Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#30


__ADS_3

Vio masih diam pada posisi nya tubuhnya bergetar tanpa bisa ia tahan ke seimbangan itu mengangsur hilang, diri nya seakan tak kuat lagi ia meluapkan segala rasa sakit hatinya kegundahan nya rasa putus asa nya.


Apa ini yang ia mau, tentu saja tidak bukan seperti ini yang ingin dia dengar.


"Dimana Dan ku, kenapa dia berubah egois seperti ini" gumam Vio dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.


Sementara Dan hanya menatap tanpa niat menghampiri sang istri yang sudah di pastikan akan menangis terus tanpa henti. Dan masih dengan pendirian nya mungkin memang ia egois akan hal ini tapi ia tak ingin hal buruk terjadi, "Sungguh tak mengertikah landak kecilnya itu bahwa ia sangat takut kehilangan dirinya". Batin Dan bingung harus bersikap seperti apa agar membuat Vio mengerti tempat itu berbahaya.


.


.


.


.


Malam sudah semakin menunjukan kekuasaannya. Hembusan angin semakin kencang menerpa kulit Dan yang masih setia berdiam diri di balkon kamarnya.


Sedangkan Vio sudah terpulas nyenyak berbalut selimut tebal yang sudah Dan kenakan di tubuh Vio, ya Dan diam-diam menyelimutinya setelah meyakini sang pujaan hati terlelap.


"Aku harus apa Tuhan, harus bagaimana aku memimpin rumah tangga ku sementara di luaran akan mengancam kami berdua". Termengu memandangi langit yang luas namun gelap tiba-tiba ponsel Dan berbunyi, Dan merogo di saku celana yang dia kenakan melihat nama yang tertera adalah Mommy nya..

__ADS_1


"Iya hallo Mom.. Ada apa malam-malam telpon?"


"Kok kamu belum tidur Dan?!" bukannya menjawab malah Dan di lempar pertanyaan yang buat ia melirik heran.


"Belum" jawab singkat Dan.


"Mommy mau bilang luangkan waktu mu untuk menjenguk kami, tidak kah kau meridukan orang tua mu ini? Anak sudah di nikahkan malah lupa sama yang melahirkan nya". Sinis Mommy Dan.


"Baiklah Mom, nanti aku dan Vio kesana tapi untuk saat ini kami belum bisa sedikit lagi libur panjang semester akhir bersabarlah tolong sampein juga ke mang ujang Mom, tolong siapkan keperluan kami mungkin setelah dari rumah Mommy nanti aku akan mampir ke rumah kita yang di desa", Terang Dan panjang kali lebar.


Yang mendengar lewat saluran telpon pun terkesima atas apa yang di ucapkan anaknya, masih sangat di ingatnya kalau Dan tidak akan mau kembali lagi kesana apalagi sampai mengajak Vio.


"Apa mom tidak salah mendengar Dan?"


"Nanti sajalah Mom cerita nya kepala Dan pusing, sebaiknya Mom istirahat ya sudah sangat malam engga baik buat kesehatan Mommy dan inget jangan lupa di minum vitamin nya ya, daah mom Dan tutup dulu".


.


.


.

__ADS_1


.


"Maafkan aku Viii" ya akhir nya Dan menyetujui keinginan Vio untuk pulang meski dengan berat hati tapi Dan tidak semestinya menjadi egois melupakan siapa dirinya yang hanya orang asing yang tiba-tiba menjadi suami, sebuah status tapi tidak bisa mengehilangkan keluarga yang berhak atas keberadaan istrinya, jelas Vio akan lebih mengutamakan setiap kenangan indah bersama orang tuanya di bandingkan dengan diri nya.


"Hallo" .. Ucap Dan.


"Iya Tuan, sahut si penerima telpon".


"Buat penjagaan ketat saat nanti kami kembali kesana, jangan menampakkan diri aku tidak ingin istriku mengetahui keberadaan kalian"


"Baik Tuan". Dan langsung menutup telponnya sepihak menggenggam erat benda pipih itu, rasanya seperti mengantarkan istrinya ke lembah yang menyeramkan, "Sudah tepatkah keputusan nya" batin Dan bertanya-tanya.


.


.


.


.


🌸

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2