Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#37


__ADS_3

Vio sampai di kampus nya, jadwal kelas Vio siang hari ini berbeda dengan jadwal Dan.


Namun Vio sudah pergi sebelum Dan terbangun, maka dari itu Vio tidak sempat sarapan.


"Viiii..."


Deg


Suara itu membuat Vio diam tak melanjutkan langkahnya.


"Vio, kok diam saja? hayoo cepat masuk sebelum dosen killer sampai duluan ke kelas kita" ucap Zefa teman dekat Vio.


Vio dan Zefa menjadi dekat setelah menjadi satu kelompok dalam tugasnya, sifat Zefa yang ceria dan blak-blakan membuat Vio cocok berteman dengannya.


"Hayoo Vii", tarik paksa Zefa mengajak Vio langsung masuk ke dalam kelas. Sementara Dan termangu menatap sang istri yang mengabaikan nya.


"Maafkan aku, Viii" ujar Dan.


.


.


.


.


Zefa menatap penasaran dengan Vio, "Kamu kenapa seperti menghindari Dan, biasanya kalian lengket kaya donat di kasih coklat hahaha" Zefa tertawa membayangkan pikiran konyolnya.

__ADS_1


Vio mendesis sinis "Aku engga mau bercanda, Zef". "Oh baiklah maaf", ujar Zefa merasa bersalah.


"Terus kenapa dong, kalian bertengkar kah? Atau dia dingin nya kambuh lagi? dasar beruang kutub harusnya dia itu bersyukur masih ada yang betah bertahan dengan suhu dingin, masih aja buat kamu begini.. Bukan begitu, Viii? mau aku sampaikan engga buat dia berendam aja di air panas agar cair tuh si beruang kutub berubah jadi ayam kampung aja sekalian, kalau apa-apa nurut tinggal tabur beras aja hahahha... Iya kan Viii?!" rentetan panjang Zefa membuat Vio geleng-geleng kepala.


"Nemu dimana ya aku dulu, bisa punya temen yang otaknya 1/4 doang" ejek Vio yang langsung merebahkan kepalanya di atas meja.


"Gini-gini aku menyenangkan, pintar.. Pintar cari teman yang bisa bayarin aku makan tiap hari" celetuk Zefa tanpa rasa malu.


"Dasar kamu ini, mau nya gratisan aja tapi bagus juga tugas aku kelar karena punya teman pintar dengan dompet tipis" ejek kembali Vio.


Zefa tidak merasa sakit hati sedikit pun, karena Zefa tau kepribadian Vio galak tapi baik hati.


"Ya udah jangan galau-galau, aku tau kamu suka sama Dan?" tanya Zefa yang ikut merebahkan kepala nya di meja juga.


"Entahlah...."


"Oh, ambil lah aku sudah kenyang selama perjalanan ke kampus aku sudah abiskan satu kantong belanjaan yang penuh cemilan dan itu satu kantong lagi buat kamu aja"


"Wah temen yang baik hati, terimakasih"


Zefa jadi terbangun dan kembali semangat, dua wanita itu ada kesamaan jika ketemu makanan udah lupa diri.


"Pelan-pelan makannya, bagaimana ada yang mau naksir kamu kalau makan aja kaya anak kecil gitu!".


"Aku engga mikirin cowok Vii, hidup aku udah susah tambah susah lagi kalau harus berurusan dengan hati, nanti aku jadi bego kaya kamu".


"Kamu benar", Vio membenarkan ucapan teman baiknya itu.

__ADS_1


Vio muncul ide yang tiba-tiba mendarat di otak minimalis nya itu, "Zef, aku tinggal sama kamu sementara boleh engga?" tanya Vio.


"Boleh, asal makan di tanggung kamu, gimana? tawar Zefa.


"Dasar perhitungan" ucap Vio memukul pelan bahu Zefa.


"Ok, deal".


"Tapi aku izin sama Dan dulu engga ya.." gumam Vio pelan.


.


.


.


.


Dan masih setia menunggu di depan kelas Vio, seketika itu sosok Sisil muncul dari arah belakang dan langsung memeluk erat tubuh tegap pangeran hatinya.


Bersamaan dengan itu Vio keluar dan melihat pemandangan yang menjijikan matanya.


"Kalian cocok...", ucap Vio berlalu begitu saja di ikuti oleh Zefa yang mengejarnya.


🌸


🌸

__ADS_1


🌸


__ADS_2