Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#59


__ADS_3

Di ruang pribadi di kediaman mewah ini, Eyang tersenyum puas melihat bagaimana cucu nya mulai gencar menembakan peluruh cinta lewat perhatian kecil yang di tembakan tepat pada sasaran. Eyang selalu memantau CCTV ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan berdua sejak keluar dari ruangan nya beberapa jam lalu. Kepuasan Eyang tidak sampai di situ saja, Eyang langsung bergerak cepat setelah Vio menyetujui untuk tinggal bersama mereka.


Semua dibuat heboh akan perintah Nyonya Besar yang menyuruh mereka merapikan kamar untuk penghuni baru yang akan menjadi anggota keluarga nya. Hanya dalam hitungan jam mereka merombak habis-habisan, sekaligus menyiapkan segala keperluan penghuni baru, dari pakaian lengkap dengam segala tas, sepatu yang berjejer rapi di ruang khusus di dalam kamar itu. Tidak lupa juga semua keperluan yang penting bagi para wanita tentu saja make up dengan segala sekawan nya, sudah tersusun.


Setelah mendapatkan kabar dari Eyang nya melalui pesan singkat, Nando akan mengajak Vio setelah Vio terbangun nanti.


.


.


.


.

__ADS_1


Nah disinilah mereka berada, dengan segala perdebatan kecil yang membuat Vio salah paham pada awalnya mengira Nando ingin memanfaatkan nya ternyata ia salah besar, salah nya memang tidak menunggu sampai selesai si lawan bicara, sudah berprasangka yang tidak-tidak saja. Jadilah membuat ia malu hingga menundukan wajah nya.


''Lagi-lagi aku minta maaf'', lirih nya dengan suara pelan tapi masih bisa Nando dengar.


Nando menangkup wajah mungil di hadapan nya dengan kedua tangan nya. ''Lain kali tunggu sampai aku selesai bicara, baru kamu bisa menjawab atau menilai terlebih dahulu. Jangan berprasangka buruk, meskipun aku tau dengan sangat jelas kamu membangun dinding besar kepada siapa saja yang ingin masuk dalam hidup mu. Akan tetapi, mulailah belajar mengenal sebelum kamu menebarkan tanda permusuhan itu sedikit menggetarkan hati ku ternyata kamu menakutkan juga, apalagi kedua mata ini''. Ungkap Nando panjang lebar agar Vio paham akan maksudnya, karena Nando sudah tau ukuran otak wanita nya hanya seujung kuku nya.


Kedua tangan Nando mengelus lembut wajah yang cantik tapi dengan sorot mata sendu penuh kebencian jelas saja, Nando bisa melihatnya. Manik mata indah itu sudah berubah fungsi saat ini, hanya dengan kilasan kejadian menerjangnya langsung ke dasar paling dalam.


''Sekarang istirahat lah, jangan memikirkan apa pun lagi''.


''Jangan coba-coba kabur'', tambah Nando sebelum meninggalkan Vio yang tanpa sedikit pun membalas ucapan nya yang sudah kaya penceramah ahli di tv.


''Siapa juga yang ingin kabur, sudah sana katanya mau pergi... Hati-hati''. Ucap singkat Vio dan Nando hanya tersenyum samar.

__ADS_1


''Ternyata ia bawel juga dari dugaan ku''. Vio mulai masuk ke kamar baru nya sambil melihat-lihat isi kamar yang membuat matanya berasa di manjakan.


''Kenapa memperlakukan ku seperti ini, apa aku berhak mendapatkan semua ini, Tuhan....''.


Lelehan air mata berselancar bebas menurunkan butiran air di wajah cantik itu. Dia kembali mengingat apa yang di lihatnya di alam mimpi, ''Mama... Kenapa mama tega menjadikan ku jaminan atas apa yang ingin mama dapatkan, tidak adakah sedikit pun merasa kasihan sama Vio, Vio pikir mama tulus sayang dengan segala kasih sayang dan perhatian mama selama ini. Ternyata semua penjagaan mama sama Vio hanya untuk membawa Vio kepada makhluk menyeramkan itu....''.


.


.


.


.

__ADS_1


_____


__ADS_2