"Wah, terima kasih, Sayang ...."


Aku tidak menyangka mendapat kejutan manis dari Reno.


"Sama-sama Sayangku. Enaknya jadi kekasihku, belum apa-apa saja sudah dihadiahi emas dan banyak hadiah lainnya, apalagi kalau sudah jadi istriku ...." Reno membanggakan diri.


Kak Zian menyeruput sedikit kopi kemudian berdiri.


"Aku pamit duluan," katanya melihat pada kami.


Reno tidak mendengarkan. Dia memelukku seperti tidak ada orang lain di sini. Yang lebih membuatku tercengang dan tidak siap, Reno mencium bibirku di hadapan Kak Zian ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2