Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Terbangun


__ADS_3

Sisil terganggu dengan suara-suara berisik diluar pintu kamarnya. Membuatnya terpaksa membuka mata dengan marah.


Ceklek.


Pintu terbuka, si pemilik kamar sudah terbangun dengan wajah menahan marah. Ditatapnya satu per satu pelayan yang ada dihadapannya. "kenapa kalian bersisik sekali, hah?".


"maaf nona Sisil, jika kami sudah mengganggu nona istirahat. Tapi maaf sekali lagi nona, ini sudah lewat dari jam makan malam sedangkan nona belum makan dari setibanya dirumah. Saya takut nona akan sakit karena sudah melewatkan 2x jam makan yang sudah seharusnya" ungkap pelayan itu.


Sisil menatapnya dengan tatapan tajam, "kenapa dia sebegitunya peduli dengan ku, orang tua ku saja tidak pernah peduli. Yaa jelas dia bersikap seperti ini karena mereka bekerja dan mendapatkan bayaran, tidak ada yang tulus padaku" ucap Sisil dalam hati.


"baiklah aku akan makan sebentar lagi, aku bersih-bersih dulu, terimakasih" singkat Sisil yang membuat para pelayan tersenyum karena belum pernah sekalipun nonanya mengucapkan terimakasih pada mereka.


"yaa sudah bubar, siapkan makanan kesukaan nona, dan singkirkan yang tidak disukainya. Kalian mengerti?" ucap kepala pelayan, yang mendapat anggukan kepala tanda mereka sudah memahami apa yang diucapkan.


Sisil mendengar percakapan mereka dibalik pintu kamarnya. "maafkan aku" ucap Sisil sambil mengusap air mata yang entah kenapa lolos begitu saja.


Sisil tumbuh dengan tangan para pelayannya, tidak ada waktu yang dia dapatkan walau hanya sekedar mengambil haknya sebagai anak.


Orang tua Sisil terlalu sibuk mencari dan mengumpulkan pundi-pundi uang, karena bagi mereka semakin kaya seseorang semakin dipandang berkuasa oleh orang lain.


Sisil sudah membersihkan dirinya dan menuruni anak tangga menuju lantai satu. "apa sarapan aku hari ini?" tanyanya pada salah satu pelayan. Kakinya masih berjalan sampai ke ruang makan, lalu menarik salah satu bangku yang biasa dia tempatinya.


"Nasi merah, sayur sop ayam, perkedel, daging rendang, hanya itu nona" jawab si pelayan.


"aku mau susu coklat hangat ya, tapi nanti setelah aku selesai makan dan juga buatkan aku roti panggang keju, seperti biasa apa kau mengerti?" Sisil memastikan jika nanti tidak akan ada kesalahan yang di buat pelayannya.


Dia malas harus mengeluarkan amarah lagi karena energinya saja sudah terkuras habis.

__ADS_1


"mengerti nona" ucap sang pelayan, dan langsung pamit undur diri.


Sisil mulai menyantap hidangan yang disajikan di depannya dengan lahap, perutnya sudah kosong sejak siang hingga malam begini dia baru mengisinya. Porsi yang di sediakan pelayan sudah sesuai yang biasa disajikan khusus untuk nona mudanya.


Dia masih asik menyantap makannya, sambil meraih ponsel di samping kanannya. Kebiasaan Sisil jika sedang makan selalu bermain ponsel, itu sebabnya dia begitu asik sendiri padahal tanpa ada yang tau. Sebenarnya dia kesepian dirumah ini hanya di temanin semua pelayan, supir, tukang kebun. Bermain benda yang canggih itu adalah salah satu solusi untuknya agar tidak merasa sendiri.


"enak sekali makanan ini, apa karena aku saja yang kelaparan" gumamnya pelan.


Semua habis tanpa sisa, Sisil pun menekan tombol yang ada di bawah mejanya. Tombol itu berfungsi untuk memanggil pelayan yang ada dirumahnya yang bertugas mengurus makanan dan memasak. Di setiap ruangan selalu ada tombol, jadi memudahkan si punya rumah untuk memanggil tanpa harus mengeluarkan energi hanya untuk memanggil para pelayan.


Bunyi pun terdengar memenuhi area dapur, sang pelayan pun bergegas menghampiri majikanya, sekaligus membawa pesanan yang sudah siap ditangannya.


"iya nona, ini susu dan roti panggang kejunya" ungkap si pelayan.


"ok, letakan saja di situ" tunjuknya menggunakan arahan mata tanpa menoleh sedikitpun.


Sisil menyantap sajian kedua yang di berikan pelayannya. Dia menikmati setiap suapan yang masuk ke mulut kecilnya. Dalam sekejap makanan itu sudah habis beserta susu hangatnya.


Tubuh Sisil memang langsing tapi untuk urusan makan dia nomor satu. Dia akan menghabiskannya dalam waktu singkat, jika makanan itu sesuai dengan selera lidahnya.


"bagaimana caranya untuk membuat Dan melirikku, apakah itu terlalu sulit"


"apa tuhan tidak mengizinkan aku untuk bahagia?" suara lirih Sisil meratapi kesepiannya.


Hanya Dan yang mampu menarik perhatian dia, pertemuannya dengan Dan tidak akan pernah dia lupakan, dimana saat itu Dan tampak tersenyum bahagia bercanda gurau dengan seorang wanita yang tidak di kenali sebelumnya.


Sisil berusaha mencari setiap informasi yang berhubungan dengan Dan, namun naas tidak ada satu orang mahasiswa yang mengetahuinya. Pribadi Dan yang dingin, dan tertutup sulit untuk mengetahui segala informasi pribadinya, seperti kesukaannya, makanan favoritnya, tempat mana yang sering Dan kunjungi, suasana seperti apa yang Dan sukai. Sisil sudah berusaha namun hasilnya nihil.

__ADS_1


"kamu harus menjadi milikku, harus.. aku akan membuatmu mencintaiku apapun caranya akan aku lakukan sekalipun harus menyingkirkan ulet keket mu itu" rencana licikpun akan dia tempuh untuk merebut sang pujaan hati.


Lama terdiam di ruang makan, Sisil melangkah kakinya menuju balkon rumah yang berada di lantai 2 bersebelahan dengan balkon kamarnya. Tapi dia enggan memasuki kamar, terlalu bosan jika selalu dalam satu ruangan menghabiskan waktu yang lama, dia tidak menyukainya. Sisil orang yang gampang bosan dengan suasana.


Dia mengambil benda pipih yang berada di atas nakas ruang tamu dimana tempatnya berada sekarang. Dia mencoba menghubungi orang tuanya, namun sudah 3x panggilan tidak kunjung mendapat jawaban. Sisil menghela nafas kasarnya.


"aku sedang membutuhkan kalian, bukan hanya selalu saja uang yang aku inginkan, kenapa kalian begitu egois terhadap anak sendiri".


Dia menyandarkan tubuhnya di bangku balkon, mencari posisi ternyamannya.


"andai saja keluarga ku seperti keluarga mereka, pasti sangat menyenangkan... Menghabiskan waktu bersama bercanda, bertukar cerita, apa keinginan ku berlebihan?" gerutunya.


Sudah lama terdiam, dia mencari tombol darurat di sudut ruangan. Berdiri lalu menekanya dengan cara menahan untuk berbicara langsung dengan sang pelayan. Dalam dering ke dua sang pelayan sudah menekan panggilan darurat dengan tombol yang berbeda, karena ini tombol suara berbeda dengan tombol yang sebelahnya, yang di khususkan untuk sekedar memanggil tanpa berbicara langsung lewat alat canggih yang terpasang dirumah mewah itu.


"iya nona, ada yang bisa saya bantu?" ucap sopan sang pelayan.


"aku butuh cemilan ringan, antarkan kelantai 2 balkon ruang tamu dan jus jeruk" Sisil langsung memutuskan panggilan itu tanpa menunggu jawaban si pelayan rumah.


Sang pelayan yang menerima pesanan nona mudanya dibuat melongo dengan apa yang baru saja di dengarnya, karena belum ada satu jam nonanya sudah memakan makanan begitu banyak dan masih saja memesan cemilan. Sungguh perut karung pikir sang pelayan.


Pelayan bergegas menyiapkan cemilan kesukaan nonanya, tanpa bertanya mau apa, si pelayan sudah mengetahui karena satu kulkas ukuran besar hanya untuk menyimpan cemilan nona mudanya selama sebulan. Pelayan pun menaruh setiap jenis cemilan masing-masing satu dalam berbagai merk ternama.


"ini nona, cemilannya" ucap si pelayan.


"taruh disana saja" jawabnya.


________

__ADS_1


Berbeda dengan Sisil yang sibuk mengurusi perutnya, Vio dan Dan baru sampai apartemen mereka.


__ADS_2