Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Masih di Rumah Kak Zian


__ADS_3

Tak lama setelah itu, Nenek memanggilku ke kamarnya. Memintaku membuka baju untuk diolesi minyak. Aku menuruti. Berganti memakai kemben dari kain jarik yang dipinjamkan Nenek.


Tanpa rasa jijik, Nenek mengoles minyak yang di dalam botolnya ada akar-akaran. Nenek mengoles rata pada bagian-bagian tubuhku. Entah itu akar dari tumbuhan apa. Saat kutanyakan pada Nenek, beliau juga tidak tahu.


Seandainya Nenek tahu itu akar tumbuhan apa, enak bisa jadi rekomendasi herbal untuk gatal-gatal.


Rasanya gatal-gatal ditubuhku terasa hangat setelah diolesi minyak oleh Nenek. Ajaibnya, gatalnya perlahan berkurang.


Aku mengucap terima kasih atas perlakuan Nenek yang begitu ramah dan sayang padaku.


Aku lalu memakai pakaianku kembali. Waktu seakan berjalan cepat, rasanya masih betah di sini, sayangnya aku harus pulang sebelum sore.


Cuaca cerah dengan cepat berganti mendung, lalu gerimis dan hujan lebat. Kata Nenek, di sini memang tiap hari hujan.


Aku dan Pak Adam menunda untuk pulang karena begitu derasnya hujan. Memilih duduk di dipan teras, kulihat pohon jambu biji yang buahnya mulai besar-besar, pohon pepaya juga terlihat memerah buahnya, buah belimbing buahnya bagus karena ditutupi plastik, juga mangga arum manis buahnya besar-besar, bergoyang-goyang tertiup angin dan hujan.


"Kamu mau makan rujak buah, Fai?" tanya Kak Zian. Dia keluar, mungkin barusan melihatku memandangi buah-buahan di halamannya.


"Emm, mau Kak. Tapi lagi hujan deras."


"Makanya hujan deras itu paling enak kalau makan rujak manis. Sebentar, aku ambilin buahnya ya. Biar Nenek yang membikin bumbunya." Kak Zian masuk memberitahukan pada Nenek. Lalu keluar lagi sudah memakai mantel.


Dia menembus hujan, mengambil beberapa buah. Aku kaget saat ada petir menggelegar, melihat Kak Zian ada di dekat pohon mangga dan mengambil buahnya memakai galah.


"Wah, Mas Zian nekat demi Mbak Faiza ...." Pak Adam keluar, melihat kakak iparku mengambil mangga di tengah hujan deras. "Tanda pria yang rela berkorban dan bertanggung jawab."


Perkataan Pak Adam membuat rasa kagumku pada Kak Zian naik berkali-kali lipat. Apalagi setelah mengambil buah-buahan, Kak Zian melepas mantelnya. Lanjut mencuci dan mengupas buah-buah itu. Sampai mengiris-irisnya dan meletakkan pada wadah meletakkan di hadapanku.


Aku ngiler melihat aneka buah yang siap dinikmati, Nenek juga sudah datang, meletakkan sambal gula merah, cabai dan kacang di cobek besar.


Aku tawari Pak Adam, beliau menolak karena giginya sudah tidak kuat makan yang asam-asam. Pak Adam masuk dan memilih duduk di ruang tamu. Nenek juga tidak ikut makan rujak, beliau katanya sedang merebus singkong jadi balik segera ke dapur.


Tinggal aku dan Zian di teras. Angin cukup kencang membuatku kedinginan.


"Makan di dalam saja, Fai," saran Kak Zian.


"Aku di sini saja, Kak. Sambil liatin hujan." Aku mengambil potongan mangga, mencocol ke sambal dan memakannya. Mantap rasanya.


Kak Zian tersenyum. "Aku ambilkan jaket dulu ya."


Belum sempat aku menolak, Kak Zian sudah masuk dan datang dengan membawa jaket levis. Menyerahkan padaku, dan kembali duduk di dipan.


Saat kupasang jaket, seseorang datang dari rumah sebelah membawa payung, sambil menenteng sesuatu.


Setelah dekat ke teras, baru jelas kalau yang datang ini seorang wanita. Dia meletakkan payungnya di semen pembatas teras. Naik ke teras, senyumnya terkembang ke arah Kak Zian.


Wanita yang terlihat lebih muda dariku memakai kulot krem dan atasan blus. Wajahnya putih bersih meski tanpa make up, bibirnya juga merah alami. Rambutnya panjang dan hitam dibiarkan tergerai. Di pipinya kirinya tampak lesung pipit saat dia tersenyum.


Cantik!

__ADS_1


"Ratih, hujan-hujan bawa apa itu?" tanya Kak Zian menyapa wanita bernama Ratih.


"Aku barusan buat kolak kacang hijau, Bang. Ini dua bungkus buat Bang Zian dan Nenek." Ratih masih melihat intens pada Kak Zian. Lalu menyerahkan kolak itu.


"Kamu kok repot-repot, kebetulan ada tamu, jadi kolak ini buat Faizara dan Pak Adam." Kak Zian menunjukku.


Ratih, yang dari tadi fokus ke Kak Zian, melihat pada wajahku yang punya gatal-gayal di pipi dengan pandangan ... jijik. Dia terang-terangan mengangkat dua bahunya. Seperti tidak setuju kolak itu diberikan padaku.


"Siapa dia, Bang?" tanya Ratih.


"Aku Faizara, istrinya Raka." Aku yang menjawab. Memperkenalkan diri.


"Iya, dia istri dari mendiang adikku." Kak Zian menambahi.


"Oh." Ratih menjawab pendek. Dia melirik sinis ke jaket Kak Zian yang selesai aku pasang.


"Sini gabung rujakan, duduklah." Kak Zian berkata ramah pada Ratih.


"Nggak, Bang. Aku sudah bosan rujak terus, kan Bang Zian yang tiap harinya ngambilin buahnya." Entah apa tujuan Ratih berkata seperti itu.


Dia lalu pamit. Dari tatapannya, sepertinya dia tidak suka denganku.


"Cantik ya?" Aku berkata sambil melihat Ratih yang sudah hampir sampai ke rumahnya.


"Iya, cantik." Jawaban Kak Zian membuatku tanpa sadar melebarkan mata ke arahnya.


Kak Zian malah tertawa. "Semua wanita itu cantik, Fai. Masa iya ganteng? Itu maksudku."


Aih, Kak Zian bikin aku serasa terjebak dengan pertanyaan sendiri. Dia menjawab konyol tapi masuk akal.


"Silakan dimakan kolaknya Bang Zian, kayaknya si Ratih bikin kolak itu spesial buat Abang." Aku meniru panggilan Ratih ke Kak Zian sambil mencibir.


Kak Zian menggaruk rambutnya yang basah. "Jangan bilang kamu cemburu sama Ratih, Fai. Entar aku tidak bisa tidur, nih." Kak Zian mencandaiku.


"Dih!"


Aku pura-pura melengos, sambil berpikir, apa iya aku cemburu sama Ratih? Aku dan Kak Zian belum ada hubungan apa-apa, loh! Aku memperingatkan diri sendiri.


Kak Zian menghentikan tawanya. "Ratih itu sudah biasa, tiap hari dia mengantar makanan yang dibuatnya untuk aku dan Nenek."


"Dia pinter masak ya?" tanyaku. Jadi penasaran tentang Ratih. Kayaknya dia dan Kak Zian begitu dekat.


"Iya pinter masak dia."


Tuh, kan? Kak Zian mulai memujinya.


"Udah cantik, pinter masak lagi. Cocok dijadikan istri, tuh!" Aku mencibir. Dalam hati mulai iri pada Ratih.


"Bangeeet, cocok dan pantas kalau dijadikan istri."

__ADS_1


Ucapan Kak Zian membuatku menoleh padanya, sumpah bikin geregetan Kak Zian berkata seperti itu padaku. Bikin ambyar suasana hatiku yang mulai mengaguminya. Sepertinya Kak Zian sengaja mengucapkan kalimat itu, mungkin dia ingin tahu reaksiku.


"Kalau gitu, kenapa Kakak tidak menikah saja dengannya?!" Dahlah, jadi mangkel aku. Suaraku yang dari tadi lembut, sekarang berubah meninggi.


"Loh, bukannya kamu sendiri yang bilang Ratih pantas jadi calon istri, Fai?" Kak Zian bertanya santai sambil senyum-senyum pula.


Karena kesal, kuambil potongan buah mangga, mencocol dengan banyak sambal dan memasukkan sembarangan ke mulut lalu mengunyah cepat.


Krek!


"Awww!" Aku menganga, bibir bawahku kena gigit dan ini rasanya sakit sekali. Langsung berdarah saking kuatnya aku menggigit.


"Kena gigit, Fai?" Kak Zian mengambil tisu, "sini aku bantuin."


Kak Zian berdiri di sampingku, membantu mengelap darah di bibir. "Hati-hati kalau makan. Tak baik makan dengan terburu-buru."


"Iya, aku tau!" Keluar lagi suara ketusku.


Saat Kak Zian membantu mengelap bibirku, kebetulan aku menghadap ke rumah Ratih. Dari jendela kaca, bisa kulihat ada wajah Ratih di sana, melihat ke sini. Itu artinya, dia kepo atau mungkin Ratih cemburu karena Kak Zian begitu perhatian padaku.


Selesai membantu mengelap darah di bibirku, aku bertanya pada Kak Zian, tanpa basa basi.


"Kenapa Kakak perhatian padaku? Meski di waktu-waktu lalu, aku tidak menyukai Kakak, tetap saja Kakak bersikap baik."


Kak Zian kembali duduk di dipan. "Pesan terakhir Raka terus terngiang-ngiang di telinga, dia ingin aku menjagamu, aku ingin memenuhi permintaan terakhir Raka ...."


Wajah Kak Zian berubah sendu. Melihat ke arah air hujan yang jatuh deras di halaman rumahnya.


Hanya karena menjalankan pesan terakhir Mas Raka, Kak Zian perhatian padaku. Bukan karena alasan lain. Bukan pula karena dia suka padaku. Jadi, aku harus tahu diri.


"Perhatian Kak Zian, membuat seorang wanita cantik di rumah sebelah cemburu. Ratih melihat kita dari jendela kamarnya, tuh."


Kak Zian langsung menoleh ke rumah Ratih.


"Nggak ada, tuh." Kak Zian meniru logatku.


Saat aku melihat ke jendela rumah Ratih. Dia sudah menutupnya dengan gorden.


"Barusan ada, kok. Makanya, Kakak gak usah berlebihan perhatiannya padaku. Ratih jadi cemburu, kan?"


Kak Zian tersenyum. "Keluarga Ratih sudah seperti saudara denganku dan Nenek. Kami akrab layaknya saudara, Fai."


"Iya. Makanya dia cemburu, Kak. Dah ya, aku mau masuk." Aku berdiri, mengambil piring wadah buah-buahan dan cobek. Masuk membawanya ke dapur.


Ratih yang cemburu padaku, atau aku yang cemburu pada Ratih?


Ah, hatiku jadi tidak baik-baik saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2