
Zefa terus berlari kecil mengejar Vio yang sudah bisa ia pastikan hatinya retak.
Vio diam dan melihat ke arah belakang, "Cepat sedikit" ketus Vio.
"Aku baru saja mengisi perut sudah di ajak olahraga lagi aja" keluh Zefa pada Vio.
Mereka pun sampai di depan apartemen, tempat dimana ia tinggal bersama suami kutub nya itu.
Vio setuju dengan julukkan yang Zefa berikan padanya, "Kamu tunggu sini, jangan ikut aku naik ke atas, aku cuma sebentar mengepasi pakaian ku" jelas Vio kemudian ia tidak mau status nya akan di ketahui oleh teman baiknya.
Vio berjalan cepat agar tidak ketemu Dan nanti nya, dia tau pasti Dan akan cepat menemukan dirinya di sini.
Vio mengambil koper dan tas besar ia memasukkan semua pakaian dan semua keperluarnya, selesai berkemas Vio dengan gerakan cepat meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
Di kampus Dan menatap tajam, seraya menghempaskan tangan sialan itu di tubuhnya.
"Brengsek....", ucap kasar Dan menampar keras Sisil di hadapan banyak orang.
__ADS_1
"Dengar wanita murahan, kamu lupa peringatan pertama ku waktu itu? Hahhh? Sekarang kamu ulangi lagi dengan cara yang lebih murahan, apa orang tua mu gagal mendidik mu?".
Suara keras Dan memancing perhatian orang semakin banyak mereka di kerubungi, dan banyaknya cibiran yang di dapatkan Sisil karena sudah berani mengganggu macan kampus itu.
"Dasar wanita murahan, pantas saja Dan memaki nya kelakuannya aja sama kaya wanita ******"
"Kaya tapi gampangan, kasihan sekali hidupnya"
"Mana ada yang mau sama wanita bekas om om itu, dia aja sering pergi ke club"
"Mencari kehangatan di siang hari, seperti nya sudah tidak ketahan hahahhahahaa" tawa mengejek sebagian orang yang menonton keributan itu".
Tak sampai di situ kepuasan amarah Dan, ia harus memberi peringatan keras pada wanita di hadapan nya ini.
Hanya berjarak berapa centi dari wajah Sisil, Dan langsung mencekal leher wanita manis tersebut membisikkan sesuatu ke telinga Sisil, "Aku bisa menjadi pembunuh tanpa jejak, hanya butuh beberapa menit untuk mengantarkan mu ke alam bakar, wanita sialan" ucap Dan yang berhasil membuat bulu kudu Sisil merinding di tambah tubuh Sisil gemetar hebat hanya dengan kalimat ancaman itu langsung di respon cepat oleh tubuhnya.
Wajah Sisil sudah pucat, namun cekalan di lehernya belum di lepas oleh Dan. Dan menatap wanita penghancur harinya itu dengan dingin sampai Sisil bersusah payah melepaskan cengkraman itu, ia tak mau mati sia-sia seperti ini.
Air mata membasahi wajah manis Sisil, tak ada satu orang pun yang mau membantunya.
Pada saatnya Dan melepaskan setelah ia puas melihat wajah pias itu.
"Kalau hal ini tidak membuat mu menyerah, tunggu lah hadiah indah dalam hidup mu yang akan menjadi tangisan memilukan bagi orang tua mu", ujar Dan berlalu meninggalkan tempat ramai yang membuatnya muak.
Sisil terjatuh ke lantai, memegang lehernya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Kamu kejam Dan, apa aku salah mencintai mu?"
.
.
.
.
Dan menuju parkiran dimana mobilnya terparkir, ia harus cepat pulang, pasti landaknya sedang mengurung diri di kamar mereka.
Dan memukul keras stir mobilnya, menumpahkan segala amarah sebelum bertemu dengan istrinya nanti.
"Vio akan tambah marah dengan ku" lirih Dan yang nampak khawatir menjelaskan nya nanti.
.
.
.
.
_______
__ADS_1