
Lima tahun kemudian.
Vio yang ingin keluar untuk berangkat ke kampus baru yang sudah lima tahun terakhir menjadi tempat belajar mengemban ilmu.
Eyang sudah memilihkan kampus dan memasukkan Vio di universitas yang di dirikan nya. Bukan hal susah untuk seorang pengusaha kaya hanya saja cuma cucu nya yang tak memiliki minat sedikit pun.
Dengan balutan kaos putih polos yang di pakai oleh tubuh mungil nya dengan bawahan jeans yang pas di pinggang namun terlihat longgar di bagian paha kebawah.
Rambut tergerai panjang tak lupa Vio mengenakan topi lalu kaca mata hitam dan masker untuk menutupi wajah nya. Sudah menjadi kebiasaan nya menutupi wajah agar tak di kenali siapa pun, bahkan identitas nya tak di ketahui oleh orang-orang di masa lalu nya.
Vio bagaikan terlahir kembali, menjalankan hidup yang sesuai keinginan nya bebas tanpa ikatan dengan lawan jenis. ''Selesai'', ia menatap diri nya dari pantulan cermin.
.
.
.
.
Vio mengambil jurusan kedokteran, menyimpang dari jurusan yang ia ambil di kampus nya dulu.
Entah apa yang membuat Vio pindah haluan, ia hanya merasa ingin menyembuhkan banyak orang dengan kemampuan nya nanti.
''Kamu sudah rapi? Sini temani Eyang sebentar''.
Vio tersenyum dan berlari menuruni anak tangga, ''Iya Eyang, dengan senang hati Vio akan meluangkan waktu sebanyak mungkin untuk Eyang''. deretan gigi dengan senyum menggemaskan.
''Kapan kelulusan kamu, bukan nya sebentar lagi? Kenapa masih aktif bulak-balik ke kampus saja?'', tanya Eyang yang pasti sudah mengetahui jadwal kampus milik nya sendiri.
''Iya Eyang, tapi Vio ada sedikit urusan sama tim pengembang untuk nanti penepatan langsung acara terakhir pengadaan kampus. Vio ikut melibatkan diri hanya membantu sedikit saja agar acaranya tetap sesuai keinginan bersama''. Jelas Vio pada sang Eyang.
''Setelah itu Vio mau melihat rumah sakit, Vio mau mengunjungi satu per satu sekalian suasana rumah sakit mana yang nyaman buat Vio kerja nanti'', ucap nya kemudian.
''Bekerja sama di rumah sakit Eyang, nanti kamu di bimbing sama Tristan. Dia teman Nando juga''.
Vio mendaratkan tubuhnya untuk memeluk sang Eyang yang sudah ia anggap sebagai malaikat hidup sekaligus nenek nya.
''Baik Eyang'', ucap Vio. Ia bersyukur bisa melewati setiap permasalahan yang terjadi dalam hidup nya dan bertemu dengan orang-orang yang sangat baik.
.
__ADS_1
.
.
.
Di sebuah ruang yang sunyi dengan pemandangan bangunan-bangunan tinggi ibu kota. Nampak Nando yang sedang bergulat dengan banyak nya berkas penting perusahaan masih fokus tanpa memperdulikan makhluk cantik yang ada di depan nya.
Wanita itu masih menunggu Tuan nya hingga selesai menandatangani berkas yang tadi sempat di serahkan nya.
Nando melempar berkas ke depan meja nya, menandakan si penunggu untuk cepat mengambilnya, begitu lah kira-kira sifat Nando sekarang yang dingin jika di hadapkan oleh wanita. Semenjak hati nya sudah di penuhi makhluk mungil yang kini telah tumbuh semakin dewasa.
Sebelum sekretaris itu ingin menucapkan untuk undur diri, Nando malah menyela dan berkata. ''Turunkan pandangan mu jika berhadapan dengan saya''. Tegas nya tanpa menoleh ke wanita cantik yang sudah lama menyimpan rasa sama bos nya sendiri.
''Besok urus kepindahan mu kebagian lain'', ujar nya kembali.
Wanita itu tertunduk lesu, karena tidak bisa lagi melihat bos nya sedekat ini jika di pindahkan ke bagaian lain. ''Maafkan saya, Tuan''.
''Keluarlah'', tegas Nando yang masih memancarkan aura kepemimpinan yang selalu di seganin, di tambah dengan sikap acuh dan dingin jika sama orang lain.
Pintu ruangan pun kembali tertutup rapat, setelah wanita itu keluar. ''Bikin tambah pusing aja'', gerutu nya seraya bersandar di bangku kebesaran nya.
''Seharusnya aku sudah menikah dengan umur segini, tapi masih saja menjomblo''.
.
.
.
.
Ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Vio, acara kelulusannya. Belajar sangat keras agar bisa mendapatkan nilai yang bisa di banggakan nya di hadapam sang Eyang maupun Nando. Kini Vio berhasil mewujudkan nya.
Bagaikan Tuhan yang terus menerus menghujani kebahagiaan sekarang dalam hidup Vio.
Ia tersenyum puas di depan panggung, beribu-ribu rasa syukur dan terimakasih nya akan kehidupan sekarang yang ia harapkan akan terus berjalan sesuai keinginan nya.
''Terimakasih banyak Tuhan.. Terimakasih telah mengajarkan akan banyak hal dan menarik ku kembali dalam kebahagian yang di kelilingi oleh orang-orang terkasih''.
Vio menatap banyak orang dengan iringan tepuk tangan yang terdengar keras menggema di ruangan itu. Ia meneteskan air mata haru bisa sampai di titik ini.
__ADS_1
Meskipun penampilan Vio yang di nilai misterius dan sebagian orang menganggapnya aneh, Vio tidak memperdulikan nya. Vio masih belum siap menampakkan wajah yang tersembunyi di balik masker dan kaca mata hitam nya.
Berbeda dengan Eyang dan Nando yang menatap bangga pada Vio yang telah menjadi mahasiswi dengan nilai tertinggi. ''Tidak sia-sia aku mengasah otak seperempat nya itu, sekarang dia sudah menjadi wanita yang cantik, dewasa dan pintar''.
''Aku bangga sama kamu Vii teruslah bahagia jangan biarkan kesedihan datang lagi dalam hidup mu, aku pun tidak akan membiarkan itu terjadi''. Ucap Nando dengan senyum haru memandang Vio yang masih berdiri mengucapkan pesan dan kesan terakhirnya.
Gemuruh tepuk tangan masih mengiringi Vio. ''Aku akan terus mencintaimu Vio...''.
.
.
.
.
🌸
🌸
🌸
🌸
^TAMAT^
Pesan dari aku :
Hai salam kenal dan salam perpisahan dari aku. Makasih untuk like, coment nya.
Maaf aku tidak bisa memberikan kalian dengan menampilkan karya yang bagus untuk di baca.
Maaf aku hanya penulis amatir yang tidak bisa membuat karya, alur ceritaku yang di nilai ribet atau semacamnya. Aku minta maaf, aku gagal dan aku tidak mampu bersanding dengan penulis lain di NT ini.
Sebenernya karya ini belum selesai menguak semua misteri di dalam nya. Tapi aku sudah menyerah dan menamatkan karya ini.
Aku menjadi pesimis dan tidak percaya diri lagi hehehehe..... 😊
Aahh banyak sekali author yang aku sukai di NT ini, karya mereka luar biasa bagus. Doa terbaik dan semangat untuk semua author NT lope lope lope untuk kalian.
Ternyata menulis itu susah juga 😃✌️
__ADS_1
Bye bye 💜💜💜💜💜💜💜