
Nando langsung menggunakan jubah mandi nya. Biasanya ia hanya menggunakan handuk yang di lilitkan langsung ke pinggang nya. Namun, berhubung ia mandi di dalam kamar Vio serta ada pelayan rumah nya di sisi Vio tentu hal itu tidak di lakukan nya.
Tubuhnya di anggap mahal, tidak ada yang boleh melihatnya selain nanti seseorang yang akan menjadi pendamping di sisa hidup nya kelak.
Ceklek,
Suara pintu terbuka, pelayan yang mengerti dan sangat tau diri tidak membalikan badan hanya mengucapkan undur diri dan bergegas keluar tanpa menoleh ke Tuan Muda nya.
''Ada apa?'', tanya nya seraya mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
Hal itu tentu membuat Vio membelangak, sungguh pemandangan yang memanjakan mata dari tidur panjang nya.
Tak ada jawaban Nando mendongkak sedikit melihat Vio yang menatap nya dengan rasa kagum. ''Biasa saja melihatnya, nanti kamu benaran jatuh cinta pada ku''. Nando tertawa kecil, namun hal itu menambah tingkat ketampanan Nando di mata Vio.
Nando berjalan ke arah Vio, mengusap pelan atas kepala Vio lalu membawanya untuk merebahkan diri lagi. Nando langsung memasangkan infus kembali.
''Istirahatlah, jangan takut lagi jika memang kamu tidak mau aku menghabiskan nya. Maka berjanjilah untuk sembuh dalam tiga hari''. Nando selesai menancapkan infus itu lagi di tangan Vio dengan telaten.
__ADS_1
Nando memang mengetahui cara-cara medis kalau hanya hal-hal kecil saja, karena orang tua nya berprofesi dokter. Maka itu, ia paham kalau hanya soal infus saja terlebih sekarang mempunyai teman dekat yang berprofesi sama dengan kedua orang tua nya, bukan hal sulit bagi nya untuk memahami dengan cepat.
Sayang nya Nando memang tidak mau terjun di dunia perkuliahan. Akan tetapi, semua pengajaran telah di terapkan sang Eyang yang langsung memanggil para ahli dalam bidang nya untuk mengajarkan sang cucu nakalnya.
Hanya sebatas pemahaman saja, bukan private class. Nando masih enggan mendalami nya padahal gampang bagi nya untuk mendapatkan gelar sarjana, dengan kecerdasan dan wawasan luas Nando mungkin saja bisa menyelesaikan masa kuliah lebih cepat dari orang pada umum nya.
Lagi-lagi sifat nya yang masa bodo dan tidak khawatir tentang masa depan nya, membuat ia masih menunda salah satu keinginan orang tua nya untuk ia melanjutkan kejenjang perkuliahan.
.
.
.
.
''Bagus, aku tinggal dulu ya.. Dingin juga tidak pakai apa pun'', Nando menggaruk tekuk nya yang tak gatal.
__ADS_1
Tiba-tiba rasa canggung muncul dan menyadari ia belum bebusana setelah keluar dari kamar mandi tadi. Dengan tubuh polos tentu saja membuat Nando membayangkan hal yang tidak-tidak.
Belum lagi rasa tak nyaman pada benda yang menempel di tubuhnya, bergelantungan mengikuti alunan setiap gerak yang ia lakukan. ''Aaahhhh sial, bodoh banget kenapa tidak sekalian bawa baju ganti''.
Nando menggerutuki kecerobohan nya, dia lelaki yang tentu saja normal dan memahami betul situasi yang bisa saja menciptakan aura panas dalam sekejap.
Belum juga menggunakan pakaian Nando malah merebahkan diri di atas ranjang kamar nya.
Memejamkan mata untuk menetralkan gejolak aneh yang tak pernah ia rasakan sebelum nya. Apalagi pikiran liar yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.
.
.
.
.
__ADS_1
________