
Aku dan Laura saling cakar-cakaran, jambak-jambakan, membuat Reno kesulitan melerai kami.
"Sudah, sudah, hentikan!" pekik Reno.
"Rasain, perebut pacar orang!" teriak Laura.
"Aku tidak merebut Reno darimu! Reno yang mencintaiku dari dulu!" semprotku tak mau kalah.
Tenaga Laura lebih kuat, setelah dia menginjak kakiku dengan sepatu hak tingginya, dia menampar pipiku lalu mendorongku hingga aku jatuh duduk di lantai. Pantatku sangat sakit. Wajahku sangat perih. Apes sungguh sangat apes. Perawatan wajahku mahal, aku murka dicakar wanita tak tahu diri ini.
Aku bangkit dan akan membalas Laura yang seperti kesetanan, Laura menginjak tanganku. Aku mengaduh, kutarik kaki Laura, dia menunduk dan kembali menjambak rambutku. Lalu mencolok dua mataku dengan kukunya.
"Awww!" Aku memekik. Pandanganku langsung kabur.
"Sudah, stop! Stop!" Reno melerai kami.
Reno berhasil menjauhkan Laura setelah dibantu satpam. Laura berteriak-teriak tak terima.
"Kamu harus tanggung jawab! Aku hamil anakmu!" ucapnya keras pada Reno saat satpam akan membawa Laura keluar.
Laura tidak mau, dia menarik lengan Reno sambil marah-marah.
Keributan ini menjadi tontonan pengunjung kafe. Ada seorang ibu yang baik hati, beliau membantuku untuk bangun.
Namun, ada juga yang nyinyir.
"Oh, jadi dia ini perebut pacar orang, hadeh! Pantas saja kalau dilabrak...." Suara itu terdengar dari salah satu pengunjung.
"Iya, harus dilabrak biar jera," ucap pengunjung yang lain.
"Hei, aku bukan perebut pacar orang!" Aku menjawab berapi-api. Pandanganku semakin mengabur. Bagaimana ini? Aku tak mau jadi wanita buta.
"Faiza, maaf, ya ...." Reno berlari ke arahku dengan napas tak karuan. Memegang dua lenganku tapi aku tepis.
"Atasi dulu pacarmu," keluhku sambil menangis. Mataku tambah perih. "Dia hampir membuatku buta!”
"Dia bukan pacarku, Faiza ... dia cuma ngaku-ngaku. Maaf, maaf ... ayo kita ke dokter. Sabar, ya, Sayang ...."
"Sabar, sabar! Kalau aku buta gimana?" Aku tambah cemas.
Laura di luar sana masih mengumpat. Samar kulihat satpam memeganginya di tempat parkir sampai Laura bisa ditenangkan dan pulang.
❤❤❤
Reno membawaku ke dokter yang praktik tak jauh dari kafe. Mataku diobati dengan obat tetes mata.
"Dok, apakah aku tidak akan buta?" tanyaku dipenuhi kecemasan karena meski sudah diobati, pandanganku tetap tidak jelas.
"Tidak, Mbak. Beberapa hari lagi bisa sembuh, kok,” jawab dokter wanita itu.
Dokter juga mengobati luka cakar di wajahku. Reno terus menenangkanku.
❤❤❤
"Laura hamil. Jadi kalian berpacaran sudah sejauh itu?" Aku bertanya dengan nada dingin setelah ada di dalam mobil. Dari dua mataku, sesekali ada air yang keluar.
"Fai, jangan percaya. Laura berbohong. Percayalah padaku." Reno terus meyakinku bahwa apa yang dikatakan Laura itu tidak benar.
"Jika kamu ingin melamarku, atasi dulu semua urusanmu dengan wanita mana pun, Ren!"
__ADS_1
"Iya, tenang saja. Anggap ini ujian sebelum kita bersatu dalam ikatan pernikahan, oke, Sayang?" Reno mengelus pundakku dan hendak mencium pipiku.
"Jangan cium aku disaat seperti ini, Ren. Aku lagi bete dan bad mood, jangan ganggu aku." Aku merengut.
"Iya, deh Sayangku... maaf ya. Semoga pandanganmu segera pulih."
"Buka hanya mata, ini wajahku jadi rusak."
"Nggak, kok. Nanti juga bakalan kembali sembuh seperti semula." Reno menyemangatiku.
❤❤❤
"Ada apa ini, Nak?" tanya Mama khawatir karena Reno menuntunku masuk rumah.
"Ada sedikit insiden, Tante. Tapi, Faiza sudah saya bawa ke dokter." Reno yang menjawab.
"Mbak kenapa wajahnya luka-luka?" Naya turut bertanya. Reno menjelaskan secara detail setelah ada Papa di ruang tengah.
"Itu tadi ada temen saya, dia ngaku-ngaku pacar, dan marah-marah sama Faiza. Saya akan secepatnya membawa Papa dan keluarga saya untuk datang melamar, Faiza, Om. Agar tidak ada lagi wanita-wanita tidak jelas yang ingin diakui pacar. Saya sungguh-sungguh ingin menjadikan Faiza istri, Om.”
Reno ternyata sangat serius.
Papa menarik napas. "Om menyerahkan pada Faiza, jika dia sudah siap, ya tidak apa-apa."
Aku tahu, Papa selalu ingin yang terbaik untukku. Papa tidak pernah mengekang selama aku bahagia menjalaninya. Tapi kali ini, Papa tidak tersenyum saat berkata-kata. Mungkin, hati Papa tetap condong pada Kak Zian.
"Terima kasih, Om. Kemungkinan, seminggu lagi, saya akan mengajak orang tua datang ke sini."
Seminggu lagi? Hatiku belum mantap dan sama sekali belum siap.
"Ren, aku belum mengambil pakaian dan beberapa barang-barang pribadiku di rumah Mas Raka, aku juga belum pamit pada mama mertua dan keluarga Mas Raka. Apa ini tidak terlalu cepat?” Aku ngeles, agar Reno tidak terburu-buru.
Kulihat Naya hanya angkat bahu, Papa dan Mama mendengarkan tanpa menyela.
“Tunggu setelah empat puluh harinya Mas Raka dulu, meski tidak ada masa iddah bagiku karena belum pernah berhubungan suami istri, tapi jangan terlalu buru-buru juga, Ren.” Aku terus berusaha mengundur-ngundur keinginan Reno. Merasa ragu setelah insiden tadi.
“Baiklah, Fai. Aku pikirkan lagi, kapan waktu yang pas buat melamar kamu ....” Reno akhirnya setuju. Aku menarik napas lega.
❤❤❤
"Itu baru satu pacarnya Kak Reno yang tidak terima, bagaimana kalau semua cewek-ceweknya nanti demo melabrak Mbak?"
Setelah Reno pulang, kami melanjutkan berbincang di ruang tengah.
"Makanya Reno ingin segera meresmikan pertunangannya agar tidak ada lagi yang mengaku-ngaku pacarnya. Tau sendiri, kan, Reno itu kaya, banyak wanita yang ingin mendapatkannya." Aku membela Reno.
"Papa sih, selalu memanjakan Mbak Fai, dia jadinya keras kepala dan semaunya sendiri. Sudah tau Kak Reno banyak ceweknya, masih saja mau nikah sama Kak Reno. Bikin geregetan saja. Kapan Mbak Fai akan bersikap dewasa? Coba Mbak nurut dengan permintaan Mas Raka untuk menikah dengan Kak Zian, Mbak akan hidup tenang. Mbak itu harus dibimbing oleh laki-laki seperti Kak Zian, Pa."
Naya bicara panjang lebar mengompori Papa.
"Tapi, Pa ... Kak Zian buka tipeku, dia ...." Aku menyanggah.
"Yeee, Mbak kira, tipe wanita idaman Kak Zian seperti Mbak? Weeew!" ledek Naya. "Pria sebaik Kak Zian, kuyakin banyak diincar para wanita baik dan salihah."
“Bela terus Kak Zianmu!” Aku emosi. Wajah dan mata sakit, telinga jadi panas mendengarkan Naya.
“Naya benar juga, Nak. Mencari pendamping hidup harus teliti juga, tidak boleh asal-asalan,” ucap Papa lembut.
“Iya, Pa. Fai paham seratus persen, saat memilih menikah dengan Mas Raka, Fai merasa dialah pria yang pas dan baik yang akan menemaniku sepanjang hidup, tapi nyatanya ...? Jadi, jika sekarang Fai memilih Reno, Fai berharap Reno juga akan menjadi pria yang akan bertanggung jawab dan melindungiku. Aku mau istirahat.” Kusudahi percakapan ini. Kalau ujung-ujungnya membahas Kak Zian, aku bosan.
__ADS_1
“Kak Zian ... ke manakah dirimu? Kenapa ponselmu tidak aktif?” Naya bicara sendiri. Sambil melihat layar ponselnya. Peduli amat dia!
“Nomer Zian gak aktif?” tanya Papa.
“Iya, Pa. Sejak pulang ke rumah neneknya itu ....”
Masih lanjut membahas Kak Zian, aku memilih masuk kamar. Mulai ada rasa takut menyusup. Kalau Kak Zian meninggal ....
Dering ponsel mengejutkanku. Setelah aku lihat. Nomor yang tak dikenal ....
Jantungku berdetak lebih cepat.
Angkat tidak, angkat tidak ....
Kubiarkan ponsel terus berdering. Pikiran jadi ke mana-mana. Kalau ini dari polisi bagaimana? Jasad Kak Zian ditemukan, lalu aku dan Reno ditetapkan sebagai tersangka?
Bahaya!
Aku memilih tidak mengangkat lalu menonaktifkan ponsel. Naik ke kasur, menutup tubuhku dengan selimut sambil mengumpat saat merasakan sakit di bagian tubuhku akibat duel dengan Laura tadi. Mataku memejam.
“Mas Raka?”
“Iya aku Raka, Faizara ....”
“Mas masih hidup? Mas masih hidup?” tanyaku berulang kali. Dalam hati seketika merasakan bahagia.
Aku bertemu kembali dengan Mas Raka. Wajahnya sangat tampan, baju dan celananya berwarna putih.
Mas Raka tidak menjawab, dia berjalan cepat di sebuah lorong sepi.
“Mas, tunggu, Mas! Jangan tinggalkan aku.” Kuikuti Mas Raka. Sayangnya Mas Raka tidak menoleh, sebelum akhirnya menghilang di antara kabut putih.
“Mas! Mas, jangan tinggalkan aku sendiri, aku takut ....” Aku berteriak, panik dan sedih.
“Jangan takut Faizara, ada aku ....” Dari arah depan, pria yang juga berpakaian serba putih datang ke arahku.
“Tidak! Aku tidak mau!” Kututup telinga melihat Kak Zian semakin dekat dan berhenti di depanku.
Aku menangis, berlari meninggalkan Kak Zian. Terus berlari ke arah jurang. Di sana, di bawah sana, Mas Raka terbujur kaku.
“Mas ... Mas ....!”
Keringat membasahi dahiku, saat aku bangun sambil menangis terbawa suasana sedih karena ditinggal Mas Raka. Ini masih di tempat tidurku, bukan di lorong sepi itu.
Mimpi yang membuat ruang rasaku begitu sesak.
Detak jarum jam menunjuk angka tiga pagi. Aku duduk memeluk lutut, melanjutkan menangis. Mimpi itu seakan-akan nyata. Baru kali ini Mas Raka datang pertama kalinya dalam mimpi.
Aku masih sesenggukan. Menyalakan ponsel yang aku letakkan di dekat bantal, begitu hidup langsung tersambung ke Wifi.
Ada notif WA masuk. Ingat tadi malam ada nomor tak kukenal yang menghubungi, dan nomor itu mengirim pesan WA membuat jantungku seakan mau copot saat membuka pesannya.
[Ini nomor Mbak Faizara, kan? Saya dan istri, beberapa hari lalu saat mencari barang bekas, melihat pria di dalam jurang. Kami kira dia korban kecelakaan, entahlah ... tapi motornya tidak penyok sedikit pun. Kami susah payah mengangkatnya dari jurang dan kami bingung karena tak menemukan identitas apa pun, mungkin dompet dan ponselnya ikut jatuh ke jurang. Mau lapor polisi, kami masih ragu, takutnya pria ini bukan kecelakaan tapi korban penganiayaan. Kami takut disangkut pautkan, karena bisa jadi pelakunya terus memantau dan kami bisa dalam bahaya. Sebenarnya, kalau lapor polisi, akan bisa dilacak siapa pria ini dari nomor motornya. Untungnya, kami menemukan buku di dalam tasnya, dan ada tertera nomor atas nama Faizara. Pria ini masih hidup, sayangnya ... tidak sadarkan diri. Tadi pagi, dia mulai bergerak-gerak, matanya perlahan terbuka. Nama yang terus dia sebut adalah Faizara].
Aku menutup mulutku yang seketika menganga, ada video yang juga dikirim di bawah kalimat panjang itu. Penasaran aku pencet, memperlihatkan Kak Zian berbaring di dipan, tubuhnya di penuhi luka-luka. Mata itu ... melihat dengan kosong, dari bibirnya dia menyebut-nyebut namaku berulang-ulang dengan suara serak.
“Faizara ... Faizara ... Faizara ....”
Bersambung
__ADS_1