Kakak Ipar Melihat Auratku

Kakak Ipar Melihat Auratku
Janji


__ADS_3

Aku berlari keluar kamar. Emosi kembali tersulut, marah dan kecewa. Kak Zian pernah membawa Salma ke vila ini, tidak menutup kemungkinan mereka bermesraan di sini. Pelukan, ciuman, dan ... ah! Mereka pasti pernah 'tidur' bareng!


Hatiku kembali patah. Semakin cepat berlari menuruni tangga. Memutar hendel pintu di ruang tamu vila, lupa kalau Kak Zian barusan menguncinya.


Tangisku semakin menjadi membuat mata kian perih. Naik tangga, masuk kamar itu lagi. Mengambil kunci pintu yang diletakkan di kasur oleh Kak Zian.


Kak Zian masih di kamar mandi. Tidak tahu kalau istrinya kembali sakit hati dan ingin pergi. Kata cerai memang pantas aku ucapkan karena perilaku Kak Zian yang keterlaluan.


Hujan lebat, aku berlari ke halaman vila menuju ke arah gerbang. Tak peduli meski basah kuyup. Karena pagarnya dikunci, kupanjat saja sampai berhasil keluar sambil menggigil, air mata keluar berlomba dengan air hujan.


Aku berlari ke arah utara, tanpa sandal. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas di jalan ini. Bagai kesurupan, tidak ada rasa takut apa pun. Aku hanya ingin pulang sekarang juga, aku ingin bercerai!


Percuma tangan menyeka air mata yang bercampur air hujan. Toh, tak akan menghapus rasa sedih dalam diri. "Kenapa begini nasib pernikahanku!"


Aku berteriak melihat ke atas, air hujan seakan menampar-nampar wajahku. Sakit.


Sekitar lima menit berlari ....


"Sayang!" Lamat-lamat terdengar suara Kak Zian di belakang sana. "Kenapa kamu pergi? Ada apa lagi?" Kak Zian berlari dan berhenti di hadapanku.


"Jangan halangi jalanku, aku mau pulang! Pantas saja Kak Zian sangat mencintai Salma, ternyata kalian sudah tidur bareng!" Amarahku meledak.


"Apa? Apa maksudmu? Tidur bareng gimana?" Kak Zian keluar hanya dengan celana pendek, resletingnya belum ditutup. Mungkin dia panik karena aku tidak ada di vila. Bagiku tidak lucu. Aku mulai muak melihat dirinya.


"Kenapa masih tanya?!" teriakku. Berlari melewati Kak Zian.


"Ya Allah, ini hujan lebat dan petir ...." Kak Zian mengejarku.


"Biarkan aku pergi! Aaaaaa!" Aku berteriak sambil menutup telinga, petir menyambar pohon kelapa di depan sana.


Jantungku serasa copot. Kaki seketika kaku, seolah tak kuat melangkah. Lemas. Kak Zian merengkuh tubuhku. "Petir bisa saja menyambar kita. Ayo kembali ke vila, jangan berpikiran yang tidak-tidak." Kak Zian mengangkat tubuhku.


Aku memukul dadanya. "Kak Zian jangan mengelak, aku menemukan tulisan Salma, Kak Zian pernah mengajaknya bermalam di vila!" Aku meronta-ronta. Tak sudi dibopong Kak Zian.


Kak Zian menunduk, melihat ke wajahku. "Bermalam gimana? Aku memang pernah mengajak Salma ...."


"Oh, berapa kali kalian tidur bareng?" Aku ingin melompat saja dari gendongan Kak Zian. Dia sudah jujur, untuk apa menahanku pergi?


"Tidur bareng apa, sih, Sayang? Ya ampun, kamu curiga saja bawaannya. Aku mengajak Salma dan beberapa temannya, beberapa ibu-ibu warga desa karena mereka ingin tau sama vila ini. Dari sore sampai malam selesai Magrib mereka di sini. Bukan aku berduaan dengan Salma saja."


Kak Zian menjelaskan panjang lebar sampai masuk gerbang. Napasnya cepat sampai detak jantungnya terdengar telingaku.


"Aku tidak percaya!" teriakku sambil kembali memukuli dadanya. Bunyi petir membuatku menutup telinga.


"Kalau tidak percaya, nanti kita balik dan tanya ke Nenek. Nenek juga ikut ke sini waktu itu." Kak Zian seperti lelah menjelaskan, membawaku masuk, membuat air menetes ke karpet yang dihiasi bunga-bunga.


Gigiku gemeletuk karena sangat kedinginan. "Aku tidak percaya! Kak Zian jujur, kan?"


Kak Zian naik tangga. "Aku jujur, dan jelas tidak suka berbohong. Ayolah, Sayang ... jangan selalu curiga padaku." Sampai di kamar, Kak Zian membawaku ke kamar mandi.


"Sumpah?" Aku tidak percaya begitu saja.


"Sumpah, Sayang. Mandi air hangat dulu, setelah itu kita makan." Kak Zian mengecup bibirku yang gemetar. Dia sepertinya enggan memperpanjang masalah.


"Kak Zian tidak berbohong, kan?" Entahlah, aku sulit mempercayainya.


"Saling percaya pada pasangan itu sangat penting dalam hubungan. Percayalah, aku dan Salma tidak pernah ngapa-ngapain. Pegangan tangan saja belum pernah, apalagi tidur bareng seperti yang kamu tuduhkan." Kak Zian menurunkanku. Dia lalu menangkup pipiku dengan kedua tangannya. Mendekatkan wajah dan kembali mengecup bibirku.


"Nyuruh aku mandi, tapi dicium terus," ucapku setelah menjauhkan wajahnya. Aku juga lelah, dan mencoba percaya padanya. Secepat itu perasaanku berubah-ubah.


"Kita kan mau mandi bersama." Kak Zian tersenyum jail dan menowel hidungku.


"Dih! Nggak mau. Aku mau mandi sendirian."

__ADS_1


"Tapi aku mau mandi bersama." Kak Zian mengangkat dua bahunya, lalu mengusap air di wajahku, dia kemudian membawaku ke pelukannya.


"Lupakan apa yang membuat pikiran berat. Mari kita ...."


Mencium aroma parfum Kak Zian, aku serasa terhipnotis, perlahan-lahan merasa tenang mendengar bisikan mesranya.


"I love, you ... jangan marah-marah terus ya."


"Lebay!" Aku balas memeluknya dan mulai tersenyum.


❤❤❤


Setelah tubuh hangat dengan sweter warna pink. Aku duduk menghadap meja. Semua makanannya menggugah selera.


Kak Zian mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia melihat ke lantai dan mengambil kertas yang berisi tulisan Salma.


"Kenapa? Kangen Salma?" cibirku.


Kak Zian beralih melihat padaku. "Salma sudah tiada, jangan bilang begitu. Aku baru tau kalau Salma nulis beginian." Kak Zian menggelengkan kepalanya. Menuju ke jendela, dibukanya sedikit lalu membuang kertas itu.


Aku bernapas lega. Kak Zian sudah tak ingin membahas soal Salma.


"Mari makan ...."


"Siapa yang masak, Kak?"


"Pesan di catering.. Besok kita masak sendiri, di kulkas sudah full bahan-bahannya. Kak Zian duduk di kursi seberang. Berhadapan denganku. Wajahnya ada sedikit titik air, rambutnya basah membuat ketampanannya itu semakin menggoda.


"Males ah, enakan pesan." Aku berkedip saat Kak Zian melihatku. Tak ingin ketahuan kalau mengagumi wajahnya.


"Aku siap jadi koki, Sayang ...." Kak Zian mengacungkan dua jempolnya.


“Baiklah, suamiku ....” Aku berkata lembut.


“Aku senang jika istriku ini berkata lembut. Seandainya seterusnya dia begini ....”


“Apa, sih, Kak? ” Aku geli mendengar Kak Zian menggodaku. “Maklumi saja jika wanitamu sukanya marah-marah. Itu kan tergantung perlakuan suami. Makanya Kak Zian jangan bertingkah yang macam-macam.”


“Iya, deh.” Kak Zian iya-in aja apa yang aku katakan. Semakin menciumi seluruh wajahku seperti gemas. Aku yang geli tertawa lepas. Hilanglah beban di dada yang cukup menyiksa.


❤❤❤


Hujan hampir semalaman. Cuaca dingin mendukung kita yang kembali mesra.


Wangi aroma coklat hangat tercium hidung. Enggan membuka mata, selimut aku tarik sampai kepala.


“Hei, bangun wahai istriku ....” Selimut dibuka dari wajahku. “Aku sudah buatkan minuman hangat.”


Ciuman manis mendarat di keningku.


"Hmm, dingin." Aku menggumam. Melihat penuh cinta pada suamiku.


"Aku sudah siapkan sarapan kita." Kak Zian menunjuk meja. Di atas nampan, ada dua cangkir coklat hangat dan roti bakar.


"Gendong ...." Aku sangat manja.


"Siap, Tuan Putri." Kak Zian duduk di kasur membelakangiku, memintaku naik ke punggungnya.


Aku menuruti, ada perasaan sangat bahagia dalam hati, semoga kemesraan ini tidak cepat berlalu. Semoga hanya akulah wanita yang akan mendampingi Kak Zian selamanya ....


❤❤❤


Tiga hari di vila, kami romantis-romantisan. Dunia seolah-olah milik kita berdua.

__ADS_1


Sekarang, waktunya pulang. Kami menempuh perjalanan yang cukup jauh. Namun, tak membuatku kelelahan karena hatiku sedang riang gembira bersama pria yang sangat aku cintai.


Kami pulang ke rumah Kak Zian dulu sebelum mengunjungi rumahku. Mama mertua sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut kami.


Keluargaku, Papa, Mama, dan Naya diundang untuk makan malam bersama.


Kami kangen-kangenan. Makan bersama, kemudian duduk di ruang santai.


"Gimana sudah isi belum, Mbak." Naya berbisik, tangannya mengelus perutku.


"Ya elah, belum Dik. Dikira hamil bisa secepat kilat." Aku balas berbisik.


"Oh, kukira Mbak sudah hamil. Jangan berantem terus, Mbak. Agar cepat hamil," canda Naya. Dia kembali berbisik-bisik.


"Ssstttt ...." Aku memintanya diam karena Mama mertuaku mau bicara.


"Begini, saya ingin meminta Zian untuk mengelola semua usaha milik Raka. Kalau hanya Aris sendirian, dia tidak bakalan sanggup." Mama mertua melihat padaku, pada kedua orang tuaku, dan kemudian melihat pada Kak Zian.


Kak Zian membuka mulutnya untuk menolak, aku tahu dia tidak akan mau. Tapi keduluan sang Mama.


"Zian, jangan menolak ya, Nak. Mama mohon. Kalau di desa, pekerjaanmu masih bisa diwakilkan, kamu bisa memperkerjakan orang lain. Akan tetapi, kalau bisnis-bisnis Raka yang banyak itu, tidak dapat dialihkan pada orang lain."


Kedua orang tuaku kompak mengangguk tanda setuju, sementara Kak Zian tidak langsung menyetujui.


"Apa kamu khawatir pada nenek, Nak? Mama beberapa waktu lalu,, sudah cerita sama Nenek. Nenek tidak keberatan, karena kamu bisa pulang kapan saja ke sana. Hanya perlu membagi waktu saja."


Mama mertua tampakanya sangat menginginkan Kak Zian menghendel semua pekerjaan Mas Raka.


"Ma, Zian tidak paham dan tentu saja tidak mahir seperti adikku itu. Bagaimana bisa Zian ...."


"Lama-lama juga bakalan paham kok, Nak. Bisa karena terbiasa, kan?" Mama kembali memotong penolakan dan keraguan Kak Zian.


Kak Zian tampak berpikir, tatapannya tertuju pada foto keluarga di tembok.


"Mau ya, Nak ...." Mama menyentuh pundak kanan Kak Zian dan mengusap sayang. Aku juga menunggu keputusan Kak Zian.


Kak Zian menarik napas panjang. "Insya Allah akan Zian coba, Ma ...."


Mendengar itu, Mama mertua memeluk Kak Zian. "Semoga sukses buat kita semua."


Kami mengaminkan. Kak Zian bakalan sangat sibuk setelah ini. Pekerjaannya di desa dan pekerjaannya di sini bakal menyita banyak waktunya.


Semoga ke depannya semuanya akan baik-baik saja. Aku berdoa dalam hati.


Keluargaku pulang. Kak Zian dan aku masuk ke kamar Mas Raka. Mama tak ingin kamar ini kosong dan meminta kami menempatinya selama berada di sini.


Kak Zian berdiri memandang fotoku dan Mas Raka di pigura besar yang tergantung di tembok. Dia menyentuh foto itu, membuat kami sama-sama terdiam.


Suasana kamar ini membuatku merasa sedih. Mengingat kenangan bersama Mas Raka. Ditambah, Kak Zian memgucapkan kalimat yang membuatku meneteskan air mata.


"Dik, kamu yang menikah dan kamu malah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan Faizara untukku. Kamu yang membangun banyak bisnis, kini ... aku yang harus bertanggung jawab atas bisnis-bisnismu dan akan menikmati hasilnya ...."


Kak Zian pun sama. Kedua matanya berkaca-kaca. Tangannya tremor, gemetar saat menyentuh wajah Mas Raka di foto itu.


"Inilah takdir ... semoga aku bisa melakukan yang terbaik dalam melanjutkan semua pekerjaanmu demi keluarga kita ...." Kak Zian mengusap wajahnya. Kemudian memelukku. Aku menangis di dadanya.


"Raka ... aku janji akan selalu menjaga dan mencintai Faizara. Aku tak akan membuatnya terluka. Aku akan membahagiakannya.”


Kak Zian berjanji di depan foto Mas Raka membuatku semakin terharu dan tak dapat berkata-kata lagi. Benar kata Kak Zian, inilah takdir, kakak ipar yang aku benci kini menjadi suamiku.


Aku dalam hati juga berjanji akan selalu mencintai dan menyayangi Kak Zian ....


Tamat

__ADS_1


__ADS_2