
Kamar Vio di sulap dalam sekejap oleh Eyang yang tentu nya atas permintaan Nando yang ingin Vio di rawat di rumah saja. Sejujurnya usulan ini bukan dari dirinya melainkan dokter Tristan, Nando hanya mengiyakan yang terbaik buat Vio.
''Bukan seperti rumah sakit cuma memang sedikit saja mirip nya'', ujar Nando setelah sampai di kamar Vio.
Kamar Vio memang bukan rumah sakit tapi tetap saja banyak nya alat yang sama percis berada di kamar rawatnya membuat Vio muram seketika. ''Ini sama saja, tidak ada bedanya'' gumam nya pelan dalam hati saja.
Nando masih menggenggam tangan Vio, menuntun nya sampai di tepi ranjang.
''Istirahatlah, sudah cukup waktu mu sudah habis terbuang. Jangan sia-sia kan aku dan Eyang yang masih setia di sisi mu''.
Mata Nando menisyratkan kekecewaan bercampur rasa sedih yang di tujukan untuk orang yang sedang menatap nya dalam diam.
Mereka terbang dengan pikiran masing-masing, tatapan yang saling mengikat kedua nya hingga beberapa saat, sebelum Vio memutuskan mengalihkan pandangan nya.
''Aku masih kuat bertahan menunggu mu kembali, jangan memaksakan untuk bisa sehingga kamu mematahkan harapan yang tersisa''.
Hanya Nando yang masih saja berbicara tanpa ada respon balik dari lawan.
''Gunakan sisa harapan mu, untuk membuktikan bahwa kamu lebih besar dari masalah mu sendiri''. Tutur Nando membisikkan tepat di telinga Vio.
''Aku keluar dulu, menghabiskan satu penyebab ini terjadi''.
__ADS_1
Kata-kata Nando tentu berhasil mempengaruhi Vio. Vio menggenggam ujung baju nya, ia takut hal buruk akan di lakukan Nando. Vio tidak mau Nando mengotori tangan nya dengan membunuh penyebab ini semua.
''Jangan, jangan lakukan... Aku mohon....''.
Akhirnya sekian lama, suara itu bisa di dengar juga. Nando tersenyum puas sebelum ia membalikkan badan nya.
''Aku akan lakukan apa pun, jika itu bisa membuat mu kembali seperti dulu meski harus membunuh nya''. ucap Nando.
Aura dingin bisa Vio rasakan, ia menghapus jejak air mata nya dan berjalan menghampiri pria yang selama ini sabar menanti nya.
Sekujur tubuh Vio melemah, entah energi nya terkuras karena apa? Yang pasti ia memaksakan berjalan hingga terjatuh di hadapan Nando.
Nando dengan sigap langsung menangkap tubuh mungil itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Saat ini Vio terbaring lemas dengan infus yang sudah terpasang di tangan nya.
Matanya mulai menggerecap untuk menyesuaikan pencahayaan, karena sudah terlalu lama tertidur silau nya lampu membuat pandangan nya buram tapi itu tak berlangsung lama. Vio menetralkan mata nya, mengumpulkan segenap tenaga untuk bangun.
''Dimana Nando?'' tanya nya pada salah satu pelayan yang menemani Vio.
Pelayan itu menunduk hormat sebelum menjawab pertanyaan sang Nona Muda nya. ''Tuan Muda pergi...'', belum sempat menyelesaikan kalimat nya Vio sudah menyela saja. ''Kemana? Antarkan aku pada nya, aku harus mencegahnya''. Ucap Vio seraya mencabut langsung infus di tangan nya.
Pelayaan itu menyepitkan mata dengan bingung. ''Tapi Nona, Tuan sedang...''.
Lagi-lagi Vio tidak sabaran menunggu pelayan itu selesai berbicara. ''Antarkan aku'', ujar Vio melemas dengan kondisi masih pucat sekali.
Pelayan yang di tugaskan tersebut hanya menghela nafas berat, ternyata sang Nona Muda nya begitu tidak bisa berjauhan padahal masih satu atap dan hanya di tinggal untuk membersihkan diri, masih mencari nya pikir sang pelayan tersebut.
Keributan kecil itu terdengar oleh Nando dari dalam kamar mandi. ''Apa terjadi sesuatu dengan Vio?!''.
.
.
.
__ADS_1
.
______