
Suasana menjadi hening, pikiran Dan sudah tidak terfokus pada mama Meri. Dan masih mencerna setiap kata per kata yang di ucapkan oleh mama Meri, dia mencoba memahami tumpukan puzzle dalam otaknya. Setiap kejadian-kejadian beberapa belakangan ini semua berputar begitu saja di kepalanya. Semua seakan-akan menyambung, "yaah selama ini Vio sudah banyak menunjukkan perubahan sikapnya" pikir Dan dalam diam. Hanya saja aku yang tidak menyadari atau terlambat menyadarinya.
Vio memang menjadi lebih pendiam dari biasanya, Vio yang Dan kenal adalah Vio yang manja padanya setelah mereka menjadi akrab tentunya. Tidak terhitung saat sebelum mengenal satu sama lain, Vio adalah orang yang dingin mungkin bisa di katakan lebih dingin dari sikap Dan terhadap orang lain selain Vio. Sementara Vio orang yang tidak mempedulikan apapun, tidak mau mengenal siapapun tapi semua berubah dengan hadirnya Dan dalam hidupnya. Vio menjadi ceria dan manja bahkan selalu tergantung sama Dan.
Dan menyesali kenapa dia tidak lebih memperhatikan Vio belakangan ini. Sebenarnya Dan memang sudah muncul sedikit kecurigaan setiap kali Vio ingin bicara selalu tidak di teruskan nya dengan berbagai alasan yang dibuat Vio entah itu dia bilang lupa, atau tidak pentinglah. Rasanya dan mengutuk kebodohannya kalau saja dia lebih peka dengan situasi saat itu, mungkin semua yang terjadi saat ini tidak akan pernah ada.
Vio nya akan tetap manja...
Vio nya akan selalu mencarinya...
Vio nya akan selalu berbuat ulah agar mendapatkan perhatiannya...
Lama terdiam, Dan kemudian menatap lekat mama Meri. "tante, bolehkah aku menemui Vio sekarang?" tanya Dan.
Mama Meri tidak menjawabnya, malah berbalik menanyakan kepada dan. "Dan kamu kenapa diam saja dari tadi, apa yang kamu pikirkan atau ada kejadian-kejadian yang aneh dengan Vio sebelumnya?" mama Meri menunggu jawaban Dan dengan harap-harap cemas.
Guratan wajah yang tidak dapat ditutupi oleh mama Meri, sesungguhnya ibu mana yang tidak khawatir dengan keadaan anaknya seperti ini, sungguh semua diluar kendalinya.
"tidak ada apa-apa, tante Dan hanya sedikit bingung aja tadi. Vio yang Dan tau selalu baik-baik saja tante" jawab Dan berbohong, Dan tidak mau mama Meri menjadi lebih cemas lagi jadi terpaksa Dan menutupi sikap Vio yang berubah belakangan ini.
"kirain tante ada apa, kamu bikin tante takut Dan" genggam erat tangan Dan.
Dan pun tersenyum paksa hanya untuk menenangkan ibu dari teman deketnya.
"semua akan baik-baik saja tante, Vio anak yang kuat, kita berdoa saja semoga Tuhan selalu melindungi kita semua dari marabahaya". ucap tulus Dan menatap lembut mama Meri.
"yaa sudah, yuk masuk ke kamar Vio, tante anterin sampai depan pintu aja yaa?".
"iya tan, makasih yaa" ujar Dan.
"Dan, kamu mau jagain Vio sebentar?" tanya mama Meri. mama Meri harus keluar untuk membeli beberapa keperluan dapur, karena ada Dan yang akan menjaga Vio. mama Meri akan lebih tenang jika meninggalkan rumah. Semua harus mama Meri siapkan untuk beberapa hari kedepan, memenuhi semua stok makanan, sayuran dan beberapa keperluan Vio seperti cemilan karena Vio suka sekali nyemil makanan ringan. "lebih baik kamu makan banyak, mama tidak akan lagi marah jika kamu menghabiskan semua cemilan kamu, dari pada melihat kondisi kamu seperti ini, nak" tatap sendu mama Meri melihat Vio.
"iya tante, jangan khawatir aku akan jagain Vio dengan senang hati"
"makasih ya Dan" usapan lembut mama Meri membelai rambut Dan.
"sama-sama tante".
__ADS_1
Mama Meri bergegas pergi, sementara Dan menatap Vio dengan rasa bersalah.
"Vio bangun dong, kamu mengenali suara ku kan? bangun dong jangan seperti ini" Dan mengusap lembut wajah Vio, menggenggam tangan Vio untuk memberikan energi agar tersalurkan ke alam sadar Vio jika ada seseorang yang sedang menunggunya membuka mata.
"Vio hari ini aku tidak sekolah, gara-gara kamu nih aku ikutan bolos. Pokoknya kamu harus tanggung jawab nanti, pasti banyak tugas setelah kita masuk nanti huuuffhh"
"Vi, kamu dengar kan cepet buka mata kamu kalau tidak aku tidak mau berteman dengan mu lagi, apa kamu tidak rindu sama ibu mu kalau sepeti ini terus kamu bisa di coret dari KK dan aku yang akan menggantikannya" tawa Dan setelah mengucapkan itu, dia hanya memancing obrolan. Pada dasar saat orang pingsan atau tertidur dia akan mendengar suara mesti enggan untuk menjawabnya.
Terlalu lama menunggu, Dan mulai mengantuk tanpa sadar ikut tertidur di samping Vio dengan posisi duduk. Masih memegang erat tangan Vio, Dan tidak melepaskan sedikit pun.
Vio mulai merasakan berat pada tangannya, seperti ada sesuatu yang membebani tangan mungilnya. "aawwww, kenapa berat sekali" Vio membuka matanya melihat sekeliling menyadari dia ada dirumah, didalam kamarnya. Helaan nafas berat lolos begitu saja dari mulutnya.
"akhirnya aku kembali" ucap Vio lega.
Vio menatap ke kanan dan ke kiri mencari sumber beban pada tangannya.
"aahhh ternyata dia, dasar malah tidur saat menjaga ku menyebalkan sekali" Vio tersenyum dan mengusap kepala Dan dengan hati-hati takut membangunkan si punya kepala. ( hahahaha ).
"badanku sakit semua, berapa lama aku tertidur yaa perutku lapar" Vio memanyunkan bibirnya.
"Dan lama banget bangunnya, tanganku kesemutan tau" ucap sinis Vio.
"huuuaaaaahhh Dan bangun aku laper hiiizkk" Vio menangis seperti anak kecil yang tidak di kasih permen (😂).
Dan terganggu tidurnya saat mendengar suara cempreng seseorang. Dan menggeliat badannya mengumpulkan nyawa biar mengembalikan kesadarannya.
"ooh jadi kamu yang menangis, kenapa menangis coba berisik sekali" sinis Dan.
"jelas aku menangis aku laper, perutku bunyi terus minta asupan makanan tapi kamu malah tidur di tanganku, berat tau" ucap Vio.
"oohh"
"apa ooh doang"
"lalu?"
"aku males berdebat Dan, kamu tidak lagi peduli sama aku yaa, aku kelaparan ini" Vio masih saja merengek dengan ciri khasnya. Dan hanya tersenyum melihat tingkah landaknya. Sungguh menggemaskan.
__ADS_1
"kamu sudah baik-baik saja kan? lain kali jangan buat aku khawatir gini yaa, kamu harus janji apa pun itu harus cerita sama aku. Ayuk cepat janji dulu nanti baru aku kasih makan" tawar Dan.
"iya iya iya iya Dan" jawab Vio cepat.
Dan tersenyum kecil.
"ok tunggu aku ke dapur dulu ya".
"hmmm" jawab malas Vio.
Dan menuju dapur, mencari apakah ada makanan disana karena sepertinya mama Meri sudah memasak. "ini saja makanannya, apa Vio suka makan sayur begini" mau tak mau Dan mengambilnya sebelumnya dia memanaskan dulu biar saat di makan Vio masih hangat.
"nih, makan" Dan menyodorkan makanan di hadapan Vio.
"aku hanya menemukan makanan ini, apa kamu suka sayurnya?"
"tidak"
"sudah makan aja, dari pada kelaparan".
"iya"
"mau aku suapin engga?" tanya Dan
"boleh, gitu dong baru temenku, oy mama kemana kok tidak ada?".
"tante, keluar sebentar hmm ibu mu terlihat sedih itu gara-gara kamu Vio awas kalau seperti ini lagi, aku jewer yaa kamu" Dan begitu tegas sama Vio walau sikapnya yang terlihat menyebalkan tapi Vio tau Dan hanya pura-pura cuek padahal selalu peduli dan khawatir berlebih terhadapnya.
Dan mulai menyuapi Vio hingga kandas bersih tanpa sisa. "apa kamu tidak makan sebulan? kenapa rakus sekali" ujar Dan heran.
"bawel kamu, aku laper banget, ini aja masih kurang tapi aku mau ngemil aja, ada tidak cemilannya?" Dan dibuat melongo melihat tingkah rakus temennya.
"engga ada cemilan Vio, mau aku belikan keluar tapi kamu berani aku tinggal sendiri ?" tanya Dan khawatir.
"tidak, tiii tiiiidak usah nanti saja tunggu mama pulang ya, aku engga mau sendirian, aku takut" Dan melihat sangat jelas wajah pucat seperti orang yang begitu ketakutan. Dan menyentuh tangan Vio memegangnya.
"dengarkan aku yaa, tidak ada siapapun lagi yang akan menggangu kamu, aku pastikan itu" ucap Dan dengan sorot mata serius.
__ADS_1
Vio sampai tidak berkedip melihatnya.