Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Bayangan


__ADS_3

Mama Meri masih terpaku di teras rumahnya .


Hari yang buruk .


Memandang tiada henti tanpa menemukan maksud dari pesan yang di sampaikan nenek tua itu, tidak ada penjelasan dan untuk tujuan apa kami harus menurutinya .


Tatapan itu ..


''Tatapan penuh amarah dan kebencian .


Mungkinkah atas penolakan ku !'' mama Meri menghela nafas kasarnya .


''Apa aku pernah mengenalnya atau bertemu dengannya ?!'' semua pertanyaan-pertanyaan terlintas dalam pikiran mama Meri .


Muncul perasaan takut akan keselamatan dia dan anaknya .


Memilih resiko tinggal jauh dari kerabat hanya untuk sebuah ketenangan batinnya atas meninggalnya suami tercinta, membuat mama Meri tidak bisa bertindak apa-apa selain bertahan dengan kecemasan .


Mama Meri beranjak dari teras untuk masuk menemani Vio yang masih ketakutan .


Pintu langsung dikunci oleh mama Meri khawatir akan ada hal yang tidak ia inginkan terjadi .


Mama Meri langsung menghampiri Vio .


''Vio.. '' ucap lembut mama Meri .


Vio menoleh seketika saat mendengar suara lembut mamanya .Vio langsung berlari mendekap erat sang mama tersayangnya .


''Mamaaaaa Vio takut .''


''Tidak usah takut Vio disini ada mama dan kita akan baik-baik saja .'' Vio menatap mata mama Meri hanya untuk memastikan ucapan itu benar ,bukan ucapan yang memberi ketenangan sesaat .

__ADS_1


Vio tidak menemukan nya .


.


.


.


.


Malam semakin larut tanpa penerangan lampu, langit pun gelap gulita tidak ada hiasan bintang-bintang cantiknya .


Angin berseliwiran menembus dinding rumah itu membuat si pemilik rumah merasakan terobosan yang amat menusuk sendi-sendi tulangnya . Dingin begitu dingin sekali malam ini seperti menyampaikan firasat buruk terhadap penghuni rumah .


Mama Meri dan Vio merasakannya .


Mereka menarik selimut menutupi sampai ujung kepala karena tidak kuat dengan dinginnya malam ini .


''Iya sayang, mama tambah lagi selimutnya yaa .'' mama Meri langsung mengambil selimut yang tersimpan di dalam lemari, dengan segera mama Meri memakaikannya ke Vio .


Setidaknya bisa mengurangi rasa dingin ini .


Mereka melanjutkan tidurnya kembali sambil saling berpelukan memberi kehangatan satu sama lain .


Mimpi .


''Maaaahhhh tolong, tolong maahhh ..... sakit ampun jangan, tolong jangan lakukan ini sakit mah ... tolong Vio mah ! '' suara Vio mengigau dengan tubuh gemetar di barengin oleh tubuhnya yang tiba-tiba demam .


Mama Meri membuka matanya seketika kaget dengan kondisi anaknya .


Badan Vio panas bercucuran keringat dingin dengan tubuh gemetar seperti orang ketakutan .

__ADS_1


''Yaaa Tuhan Vio .'' ucap mama Meri khawatir .


''Sayang bangun, bangun Vio .. bangun nak ini mama, kamu aman sayang ada mama disini hayoo Vio buka matanya jangan buat mama takut seperti ini, nak.''


Mama Meri berlari ke dapur mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres Vio . Menyalakan semua lampu rumahnya untuk memberikan penerangan yang maksimal .


Di kompresnya dahi Vio oleh mama Meri .


.


.


.


.


Dibawah alam sadar .


Ada sosok hitam tinggi dan besar menghampiri Vio, sosok yang suaranya sama persis seperti nenek tua itu .


Sosok itu menarik paksa Vio, mencengkeram erat tangan mungilnya dengan kasar .


''Papa, tolong Vio .. Vio takut ini dimana, dia siapa pah kenapa bawa Vio pergi, tangan Vio sakit pah .'' tangis Vio semakin tak bersuara .


Deraian air mata terus bercucuran membasahi pipi mulusnya .


Mama Meri histeris .


Pikirannya menjadi tidak karuan melihat putrinya meraung-raung kesakitan .


''Yaa Tuhan, sebenarnya ada apa ? apa keputusan ku untuk pindah kesini menjadi malapetaka untuk kami .'' mama Meri ikut menangisi anaknya .

__ADS_1


Timbul rasa penyesalan dalam dirinya .


__ADS_2