Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Matahari Pagi


__ADS_3

Kejadian semalam membuat Vio masih terlelap dalam tidur panjangnya, Vio bisa kembali dengan perdebatan panjang yang dilakukan antara si makhluk dan nenek tua yang sudah membantunya. Entah perjanjian apa yang telah di sepakati hingga akhirnya semua selesai begitu saja. Tubuh Vio yang masih lemah akibat perjalanannya menembus dunia lain, membuatnya harus merasakan efek dari kejadian mengerikan itu.


Mama Meri yang tidak bisa tidur semalaman karena harus menjaga Vio, khawatir jika sesuatu akan terjadi lagi jika mama Meri tidak terjaga matanya. Rasa ngantuk yang melanda pun tidak di hiraukannya. Lelah pasti, tapi mama Meri bisa melawan perdemoan akan tubuhnya yang terus melawan jalan pikiran dan hati yang di rasakan mama Meri.


.


.


.


.


.


.


Sinar matahari pagi begitu menelusuk luas, memenuhi pencahayaan dirumah itu. Mengganggu si penghuni rumah untuk segera membuka matanya menyaksikan keindahan yang terpancar begitu terangnya. Mama Meri yang tidak tidur semalaman sudah di sibukkan lagi dengan segudang aktivitas pagi. Pekerjaan rumah yang biasanya di bantu oleh Vio kini hanya mama Meri yang mengerjakannya tanpa rasa lelah sedikit pun, raganya seakan memberinya kekuatan kembali untuk bertahan menyelesaikan setiap kegiatan rumah di pagi ini. Tak sedikit harapannya jika nanti setelah menyelesaikan kerjaannya mama Meri bisa melihat senyum yang terpancar di wajah cantik putri kesayangannya.


Semua sudah selesai, memasak pun sudah tapi Vio masih tak kunjung membuka matanya. Harus berapa lama lagi mama Meri menahan rindu suara anaknya. Tanpa terasa air mata mulai menampakkan diri menghiasi wajah lelah mama Meri. Hari ini atau untuk beberapa hari kedepan mama Meri mengambil cuti kerjanya dengan beralasan untuk mengistirahatkan diri dan menjaga putrinya. "Vio bangun nak, sekarang sudah pagi tidakkah kamu merindukan mama sayang?" suara lirih begitu menyayat hati. Pelukan erat terhadap tubuh putrinya sudah tersalurkan lalu apalagi yang harus dilakukan mama Meri untuk menyadarkan anak kesayangannya.


.


.


.


.


.


Tok


tok

__ADS_1


tok


Suara ketokkan pintu terdengar jelas. Mama Meri beranjak dari posisinya, berjalan ke arah pintu rumahnya. "siapa". tanya mama Meri ada rasa ketakutan jika nanti ada seseorang yang akan mencelakakan anaknya, kejadian semalam begitu membekas bagi mama Meri yang memberikan rasa trauma itu sendiri.


"ini saya Dan, tante" suara Dan diluar terdengar lembut. Mama Meri pun tersenyum begitu saja, karena mama Meri sudah mengenal Dan. Dan adalah satu-satunya teman Vio yang begitu baik, sopan sekaligus melindungi Vio. Mama Meri sangat menyukai Dan, sampai-sampai mama Meri memberikan kepercayaan penuh terhadap Dan atas Vio. Mama Meri tau Dan tidak akan menyakiti anaknya. Mama Meri bisa menjamin semua itu, perasaan di hatinya mengatakan demikian. Penilaian untuk seorang anak laki-laki remaja yang menjadi orang terbaik untuk berada di sisi putrinya.


"tante, kenapa melamun?" tanya Dan yang dibuat bingung dengan tatapan tak biasa yang di berikan mama Meri kepadanya saat ini.


"ahhh tidak, tii tidak tante tidak melamun kok, ayuk masuk Dan" ajak mama Meri.


"makasih tante, aku tunggu diluar aja, apakah Vio nya ada tante?".


"Vio ada di dalam, tapi....." mama Meri terdiam sesaat antara harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


"tante..." panggil Dan.


"aahhh iyaa ... iyaaa, masuk dulu yuk nanti tante jelaskan di dalam yaa" akhirnya mama Meri memutuskan untuk menceritakan semuanya sama Dan.


"kamu mau minum apa, Dan?".


"tidak ada yang merasa direpotkan Dan, engga apa-apa tante buatkan minum aja yaa, kamu jangan sungkan, kamu tunggu sini dulu ya?!". Jelas mama Meri pada Dan.


"baik tante, terimakasih sebelumnya" ucap Dan dengan sopan. Mama Meri hanya tersenyum melihatnya.


Mama Meri pun menuju dapur untuk membuatkan minum, buat Dan. sebelum menuju dapur mama Meri menyempatkan untuk melihat keadaan Vio dikamarnya. "masih terlelap rupanya" raut sedih jelas terlihat di wajah yang sudah tak muda lagi.


Setelah selesai membuatkan minum untuk Dan, mama Meri menuju ruang tamu kembali, duduk menghampiri Dan yang terlihat melamun tanpa menyadari kehadiran mama Meri.


"Dan, ini minumnya nak. Kamu kenapa melamun, hayooo ada yang kamu pikirkan" tanya mama Meri dengan tersenyum ramah.


"tidak tante, makasih untuk minumannya tante, Dan minum yaa?!" ucap Dan sopan.


"tante, Vio dimana kok tidak kelihatan? biasanya dia selalu heboh sendiri kalau Dan datang, apa Vio tidak ada dirumah?" tanya Dan dengan wajah penasaran. Mama Meri menghela nafas panjang lalu akhirnya mencoba memulai menceritakan sebenarnya yang terjadi terhadap Vio.

__ADS_1


"Dan, ada yang mau tante jelaskan sebelum Dan menemui Vio dikamarnya" ucap mama Meri.


"ada apa tante, seperti ini serius ya, baik Dan akan mendengarnya".


"begini Dan, Vio mengalami hal yang tidak terduga kemari tepatnya dimulai saat tante pulang kerja melihat keadaan Vio sudah tidak sadarkan diri namun menjadi histeris" hembusan nafas keluar begitu saja dari mulut mama Meri, terasa begitu berat harus mengingat dan mengulang kembali kejadian itu.


"aaaa.... aaaaapppaaa" ucap Dan yang mulai merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi.


"iya Dan, tante sudah berusaha namun Vio tetap seperti itu, sampai tante keluar namun tidak meninggalkan rumah. Tante hanya berteriak meminta tolong, berharap ada yang lewat dan membantu kami. Namun hingga menjelang malam tiba tidak ada satupun warga yang lewat, tante mulai putus asa, tubuh tante melemah tak berdaya, menangis tanpa tau harus melakukan apa lagi untuk membantu Vio kembali sadar, hingga ada seseorang nenek tua datang menghampiri, tante tidak mengenalnya hanya saja tante pernah melihatnya dulu saat pertama kali kami menginjakkan kaki kesini, nenek tua itu menghampiri tanpa berbicara sepatah katapun".


"nenek tua itu membantu tante, menenangkan tante jika semua akan baik-baik saja, akhirnya tante mengajaknya untuk menemui Vio dan anehnya setelah melihat kondisi Vio nenek itu marah karena ada yang mengusik Vio. Tante bingung Dan saat itu tante sungguh tidak memahami kondisi apa yang sebenarnya nya terjadi pada Vio".


"perdebatan panjang pun terjadi, makhluk itu tidak mau melepaskan Vio, suaranya begitu sangat menyeramkan Dan". lagi lagi mama Meri menghela nafasnya, memberikan udara pada pernafasannya sebelum kembali menceritakan kejadian mengerikan itu.


"sampai dimana, ada sebuah kesepakatan terjadi antara si makhluk tersebut dengan nenek tua. Tante tidak mengerti mereka membicarakan apa yang tante pikiran hanya Vio, bagaimana caranya untuk Vio harus kembali sadarkan diri lagi".


"dan setelah itu, kondisi Vio mulai membaik tidak ada jeritan ketakutan, tidak ada air mata yang keluar di wajah cantiknya hanya saja sampai saat ini Vio masih terlelap di bawah alam sadarnya. Vio masih betah menutup matanya Dan, tante bingung tante harus melakukan apa lagi, tante merindukan suara Vio, Dan" ucap mama Meri dengan tangis yang tiada henti dari awal menceritakan sampai selesai.


"Dan kamu, kenapa?".


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2