
Vio melahap habis mie instan dengan irisan cabai yang sangat pedas dilihat oleh mata campuran warna warni cabai selalu menjadi penggoda Vio setiap makan .
Vio merapikan kembali piring beserta alat masak panci mie nya dan langsung segera mencuci agar tidak menumpuk menjadi banyak, pikir Vio .
Jam demi jam berputar teratur .
Menunggu dan menunggu adalah hal yang membosankan untuk semua orang .
Vio di latih untuk sabar menunggu pembeli yang mampir membeli jajanan di warung mini nya .
''Ternyata membosankan .'' ucap Vio
''Aku ngantuk sekali, di tinggal tidur bisa engga yaa ..'' pikir Vio seketika .
Vio tidak ragu-ragu mengunci jendela dan pintu depan, anak polos itu selalu berpikir positif bahwa tidak akan ada yang berani mengambil di warung mini nya .
.
.
.
.
Vio sudah terbang bersama mimpi indahnya .
kenyamanan yang di rasakannya membuat Vio terbiasa akan semua hal yang terjadi di hari-hari mendatang .
Mama Meri selalu mengajarkan Vio untuk selalu berserah diri kepada Tuhan dengan begitu hidup yang akan di jalanin akan menjadi sangat ringan .
Setiap petuah yang di sampaikan mama Meri membawa kesejukan di batin Vio .
Membuat Vio semakin lama semakin merasa nyaman dengan hidupnya sekarang .
Di tempat berbeda .
Mama Meri sedang bekerja di terik panas nya matahari, memetik di setiap pohon kopi yang siap panen .
Menyelesuri setiap lorong perkebunan dengan mata jeli dan harus fokus untuk melihat setiap puncuk biji kopi yang siap produksi nanti .
Mama Meri membawa dua keranjang berukuran besar di punggungnya yang hanya di ikat dengan tari ala kadarnya .
.
.
.
.
__ADS_1
Pak Harto adalah pemilik sekaligus orang terpandang di desa itu .
Mama Meri mengetahui pekerjaan itu dari tetangga nya yang sudah bekerja bertahun-tahun di sana .
Tanpa pikir panjang mama Meri menerima dan sampailah di tempat yang luas dengan jumlah yang banyak pohon-pohon kopi milik pak Harto, dengan telaten mama Meri menerima setiap tugas yang di berikan dan menyelesaikan nya tanpa mengeluh sedikitpun .
Hari sudah menjelang sore semua pekerja pun berkumpul untuk menerima upah, karena upah akan di berikan di setiap harinya setelah pekerjaan di selesaikan dengan baik .
Mama Meri menunggu antrian demi antrian yang berbaris panjang .
Tibalah bagian mama Meri maju dan menerima upah yang di berikan langsung oleh pemilik perkebunan .
''Ibu, ini upah untuk hari ini terimakasih sudah bekerja dengan baik .'' ucap tulus pak Harto .
''Sama-sama pak, terimakasih kembali karena sudah bersedia menerima saya bekerja di sini .'' balas mama Meri dengan senyuman .
Pak Harto di kenal baik dan berakhlak .
Setiap warga menghormati pak Harto dan selalu tidak henti memuji kedermawanan pak Harto pada warga yang tidak mampu .
Pak Harto lahir dari keluarga yang berada dan berkecukupan harta .
Tapi tidak membuat beliau lupa akan semua yang di miliki hanya sebuah titipan yang maha kuasa, kapan pun sang pemilik asli mengambil semua akan hilang dalam sekejap .
Didikan yang di ajarkan oleh mendiang orang tua beliau tidak pernah pak Harto lupakan .
Liang adalah tempat terakhir manusia .
Tidak ada hal yang harus di sombongkan, pikir pak Harto selama ini .
.
.
.
.
Mama Meri dengan perasaan senang menerima setiap upahnya .
Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya, bekerja dengan hasil jeri payahnya sendiri .
Mama Meri tersenyum bangga dan memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam tasnya .
Semua sudah di persilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing .
Para buruh pun meninggalkan pekerbunan, satu persatu berjalan menuju pintu keluar perkebunan yang megah dan luas itu .
Semua bersorak ria, canda tawa para pekerja bersatu dalam damai .
__ADS_1
Mama Meri bersyukur bisa mengenal mereka yang tulus menerima tanpa menjatuhkan orang lain .
Larut sudah larut .
Langit sudah berubah warna menjadi gelap, mama Meri berjalan dengan hati cemas .
''Aku tidak boleh takut, ini tidak ada apa-apa nya semua demi Vio Vio dan Vio adalah tujuan hidup ku .'' ucap lirih mama Meri .
Mama Meri berjalan sendiri .
Semua teman pekerja nya selalu di jemput sama suaminya masing-masing .
Rasa ingin menangis melihat kebahagian orang lain, di hati terdalam ada rasa iri yang berkecamuk .
Tapi mama Meri sadar, semua sudah sejauh ini setiap takdir yang di gariskan oleh sang maha kuasa pasti ada kebahagian yang menunggu .
Sampailah mama Meri di depan rumahnya .
Mengutuk pelan takut mengganggu Vio .
Mama Meri sudah hafal betul, pasti anak gadisnya itu sedang tidur nyenyak tanpa mandi sore .
''Vio ... assalamualaikum nak ini mama buka pintunya sayang .''
Mendengar suara mamanya membuat Vio langsung terbangun dan berlari membuka pintu .
''Mamaaaaaaa.... Vio kangen ... '' ucap manja Vio memeluk erat mama Meri .
''Aaah kami ini, baru di tinggal sebantar sudah berubah manja .''
''Yaa sudah masuk yuk sudah malam, Vio tolong tutup dan kunci pintunya ya mama mau bersih-bersih dulu .'' ucap mama Meri berlalu meninggalkan Vio di ruang tamu .
Ucapan mama nya membuat Vio menggelengkan kepala .
''Vio kan masih belum selesai bicara tapi sudah di tinggal begitu saja .'' sambil memanyunkan jurus bibirnya .
🌼
🌼
🌼
🌼
Lanjut engga nih ... hahahaha ....
Maaf ya menghilangnya terlalu lama .
Salam sayang dari aku 🤗
__ADS_1