Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Terluka


__ADS_3

Kaus singlet warna putih di perutnya dalam waktu sekejap berubah warna menjadi merah seiring darah yang keluar dari tusukan pisau.


Ngeri! 


Aku tak percaya dengan apa yang telah aku lakukan. Aku menarik tanganku, sementara pisau itu tetap menancap di perut Kak Zian.


"Faiii ...." Kak Zian seakan tak kuasa berkata-kata lagi. Wajahnya memerah menahan sakit. Dari dua matanya keluar air mata.


Pikiran dengan cepat mengingat pesan Mas Raka sebelum meninggal. Meminta Kak Zian menjagaku, meminta kakaknya ini menikahiku, memintaku mau menikah dengan kakaknya.


Setelah kepergian Mas Raka, apakah Kak Zian akan menyusul adiknya akibat perbuatanku?


"Faaaai ... ma-af ji-ka aku ti-dak bi-sa men-jagamu dengan ba-ik ...." Suar Kak Zian terengah-engah. Tubuh Kak Zian lalu condong ke depan.


Tubuh itu kini ambruk, jatuh ke arahku yang berdiri tertegun.


"Kak?"


Dua tanganku gemetar, tapi masih sempat menangkap tubuh Kak Zian. Lengannya semakin dingin. Sementara dari perutnya mengucur deras darah ke bawah, ke kakiku.


Pikiranku kacau, ingat saat memfitnahnya mencuri mas kawin, ingat saat seenaknya memukul dadanya, ingat saat menampar wajahnya, ingat menginjak-injak kakinya, mencakar-cakar wajahnya. Tadi juga akan memfitnah Kak Zian akan memperkosaku.


Tubuh yang tadi melindungiku dari para pemabuk itu kini ... tubuh itu semakin lemas dan tak kurasakan lagi kehangatannya ....


Apa Kak Zian sudah meninggal?


"Aaaaaa ....!" Aku berteriak takut.


Aris datang ke dapur setelah aku berteriak.


"Ya, Allah! Apa yang terjadi? Kak Zian, bangun!"


Aris membawa tubuh Kak Zian yang kini tidak bergerak sama sekali ke pangkuannya.


"Kenapa Kak Zian? Apa Mbak melukainya? Jawab!" Aris terlihat emosi. Dia menepuk pipi kakaknya, mengguncang bahunya. Dia pun tampak kacau, melihat pisau masih tertancap di perut Kak Zian.


"Mama! Bi Fatma! Pak Salim!" panggil Aris dengan suara lantang. "Kenapa Kak Zian bisa ditusuk? Apa salahnya pada Mbak Fai? Apa?!"


"Bukan aku, bukan aku ...."Aku menggelengkan kepala. "Dia main pisau, dia main pisau ...."


Aku persis orang gila sungguhan.


"Tak mungkin Kak Zian melukai dirinya sendiri!"


"Ziaaan!" Mama mertua datang, langsung syok. "Kenapa Zian? Aris dia kenapa? Anakku kenapa?"


Mama menangis bersimpuh di dekat tubuh Kak Zian. Mengusap wajah Kak Zian yang mulai memucat.


"Tidak tau, Ma. Aku yakin ini Mbak Fai pelakunya. Kita ke rumah sakit! Mbak Fai bawa masuk kamar. Kunci pintunya! Dia membahayakan!" perintah Aris.


Aris segera membopong Kak Zian.


"Zian, sadarlah! Kenapa ini bisa terjadi padamu, Nak?" Mama pasti sangat terpukul dengan kejadian ini.


"Aku tidak melakukan apa-apa! Bukan aku! Bukan aku!" Aku menceracau. Mulai membayangkan mendekam di penjara karena telah melukai Kak Zian.


Jika aku dianggap gila, maka aku tidak akan dipenjara.


Ina dan Bi Fatma memegang dua tanganku. Mereka tidak membawaku ke kamar atas. Tapi ke kamar di ruang tengah, kamar itu yang biasa ditempati Kak Zian.


Mereka terburu-buru karena sepertinya akan ikut ke rumah sakit.


❤❤❤

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang. Menggigit kuku-kuku jariku, berjalan mondar mandir di kamar beraroma wangi. Wangi Kak Zian.


Ada kemeja putihnya tergantung di pintu, ada tas ransel yang di sandarkan di kepala ranjang.


Di meja dekat ranjang, ada kopiah hitam dan sebuah buku tulis. Buku yang terbuka, di atasnya ada sebuah pena yang tidak ditutup, tanda dia baru saja menulis sesuatu.


Berkali-kali aku menghela napas berat. Tak tahu apa yang harus aku lakukan.


Aku masih mondar mandir sampai waktu Subuh tiba. Merasa lelah lahir batin. Berhenti berjalan di depan meja dekat rajang.


Mata melihat tulisan tangan Kak Zian pada buku mini ukuran saku, tapi cukup tebal. Apa ini semacam buku harian?


Aku tak tertarik membacanya di saat pikiran kacau seperti ini. Namun, mata tak dapat dicegah, akhirnya aku menunduk, membacanya.


Fai berlari, aku mengejarnya.


Fai kegerahan, aku meniupnya memberikan udara segar.


Fai mencakar wajahku, aku diam saja.


Fai hampir membuatku dikeroyok warga karena dia berteriak mengatakan aku akan berbuat tak senonoh padanya, aku pusing dibuatnya. Tapi, aku tak bisa marah padanya.


Aku bukan siapa-siapa baginya, tapi ... aku merasa bertanggung jawab terhadapnya.


Hanya itu. Tulisan yang cukup konyol. Tertera tanggal dan jam saat menuliskannya. Itu terjadi sebelum Kak Zian pergi ke dapur tadi. Kemudian aku ... entah sengaja, atau tidak ... menusuk perutnya.


Aku bingung.


Di lembar-lembar sebelumnya, pasti banyak yang telah dia tulis.


Pintu kamar terdengar dibuka. Aku terenyak. Dan berbalik. Ina membuka pintu. Ina rupanya tidak ikut ke rumah sakit, dan dia pasti sudah menghubungi keluargaku.


Naya, Papa dan mamaku datang.


Naya menangis, Papa membawaku ke pelukannya. Mama ikut memelukku. Pasti mereka tak ingin aku tambah tertekan.


"Jangan mengulangi lagi, agar kami tidak khawatir padamu," ucap Papa berkata hati-hati. "Pikirkan juga Zian yang terluka parah, kasihan dia. Kasihan mertuamu."


"Dekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, perbanyak berdoa, pasti pikiranmu akan tenang, Nak." Mama menambahkan.


Aku memilih diam.


❤❤❤


"Pa, Mbak Fai itu telah membahayakan orang lain. Dia harus diobati dan dibawa ke RSJ. Aris mengabarkan Kak Zian masih kritis. Kalau Kak Zian meninggal bagaimana?"


Aku menguping di pintu kamar Kak Zian yang sedikit aku buka pintunya.


Tampak Papa, Mama, dan Naya sedang berdiskusi di depan kamar Kak Zian setelah menasihatiku.


"Fai dalam kondisi sangat bersedih, papa yakin, seiring berjalannya waktu, dia akan pulih." Papa tidak setuju dengan saran Naya.


"Tapi, Pa ... betul saran Naya, Fai harus dibawa ke psikiater. Dia harus diobati. Atau ke rumah sakit jiwa ...." Mama mendukung Naya.


Ke rumah sakit jiwa? Lalu di sana aku akan berkumpul dengan orang gila.


Tidak, aku tidak mau.


Disaat keluargaku kebingungan dengan permasalahan ini dan mencari solusi untuk mengobatiku. Aku naik jendela kamar Kak Zian, lalu keluar melalui halaman samping.


Sebelum itu, aku mengambil selembar kertas kosong di buku harian Kak Zian, lalu menulis pesan singkat.


"Pa, Ma, dan Naya ... aku pergi untuk menenangkan diri. Tak perlu dicari. Aku bisa menjaga diri.” Tertanda Faizara.

__ADS_1


Surat singkat kuletakkan di meja.


Sampai di luar gerbang aku menelepon seseorang.


"Ren, jemput aku ...."


❤❤❤


Di sebuah kamar apartemen ....


"Untuk cinta seperti yang kami rasakan, waktu berabad-abad pun belum cukup, Ren. Mas Raka pergi disaat cintaku begitu menggebu-gebu padanya."


Aku menumpahkan semuanya, tentang kesedihan mendalam yang baru kali ini aku alami. Pun tentang pesan terakhir Mas Raka yang menginginkan aku menikah dengan kakaknya yang aku benci.


"Aku gak menyangka, kamu sangat mencintai Raka sampai sedalam ini. Aku turut berduka cita, kaget juga ada yang ngabari suamimu meninggal. Aku belum sempat ke rumahmu karena baru datang dari luar kota."


Reno melerai pelukannya. Kemeja di bahunya basah karena air mataku. Dia mengusap air mataku dengan jari tangannya.


Pria tampan, putra seorang pengusaha terkenal ini adalah sahabatku sejak kecil, sampai kuliah pun kami selalu bersama.


"Iya, Ren. Izinkan aku tinggal di sini sementara saja ...." Aku memohon.


"Tinggallah di sini, Fai. Selamanya pun tak masalah. Akhirnya kamu kembali, Faiza ...." Dia berkata pelan sambil meneliti wajahku.


"Apa, Ren?"


"Ya, akhirnya kamu kembali lagi padaku. Persahabatan bagai kepompong ...." Reno sedikit berkelakar. Dia mencubit pipiku. "Kamu harus bahagia, karena bila melihatmu terluka seperti ini, aku ikut merasakan sakitnya, Faiza ...."


"Tengkyu sudah simpati padaku." Aku memeluknya lagi.


"Simpati, Kartu As juga ...." Reno kembali mencandaiku.


Aku tersenyum. Memukul pelan dadanya.


"Nah, gitu, dong ... senyum. Eh, aku kebelet."


"Kebelet apa?"


"Ke WC, dikira kebelet kawin!"


Aku tersenyum lagi. Reno selalu bisa menghiburku.


Reno membuka kemejanya. Tubuhnya yang agak kurusan dipenuhi tato, mulai dari dada sampai ke punggungnya. Ada perubahan signifikan pada sosok sahabatku ini. Ada banyak tato di tubuhnya dan dia mengambil rokok lalu dia menyulutnya. Sesuatu yang tak pernah dia lalukan sejak bersahabat denganku.


"Hm, kamu sekarang ngerokok?"


"Iya, Fai. Rokok ini menjadi pelarianku, saat aku frustrasi karena seseorang." Dia duduk di sofa seberangku. "Kamu masih nggak suka asap rokok?"


Reno menatap padaku. Sebelah alisnya terangkat.


"Tetap nggak suka, lah ... tapi emang rokok bisa menenangkan?" Aku tiba-tiba penasaran dengan ucapan Reno.


"Bagiku iya," sahutnya sambil berdiri. “Tapi rokok tetap bahaya, tidak baik untuk kesehatan.”


“Emang.” Aku menanggapi singkat.


Dia melangkah ke arah toilet. "Mau BAB aja aku ngerokok."


Reno tertawa.


Saat Reno di toilet. Aku mengambil sebatang rokok. Aku perhatikan cukup lama, lalu tangan kananku meraih korek gas. Batang rokok kuselipkan di bibir, kemudian menyulutnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2