
Vio dan, Dan merebahkan tubuh mereka di atas sofa di ruang tamu. Begitu lelah seharian ini berada di luar hanya sekedar jalan-jalan untuk memperlambat waktu agar setelah sampai apartemen mereka sudah cape dan mengantuk. Setiap hari mereka lakukan dengan cara seperti itu untuk mengurangi rasa canggung jika terlalu lama di dalam satu atap hanya berdua saja. Mereka sampai saat ini masih belum terbiasa, mau sedekat apapun mereka tetap saja statusnya membuat mereka menciptakan dinding pembatas masing-masing.
Hanya mereka berdua yang mengetahui isi hatinya. Tidak ada keterbukaan untuk masalah hati, entah apa yang mereka pikirkan hanya ini pilihan yang baik bagi mereka. Berteman tapi menikah, mungkin saja akan indah jika ada cinta didalamnya pikir Dan.
Dan menatap Vio yang ada di sampingnya.
"Vi, apa harus kita bicarakan hal ini sekarang?" tanya Dan takut-takut.
"apa?" Vio menoleh sekejap.
"kamu tau maksudku, Vi !" ketus Dan.
Vio menghela nafasnya, lalu kembali melihat Dan yang menatap tajam dirinya. Vio memang tau maksud tujuan pembicaraan Dan saat ini namun dia malas membahasnya sekarang.
"kita harus membahas ini, Vi" ungkap Dan.
"tapi aku malas" gerutu Vio namun masih terdengar oleh Dan.
"baiklah, terserah kamu" Dan bangun lalu pergi begitu saja meninggalkan Vio yang menatap lesuh.
Dan marah dengan Vio yang selalu saja mencari alasan, jika sedang membahas hubungan mereka kedepannya. Dan memang tidak mau memaksakan kehendaknya tapi tetap saja dia adalah suami dari gadis itu, sudah seharusnya pembahasan ini dilakukan oleh mereka berdua, bukan sekedar kesempatan awal saja. Pernikahan tidak bisa dibuat sebagai ajang permainan hidup.
Dan takut jika suatu saat, ada orang lain yang akan datang ke kehidupan mereka berdua tanpa tau kisah didalamnya. Itu pasti akan menyakiti semuanya, Dan ingin menghindari itu sebelum semuanya terjadi nanti. Namun Vio masih keras kepala tidak mau mengerti dengan resiko yang akan mereka hadapi. di pernikahan ini, jujur Dan ingin Vio membuka hatinya, memulai dengannya. Mungkin cinta akan hadir jika hati sudah siap menerima penghuninya.
Dan memasuki kamar, kemudian menguncinya agar Vio tidak bisa masuk mengganggunya karena untuk saat ini dirinya sedang tidak dalam keadaan baik. Baik secara emosional, Dan takut jika nanti emosinya menguasai diri dan membuat Vio terluka atas ucapannya.
Vio melihat Dan menutup sekaligus mengunci kamarnya. Ya kamar Vio berbeda dengan kamar yang dimasuki Dan saat ini. Mereka tidur terpisah sejak awal menepati apartemen. Vio tidak maksud hati untuk membuat Dan marah padanya, dia hanya takut hatinya tidak bisa lagi menahan rasa yang sudah memberontak untuk segera dihuni oleh sebuah nama. Vio belum bisa menjalin sebuah komitmen dalam sebuah hubungan yang akan menjeratnya hanya untuk tinggal dan menetap di satu tempat (HATI).
Vio mau tak mau akhirnya bangun dari tidur lalu duduk untuk mengatur nafas yang tiba-tiba saja sesak. Vio mengayunkan kakinya ke kamar Dan, mencoba mengetok si pemilik kamar.
"Dan, buka pintunya aku mau masuk" peritah Vio dengan keras. Tapi si pemilik kamar enggan membukakannya. Dan masih berdiri dibalkon kamarnya menatap nanar langit yang kian makin menggelap.
Vio mencoba terus mengetuk lagi, sampai si pemilik kamar itu membukanya. Vio tidak suka Dan dekat dengan orang lain apalagi punya kekasih tapi dia juga tidak bisa memastikan hatinya. Bukankah itu sama saja seperti berdiri ditengah hujan tanpa tau akan ada yang memberinya payung.
"Dan hayooolah buka pintunya..... apa kamu tega liat aku terus saja berdiri diluar?" lirih Vio dengan suara dibuat-buat.
"ok baiklah kalau kamu masih enggan bertemu, aku keluar saja malam ini, aku tidak akan tidur disini. Jangan mencari aku, kamu dengar itu?!" teriak Vio.
__ADS_1
akhirnya Dan membuka pintunya, dia tidak mau Vio keluar apartemen malam-malam begini, itu akan bahaya buat keselamatannya. Walau Dan sedang marah tapi dia tidak setega itu sama Vio.
"ada apa?" tanya dingin Dan.
"masih marah?" Vio bukannya menjawab malah bertanya lagi membuat Dan mengendus sebal.
Dan pergi meninggalkan Vio yang hanya berdiam diri saja di depan pintu. "tadi minta dibukakan, setelah dibuka malah diam saja" membuat Vio menyengir kuda mendengarnya.
"aku boleh masuk?" Vio masih saja terus bertanya.
"iya".
"Dan..."
"Dan.. lihat aku dulu sini" ucap Vio ikutan kesal karena Dan masih aja cuek.
"tutup pintunya" perintah Dan. Membuat Vio Melena secara paksa salivanya.
"untuk apa ditutup?!".
"iya aku tutup nih" Vio menuruti kemauan Dan dari pada membuat pria dingin itu bertambah marah.
"kunci" titah Dan.
Vio melongo mendengar perintah selanjutnya. Pikiran Vio sudah melayang jauh, membuat bulu kuduknya merinding dalam sekejap.
"kunci, dan berikan kunci itu pada ku sekarang" Dan mengulang lagi titah nya.
"iiiyyaaaa... ini kuncinya" Vio menyerahkan kunci itu namun dan tetap tidak mau menghadapnya. Dan hanya menjulurkan tangannya untuk menerima kunci pemberian Vio.
Dan mengambil, lalu membuangnya keluar balkon. Kemudian Dan duduk diantara kursi yang ada di balkon tersebut.
Vio mengikuti apa yang Dan lakukan, menempelkan pantatnya kekursi dan mencari posisi ternyamannya. Tidak berniat untuk bertanya lagi, kenapa kuncinya dibuang. Vio mengikuti saja si pemilik hati dingin seperti kulkas, ooh bukan yang lebih dingin lagi dari kulkas sepertinya.
"katakan, apa tujuanmu mengetuk pintu kamarku. Jika itu hanya ucapan basa-basi saja, aku tidak mau mendengarnya"
"tinggalkan aku sendiri, jika kamu tetap diam saja. Kunci pintu balkon ini kalau kamu takut aku akan masuk. Sekarang tidurlah sudah malam, aku akan disini sampai pagi" ucap Dan dengan sorot mata dingin menatap lurus kedepan.
__ADS_1
Vio yang mencerna setiap kata-kata Dan dibuat kaget, Dan tidak pernah seperti ini. Meski Dan dingin tapi tidak untuk setiap kata yang akan menyakitinya secara tidak langsung.
Dalam diam Dan memahami situasi ini akan membuat Vio kaget, dia sudah memperingatkan dirinya tapi hatinya menolak itu, hatinya tidak bisa menerima ancaman landak kecilnya yang akan keluar apartemen malam-malam seperti ini.
.
.
.
.
.
Vio tanpa aba-aba langsung berdiri dan duduk dipangkuan Dan. Membuat Dan menurunkan pandanganya ke wajah cantik yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya. Tapi Dan masih bisa menguasai diri, Dan menatap lurus kembali kedepan tanpa memperdulikan tingkah Vio yang aneh.
Vio dibuat kesal, karena gagal menarik perhatian Dan. Tanpa Vio sadari rasa menarik itu sudah berubah menjadi rasa cinta yang dalam di hati Dan. Dan sudah memiliki perasaan sejak dulu hanya saja dia bisa menyembunyikannya dari Vio. Dan bersikap senetral mungkin jika berhadapan sama landaknya itu.
Dan mencoba untuk fokus, karena landaknya ini tidak bisa diam di atas pangkuannya, hal itu berhasil membuat si kecil mengeras dibawah sana. Sorot mata Dan sudah berubah sayu, dia paham akan kondisinya itu tapi tetap memaksakan dirinya untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Dan..... aku__!"
.
.
.
.
.
.
🌼
🌼
__ADS_1