
Fahmi yang tak terima hinaan warga tentang ibunya, mengepalkan tangannya dan berjalan menuju orang yang sudah menghina ibunya. lalu meninjunya dan perkelahian pun tak terelakkan akhirnya suasana pun menjadi ricuh kembali.
Zaki yang sudah bisa menenangkan Fitri, segera keluar dari ruangan, mendengar keributan yang dibuat oleh Fahmi
tanpa ba-bi-bu Zaki menarik kerah kemeja Fahmi, dan segera membawanya menemui sang ibu karena hanya dengan cara itu pria itu akan berhenti membuat rusuh.
''cepat ikut aku!'' Zaki terus menarik kerah kemeia Fahmi terpaksa pria itu mengikutinya karena kalah tenaga dan kalah tinggi dengan Zaki.
''mam!'' panggil Fahmi setelah bertemu dengan Bu Fatma tapi Bu Fatma hanya diam saja.
''Fitri kenapa kamu diam saja melihat mama di sakiti seperti ini?'' tanya Fahmi kepada Fitri yang hanya diam saja. Fitri tak menjawab dia malah pergi meninggalkan ruangan kepala desa, tanpa menyahuti pertanyaan Fahmi disusul juga oleh Om Zaki.
karena tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya! Fahmi kembali emosi, kau mau kemana? apa kau mau meninggalkan mama disini? Fahmi mengulanginya lagi.
''dasar anak durhaka orang tua sedang ada masalah malah ditinggal pergi! pantesan aja hamil diluar nikah!'' sindir Dian sengaja
__ADS_1
Fitri yang tak terima dengan perkataan Dian pun akhirnya menghentikan langkahnya dan berbalik lalu menatap tajam kepada Dian.
''terima kasih sudah mengingatkan!'' ucapnya tegas, ''tapi setidaknya saya tidak membuka pintu kamar saya untuk suami adik iparnya sendiri! disaat suaminya tidak ada dirumah! Fitri membalas menyindir Dian.
Dian yang mendengar itu memucat, ''apa dia tau kalau aku ahhh__tidak mungkin!'' gumamnya takut jika iparnya itu mengetahui perselingkuhannya dengan Rizal.
''maksud kamu apa berbicara seperti itu?'' desak Fahmi
kenapa kakak tak menanyakannya kepada istri kakak tercinta ini! balas Fitri dengan tatapan matanya yang mengarah kepada Dian.
''mas bukan apa-apa sudahlah__ jangan mendengar kan ucapnya dia hanya ingin kita bertengkar dengan mengarang-ngarang cerita'' ujarnya penuh ketakutan karena sudah dapat dipastikan Fitri sudah mengetahui perselingkuhannya.
setelah perdebatan yang panjang antara Fahmi dan dan bapak kepala desa akhirnya mereka pun menemukan jalan keluarnya. dengan memenuhi semua persyaratan
Bu Fatma pun akhirnya diijinkan untuk pulang.
__ADS_1
Bu Fatma tanpa rasa bersalah, berjalan melewati pak Yanto, yang berada didepan pintu. begitu juga dengan Fahmi dan Dian, semenjak pak Yanto terkena struk hilang sudah rasa hormat mereka kepadanya.
Fitri yang baru keluar dari kamar dan membawa sebuah koper miliknya, melihat perlakuan ibu, kakak dan kakak iparnya yang sungguh keterlaluan memperlakukan ayahnya , dia pun langsung membanting pintu kamarnya membuat mereka semua terkaget-kaget.
''apa kamu tidak punya sopan santun?'' ujar Bu Fatma karena anak tirinya itu berani bersikap kurang ajar.
''apa mama buta siapa yang tidak punya sopan santun disini, mama sebagai seorang istri begitu murahnya hingga mau di jamah oleh pria yang bukan suami mama sendiri!''.
''dan kau kakak! sebagai seorang anak walau pun, kau hanya anak tiri tapi kau juga merasakan kasih sayang papa yang tidak pernah membedakan anak kandung dengan anak tirinya! apa pantas? kakak memperlakukan orang yang telah membesarkan kakak seperti itu?.
atau memang hati nurani kakak sudah mati? jadi kakak tidak bisa menghargai orang yang lebih tua dari kakak? tanyanya penuh dengan penekanan di setiap kata-katanya.
membuat Bu Fatma dan Fahmi tidak bisa menjawabnya, dan berlalu pergi begitupun Dian.
Fitri hanya bisa tersenyum kecut, dan meneteskan air matanya, melihat ibu dan saudaranya sama sekali tak memperdulikan dia dan ayahnya yang juga meneteskan air mata sedari tadi tak percaya bila istri yang dicintainya tega mengkhianatinya begitupun anak yang sudah disayanginya seperti anak kandung tega melukai hatinya. miris sekali nasibnya.
__ADS_1