Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Nyaman 2


__ADS_3

Vio melahap habis mie instan dengan irisan cabai yang sangat pedas dilihat oleh mata campuran warna warni cabai selalu menjadi penggoda Vio setiap makan .


Vio merapikan kembali piring beserta alat masak panci mie nya dan langsung segera mencuci agar tidak menumpuk menjadi banyak, pikir Vio .


Jam demi jam berputar teratur .


Menunggu dan menunggu adalah hal yang membosankan untuk semua orang .


Vio di latih untuk sabar menunggu pembeli yang mampir membeli jajanan di warung mini nya .


''Ternyata membosankan .'' ucap Vio


''Aku ngantuk sekali, di tinggal tidur bisa engga yaa ..'' pikir Vio seketika .


Vio tidak ragu-ragu mengunci jendela dan pintu depan, anak polos itu selalu berpikir positif bahwa tidak akan ada yang berani mengambil di warung mini nya .


.


.


.


.


Vio sudah terbang bersama mimpi indahnya .


kenyamanan yang di rasakannya membuat Vio terbiasa akan semua hal yang terjadi di hari-hari mendatang .


Mama Meri selalu mengajarkan Vio untuk selalu berserah diri kepada Tuhan dengan begitu hidup yang akan di jalanin akan menjadi sangat ringan .


Setiap petuah yang di sampaikan mama Meri membawa kesejukan di batin Vio .


Membuat Vio semakin lama semakin merasa nyaman dengan hidupnya sekarang .


Di tempat berbeda .


Mama Meri sedang bekerja di terik panas nya matahari, memetik di setiap pohon kopi yang siap panen .


Menyelesuri setiap lorong perkebunan dengan mata jeli dan harus fokus untuk melihat setiap puncuk biji kopi yang siap produksi nanti .


Mama Meri membawa dua keranjang berukuran besar di punggungnya yang hanya di ikat dengan tari ala kadarnya .


.


.


.


.

__ADS_1


Pak Harto adalah pemilik sekaligus orang terpandang di desa itu .


Mama Meri mengetahui pekerjaan itu dari tetangga nya yang sudah bekerja bertahun-tahun di sana .


Tanpa pikir panjang mama Meri menerima dan sampailah di tempat yang luas dengan jumlah yang banyak pohon-pohon kopi milik pak Harto, dengan telaten mama Meri menerima setiap tugas yang di berikan dan menyelesaikan nya tanpa mengeluh sedikitpun .


Hari sudah menjelang sore semua pekerja pun berkumpul untuk menerima upah, karena upah akan di berikan di setiap harinya setelah pekerjaan di selesaikan dengan baik .


Mama Meri menunggu antrian demi antrian yang berbaris panjang .


Tibalah bagian mama Meri maju dan menerima upah yang di berikan langsung oleh pemilik perkebunan .


''Ibu, ini upah untuk hari ini terimakasih sudah bekerja dengan baik .'' ucap tulus pak Harto .


''Sama-sama pak, terimakasih kembali karena sudah bersedia menerima saya bekerja di sini .'' balas mama Meri dengan senyuman .


Pak Harto di kenal baik dan berakhlak .


Setiap warga menghormati pak Harto dan selalu tidak henti memuji kedermawanan pak Harto pada warga yang tidak mampu .


Pak Harto lahir dari keluarga yang berada dan berkecukupan harta .


Tapi tidak membuat beliau lupa akan semua yang di miliki hanya sebuah titipan yang maha kuasa, kapan pun sang pemilik asli mengambil semua akan hilang dalam sekejap .


Didikan yang di ajarkan oleh mendiang orang tua beliau tidak pernah pak Harto lupakan .


Liang adalah tempat terakhir manusia .


Tidak ada hal yang harus di sombongkan, pikir pak Harto selama ini .


.


.


.


.


Mama Meri dengan perasaan senang menerima setiap upahnya .


Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya, bekerja dengan hasil jeri payahnya sendiri .


Mama Meri tersenyum bangga dan memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam tasnya .


Semua sudah di persilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing .


Para buruh pun meninggalkan pekerbunan, satu persatu berjalan menuju pintu keluar perkebunan yang megah dan luas itu .


Semua bersorak ria, canda tawa para pekerja bersatu dalam damai .

__ADS_1


Mama Meri bersyukur bisa mengenal mereka yang tulus menerima tanpa menjatuhkan orang lain .


Larut sudah larut .


Langit sudah berubah warna menjadi gelap, mama Meri berjalan dengan hati cemas .


''Aku tidak boleh takut, ini tidak ada apa-apa nya semua demi Vio Vio dan Vio adalah tujuan hidup ku .'' ucap lirih mama Meri .


Mama Meri berjalan sendiri .


Semua teman pekerja nya selalu di jemput sama suaminya masing-masing .


Rasa ingin menangis melihat kebahagian orang lain, di hati terdalam ada rasa iri yang berkecamuk .


Tapi mama Meri sadar, semua sudah sejauh ini setiap takdir yang di gariskan oleh sang maha kuasa pasti ada kebahagian yang menunggu .


Sampailah mama Meri di depan rumahnya .


Mengutuk pelan takut mengganggu Vio .


Mama Meri sudah hafal betul, pasti anak gadisnya itu sedang tidur nyenyak tanpa mandi sore .


''Vio ... assalamualaikum nak ini mama buka pintunya sayang .''


Mendengar suara mamanya membuat Vio langsung terbangun dan berlari membuka pintu .


''Mamaaaaaaa.... Vio kangen ... '' ucap manja Vio memeluk erat mama Meri .


''Aaah kami ini, baru di tinggal sebantar sudah berubah manja .''


''Yaa sudah masuk yuk sudah malam, Vio tolong tutup dan kunci pintunya ya mama mau bersih-bersih dulu .'' ucap mama Meri berlalu meninggalkan Vio di ruang tamu .


Ucapan mama nya membuat Vio menggelengkan kepala .


''Vio kan masih belum selesai bicara tapi sudah di tinggal begitu saja .'' sambil memanyunkan jurus bibirnya .


🌼


🌼


🌼


🌼


Lanjut engga nih ... hahahaha ....


Maaf ya menghilangnya terlalu lama .


Salam sayang dari aku 🤗

__ADS_1


__ADS_2