Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Pindah Kamar


__ADS_3

Malam ini malam yang indah buat keduanya, batasan antara mereka sudah roboh, gengsi mereka juga sudah hilang entah kemana yang ada sekarang hanya bermanja-manja. Vio menggulikan badannya untuk menempel di dada bidang Dan, mengendus-endus tubuh Dan mencari kenyamanan disana.


Dan hanya pasrah menerima perbuatan istri mungilnya. Dia malah bahagia, sangat bahagia Vio nya bersikap manja seperti ini.


"Dan..." panggil Vio.


"apa?", Dan masih mengelus punggung Vio memberikan rasa nyaman itu, tubuh Vio yang kecil dari tubuh Dan, membuat Dan lebih mudah menyembunyikan dalam pelukannya yang menempel erat.


"aku tidak mau punya anak dulu ya Dan, aku takut... takut akan melukainya, emosional ku belum stabil. Nanti malah aku akan menyakiti anakku, aku tidak mau itu terjadi" Vio tiba-tiba saja menangis.


"apa yang kamu katakan, sudah jangan nangis. Aku saja belum menjebol gawangmu kamu sudah membahas anak... aku akan menunggu selama mungkin sampai kamu siap Vi, tapi kalau Tuhan sudah berkehendak atas mu untuk menjadikan seorang ibu. Maka terimalah".


"aku akan selalu membantumu untuk mengurus anak kita, jadi jangan memikirkan hal yang belum terjadi". ucap Dan menenangkan Vio.


"lalu bagaimana, kalau dia hadir lagi, mereka kembali lagi..." lirih Vio.


Dan mengerti arti ucapan itu. Ternyata ketakutan itu masih membelenggu jiwa Vio, entah sampai kapan wanitanya akan menjadi wanita normal.


"tidurlah sudah malam, besok kegiatan kita akan melelahkan. Jangan memikirkan apapun lagi.. cup" kecupan penghantar tidur untuk Vio, Vio mulai memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


.


.


Ponsel Dan berdering, Dan mencari keberadaan benda pipih itu. Ketika berhasil menemukanya Dan menatap nama yang tertera, yaa itu adalah panggilan salah satu anak buahnya.


"iya" ucap Dan.


"maaf mengganggu malam mu tuan, saya ingin menyampaikan kejanggalan atas kematian mendiang nyonya Meri" lapor anak buah Dan.


Dan bergeming, ingatannya kembali ke masa-masa menyedihkan itu. Pihak polisi tidak dapat menemukan pelaku pembunuhan mama Meri, tidak ada jejak sedikitpun yang di tinggalkan oleh pelaku. Semua bersih seperti telah lama di rencanakan, entah dendam apa yang dimiliki pelaku sampai tega melakukan hal keji itu.


"cari sampai dapat, temukan orang-orang itu" tegas Dan dengan suara beratnya.


"baik tuan, tapi ada yang aneh di sekitar kejadian tuan. Hal ini tidak bisa dilihat oleh orang awam, saya telah mencoba berbagai cara untuk menuntas penemuan bukti-bukti kejadian tapi tidak ada apapun. Akhirnya saya berinisiatif meminta para normal setempat".


"hasilnya membuat bulu kudu saya merinding tuan, kalau kematian nyonya Meri, berkaitan dengan alam gaib" sambung sang anak buah.


"apapun itu, cari tahu lebih dalam. Laporkan segera perkembangannya dan ingat jangan terendus orang lain yang akan menimbulkan kehebohan. Tetaplah berhati-hati" jawab Dan.


Sambungan telpon terputus, begitu Dan mendengar suara Vio memanggilnya.


"siapa yang sedang bicara dengan mu" tanya Vio dengan muka bantalnya.

__ADS_1


"bukan siapa-siapa, tidurlah lagi. Aku ada sedikit kerjaan nanti aku akan menyusul mu" terang Dan berbohong.


"jangan lama-lama ya".


Dan tersenyum dengan deretan gigi bersihnya.


"iya sayang, aku keluar kamar dulu ya. Aku ada diruang tamu" ucap Dan lagi untuk meminta izin.


"tidak boleh, disana saja.. ada bangku dan meja atau kalau kamu mau merokok ada balkon. Tetaplah disini jangan tinggalkan aku" suara manja Vio membuat Dan melayang, sikapnya jadi berubah. Vio semakin menempel padanya.


"ok, cup tidurlah lagi".


.


.


.


.


.


.


.


Dan memilih menepati sofa yang ada di dalam kamarnya, dibandingkan harus keluar tengah malam begini. Dan termangu memikirkan semua ucapan atas laporan anak buahnya yang sedang berada di daerah tempat tinggal mereka dulu.


Dan tidak menceritakan ini pada Vio karena takut Vio akan kembali trauma lagi.


"gaib? aahh membuat pusing saja" ketus Dan.


Dan mulai merebahkan tubuhnya disamping Vio, hasil pemikirannya malam ini buntu jika berhubungan dengan hal gaib. Dan pun menyusul Vio ke alam mimpi.


.


.


.


.


.


Ke esokan paginya.


"pagi sayang, hayo bangun kita sarapan bareng tapi sebelum itu kamu harus bersih-bersih dulu. Sana cepet aku tunggu di ruang makan" ucap Dan membangunkan untuk pertama kalinya sang istri.


"hmm, aku masih ngantuk kasih aku dua jam lagi yaa please" mohon Vio mengatup kedua tangannya.


"tidak, sekarang bangun kita akan bebenah kamar semua barang-barang mu sangat banyak tadi aku sudah memindahkan pakaian kamu dan sudah tersusun rapi termasuk dengan pakaian itu.." tawa Dan.


"pakaian apa? itu itu" tanya Vio heran.

__ADS_1


"ini sayang" sentuh Dan.


"aww, geli tau" gerutu Vio langsung menarik kembali selimutnya.


"kamu masih ngantuk, ya udah aku kerjakan sendiri" tutur Dan.


Vio masih diam dibalik selimut, dia menyentuh dada nya yang tadi sempat di sentuh oleh Dan.


Vio berteriak memukul-mukul kasur, wajahnya memerah menahan malu.


Tentu saja dia malu, berarti Dan sudah tau ukuran dadanya. "kenapa dia membereskan pakaian dalamku, memalukan sekali"


Vio tetap pada posisi nyamannya, tidak bergeser sedikitpun. Vio membiarkan suaminya bekerja keras sendiri membenahi semua barang-barangnya.


Bukannya Vio tega, tapi dia tau akan tubuhnya. Tubuh Vio melemah setelah apa yang dia dengar semalam. Ya Vio mendengarkan pembicaraan antara Dan dengan seseorang dibalik telpon itu. Vio sampai meremas ujung bajunya semalam, menyalurkan keterkejutannya, rasa takutnya, maupun kesedihannya.


Dia mengulang kembali dalam ingatan atas tragedi naas yang menimpa mama Meri. Sungguh Vio ingin mengusut tuntas kasus itu tapi keluarga Dan tidak mengizinkan nya, semua kasus itu di limpahan kepada pihak berwenang namun bukannya terselesaikan malam ditutup penyelidikannya.


Vio geram saat itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya menerima semua keputusan yang ada.


"Dan maafkan aku" lirih Vio, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.


Sementara Dan sibuk wara-wiri memindahkan satu persatu barang-barang landaknya.


"lelahnya, jadi aku sendiri yang bereskan ini, baru juga menyandang suami sesungguhnya sudah seperti ini" ketus Dan di dalam kamar lama Vio.


"sabar sabar anak sabar disayang istri, tinggal minta jatah nanti malam sebagai bayaran atas lelahku hari ini" ucap Dan membayangkan lekuk tubuh Vio tanpa busana.


Otak Dan sudah terkontaminasi oleh landak kecilnya, sehingga pikiran kotor tiba-tiba muncul begitu saja. Sebagai laki-laki dewasa mungkin itu hal wajar apalagi sudah menikah, yang terpenting bukan istri orang, pikir Dan dalam diam.


"selesai juga hufh" nafas Dan ngos-ngosan semua badannya terasa sakit.


"kemana landakku suaranya tidak terdengar, apa dia benar-benar mengantuk sampai sesiang ini belum bangun juga"


Dan langsung masuk kedalam kamarnya. Di lihatnya Vio yang masih setia dibawah selimut.


"Vi bangun sudah siang, kamu belum sarapan loh, nanti sakit gimana kita tidak bisa ehem eheman sayang" pikiran liar Dan muncul lagi.


"dasar mesum" gerutu Vio dibalik selimut.


.


.


.


.


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


__ADS_2