
Rintihan tangis penyesalan akan apa yang di lakukan nya di masa lalu terhadap Chelsea, menjadi pelengkap penghantarnya ke alam barka.
''Maafkan aku Chelsea, maafkan semua kekhilafan ku yang sudah membuat hidup mu hancur hanya karena ke egoisan ku untuk memiliki Dito. Maafkan aku mas, maafkan kesalahan ku pada mu dan Chelsea, dan untuk putri mama tersayang, maafkan mama telah gagal menjadi seorang ibu untuk mu dan kakak-kakak mu, mungkin maaf saja tak akan cukup menebus semua kesalahan mama pada kalian. Terlebih kamu Vio, mama menyesal sangat-sangat menyesal menjadikan mu jaminan mereka semua, maaf.... Maafkan mama nak, mama telat menyadari semuanya hingga waktu mama habis dan tidak dapat mencegah apa yang nanti akan terjadi kepada mu''.
Detik-detik sebelum hembusan terakhir Mama Meri menyempatkan penyesalan nya meski pun tidak akan ada yang mendengarnya.
.
.
.
.
Berbeda dengan Dan yang sudah uring-uringan mencari keberadaan Vio. Bahkan semua anak buahnya di amuk tanpa ampun karena gagal menjaga sosok penting dalam hidup nya.
''Bodoh!!!!!!!!!, kalian bodoh sekali hanya menjaga seorang wanita saja kalian bisa kecolongan begini. Apa kalian tidak tau, sepenting apa dia untuk ku haah.....''. Ucap Dan yang selesai menghanjar abis semua anak buah nya yang di tugaskan untuk menjaga landak kecilnya.
Aura dingin dari wajah tampan itu, membuat semua anak buah nya takut akan meninggalkan nama saja untuk keluarga mereka. Mereka sangat tau, mereka bekerja oleh seorang mafia kejam yang bisa saja membunuh jika mood nya di rusak apalagi kesalahan mereka lebih fatal yaitu kehilangan istri bos nya dari pengawasan.
__ADS_1
Tidak ada jejak, CCTV pun sudah di retas. Mereka benar-benar kehilangan Nyonya Muda nya.
.
.
.
.
Nando yang tersenyum samar setelah apa yang di perintahkan kepada pengawal nya, kabar itu tentu saja hanya sebagian kecil kepuasan seorang Nando. ''Ini baru permulaan bajingan''.
Nando sudah mengumpulkan semua bukti kejahatan Dan. Ia akan membuat Dan merasakan sakit dan penderitaan seperti yang telah Vio rasakan bahkan harus lebih sakit.
Ketukan pintu membuat Nando mendelik, ''Siapa jam segini mengganggu, sudah tau aku lagi tidak mau menerima kerjaan''. Ia langsung lemas jika yang datang mengantarkan tumpukan berkas yang harus ia pelajari.
''Masuklah...'', jawabnya malas.
Orang yang di balik pintu pun akhirnya bisa masuk setelah menunggu jawaban Tuan Muda nya. ''Maaf Tuan Muda, Nyonya Besar menyampaikan untuk Tuan segera kembali ke rumah dan kami di suruh secepatnya menghancurkan dari yang terkecil terlebih dahulu oleh Nyonya Besar''.
__ADS_1
''Tidak sabar sekali Eyang ini, sudah aku katakan biar aku saja yang merencanakan tetap saja Eyang ikut campur'', sebal nya Nando membuat si pendengar yang satu ruangan dengan nya tersenyum tertahan. Jarang-jarang dia bisa menyaksikan wajah pasrah Tuan Muda nya jika sudah berhubungan dengan Nyonya Besar nya.
''Mau gimana lagi, Eyang sudah memutuskan jadi lakukan saja''.
''Kami permisi dulu, Tuan'', hormat nya menunduk sebelum meninggalkan ruangan.
Nando mengambil poselnya, dan segera menghubungi Eyang nya. ''Halo, Eyang... Kenapa eyang ikut campur, kan sudah Nando katakan biar Nando saja Eyaaaannnggg....'', gerutu nya.
''Dasar anak nakal, masih saja nama itu pantas untuk kamu. Belum Eyang jawab sapaan udah di teror pertanyaan panjang, kamu kelamaan engga sat set sat set lelet sekali Eyang liat nya, jadilah Eyang yang bergerak''. Terang nya kepada cucu pemalas nya.
.
.
.
.
______
__ADS_1