Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Tidak Terkendali


__ADS_3

Vio menatap wajah tampan yang ada percis dihadapannya hanya berjarak lima centi. Hembusan nafas Dan bisa Vio rasakan, namun tidak dengan debaran jantung si pria dingin itu. Jantung Dan terpompa lebih cepat dari orang normal pada umumnya, jelas jantungnya berdegup sangat kencang karena bukan hanya wajah pemilik hatinya yang tepat didepan matanya, tapi juga posisi landaknya yang membuat Dan berusaha penuh mengendalikan diri. Ini seperti mengujinya, rasanya Dan ingin menerkam si pemilik hati.


"Vio bisakah kamu turun dari pangkuan ku" ingin Dan mengutarakan itu, tapi rasa gengsi yang sedang menyelimutinya terlalu besar. Dan ingin Vio tau kalau dia benar-benar sedang marah, bukan sekedar akting belaka.


Dan tetap memilih diam, menyaksikan langit yang kosong sekosong jiwanya.


"andai saja.... andai.... arrrggghhh andai sajaaaa kamu tau posisimu bisa membahayakan dirimu sendiri laaannnndddaaakkkkk, kenapa seperti ini. Kau sungguh ingin menyiksa ku lebih dalam atau menguji kejantanan ku. Vi kamu benar-benar keterlaluan, sikapmu membuatku frustasi karena harus menahan gejolak ku sendiri tanpa diizinkan untuk menyalurkannya" gerutu Dan dalam hati.


Dan masih dengan kepura-puraannya. Berpura-pura baik-baik saja padahal Dan sudah ingin teriak sekaligus memaki wanitanya.


Vio masih saja diam, menatap wajah Dan tanpa berniat menyudahi tingkah anehnya. Vio hanya sedang mengikuti tindakan hatinya yang ingin seperti ini, tapi dia juga enggan berterus terang pada Dan. Mereka sama-sama memiliki tingkat gengsi yang saling berkejaran, padahal tidak ada perlombaan didalamnya.


Vio yang masih nyaman dengan posisinya mulai menggerakkan tangannya untuk menyentuh si pemilik wajah. Tangan Vio membelai lembut wajah Dan, entah apa yang sedang di bayangkan wanita si penguji nyali orang. Bisa-bisanya memberanikan diri menyentuh, aahhhhh bukan hanya menyentuh tapi lebih tepatnya sedang menyelusuri pahatan indah yang di ciptakan tuhan.


"sungguh kamu membuatku lupa akan batasan itu, Dan". ungkap Vio dalam hatinya.


Sementara Dan masih tetap pada pendiriannya.


Dan membiarkan si landaknya berbuat semaunya, memberikan kebebasan atas tubuhnya. Dan sudah pasrah dengan situasi ini yang akan berujung apa nantinya.


Dan tidak ingin mandi malam-malam hanya untuk menyelesaikan sisa ulah dari landaknya, itu terlalu menyedihkan. Jiwa kepriaannya sedang di pertaruhkan disini. Di tangan mungil, tangan yang tidak tau permisi sedang bebas berkeliaran diwajahnya.


"tahan... tahan.... tahan...." lirih Dan. yang masih tetap berbicara dengan mode diam.


"yaa tuhan, kepalaku sakit, hatiku lebih sakit, tapi si kelinci kecil yang berada di dalam celanaku lebih menderita" lanjutnya.


Sepasang suami istri yang aneh, mungkin jika orang lain tau mereka akan menjadi bahan gosip yang bisa menghibur dan menciptakan keseruan untuk mengejek.


Pernikahan macam apa yang mereka jalani, sama-sama posesif, sama-sama mengatur, sama-sama ingin di perdulikan, sama-sama ingin di mengerti, sama-sama gengsian, sama-sama perhatian, sama-sama ingin menang sendiri, sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama menjaga, sama-sama berkorban, sama-sama merasa sakit menahan gejolak hati, sama-sama seperti di permainkan oleh cinta, sama-sama tidak bisa berjauhan, sama-sama menolak kehadiran orang lain, sama-sama munafik, sama-sama bertahan, sama-sama ingin memiliki, sama-sama ingin selalu bersama, sama-sama tidak berniat mengakhirinya, sama-sama memilih diam, sama-sama berlawanan dengan hati mereka, sama-sama membuat batasan, sama-sama satu tujuan hidup. Aahhh kebanyakan sama-sama kenapa tidak bersama saja.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Kelinci Dan semakin memaksa untuk keluar kandang, namun si pemilik masih saja mencegah kelincinya keluar. Karena takut tidak akan menemukan makanan kesukaan di dalam hutan. Hutan rimba, siapa saja yang berhasil memasukinya akan mendapatkan kepuasan dan rasa kenyang, tapi bukan kenyang untuk perut melainkan kenyang batin.


"Dan, aku... aku ingin mencobanya" pinta Vio.


Saat kata itu terlontar begitu saja, membuat Dan bingung apa maksud tujuan Vio. Mencoba apa, yang mana. Dan dibuat mikir padahal kondisinya aja tidak bisa membuatnya fokus, malah disuruh mikir. "kenapa tidak mengucapkan secara jelas" gerutu dalam diam, Dan gemas bukan kepayang.


"Dan jawab aku, apa kamu mau?"


"mau apa laaannnndddaaakkkkk, haduh kamu benar-benar yaa, tidak bisakah menyudahi teka-tekinya aku sedang tidak ingin menggunakan otak ku untuk berpikir" ucap sebal Dan yang masih saja bertahan diam.


Vio gereget sendiri karena Dan tidak sama sekali meresponnya. "apa Dan benar-benar marah? apa aku harus memulainya, bagaimana jika dia tambah marah?!" ucap Vio dalam hati.


Tuh kan benar saja, mereka sama-sama keras kepala. Memilih diam dan berbicara dengan hati, hati saja tidak punya mulut, bagaimana bisa memberitahu agar bisa masing-masing mengerti.


"ah baiklah aku yang mengalah, dasar es batu, tidak peka. Punya nafsu apa tidak sih nih orang kenapa kuat sekali menahan godaan, atau aku tidak menarik dimatanya. Awas saja jika bener penilaian itu, aku buat matamu tidak bisa melihat keindahan dunia" sebal Vio, yaa yaa masih dengan bicara sama hati.


Akhirnya Vio memberanikan diri, melangkah menghancurkan gengsi tebalnya. Vio semakin mendekatkan wajahnya, menjangkau ukuran yang pas untuk posisi mendarat.


Dalam persekian detik, berhasil buat Dan menoleh. Merasakan benda lembut yang menyentuh bibirnya.


Vio masih dalam posisi itu, tanpa mengubah gerakan. Karena sejujurnya Vio tidak mengetahui cara berciuman, dia hanya menempelkan saja bibirnya ke bibir Dan. Lama dengan posisi mereka saat ini, yang mana mata mereka saling pandang.


Tidak mendapatkan respon, akhirnya Vio menyudahi acara tempel menempel. Dia pikir lebih baik menempelkan gambar ke kertas bisa terlihat indah. "ciuman tidak seindah itu" ucapnya pelan dan berhasil membuat Dan menarik sudut bibirnya.


"memangnya apa yang kamu harapkan atas tindakanmu ini?" tanya Dan, ya akhirnya tuhan sudah mengembalikan suara si manusia es.


"tiii...tiiidakk ah yaa sudah lupakan saja, aku mau tidur" Vio ingin turun dari pangkuan itu, namun Dan menahan pergerakannya.


Membuat Vio menoleh, "kenapa menahanku"


"katakan, apa tujuanmu?" kalimat itu terlontar kembali. Vio langsung mengendus sebal.


"aku ingin mencoba berciuman, agar tau tentang hati ini, apakah sudah tumbuh" ucap Vio sambil menunjuk letak hatinya.


Dan yang pintar, sudah memahami tujuan si landaknya itu. Baiklah dengan senang hati menerangkannya, dengan cara praktek tentunya.

__ADS_1


"yakin ingin mencoba?" tanya Dan memastikan.


"iya, apa kamu mau?" jawab Vio.


"dengan senang hati, tapi setelah selesai apa kamu akan jujur dengan apa yang akan kamu rasakan nantinya?"


"iya"


"bagaimana kalau kita tidak bisa terkendali dengan situasi itu? apa kamu tidak keberatan, jika kita melewati batasan yang telah kita sepakati?" lagi-lagi Dan ingin benar-benar memastikan, takut jika bablas Vio akan mengamuk padanya karena sudah berani melanggar.


Lama Vio berpikir. Akhirnya menganggukkan kepala tanda setuju. anggukan Vio adalah kemenangan untuk Dan, rasanya Dan ingin langsung menyeretnya dalam gelombang yang memabukkan.


.


.


.


.


.


.


_________


Mereka pun saling pandang menciptakan suasana romantis.


Dan mulai menarik tubuh Vio lebih mendekat ke arahnya, tanpa perlu meminta izin Dan mendaratkan bibirnya dengan sempurna ke bibir Vio lalu mulai menyesap lembut, ********** secara perlahan untuk memberikan sensasi. Vio mengikuti setiap langkah demi langkah yang telah Dan lakukan, mendapatkan balasan atas ciumannya membuat Dan langsung menarik tekuk leher Vio untuk memperdalam ciuman mereka.


Dan menggigit____


.


.


.


.


🌼

__ADS_1


🌼


_Mohon minum dulu haus_


__ADS_2