Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Nasib Naas


__ADS_3

Para laki-laki tak di kenali itu, sangat antusias dengan hal yang menyejukkan mata mereka.


Mulailah salah satu dari mereka mendekati mama Meri dengan berkata "kamu akan menikmati setiap sentuhan kami, jadi diam dan jangan banyak berontak atau kami akan berlaku kasar terhadap mu" ancam ketua komplotan itu.


Mama Meri menggelengkan kepalanya tanda dia tidak menyetujui perbuatan tak senonoh yang akan di lakukan oleh laki-laki di depannya.


Mulut mama Meri sudah di bungkam paksa dengan menggunakan lakban, jadi tidak akan ada yang dengar teriakan wanita itu. Tibalah ketua penjahat itu membuka pakaiannya dan langsung menyerang mama Meri tanpa ampun, mama Meri hanya menangis merasakan setiap hentakan kasar laki-laki yang tak dikenalinya itu, sudah hampir satu jam lamanya sang ketua menikmati setiap tubuh mama Meri dengan erangan yang lolos begitu saja dari mulut laki-laki bejat itu.


Di pertontonkan layaknya sebuah film, sungguh miris sekali nasib mama Meri. Semua satu per satu bergantian menikmati santapan lezat yang di depan mereka. tibalah terakhir laki-laki yang akan menodai mama Meri memulai aksinya. Terus dengan gerakan kasar dan hentakan yang membuat mama Meri menjerit dalam diam, air matanya sudah tak lagi nampak hanya tatapan sayu yang begitu menyiksa jika ada yang melihatnya sudah di pastikan akan merasa iba.


Belum sampai di situ kepuasan para laki-laki itu, mereka hanya memberi jeda buat mama Meri bernafas, hingga mereka memulainya kembali meraup kepuasan di tubuh mama Meri.


Pengulangan terus dan terus terjadi sampai pagi menjelang, mereka bergegas berpakaian kembali namun mama Meri dibiarkan seperti itu. Wajah mama Meri sudah tidak bisa dikenali selain di jadikan alat pemuas, mama Meri di siksa habis-habisan oleh pria tidak tau diri itu, entah apa yang menjadikan mereka sehingga tega menyakiti wanita dan membuatnya mengalami nasib yang sangat mengerikan.


Sebelum mereka meninggalkan gubuk, mama Meri dihabisi nyawanya dengan ditusuk-tusuk berulang kali di sekujur tubuhnya. Tidak ada harapan, mama Meri meregangkan nyawa dengan sangat tragis.


"cepat kita pergi sebelum warga melihat" ucap salah satu dari mereka.


Mereka menghapus jejak agar tidak meninggal kecurigaan nantinya. Sekalipun ini akan diketahui tapi mereka tidak akan dituduh yang telah melakukannya.


Mama Meri menghembuskan nafas terakhirnya dengan membaca lafas Allah. Air mata menjadi saksi atas kejinya perbuatan mereka.


Vio yang mengalami mimpi buruk terbangun dengan keringet di sekujur tubuhnya. Dia menatap ruangan yang di tempatinya, namun kamar ini bukan kamarnya.


"dimana aku" Vi menatap sekeliling kamar dan dia mulai menyadari kalau ini kamar Dan.


Saat ini Vio memang ada dirumahnya. Setiap kali mama Menitipkannya, Dan selalu membawa Vio dirumahnya. Agar tidak merasa sepi Dan meminta keluarganya untuk membantu menjaga Vio. Keluarga Dan dengan senang hati melakukannya.


"Dan..." panggil Vio yang mulai turun dari tempat tidurnya.


Sebelum Vio terbangun, Dan sudah memindahkan Vio kerumahnya tepatnya berada dikamar pribadinya.


"Dan...." Vio mengulang lagi mencari keberadaan temannya itu.


Ketokan pintu dari luar, mengalihkan pandangan Vio. "masuk" ujarnya.


"hay, kamu sudah bangun, apa kamu lapar?" tanya Dan.

__ADS_1


"tidak, mama ku kemana kenapa belum menjemput. Aku rasa ini sudah berganti hari"


"belum, belum ada kabar dari tante, tau mungkin tante sedang mengambil lembur, kita tunggu saja ya. Sekarang kita sarapan hayoo bersihkan dulu dirimu, aku kan tunggu di ruang makan" Vio hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Dan pun keluar dengan wajah yang tidak bisa ditebak, helaan nafas kasar keluar dari mulutnya. Dia memijat tengkuk kepalanya yang terasa sangat berat.


Dan bingung harus menjelaskan seperti apa kondisi mama Meri saat ini, miris rasanya.


Beberapa jam lalu, ada seseorang yang mengetuk kediamannya untuk mencari Vio dan menyampaikan apa yang telah terjadi kepada ibunya. Dan dibuat terkejut dengan apa yang di dengarnya sungguh naas nasib mama Meri.


Keluarga Dan meminta warga untuk membawanya kerumah sakit dan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib.


Sekarang jenazah mama Meri sudah dilakukan otopsi dan kesimpulan yang di berikan pihak rumah sakit, bahwa mam Meri mengalami pelecehan sebelum dibunuh. Luka di sekujur tubuhnya sudah sangat mengerikan untuk di lihat. Tidak ada belas kasih sedikitpun, para laki-laki itu benar-benar sudah kelewatan tidak punya rasa manusiawi.


Sebentar laki jenazah akan tiba di kediaman Dan. keluarga sudah menyiapkan segala sambutan untuk jenazah.


Semua warga sudah berkumpul. Menunggu pelaksanaan pengajian penghantar mendiang menuju ke kehidupan baru


"Dan kamu sudah memberitahu Vio?"


"belum mom" Dan tidak sanggup mengatakannya.


"Dan cepat katakan yang sebenarnya, Vio berhak mengetahui kejadian yang menimpa ibunya" ucap mommy Dan.


Dan mengetuk kembali kamar yang sedang ditempati Vio.


"Vi hayoo kita makan" ajak Dan.


"iya"


Vio keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh mommy nya Dan.


"Dan kok bajunya seperti ini, mommy tidak salah memberikan ini padaku" tanya Vio yang merasa aneh.


"makan dulu, nanti aku jelaskan, sini duduk" Dan menarik tangannya segera.


"cepat makan, aku tungguin"

__ADS_1


"kamu tidak makan?"


"aku sudah tadi" jawab Dan.


Lama menunggu akhirnya Vio selesai juga menghabiskan makanannya. Dan menatap Vio lalu menggenggam tangan Vio, Vio melihat heran. "ada apa?"


Dan mulai menceritakan apa yang menimpa mama Meri, Vio diam lalu tak sadarkan diri. Semua orang panik. Sungguh malang anak ini. Semua warga berbisik karena merasa kasihan dengan apa yang menimpa keluarga yang terkenal ramah.


Warga melanjutkan semua proses pemakaman, jika sambil menunggu anaknya terbangun.


Vio mulai membuka mata, bangun langsung memeluk erat Dan. Dan tak kuasa melihat landaknya begitu terpukul, Vio mulai melepaskan pelukan itu saat sudah merasakan tenang kembali.


"hayoo Dan, kita ikutin proses pemakaman mama ku, aku harus berada disana menemaninya untuk yang terakhir kali" Dan pun menuruti kemauan Vio menggenggam tangan itu menuntunnya sampai ke hadapan sang ibu.


"mah Vio sudah ikhlas, pergilah dengan tenang" ucap Vio lalu menghapus jejak air mata yang tersisa diwajahnya.


Semua proses berjalan lancar. Vio dan keluarga Dan pulang dengan perasaan tak menentu. Semua diam dengan pikiran mereka masing-masing. Dan mengajak Vio untuk tinggal dirumahnya, Vio pun menyetujui usulan Dan. Dia harus kuat, jika dia sendirian dirumah dia takut akan mengalami hal yang mengerikan.


_____


Keluarga Dan membantu Vio menyembuhkan sakit mental dan trauma yang di alami, bertahun-tahun Vio berusaha untuk sembuh. Keluarga Dan selalu mendampinginya kasih sayang Vio dapatkan dari mereka begitu tulus, Vio tidak merasakan kekurangan.


Kejadian yang menimpa mama Meri pasti menggoreskan luka yang dalam, dan memperhambat kesembuhan Vio.


Keluarga Dan memutuskan mengajak Vio kembali ke kota. Sekalian mengurus kuliah Vio dan Dan, keluarga Dan begitu bergerak cepat agar Vio tidak mengingat kembali hal-hal buruk itu. Vio lambat laut menunjukkan perubahan meski tidak seratus persen dinyatakan sembuh tapi setidaknya keluarga Dan bersyukur Vio ada kemajuan untuk terus menjalankan hidupnya.


Keluarga Dan berencana menjodohkan Dan dengan Vio, semua sudah dibicarakan dan mendapat persetujuan dari kedua belah pihak.


"Vio terimakasih karena mau menjadi menantu mommy, maaf kalau mommy memaksakan hal ini, ini untuk kebaikan Vio biar Dan yang akan terus menjaga Vio selamanya, ya nak"


"iya mom" ucap Vio tersenyum.


Setibanya mereka di kota, langsung mengadakan acara pernikahan yang sederhana, yang hanya dihadiri keluarga besar Dan, kerabat sekaligus orang-orang yang dianggap penting oleh keluarga itu. Untuk wali Vio sendiri adalah pamannya dari keluarga besar papanya, kakak-kakak Vio pun turut hadir setelah lama menghilang mereka muncul begitu saja, setelah mengetahui apa yang menimpa ibunya. Rasa penyesalan sudah tidak berarti lagi semua sudah terjadi, sekarang mereka menjalankan apa yang semestinya. Mereka sudah memulai kehidupan dengan keluarga baru mereka masing-masing dengan kebahagian yang mereka pilih.


Disinilah Vio berada, disebuah apartemen yang mewah yang menjadi hadiah pernikahan mereka. Tanpa keluarga tahu, sebenarnya mereka belum seperti pasangan suami istri umumnya, karena mereka masih canggung dengan status baru.


Sudah sangat lama mereka menjalankan hidup dengan status baru, tapi keduanya memutuskan untuk tetap menjadi seperti teman dan tidak ada yang boleh mengetahui status mereka. Itu lah isi perjanjian antara Dan, dan Vio.

__ADS_1


🌼


🌼


__ADS_2