
"Kita sholat Magrib di musholla, ya. Sekalian kenalan sama warga di sini." Kak Zian mengajakku sholat di musholla saat waktu Magrib hampir tiba.
"Siap! Aku memang kepingin kenalan sama tetangga-tetangga Kak Zian." Aku langsung setuju.
Kak Zian tersenyum, "I love you ...." Kak Zian lalu mengecup keningku.
"Dih, bucin!" selorohku, padahal dalam hati merasa tersanjung.
"Bilang i love you too, dong!" Kak Zian membingkai wajahku dengan dua tangannya sembari menatapku intens.
"Aku juga cinta sama Kakak ...." Aku mengucapkan kalimat itu dan buru-buru memeluk Kak Zian, malu karena ditatap Kak Zian. Entah, meski sudah menjadi suamiku, aku masih agak grogi bila berdekatan dengan Kak Zian.
Kak Zian memelukku erat. "Makasih, Sayangku. Yuk, kita wudu terus berangkat ke musholla."
Aku mengangguk. "Ayo, Kak."
❤❤❤
Saat azan Magrib berkumandang, aku dan Kak Zian berangkat ke musholla tak jauh dari rumah Kak Zian.
Ketika sampai, Kak Zian menuju ke barisan saf pria dan aku ke saf perempuan. Lima wanita yang sudah siap dengan mukena melihat padaku. Aku menyalami mereka satu persatu sembari memperkenalkan namaku.
Empat orang sudah ibu-ibu dan satu seorang gadis cantik, gadis itu menyebut namanya Salma saat aku menjabat tangannya dan memperkenalkan namaku.
Gadis di pegunungan ternyata banyak yang cantik dan berkulit putih. Awalnya kukira wanita gunung itu dekil-dekil dan hitam, tapi ternyata sebaliknya.
Selesai salat, aku dan Kak Zian keluar dari musholla, ibu yang punya musholla mengajak mampir, aku dan Kak Zian menolak secara halus, sementara gadis bernama Salma buru-buru masuk ke rumahnya.
"Kak, Salma itu cantik ya."
Aku pulang bergandengan tangan dengan Kak Zian.
Kak Zian langsung menoleh padaku. "Ng ... lebih cantik kamu kok, Sayang." Dia menatapku lembut.
"Masa? Eh, dia sudah punya suami belum?" tanyaku lagi.
"Belum." Kak Zian menjawab pendek. Dia semakin erat memegang tanganku. "Kenapa emang?" Kak Zian balik bertanya.
"Nggak apa-apa, dia pasti kembang desa ya?"
"Mungkin." Kak Zian mengangkat bahu.
"Beruntung pria yang mendapatkan gadis secantik Salma."
Kak Zian tidak menanggapi, dia diam saja sampai kami tiba di rumah.
"Kita makan malamnya beli jajanan saja yuk," ajak Kak Zian setelah mengganti baju kokonya dengan kemeja lengan pendek.
"Oke, kalau malam, ada yang buka ya, Kak?"
"Ada, malah ramai kalau malam," sahut Kak Zian sambil memasang kancing kemejanya. Aku mendekat dan membantu memasang kancingnya.
Kak Zian menatap wajahku yang berdiri tepat di hadapannya sampai selesai aku membantu memasang kancing bajunya.
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di keningku "Makasih ya, Sayang ... sudah dibantuin." Aku senang dengan perlakuan romantis Kak Zian kepadaku.
"Iya, Kak." Aku menjawab sambil tersipu malu.
Kak Zian tersenyum dan membawaku ke pelukannya. "Semoga kita selalu romantis seperti ini, Sayang ...."
"Aamiin. Kak Zian janji ya, untuk tidak berubah dan terus menyayangi aku." Aku sedikit merajuk sambil mengelus pipi Kak Zian.
"Tentu, Sayang ... sampai kapan pun, aku akan selalu mencintai dan menyayangimu." Kami saling bertatapan mesra. Wajah kami lalu saling mendekat, Kak Zian mencium bibirku ringan.
❤❤❤
Setelah pamit pada Nenek. Aku dan Kak Zian jalan kaki menuju warung serabi, jajanan tradisional yang aku sukai.
Makan serabi pastinya juga bakalan kenyang. Adonan yang terbuat dari tepung beras dan kelapa parut dan ditambah garam itu, jelas mengenyangkan.
Sampai di warung, Kak Zian menyapa beberapa orang yang tengah menunggu pesanannya. Aku ikut menyapa mereka, dan ibu yang lagi mencetak serabi tersenyum, lalu mempersilakan kami duduk di bangku kayu.
Serabi yang sudah jadi dibungkus sesuai permintaan pembeli, ada yang original, ada yang pakai topping abon, pisang, topping keju, dan meses. Aku tak menyangka, di pegunungan ini, ada yang jual serabi kekinian. Pantas saja ramai pembelinya.
"Kamu mau yang topping apa, Sayang?" tanya Kak Zian, tiba giliran kami yang akan dibuatkan oleh ibu penjualnya.
"Campur saja, aku ingin coba semuanya, Kak." Kujawab dengan antusias.
Si ibu penjual tersenyum pada kami. "Ya, baiklah Mbak. Duh, mesranya Zian pada istrinya panggilannya sayang."
Ibu itu menggoda kami sambil menuangkan adonan pada cetakan serabi yang terbuat dari tanah liat.
"Bersyukurlah Mbak yang dipilih dan dinikahi sama Zian, karena di sini, Zian itu banyak yang naksir, banyak yang ingin menjadikan dia mantu." Ibu itu tertawa sambil menoleh pada Kak Zian.
"Ah, ibu bisa saja." Kak Zian menggelengkan kepalanya.
"Oh, jadi begitu ya, Bu?" Aku jadi penasaran mendengar cerita si ibu tentang Kak Zian.
"O iya, Zian hampir tiap malam beli serabi di sini, loh ... Nduk. Dia membelikan untuk Salma, anaknya yang punya musholla itu. Serabi ini kesukaan Salma ...."
"Bu, jangan ceritakan yang itu," cegah Kak Zian. Dia berubah gelisah, menoleh padaku dan menyentuh tanganku. Mungkin takut aku cemburu. Dan ... aku memang cemburu. Cemburu berat!
Ibu penjual serabi masih tersenyum, tanpa merasa bersalah melanjutkan bercerita. "Syukurlah Nduk-lah wanita yang dipilih Zian, padahal Zian hampir saja melamar Salma. Tapi, dia urungkan saat adiknya meninggal dan katanya mendapat permintaan terakhirnya."
Jantungku berdetak lebih kencang, kutepis tangan Kak Zian yang menyentuh tanganku. Itu artinya Kak Zian mencintai Salma. Seketika aku sulit menelan ludah.
"Itu sudah masa lalu, Bi. Tak perlu diungkit lagi." Kak Zian menyadari aku sedang dilanda cemburu, dia meminta ibu penjual serabi agar tidak mengungkit tentang Salma.
"Ah, iya juga. Semoga kalian langgeng ya." Ibu pencetak serabi kembali tersenyum sementara aku cemberut.
"Aamiin." Kak Zian mengaminkan. Kedua tangannya kembali memegang kedua tanganku dan lagi-lagi aku tepis.
"Sayang, itu serabinya pesananmu sudah jadi, mau langsung dicoba?" Kak Zian berusaha membujukku. Aku tidak menjawab pertanyaan Kak Zian sampai pesanan kami dibungkus.
Ingin rasanya marah, tapi ini di warung. Setelah kami keluar dari warung, aku berjalan cepat, rasanya sesak mengetahui Kak Zian hampir melamar Salma anaknya pemilik musholla.
"Sayang, hei ... kenapa?" Kak Zian menyusul langkahku. Dia ikut berjalan cepat di sisiku.
__ADS_1
"Kalau serabi itu makan favorit Salma, untuk apa Kak Zian mengajakku membeli serabi? Kenapa? Kak Zian tidak bisa move on dari Salma?!" Aku meradang dan langsung menangis.
"Bukan begitu ...."
"Bukan begitu apa? Pantas saja Kak Zian mengajak sholat di musholla, bilang saja Kak Zian ingin bertemu Salma!" Aku semakin cepat berjalan.
"Tidak seperti itu, Sayang ...." Kak Zian meraih sebelah tanganku tapi aku tepis.
"Sekarang Kak Zian jujur padaku, Kak Zian masih mencintai Salma, kan?" Aku bertanya sambil menghentikan langkah. Sinar bulan di atas sana memperlihatkan wajah Kak Zian. Ada kekhawatiran di wajahnya.
"Kenapa bertanya begitu, Sayang? Aku menikahimu, itu artinya aku mencintaimu." Kak Zian menegaskan. Dia mengusap air mata di kedua pipiku.
"Itu artinya sebelum Kak Zian menikahiku, Kak Zian pasti sangat mencintai Salma." Rasa cemburu masih membakar hatiku.
Kak Zian mendesah berat, bibirnya lalu tersenyum tipis. "Itu hanya masa lalu, Sayang ...."
"Oh ... ternyata betul, Kak Zian dan Salma saling mencintai!" Suaraku bergetar. Lalu berlari meninggalkan Kak Zian.
"Sayang, hei ... tunggu! Jangan cemburu buta dong! Pernahkah aku membahas tentang pria-pria di masa lalumu, tidak kan?" Kak Zian ikut berlari mengejarku.
Aku tak menjawab, hanya satu keinginanku sekarang, aku mau pulang!
Saat sampai di rumah Nenek. Aku menemuinya di kamarnya, Kak Zian mengikutiku masuk ke kamar Nenek.
"Nek, Fai pamit pulang, ya."
Nenek yang duduk di kasurnya melihat padaku dengan tatapan heran. Air mata tak dapat aku bendung, nangis di hadapan Nenek membuat wanita yang sudah berumur itu jadi kebingungan.
"Ada apa, Nak?" Nenek mengusap kepalaku.
"Aku ingin pulang malam ini, Nek." Keputusanku sudah bulat. Karena aku yakin, Kak Zian hanya terpaksa menikahiku. Dia pasti sangat mencintai Salma.
"Ini sudah malam, Sayang." Kak Zian mencegahku yang akan keluar dari kamar Nenek.
Tak mau berlama-lama, kuabaikan ucapan Kak Zian yang melarangku untuk pulang.
Aku keluar dari kamar Nenek dan masuk ke kamar Kak Zian untuk mengambil tas selempangku.
"Zian, ada masalah apa? Kenapa istrimu mau pulang?" tanya Nenek, beliau keluar dari kamarnya.
"Istriku sepertinya marah karena Bu Asih penjual serabi menceritakan Salma, Nek." Kak Zian masuk. Melihat padaku dengan tatapan sedih. Aku tetap dengan keputusanku.
"Oh ... begitu. Nak, sebaiknya jangan pulang malam-malam. Jalanan menuju ke bawah sana sepi." Nenek juga tak memperbolehkan aku pulang malam.
"Maaf, Nek. Aku mau pulang." Aku berjalan ke arah pintu.
Kak Zian meraih sebelah lenganku. Dia lalu berdiri di depanku. "Kita baru saja menikah, Sayang. Jangan ngambek begitu, kalau ada masalah mari kita bicarakan baik-baik. Tentang Salma, aku sudah tak ada perasaan apa-apa padanya. Percayalah padaku," bujuk Kak Zian. Kedua matanya menatapku sayu. Berusaha meyakinkanku.
Sayangnya, egoku masih sangat tinggi. Kusentak lenganku yang dipegang Kak Zian. Membuang pandang dan keluar dari kamar Nenek.
"Aku tetap mau pulang!"
Bersambung
__ADS_1