
"Istirahatlah dengan tenang Faiza, Sayang ...." Bisikan Reno bagaikan malaikat maut yang siap mencabut nyawaku.
"Hhhmmmmppp!" Aku lemas. Rasa takut yang luar biasa membuatku tidak bisa lagi meronta.
Sekujur tubuhku mulai sedingin es, seolah tak ada lagi darah yang mengalir saat aku sudah tidak bisa bernapas karena bekapan bantal di wajahku semakin kuat.
Suara pintu dibuka ....
"Hei, apa yang kamu lakukan?!" Kak Zian membentak Reno.
Bekapan di wajahku semakin kencang.
"Aku ingin membunuh Faiza agar tak ada yang mendapatkannya!" balas Reno menggelegar.
"Jangan gila!" teriak Kak Zian.
Suara pukulan terdengar, tanda Kan Zian memukul wajah Reno membuat bekapan di wajahku terlepas.
Aku mengambil napas panjang, melihat Reno dan Kak Zian saling tonjok. Reno seperti orang tidak waras, dia ingin membunuhku agar tidak ada pria yang mendapatkanku?
Kurasa Reno patah hati akut kali ini. Saat aku memutuskan menikah dengan Mas Raka, dia tidak segila ini. Aneh sekali dia.
Reno memukul tepat di hidung Kak Zian membuat darah kental keluar dari lubang hidungnya. Reno akan memukul lagi, tapi tangan Kak Zian menepisnya. Memelintir sebelah tangan Reno ke belakang dan mendorongnya.
"Aku ingin membunuh Faiza! Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu! Dan akan membawamu ke kantor polisi!" Kak Zian tampak geram sampai rahangnya mengeras.
Ya, itu lebih baik. Reno sangat membahayakan. Sebaiknya dia dilaporkan pada pihak berwajib.
Kak Zian mendorong Reno keluar. Reno terus saja mengumpat dan mengatakan ingin membunuhku. Sangat mengerikan.
❤❤❤
"Kak ...." Aku trauma jika mendengar pintu dibuka. Yang datang Kak Zian, kuyakin dia khawatir dengan keadaanku.
"Ya, tenanglah. Reno sudah ditangani sama pihak keamanan rumah sakit. Aku sudah jelaskan kronologinya. Dia akan dibawa ke kantor polisi. Naya dan Mama sebentar lagi akan datang. Aku sudah menelponnya."
Kak Zian berdiri di samping ranjangku. Darah di dua lubang hidung Kak Zian masih keluar. Dia mengambil tisu untuk mengelapnya.
Aku semakin sayang pada Kak Zian. Begitu sering dia menyelamatkanku. Aku berhutang budi padanya. Kuraih sebelah tangannya untuk kupegang, tanganku sendiri masih gemetar.
"Kak, jangan ke mana-mana ya, temani aku. Aku takut ...." Meski Reno katanya sudah diamankan. Aku masih ketakutan.
__ADS_1
"Ya. Sebelum Naya dan Mama datang, aku tidak akan ke mana-mana. Sebentar lagi dokter datang untuk memeriksamu. Kamu kuat, dibekap Reno, kamu mampu melewatinya."
"Karena Kak Zian datang, dan memukul Reno, kalau tidak? Mungkin aku sudah terbujur kaku."
Kak Zian duduk, dia membiarkan aku terus memegang sebelah tangannya.
"Ya, syukurlah, semoga setelah ini Reno sadar dan tidak berbuat anarkis lagi."
"Aku ingin cepat-cepat nikah dengan Kakak. Aku ingin tenang, dan selalu terlindungi. Setelah pulang dari rumah sakit, kita nikah yuk, Kak ...." Aku berkata serius.
Kak Zian tersenyum, perlahan meredakan rasa tegangku.
"Kalau kamu sudah mantap. Aku juga siap." Kak Zian mengangguk. Aku mengusap sisa air mata di pipi dan mencoba tersenyum.
"Hatiku sudah mantap, Kak."
"Ya, alhamdulillah. Kamu harus fokus pada kesehatanmu dulu."
Aku merasa lebih baik. Aku juga tidak berhalusinasi lagi. Tidak lagi melihat Mas Raka, dan aku tidak ingin pulang ke rumah di atas awan ....
❤❤❤
Reno menjalani pemeriksaan di kantor polisi. Dan Dia positif menggunakan obat-obatan terlarang. Pantas saja Reno seperti orang gila. Aku tidak menyangka, Reno sahabat baikku terjerumus sejauh itu.
Setelah mendapatkan bukti-bukti kuat, pihak kepolisian resmi menyatakan Reno sebagai tersangka perencanaan pembunuhan. Reno tentu akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
❤❤❤
Keluargaku dan keluarga Kak Zian setuju, aku dan Kak Zian segera menikah. Agar kami bisa hidup tenang dan bahagia.
Aku, Naya, dan Kak Zian pergi bersama ke makam Mas Raka.
"Mas, aku akan memenuhi keinginan terakhirmu. Aku dan Kak Zian akan segera menikah ...." Setelah berdoa, kusampaikan kabar bahagia ini dengan air mata berderai.
Naya ikut berkaca-kaca, sedangkan Kak Zian menyentuh batu nisan Mas Raka, dia juga tampak menahan rasa sedih dan bahagia yang pastinya bercampur seperti yang aku rasakan.
"Aku akan menikahi Faizara, Dek ...." Kak Zian berkata lirih. Dia ikut bicara seolah adiknya ada di hadapannya.
Kami larut dalam suasana haru, lalu kembali mendoakan almarhum suamiku sebelum pulang.
Menanti acara akad yang akan digelar seminggu lagi, aku rajin ke dokter kulit, perawatan bekas-bekas luka bakar di bagian tubuhku. Tak lupa di bagian wajahku juga mendapatkan perawatan ekstra agar wajahku kembali seperti semula.
"Calon pengantin auranya beda ya," kelakar Naya saat menemani aku perawatan.
__ADS_1
"O iya, dong! Jomlo jangan iri ...."
Naya mencibir. "Kata siapa aku jomlo? Aku tidak mau kalah sama, Mbak. Aku juga udah punya calon."
"Yeee, kuliah aja dulu yang bener."
"Nikah sambil kuliah gak masalah juga, kan? Toh, Mas Aris setuju."
Aku menoleh ke arah Naya. "Aris?" tanyaku. Aris adiknya Kak Zian?
"Iya, aku berpasangan Mas Aris. Mbak dan Kak Zian, klop kan?" Naya mengedipkan sebelah matanya.
"Oke! Aku mendukung dan setuju!" Kuacungkan dua jempolku pada Naya. Aku baru tahu Naya dan Aris punya hubungan spesial.
❤❤❤
Aku semakin deg degan karena hari pernikahanku dan Kak Zian tinggal dua hari lagi.
Saat fitting gaun untuk akad beberapa waktu lalu, gaun yang aku pesan sangat pas di badanku. Hari ini, saat dicoba lagi, gaun itu jadi agak kurang pas di bagian perutku.
"Tambah gemukan, ya, Mbak. Tapi masih oke, kok," kata perancang gaunku.
"Iya, agak gemukan," pikirku.
Naya juga melihat saat aku mengenakan gaun warna pink itu. Dia fokus ke arah perutku.
Saat perancang baju dan asistennya pulang, Naya menghampiriku di kamar.
Aku menyentuh perutku, yang menurutku agak membuncit.
"Tumben perut Mbak yang langsing tiba-tiba agak besar. Hmm ... Mbak saat lengket sama Kak Reno, tidak ngapa-ngapain, kan?" tuding Naya.
"Maksudmu? Kamu menuduh Mbak dan Reno sudah melakukan hubungan terlarang?” Aku jadi tersinggung dengan ucapan Naya.
“Bukan begitu, Mbak. Kak Reno pemabuk, dan Mbak pernah tinggal di apartemennya. Takutnya kalian ....”
“Itu namanya kamu menuduh, Nay! Kamu kira semua wanita yang perutnya buncit itu hamil? Jangan begitu, dong.” Aku berkata ketus.
“Mbak, selama Mbak sakit. Selera makannya menurun, badan Mbak agak kurusan, tapi kenapa perutnya tambah besar?”
Pertanyaan Naya membuatku jadi agak takut. Perutku besarnya agak tidak wajar, kemarin masih rata, kenapa hari ini jadi membesar?
Bersambung
__ADS_1