Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#33


__ADS_3

Vio masih sibuk dengan hatinya yang berantakkan. Beda hal dengan seseorang yang masih saja menatap dari kejauhan, "Sungguh rezeki yang tak terkira bangun tidur sudah ada bidadari cantik, sayangnya sedang sedih mungkinkah patah hati?!" ucap pria itu tersenyum mengejek.


Nando menyandarkan badannya di bangku taman, masih saja terus menatap Vio. Tanpa berniat menghampiri, bukannya Nando tak peduli dengan kesedihan seseorang namun ia memberikan waktu untuk gadis itu mengeluarkan segala kesedihanya.


"Kasihan sekali sudah satu jam lamanya gadis itu masih menangis tidak lelah kah?"


"Atau air matanya punya stok yang masih banyak, aku tidak pernah melihat gadis sebegitu menderitanya dengan masalah hidup" tambah Nando heran.


Dia hanya menunggu sambil menemani dari jarak jauh jaga-jaga kalau nanti gadis itu punya pikiran untuk bunuh diri, sungguh menyeramkan sekali untuk Nando yang notaben nya adalah pria cuek dingin sama seperti Dan, yang membedakan mereka hanya satu hal yaitu adalah Nando mempunyai sifat playboy yang sesuka hati mempermainkan wanita yang mengejarnya namun dia hanya memanfaatkan itu tanpa mau menjalin hubungan, sekedar mempermainkan saja.


Hal itu di anggapnya sebagai hal yang menyenangkan, karena belum ada satu wanita pun yang bisa meluluhkan seorang Nando.


Nando mulai melihat jam di tangannya, sudah waktunya ia harus kembali ke kediaman eyang nya. Tapi Nando tidak tega harus meninggalkan gadis iti sendiri padahal belum pernah sekali pun Nando peduli dengan seorang wanita, berbeda dengan Vio justru tangisan Vio mampu menggetarkan hatinya ia ikut merasakan kepedihan gadis yang belum di kenalnya itu.

__ADS_1


"Mau sampai kapan dia menangis terus, yaa Tuhan kok engga kelar-kelar juga, aku harus cepat kerumah eyang sebelum dia mengamuk bisa-bisa aku di suruh tidur di luar lagi" pikir Nando menggaruk tekuknya yang tak gatal.


"Apa aku harus menghampirinya?!"


"Sebaiknya memang harus", akhirnya dengan berat kaki (hahahahaha maklum guys kakinya ada betonnya🤣✌️) Nando melangkah ke arah Vio yang tak jauh dari tempatnya.


Nando semakin memandang Vio, "Mata itu kenapa indah sekali, tajam dan memukau" gumam Nando tersenyum.


"Sepertinya aku menemukan belahan jiwaku, dari sekian banyaknya wanita murahan yang rela menawarkan apa pun untuk ku termasuk tubuhnya, menjijikan sekali bukan?! miris banget mereka hidup hanya untuk pengorbanan bodoh" Tawa sinis Nando mengingat semua cara busuk yang di lakukan wanita-wanita liar di hidupnya.


Nando masih menjaga dirinya, ia mempunyai batasan dalam hidup apalagi kedua orang tuanya sudah tiada sejak ia masih sangat kecil. Nando di besarkan oleh eyang nya mereka hidup hanya berdua karena opa nya sudah lama juga meninggal. Jadilah mereka hidup di sekelilingi dengan para pekerja yang siap siaga melindungi mereka.


Keluarga Nando lebih berkuasa di banding keluarga Dan, bisa di katakan Nando lebih kaya dari Dan suami Vio itu.

__ADS_1


"Hey, berhentilah menangis.. Apa kamu tidak lelah?! Tanya Nando dengan suara khas nya.


Vio menoleh ke sumber suara yang sudah mengganggu ritual tagis-menangisnya. Vio tersenyum sinis ke arah Nando dan itu berhasil di lihat seorang Nando yang tidak pernah ada sekali pun orang berani menampakkan wajah menyebalkan di hadapan nya.


"Hey.. Jangan menyebalkan seperti itu wajah mu jadi tambah jelek sekali, apa kamu tidak punya cermin?! Coba lihatlah betapa buruk sekali kondisi mu ini..." celetuk Nando


"Apa kamu bilang, hah.........."


🌸


🌸


🌸

__ADS_1


__ADS_2