
"Aku pulang," ulang Kak Zian.
Reno seakan tak mau melepas ciumannya di bibirku.
"Ini Indonesia, bukan di luar negeri, tolong adat ketimurannya dijaga, tidak pantas ciuman di tempat umum," sindir Kak Zian lalu melangkah menjauhi kami.
"Apa?! Bilang saja kamu iri!" Reno emosi sambil menggebrak meja. Sebagian pengunjung kafe menoleh heran.
Suasana romantis yang barusan tercipta berubah ambyar manakala Reno akan mengejar Kak Zian tapi aku tahan dengan menarik lengan Reno.
"Sudah, Ren. Sudah! Biarkan saja dia pergi."
"Dia harus diberi pelajaran, Faiza!" Reno masih berapi-api dengan napas memburu.
Takutnya terjadi keributan, aku memeluk Reno. "Jangan terbawa emosi, yang penting sekarang kita bahagia ...."
Suara gigi Reno gemeletuk, "Pantasnya dia dihajar!"
"Sudah, jangan pikirkan dia."
Reno tidak mengejar Kak Zian setelah aku melarangnya. Dia merangkulku.
"Mulai saat ini, aku tidak mau lagi kehilangan kamu, Faiza. Tidak akan rela bila kamu diganggu pria lain ...." Reno mengecup keningku. "Kapan aku dan Papa bisa datang melamar ke rumahmu?"
Reno maunya secepat itu, sementara aku yang hanya terpaksa menerima Reno, masih enggan ke arah serius. Bimbang jelas ada dalam hatiku.
"Papa belum pulih betul. Tunggu sampai Papa benar-benar fit, ya."
"Oke."
Reno mengantarku pulang, saat mobilnya sudah sampai depan gerbang rumahku dia membuka sabuk pengamanku.
"Faiza, aku tidak masuk ke dalam ya."
"Iya."
Wajah Reno sangat dekat dengan wajahku, dan aku ... kembali tidak sempat menolak saat bibir Reno menjangkau bibirku.
Ciumannya begitu dalam, seakan sarat dengan nafsu.
"Ren ...."
Aku merasa tidak nyaman, kudorong pelan wajah Reno. Napas Reno begitu cepat. Tanda dia sedang bergairah.
"Faiza ... aku sudah tidak tahan ...." Mata Reno masih melihat pada bibirku.
"Maksudmu?" Aku melotot.
"Sudah tidak tahan, ingin buru-buru kita lamaran, dan nikah." Reno tertawa sambil memencet hidungku.
"Oh, sabar dulu ... Ren."
"Gak sabar Faiza ...."
Reno kembali akan mencium bibirku. Mungkin dia kali ini hanya menggoda. Tapi aku merasa risi.
"Ren ... jangan ...." Kutahan wajahnya.
"Faiza, Faiza ... kenapa? Takut ketagihan, ya?" Reno tertawa renyah. Dia lalu mencubit dua pipiku.
"Aku turun, ya." Aku membuka pintu mobil. Reno melambaikan tangan.
"I love you ...." Reno melempar kiss jauh. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum dan melambaikan tangan.
Sampai di teras ada Naya, dia memperhatikanku yang akan masuk rumah.
"Ecieeee ... Mbak ketemuan sama Kak Zian, kan? Hayo kalian habis ngapain, kenapa kedua pipi Mbak sampai merah begitu? Habis dicubit Kak Zian ya?"
__ADS_1
Aku berjalan cepat. Malas menanggapi Naya. Dia selalu menyebut-nyebut nama Kak Zian.
"Mbak, cerita dong? Mbak dari mana sama Kak Zian?" Seperti biasa Naya kepo.
Aku berbalik. Menatap tajam pada Naya.
"Aku sama Reno, bukan sama Kak Zian! Dan aku sudah bilang sama Kak Zian kalau aku tidak bisa menerimanya, jadi jangan bahas Kak Zian lagi!"
"Hm, jadi Mbak minta nomor Kak Zian untuk menegaskan kalau Mbak memilih Kak Reno? Semoga Mbak suatu saat tidak menyesal saja karena sudah menolak pria sebaik Kak Zian ....”
Suara Naya terdengar kecewa.
“Heran, deh! Kenapa kamu yang kecewa, Naya? Hadeh!”
Naya ini lama-lama bikin darah tinggi juga.
“Ya karena Mas Raka setujunya Mbak sama Kak Zian ....”
Sudahlah, kalau mendengarkan Naya ngomel tidak ada habisnya.
❤❤❤
"Mas ... aku tidak bisa menikah dengan Kak Zian. Mas rela, kan, bila aku menikah dengan Reno?"
Aku curhat di makam Mas Raka. Seolah-olah sedang berhadapan dengannya. Kali ini aku datang sendirian. Naik motor matic-ku. Ingin puas mengeluarkan segala unek-unek dalam hati.
"Reno sahabatku. Dia pasti akan menjagaku sepenuh hatinya. Meski sampai saat ini, aku belum bisa mencintai Reno."
Kuusap-usap batu nisan Mas Raka. Air mata tak terbendung. Aku juga merasa bersalah jika ingat Reno beberapa kali menciumku.
Aku dengan Mas Raka bersentuhan dan berciuman setelah menikah. Tidak sevulgar Reno yang bahkan dengan berani menciumku di tempat umum.
Dari jam sembilan pagi sampai kumandang azan Zuhur dari toa Masjid, aku betah di kuburan Mas Raka. Cuaca juga lagi adem karena mendung.
"Mas, aku pulang dulu. Semoga di waktu yang akan datang, hidupku lebih baik lagi."
Aku mengusap air mata. Keluar dari area kuburan, langsung terkejut melihat beberapa orang berlari kencang.
"Ada apa, Pak?" tanyaku jadi panik.
"Menyingkir, ada orang gila mengamuk pakai celurit! Satu orang barusan tewas dibacok! Cepetan lari!”
Jika terkejut, aku seketika diam di tempat. Pikiran seperti buntu, mau ke mengambil motor jadi takut.
"Haaaahahaha ... akan aku lukai kamu, akan aku lukai kamu !"
Suara orang gila dari arah selatan. Para pejalan kaki di trotoar pada berhamburan.
"Fai! Ayo!"
Tanganku ditarik oleh seseorang yang mengajakku berlari. Masuk kembali ke area kuburan.
Kak Zian! Aku menyentakkan tangan. Dua serasa jadi selebar daun kelor. Ada Kak Zian lagi, Kak Zian lagi!
“Ayo! Lihat, orang gila itu berlari ke arah kita ....” Kak Zian kembali menarik tanganku.
Tak ada pilihan lain aku berlari mengikuti Kak Zian.
“Akan aku ambil kekasihmu, akan aku rebut, hahahahaha!” Orang gila ternyata larinya sangat cepat. Dia sudah ada di belakangku dengan jarak yang cukup dekat.
Celurit tajam masih meneteskan darah segar. Aku sangat takut. Kaki terus berlari di antara batu-batu nisan. Kak Zian larinya juga cepat, aku kewalahan.
“Mau lari ke mana? Haaaa ....”
Orang gila laki-laki itu mengacungkan celuritnya.
“Kita ke sana!”
__ADS_1
Kak Zian mengajakku ke pojok kuburan.
“Kak Zian mau aku mati, kenapa larinya ke sini? Ini tembok! Buntu!” teriakku. Membayangkan tubuhku dibacok orang gila membuatku berubah tak berdaya.
Capek karena berlari dan ketakutan.
“Mau ke mana, haha, mau ke mana? Mari bersamaku cantiiiik ....” Orang gila berhasil menyusul.
“Naik ke pundakku, Fai! Cepat!”
Kak Zian berjongkok. Naik ke pundak Kak Zian? Lalu?
Aku masih berpikir, karena hanya memakai rok di bawah lutut.
“Cepat!” ulang Kak Zian.
“Akan kucincang ... akan kucincang!” Orang gila itu sangat dekat sekali. Apa akan dicincang? Hiy!
Aku naik ke pundak Kak Zian. Kak Zian lalu berdiri memudahkanku naik ke tembok. Kak Zian juga ikut naik.
Mau lompat ke bawah, aku ragu. Banyak tumbuhan yang ada duri-durinya.
Orang gila mencoba naik.
“Pergi, aduh pergi!” Aku mengusir orang gila, celuritnya akan dilayangkan ke kakiku yang gemetar meniti atas tembok.
“Ayo, Fai! Akan kubantu!” Kak Zian melompat lebih dulu. Ragu dan terpaksa aku melompat, ke arah Kak Zian.
Akibatnya ....
Kak Zian yang mencoba menangkap tubuhku jatuh telentang pada pohon-pohon kecil yang banyak durinya. Aku juga jatuh duduk dengan kaki ngangkang, tepat di wajah Kak Zian. Mana rokku tersingkap dan celana dalamku terlihat.
Aku segera bangun, betisku lecet-lecet kena duri.
“Kamu nggak apa-apa, Fai?” Kak Zian duduk.
"Kak Zian gak usah sok peduli!"
Suara tawa terdengar tak jauh dari tempat ini, dua orang yang lagi memulung sampah melihat ke arah kami.
“Rezeki si Masnya kejatuhan cewek cantik."
Aku jadi malu luar biasa. Wajahku memanas, jatuh duduk di wajah Kak Zian, itu posisi yang nggak banget.
Kak Zian menggaruk pipinya, dia juga salah tingkah.
Mereka tertawa lagi. “Kenapa sampai naik tembok Mas dan Mbak? Makanya jangan pacaran di kuburan.”
“Kami naik tembok karena dikejar orang gila yang pegang senjata, bukan lagi pacaran,” sahut Kak Zian.
“Oh, kami kira kena razia karena pacaran di kuburan.” Dua pemulung tertawa lagi.
Aku berjalan hati-hati.
Kak Zian mengikutiku. Dalam hatiku sangat dongkol.
“Kak Zian kenapa selalu mengikutiku? Aku ke makam, Kak Zian juga ke makam! Di mana-mana, selalu saja ada Kak Zian!" Seperti biasa aku nge-gas.
“Fai, ini kebetulan, aku juga mau ke makam Raka karena nanti sore, aku mau pulang ke rumah nenek."
"Kebetulan? Huh!" Bikin kesal saja.
"Mas, Mbak, kalau sering kebetulan bertemu, bisa jadi kalian itu ... jodoh," celetuk bapak pemulung.
"Betul, kami dulu juga begitu, sering bertemu, eh ... sekarang jadi suami istri," timpal istrinya.
Jodoh? Tidak, tidak, Tidaaaaaak! Teriak hatiku.
__ADS_1
Jodoh sama Kak Zian? Amit-amit, deh!
Bersambung