
Mobil yang di kendarai mereka langsung berlalu dengan kecepatan sedang, tidak lupa iringan mobil berbaris rapi di belakang mengikuti mobil Tuan Muda mereka.
Vio menatap Nando, ''Apa dia orang penting, kenapa di kawal sebanyak ini?" pikirnya terlalu berlebihan.
"Kamu bicara apa barusan?".
"Itu.." Vio menunjuk arah yang di lihatnya ada 4 mobil yang sedari tadi mengikuti mereka.
Nando yang mengerti pun menjelaskan dengan lembut, "Itu pengawal ku, memang sudah tugas nya begitu. Eyang yang menyuruh nya", jawab jujur Nando.
"Eyang, siapa?'' tanya Vio yang penasaran.
Nando melirik tanpa ingin berniat menjelaskan kembali, Vio yang tak mendapatkan respon memilih diam tak menanyakan apa pun kembali. Ia mengikuti saja, toh tujuan nya pun kerumah sakit pikir Vio menoleh mengikuti arah jalan yang membawanya.
Vio yang tidak mengenal arah jalan tidak curiga sama sekali akan di bawa kemana, yang ia tau hanya menuju rumah sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
Mobil pun memasuki kawasan elit, ia yang menyadari langsung di buat kaget.
"Kita dimana, katanya mau kerumah sakit?!''.
Vio melihat bangunan mewah itu di buat takjub, ternyata masih ada yang lebih megah dari kediaman keluarga suaminya. ''Tapi untuk apa kita kesini, memangnya di dalam ada rumah sakit?''.
"Ada", ungkap Nando.
Kendaraan mereka sudah memasuki karangan kediaman sang Nyonya besar. Vio mengikuti Nando turun dari mobil masih dengan rasa tak percayanya ia masih melirik sana-sini, ''Kamu orang kaya?'' pertanyaan Vio menghentikan langkah Nando.
"Tidak, ini semua milik Eyang ku.. Aku tidak memiliki apa pun, sudah hayoo". Nando menarik tangan Vio dengan lembut.
Lagi-lagi sambutan itu membuat Vio sungkan, "Jalanlah terus, kalau kamu hanya berdiam diri begini kepala mereka akan pegal menunduk terus" bisik Nando yang membuat Vio melanjutkan langkah nya.
"Eyang...''
''Sakit Eyang, malu itu di lihat bidadari'', celetuk nya sambil mengusap-usap telinga nya yang panas.
''Eyang sudah tua masih aja bertenaga, ini hari apa sih? Kenapa aku sial mulu... Tadi aset berharga ku di tendang sekarang telinga ku oohhh mama aku merindukan mu", gerutu Nando dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
.
Eyang melihat Vio terdiam malu, '' Maaf Nyonya, aku yang sudah buat pria tadi kesakitan.. Aku tidak sengaja, aku ingin bertanggung jawab mengajaknya ke rumah sakit tapi dia berhentinya disini, katanya disini ada rumah sakit'', ucap polos Vio.
''Duduklah, nak.. Kamu tidak perlu hiraukan dia, sini temanin Eyang saja ya!''.
''Iya Nyonya''.
''Panggil Eyang saja, biar akrab''.
Nando sengaja meninggalkan mereka berdua, sebelum pertemuan ini terjadi, Nando sudah mendapatkan kabar bukan dari orang lain, melainkan Eyang nya sendiri yang menceritakan kehidupan Vio.
Saat itu Nando mengepalkan kedua tangan nya, sorot mata nya seakan menjelaskan ketidak terimaan akan perlakuan yang di dapat bidadari nya oleh orang-orang di sekililing Vio. Bidadari nya telah di tipu habis-habisan bahkan sama suaminya sendiri.
Eyang sudah menceritakan semua tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi, Eyang sudah malas menunggu lama karena cucunya tidak sedikit pun ada pergerakan. Semua kisah hidup Vio beserta keluarga nya sudah Eyang katakan termasuk kisah tragis yang menimpah orang tua Vio saat dulu.
.
.
.
__ADS_1
.
_____