Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Mengulang Kisah


__ADS_3

Beberapa tahun lalu, setelah kejadian mengerikan itu menjadikan Vio trauma. Mentalnya terganggu sering kali dia mendadak menjerit ketakutan di iringi dengan tangis yang tak pernah berhenti.


Vio memang tidak pingsan atau tertidur, namun Vio merasakan seperti diawasi dengan suara-suara aneh memenuhi pendengarannya.


Dan memang menepati janjinya kejadian mengerikan itu tidak terulang lagi, yang membuat Vio berlama-lama menutup mata. Tapi Vio dan Dan tidak bisa mengindari kejadian-kejadian aneh nan kasat mata untuk menggangu Vio.


Setiap kali Vio sendiri, Vio merasakan dirinya sedang di dampingi membuat susah mengenali kenyataan atau halusinasi, sekalipun itu halusinasi tapi nampak sangat nyata.


Semua sudah dilakukan mama Meri, namun tidak membuahkan hasil untuk membuat Vio kembali normal. Perubahan sikap Vio yang mendadak selalu membuat ketakutan tersendiri bagi mama Meri, mama Meri sudah mencoba mencari sosok nenek tua tapi tak kunjung menemukannya. Dia menyesali kenapa tidak menanyakan tempat tinggal nenek tua itu.


Mama Meri sudah frustasi melihat kondisi anaknya yang berubah-ubah. Entah terlihat seakan-akan tidak ada apa pun yang terjadi tapi tiba-tiba bisa berubah diwaktu yang tidak mereka ketahui. Bagai di kendalikan didunia nyata, bukan lagi di dunia bawah alam sadar.


Solusi yang mereka dapatkan adalah Vio tidak boleh sendirian atau melamun, pikirannya akan membawanya mengahadapi hal yang tak biasa.


Dan maupun mama Meri sepakat untuk membuat Vio selalu sibuk setiap harinya, untuk masalah sekolah mama Meri sudah berkonsultasi ke pihak sekolah agar memberikan kebijakan untuk kondisi anaknya.


Akhirnya pihak sekolah menyetujui bahwa Vio masih bisa mengikuti kegiatan sekolah maupun tugas-tugas namun tidak berada di sekolah, dengan cara beberapa guru yang akan mengunjungi Vio untuk memberikan materi setiap harinya, sampai pada saatnya Vio di nyatakan lulus.


Dan yang selalu bergantian jaga, saat Dan sedang sekolah mama Meri yang akan menjaganya dan sebaliknya jika mama Meri sedang bekerja Dan yang akan siap menjaga Vio. Mama Meri pergi bekerja jika Dan sudah pulang sekolah, bukan hanya meminta kebijakan sekolah, mama Meri juga meminta kebijakan atasannya di tempat kerja untuk memaklumi kondisi anaknya saat ini.


Keluarga Dan tidak keberatan dengan kesibukan anaknya yang membantu teman dekatnya, karena bagi keluarga Dan kehadiran Vio bisa mengubah Dan yang tadinya dingin tidak pernah tersenyum apalagi terbuka, kini bisa menjadi anak yang di inginkan orang tuanya sejak lama. Sikap dan menjadi hangat hanya untuk keluarga dan Vio. Tidak termasuk orang lain tapi hanya seperti itu pun keluarga Dan sudah sangat berterimakasih pada Vio.


Makanya saat Vio mengalami masalah mental, keluarga Dan membantunya. Dengan cara pengobatan atau hal-hal yang di anjuran kepala desa. Sangat di sayangkan tidak ada yang berhasil.


Rasa frustasi dan tekanan pikiran pun di alami mama Meri, namun tidak ada yang tahu karena mama Meri menyembunyikannya. Mama Meri akan terlihat baik-baik saja saat di hadapan orang lain dan juga anaknya. Mama Meri tidak mau menjadi beban bagi mereka apalagi dengan kondisi Vio seperti ini.


.


.


.


.


.


.


Suatu ketika, saat mama Meri pergi keluar untuk bekerja dan tak lupa menitipkan Vio dengan Dan maupun keluarganya. Untuk menjaga selama dirinya tidak disamping Vio.


Mama Meri sungguh sangat mempercayai Vio kepada mereka. Keluarga yang terkenal kaya di daerah situ semua aset mengatasnamakan keluarga Dan. Tidak ada kesombongan dari keluarga itu, mereka sangat baik dan ramah kepada penduduk sekitar meski kasta mereka berbeda sangat jauh. Keluarga Dan sudah sangat membantu perkembangan desa di daerah tempat tinggal mereka tanpa meminta syarat apa pun keluarga Dan pasti akan membantu jika ada yang membutuhkan bantuan dari mereka.


"Dan, tante pamit dulu ya.. tolong jaga Vio selama tante tidak ada, jangan sekalipun menyakiti Vio, tolong lindungi Vio dan tetaplah bertahan di sisi Vio apapun yang terjadi kedepannya. Tante sangat mengharapkan Dan kelak yang akan mendampingi Vio, aahh maaf kamu mungkin belum mengerti arti ucapan tante untuk saat ini, tetaplah disisi Vio?" ucap mama Meri menatap Dan dengan harapan anak laki-laki yang berdiri dihadapannya akan menjadi menantunya kelak.

__ADS_1


"iya tante" jawab Dan singkat.


Mama Meri mengulas senyum hangat, dan memeluk Dan bergantian dengan Vio.


"tante" ucap Dan


"iya, nak"


"apa boleh Dan bertanya?" ucap Dan takut.


"tentu saja, apa yang ingin Dan tanyakan?"


"kenapa tante berbicara seakan tante akan pergi jauh, sebenarnya ada apa tante. Tante bisa bicarakan semua hal sama Dan jika nanti Dan belum mengerti, Dan akan menanyakan sama mommy dirumah" ucap polos Dan saat itu.


Mama Meri memandang Dan dengan senyum termanisnya. "tidak ada apa-apa Dan" ucap mama Meri menyakinkan Dan.


Mama Meri beralih melihat putrinya yang sudah tertidur. "kelak tumbuhlah menjadi anak yang cantik, pintar sekaligus mandiri jangan selalu merepotkan Dan, dan keluarganya ya sayang" usap lembut tangan mama Meri membelai wajah cantik putrinya, mencium mendekap erat tubuh mungil itu. Entah ada firasat apa yang kini dirasakan mama Meri bahwa dia tidak akan lagi bisa melihat anak kesayangannya.


Mama Meri menoleh lagi pada Dan.


"Dan, tante pamit ya. Ingat pesan tante tadi"


Sementara Dan dibuat bingung dengan ibu dari temannya itu, tapi dia bukan anak yang bodoh yang tidak memahami maksud ucapan mama Meri, hanya jasa Dan tidak mengetahui motif apa yang membuat mama Meri seperti orang yang sudah menitipkan sepenuhnya atas Vio termasuk masa depannya.


"jangan... jangan sampai hal buruk menimpa tante, pasti Vio akan lebih terguncang jiwanya".


.


.


.


.


.


.


.


Sedangkan mama Meri menghentikan langkahnya, berbalik menatap rumah sederhana yang sudah beberapa tahun ini di tempati oleh mereka berdua.


Untuk anak-anaknya yang lain sudah tidak pernah ada kabar, mama Meri sudah mencoba mencari informasi tentang semua anak-anaknya namun, mereka seperti ditelan bumi tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Mama Meri mencoba mengikhlaskannya dan hidup hanya berdua dengan Vio, lalu hal seperti ini terjadi sungguh diluar kendalinya sebagai manusia. Mama Meri hanya menjalankan apa yang sudah menjadi takdirnya sekalipun itu menyakitkan.

__ADS_1


Guratan kesedihan jelas terlihat diwajah berumur itu. Penyesalan menghampirinya kalau saja dia tidak mengajak Vio pindah kesini, semua hal aneh itu tidak mungkin terjadi.


Nasi sudah menjadi bubur, seberapapun penyesalan yang dirasakan mama Meri tetap tidak mengubah apapun.


mama Meri melanjutkan langkah kakinya, membawanya ke tempat tujuan.


Setelah sampai, mama Meri mencoba fokus dengan kerjaannya. Sampai tidak terasa malam pun sudah tiba waktunya para pekerja untuk pulang.


Mama Meri merapikan sisa kerjaannya yang akan dilanjutkan esok hari.


"ibu Meri, sudah sangat malam bagaimana kalau kami antar kerumah?" ucap beberapa pekerja wanita.


"tidak... tidak usah itu sangat merepotkan nantinya, saya bisa pulang sendiri kok" tolak halus mama Meri. Walau hatinya merasakan akan ada sesuatu yang menimpanya hari ini. Tapi mama Meri mencoba menepis prasangka buruk itu.


"baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan Bu Meri" ucap bersamaan para pekerja.


" iya bu ibu.. hati-hati juga ya"


Mama Meri mulai menapaki jalan yang sepi menuju rumahnya, dan tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh orang dibelakangnya.


Mama Meri tidak bisa berteriak karena mulutnya sudah di tutup oleh sapu tangan. Mama Meri melihat beberapa orang yang menyeretnya masuk kedalam gubuk tua di tengah-tengah pabrik. Mama Meri di lempar paksa oleh beberapa orang itu. Mereka melihat mama Meri dengan sorot mata sayu seperti ingin melahap habis tubuhnya.


"tolong jangan lakukan itu terhadapku, aku mohon lepaskan aku.... aku tidak mengenali kalian, aku tidak membuat masalah disini" ucap mama Meri ketakutan, segala tenaga sudah dikeluarkannya namun tenaganya tidak seimbang dengan beberapa orang yang ada dihadapannya.


Mama Meri meraung, memberontak tapi tidak bisa melepaskan pegangan para laki-laki tersebut.


Laki-laki itu merobek paksa pakaian yang dikenakan mama Meri, sampai tidak ada sehelai benangpun tersisa. Mama Meri sudah polos seperti bayi.


Para laki-laki itu saling pandang dengan mata bejat mereka. "siapa yang duluan?" ucap salah satunya.


"aku, lalu kau, kau kau dan kau" semua setuju dengan penuturan ketua mereka.


.


.


.


.


.


_________

__ADS_1


Aaaaarrrrgggghhhhhh.....


__ADS_2