
Sampai di kamar, jaket Kak Zian aku lempar sembarangan ke sofa. Masih sambil menangis, kuambil baju tidur di lemari, memakainya sebagai baju luaran lingerie.
Masuk kamar mandi, menutup pintunya. Menyandar pada pintu tertutup itu, rasa bersalah terus menggelayuti.
Kupejamkan mata, yang terbayang justru saat kupeluk erat Kak Zian dan saat Kak Zian seperti tercengang mendapati aku memeluk dan hanya memakai lingerie.
Pintu kupukul kuat-kuat sampai dua tangan terasa sakit. Kujambak rambut, tali rambut terlepas membuat rambutku acak-acakan.
Aku benar-benar frustrasi.
Kaki lalu melangkah cepat ke wastafel. Melihat pada kaca. Mataku sembab, hidungku memerah. Apa kata Mas Raka jika melihatku sekuyu ini?
Kucuci muka, ingin menyamarkan kalau habis menangis. Keluar dari kamar mandi, memakai ulang make up. Menarik napas panjang, berharap suasana hati kembali tenang.
❤❤❤
"Assalamualaikum, Sayang ... maaf lama nunggu ya?" Mas Raka datang.
“Waalaikum salam Mas Sayang.” Menghampiri Mas Raka, tersenyum menyambutnya dan membantu membuka jaketnya.
"Istriku malam ini cantik sekali," pujinya. Membawaku ke pelukan hangatnya.
"Emang sebelum-sebelumnya aku tidak cantik, Mas?" Aku ingin menetralisir rasa tak enak dalam hati.
"Cantik selalu kok, Sayang. Tapi, malam ini auranya beda. Apa karena akan malam pertama, hm ...?" Mas Raka bertanya, aku akan menjawab tapi keburu bibir hangat itu mencapai bibirku. Aku memejamkan mata, menikmati ciuman ini.
"Mas ... juga sangat tampan malam ini,” lirihku sambil menangkup dua pipi Mas Raka.
"O iya jelas, doong!" Mas Raka mengelus belakang kepalaku.
" E tapi ... parfum Mas kok aromanya beda seperti ...."
Kucium kemeja Mas Raka di bagian dada.
"Seperti apa? Hayooo ...."
Aku melihat ke pojok kamar, ingat dengan dua mata merah yang menampakkan diri saat padam.
"Mas, aromanya seperti bunga kamboja."
Mas Raka tergelak. "Bunga kuburan, dong? Itu tadi sore temanku ada yang jual parfum, Sayang. Aku asal ambil tanpa cium baunya dan memakainya pada kemeja," cerita Mas Raka.
“Jangan dipakai lagi, Mas. Wanginya aku tidak suka.”
"Siap Nyonya Raka. O iya, aku gerah meski hujan, mau mandi dulu, ya. Biar Mas wangi. Oke!” Mas Raka gemas memencet hidungku.
“Oke, Mas, Sayang."
Mas Raka masuk ke kamar mandi, lalu tak lama keluar lagi.
"Airnya gak keluar, mungkin mesin airnya eror karena ada kabel yang kongslet. Tunggu sebentar ya, Sayang. Aku mau lihat ke belakang." Mas Raka mengacak rambutku.
"Apa gak telpon tukang saja, Mas?" Aku menatap wajah Mas Raka yang benar-benar semakin tampan. Malam in Wajah itu begitu bersih dan menentramkan.
"Nggak perlu, Sayang. Aku bisa kok memperbaiki sendiri, suamimu ini banyak bisanya, loh," canda Mas Raka. Senyumnya yang terkembang begitu memabukkan bagiku.
"Multitalenan ya, Mas?" Aku balik mencandainya, Mas Raka mendekatkan wajah dan mencium bibirku ringan.
Aku semakin mabuk kepayang dan balas mencium bibirnya.
"Iya, Sayang. Tunggu sebentar, jangan rindu ya ...." Tatapan mata Mas Raka begitu lembut. "Sini, peluk dulu."
Mas Raka menarik lembut lenganku, di dekapnya tubuhku. Rasa hangat dan detakan jantungnya yang teratur membuatku begitu tenang. Seakan tak ingin melepaskan.
__ADS_1
"Mas jangan lama-lama ya." Aku berkata tulus, rasanya ingin terus berpelukan seperti ini.
"Iya, kamu bersiap-siap ya, kuatkan mental dan hati, kita akan malam pertama," bisik Mas Raka membuatku merasa geli.
"Tentu, Mas."
Tak ada pikiran lain, selain bahagia akan melangsungkan malam pertama. Pasti Mas Raka akan terbelalak saat aku hanya menggunakan lingerie. Tunggu saja, Mas.
Hatiku riang bukan kepalang, mengantar Mas Raka sampai pintu kamar. "Daaah ... Sayang. I love you."
Mas Raka melakukan kiss jauh. Aku membalasnya.
"Aku juga cinta Mas. Sangat cinta ...."
Kami tertawa. Lebay tapi romantis. Mas Raka menuruni tangga.
Pintu kamar kututup. Aku membuka baju tidur, hanya tinggal lingerie yang kini membalut tubuhku. Naik ke ranjang, memakai selimut sampai dada.
Akan memberikan kejutan saat sebentar lagi Mas Raka masuk kamar, lalu mandi dan ... membuka selimut ini.
Aku tertawa bahagia membayangkannya.
Sepuluh menit berlalu. Mas Raka belum balik ke kamar.
❤❤❤
"Non! Mas Raka, Non ... Mas Raka!" Ketukan pintu kamar dan suara panik Ina membuat aku terlonjak kaget.
"Ada apa, Ina?!" Bangun, kuambil sembarangan dres di lemari. Berlari dan membuka pintu.
"Mas Raka, Non. Mas Raka ...." Ina ngos-ngosan. Air matanya berurai.
"Iya, Mas Raka kenapa?!" bentakku tak sabar da n mulai dilanda ketakutan.
"Mas Rakaaaaa! Tidaaaak!" Aku berteriak. Berlari cepat, Ina juga berlari mengikutiku ke belakang rumah.
Mas Raka seperti kejang-kejang, sebelah tangannya memegang kabel di mesin air.
"Masssss!"
Aku akan menyentuh Mas Raka tapi Kak Zian yang juga ada di sini mencegah. "Tunggu! Nanti kamu juga kena!"
Pikiranku tidak bekerja. Aku hanya ingin menarik Mas Raka dari kabel itu.
"Mas! Bertahanlah! Cepat tolong Mas Raka, cepat!" teriakku.
Kak Zian mengambil Kayu kering panjang.
Mama yang datang pun ikut panik, Aris membantu Kak Zian melepas kabel dengan bantuan kayu kering.
Mata Mas Raka melotot. Mulutnya menganga.
"Ayo ke ke rumah sakit. Segera siapkan mobil!" Kak Zian akan menggendong Mas Raka.
"Mas!" Tangisku semakin menjadi, kuusap rambut Mas Raka.
"Ti-tidak, Kak. Ja-ngan ke ru-mah sak-it." Suara Mas Raka seperti kesusahan. Kak Zian mengangkat tubuh Mas Raka yang lemas. Kak Zian setengah berlari masuk rumah. Aku dan Mama di belakangnya hanya bisa menangis.
Aris dan Pak Salim menyiapkan mobil.
"T-tidak, jang-an ke ru-mah sakit," pinta Mas Raka terus.
"Tenang, Dek. Kita ke rumah sakit." Kak Zian tetap berjalan cepat ke halaman di sana mobil sudah siap.
__ADS_1
Mas Raka mengambil napas panjang. Seperti sesak napas. Aku tak tega mendengarnya.
Kami masuk mobil. Kepala Mas Raka ada di pangkuanku. Bagian kakinya ada di atas paha Kak Zian. Kami duduk di jok tengah.
"Pak Salim cepat!" Aku tak sabar, ingin cepat sampai di rumah sakit. Aku takut melihat wajah Mas Raka yang sangat pucat.
"Kak ...." Tiba-tiba Mas Raka meraih tangan Kak Zian, juga meraih tanganku.
"Ja-ga, Fai-zara ya. A-aku su-dah ti-dak ku-at ...."
Tangan kami bertiga menyatu di atas dada kiri Mas Raka. Mas Raka kenapa berkata begitu? Aku menggelengkan kepala.
"Jangan bilang begitu, Mas."
"Dek, tenang, sebentar lagi sampai di rumah sakit. Kamu kuat, harus optimis." Kak Zian memberikan semangat, walau wajahnya tak dapat menyembunyikan kekhawatiran.
Mama dan Ina di jok belakang terus menangis.
"Kak ... ni-ka-hi Fai, ya ...."
"Mas, jangan berkata yang aneh-aneh," potongku cepat. "Ini bukan sinetron. Mas akan baik-baik saja."
Mas Raka tersenyum, menatap lurus ke wajahku lalu beralih pada Kak Zian. Tatapan itu tidak seperti biasanya. Seperti kosong ....
Jantungku berdebar tak karuan. Takut, sangat takut ....
"Raka, kamu suami Faizara, gak boleh berkata seperti itu." Kak Zian menggenggam tangan Mas Raka erat.
"Kak ... berjan-jilah akan me-ni-kahi Fai, kalau a-ku su-dah ti-ada. Bim-binglah dia ... cintai dan sa-yangi Fai, Kak ...."
Napas Mas Raka gelagapan.
"Tidak, Mas! Mas akan baik-baik saja, Mas tidak akan kenapa-kenapa!" ucapku nyaring. Mas Raka pasti akan sehat lagi.
"Raka, Nak ... sabar, jangan berpikir yang tidak baik." Mama menasehati.
Mas Raka membawa tangan Kak Zian ke atas tangan kananku.
"Fai ... ka-kakku ba-ik, gan-teng, so-pan ... menikah ya, berbahagialah kalian. Aa-miin."
"Mas ... tidak, Mas ...." Aku menggeleng kuat-kuat.
Aku akan melepas tanganku yang ada di bawah tangan Kak Zian di atas dada kiri Mas Raka. Tapi ... jantung Mas Raka berhenti berdetak! Mata itu perlahan terpejam. Terpejam erat.
"Tidaaaaaaaak, jangan pergi, Mas, jangan pergiiiii!" Kuguncang-guncang bahu Mas Raka. Ini tidak mungkin! Tidak mungkin Mas Raka pergi! Secepat ini?
"Raka, bangun! Bangun!" teriak Kak Zian panik.
Mama di jok belakang pun menjerit melihat Mas Raka sudah tidak merespons. Tangan Mas Raka yang barusan menyentuhku sangat dingin dan ... kaku.
"Maaaaaaaassss! Bangun! Mas! Tidaaaakkk!"
Aku me jerit-jerit. Ini hanya mimpi! Hanya mimpi!
"Rakaaaa! Sadarlah! Ayo sadar! Rumah sakit sudah dekat!" Kak Zian menepuk pipi Mas Raka. Mas Rakaku sudah tidak menjawab.
"Kaaak!" Aris menangis. Pak Salim menambah kecepatan mobil.
"Maaaasss! Jangan pergi, Mas jangan bercanda! Mas pasti bercanda! Ini tidak lucu!" teriakku seperti kesetanan.
"Innalillahi wainna ilaihi roojiun ...." Kak Zian berkata lirih. Setelah memeriksa detak jantung dan urat nadi di lengan Mas Raka. Tanda Mas Raka sudah kembali pada-Nya. Tanda suami yang lima belas hari mengucap ijab kabul itu tak akan hidup lagi ....
Duniaku langsung hancur, duniaku seketika gelap.
__ADS_1
Bersambung