Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Memegang Erat Tanganku


__ADS_3

Ponselku berdering saat Kak Zian masih menyandar di bahuku dan memegang erat sebelah tanganku.


Aku yakin ini Reno.


"Sebentar, saya mau angkat panggilan." Aku melepas tangan Kak Zian, dan meminggirkan kepalanya dari bahuku.


"Faizara ... Faizara ...." Kak Zian seperti mencegahku untuk pergi dari sisinya. Dia kembali memegang erat tanganku.


Dasar! Aku jadi sangat risi. Kenapa sih dia?


Tadi dia tidak seperti ini saat aku jemput, sekarang setelah sampai di rumahnya, berubah tak mau lepas memegang tanganku.


Aku curiga dia hanya modus.


"Nak, Faizara mau mengangkat panggilan. Lepaskan dulu pegangannya." Mama memberi pengertian. Tapi Kak Zian tidak mendengarkan. Terus memegang tanganku, lebih erat dari sebelumnya. Aku semakin dongkol dalam hati. Ingin rasanya mengumpat dan marah-marah padanya.


Panggilan dari Reno aku abaikan. Aku yakin dia akan marah dan cemburu bila tahu Kak Zian masih hidup. Apalagi jika dia tahu aku yang menjemput Kak Zian. Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Reno nantinya?


Pikiranku ruwet sendiri.


❤❤❤


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Kak Zian terus menggenggam tanganku. Aku terpaksa ikut karena mama mertua memintaku ikut.


Sampai di rumah sakit dan masuk ruangan untuk diperiksa, Kak Zian tidak juga melepas tangannya.


"Tidak apa-apa, jika masnya nyaman menggenggam tangan istrinya," ucap Dokter sembari tersenyum.


"Bukan, Dok. Saya bukan istrinya." Aku menggeleng kuat-kuat.


"Oh, maaf ... Mbak siapanya?"


"Saya iparnya." Aku menjawab pertanyaan dokter dengan nada ramah, aslinya aku jengkel tingkat dewa.


"Oh, iya tidak apa-apa mendampingi kakak iparnya. Harus sabar, orang sakit memang seperti ini. Kadang manja. " Dokter cantik itu tersenyum setelah memberikan pengertian.


Dokter mencoba berinteraksi dengan Kak Zian. Memberikan beberapa pertanyaan yang sama sekali tidak dijawab oleh Kak Zian.


Kak Zian menyebut-nyebut namaku lagi dan lagi


"Pasien hanya mengingat nama Faizara, siapa Faizara?" tanya Dokter wanita berkulit putih itu.


"Ini Faizara, Dok. Adik iparnya." Mama yang menjawab.


"Oh. Mas Zian lupa, bahkan dengan namanya sendiri, tapi mengingat nama Faizara. ” Dokter tampak berpikir. Beliau dan dokter lain belum mendiagnosis amnesia apa yang dialami Kak Zian. Katanya masih memerlukan pemeriksaan lanjutan.


❤❤❤


Kak Zian dipindahkan ke kamar rawat. Tangannya yang tak mau lepas memegang tanganku, membuat aku dengan sangat-sangat terpaksa menunggui Kak Zian duduk di kursi samping ranjangnya.

__ADS_1


Aku serasa sudah keluar tanduk dari saking jengkelnya pada Kak Zian.


Saat Aris menebus obat di apotek dan mama masih keluar untuk salat di musala rumah sakit, aku yang sudah tak sabar dan kesal menarik sembarangan tanganku yang dipegang Kak Zian.


"Lepaskan! Jangan lebay ya! Jangan mentang-mentang lagi sakit, kamu bisa seenaknya ingin ngerjain aku!"


Sekali sentak, tanganku tak juga terlepas.


"Faizara ... Faizara ... Faizara ...." Bibir Kak Zian kembali bergerak menyebut-nyebut namaku.


"Berhenti menyebut-nyebut namaku!" bentakku, lalu kembali menarik tanganku kasar.


Kak Zian tak kunjung melepaskan. Apa aku gigit saja ya?


Kak Zian menatap sayu padaku, sebaliknya aku melotot padanya, lalu membawa tangannya ke bibirku lalu kugigit punggung tangannya.


"Aduh ...." Kak Zian mengaduh. Tapi tak kunjung melepas tangannya. Aku lumayan kencang menggigitnya.


"Aduh, aduh ...." Kak Zian mengaduh lagi.


"Kalau tidak dilepas, akan kugigit terus sampai urat tangan Kak Zian putus, mau?" ancamku pada orang amnesia ini.


Kak Zian meringis. Mata itu tetap kosong, tak ada binar apa pun di sana. Tidak berontak saat punggung tangannya kembali aku gigit.


"Assalamualaikum ...."


"Wa-alaikum sa-salam ...." Aku menjawab terbata-bata karena terkejut dengan kedatangan orang tuaku. Tangan Kak Zian memerah bekas aku gigit.


Aku khawatir takut ada yang curiga aku tega menggigit Kak Zian.


"Ya Allah, gimana kondisi Zian, Nak?" Papa langsung mendekat dan melihat Kak Zian, menyentuh dahi Kak Zian dengan perhatian.


"Gak ngerti juga, Pa. Kak Zian tidak merespons bila diajak komunikasi," sahutku.


"Astagfirullah ...."


"Kasihan ...."


Mama sampai berkaca-kaca.


"Kak Zian tidak ingat siapa aku? Aku Naya ... ayo cepat sehat dan pulih Kak." Naya mulai lebay. Kak Zian tidak berbicara sepatah kata pun. Melihat pada Papa, Mama, dan Naya. Seperti mengingat-ngingat.


"Mbak kok nggak bilang kalau sedang di rumah sakit? Nggak cerita juga kalau mau menjemput Kak Zian yang kecelakaan. Kalau barusan Aris gak mengabari, kami tidak akan tau kalau kalian di rumah sakit," protes Naya. Dia melihat tangan Kak Zian yang masih memegang tanganku.


"Ada orang menghubungi aku, katanya Kak Zian kecelakaan dan yang menolong hanya menemukan nomorku. Jadi aku yang dihubungi.”


"Apa kata Dokter, Nak?" tanya Mama.


"Dokter belum memastikan kondisi Kak Zian, sepertinya Kak Zian amnesia, Ma. Anehnya, dia menyebut-nyebut namaku, dan gak tau kenapa dia gak mau melepas pegangan tangannya." Aku mendesah berat. Merasa sangat capek tangan dipegang terus oleh Kak Zian.

__ADS_1


"Mungkin yang diingat Kak Zian Mbak Fai saja, karena Mbak tuh jahat dan selalu nyusahin Kak Zian." Naya seperti tukang ramal saja.


"Halah, analisa dari mana?" cibirku.


"Mbak mungkin dengan kejadian ini, Mbak bisa menebus dosa-dosa Mbak pada Kak Zian. Gak tega aku melihat Kak Zian hanya menatap kosong dan tidak ingat apa-apa." Naya menatap iba pada Kak Zian.


"Dosa apa? Aku tidak merasa punya dosa pada Kak Zian."


"Sudah, jangan ribut, yang penting doakan Zian agar bisa sehat lagi, dia pria yang baik." Mama menengahi karena aku dan Naya saling berdebat.


Aris dan Mama mertua datang hampir bersamaan, menyapa Papa dan Mamaku.


"Faizara kalau bisa ikut menginap dulu malam ini ya, Pak. Saya mohon izin, karena hanya nama Faizara yang diingat Zian. Siapa tau bisa merangsang ingatannya seperti kata dokter." Mama mertua meminta izin pada Papa agar aku menginap malam ini.


"Iya, boleh, Bu. Siapa tau Zian akan segera pulih." Papa pun setuju.


Aku ingin menolak, tapi tidak enak. Pegal juga tangan dipegangi Kak Zian terus.


Jika harus semalaman pegangan tangan, gila nggak tuh? "


"Terima kasih, kami heran karena Zian mengingat nama Faizara, dan dia ... memegangi Faizara terus seolah takut ditinggalkan," ujar Mama mertua.


"Barang kali itu pertanda Kak Zian dan Mbak Fai ...." Belum selesai Naya bicara, aku mendelik padanya.


"Jodoh ...." Lanjutan kalimat Naya membuat semua malah menganggukkan kepala. Kecuali aku, aku nggak mau berjodoh sama pria amnesia ini. Tolong!


❤❤❤


Kepalaku dielus lembut ....


Aku menggeliat, leher rasanya sakit. Saat membuka mata, aku berdecak sebal. Yang mengelus kepalaku adalah tangan Kak Zian. Aku tidur duduk di kursi samping ranjangnya. Kepalaku bertumpu pada ranjang rawat Kak Zian.


“Engg ....” Telunjuk Kak Zian mengarah ke kamar mandi. Mungkin dia mau buang air kecil.


"Aris, Aris, Kak Zian mau ke kamar mandi." Aris yang tidur di lantai tidak segera bangun.


"Mama, Kak Zian mau ke kamar mandi," panggilku. Mama juga tidak segera bangun karena kelelahan mungkin, jadi beliau sangat lelap.


Kak Zian duduk perlahan, dia menurunkan dua kakinya dan menarik tanganku. Ya elah, terpaksa aku mengambil botol infusnya dan mengikuti langkah pelan Kak Zian ke kamar mandi.


"Aris, bangun, Kak Zian mau ke kamar mandi." Aku agak panik juga, takut diajak ke dalam kamar mandi oleh Kak Zian.


OMG! Demi apa aku mau diminta menunggui Kak Zian? Aris dan mama mertua tidak bangun, persis dugaaanku Kak Zian menarikku ke kamar mandi.


Aku hanya bisa menutup mata saat Kak Zian membuka resleting celananya.


Asem!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2