
Ibu Dan menghampiri anaknya yang sudah seperti pria tak berguna lagi semenjak Vio memutuskan pergi. ''Terimalah takdir, jangan menyalahkan siapa pun atas apa yang terjadi dalam hidup mu. Mom pun sebenarnya berhak marah atas ulah kamu yang mencoreng keluarga Dan, kamu mesti memahami Vio biarkan dia menemukan kebahagian yang sesungguhnya''.
''Meski kebahagian nya bukan dengan ku, Mom..''. Tutur Dan menatap sang ibu.
''Ya''.
''Aku belum bisa merelakan nya mom...''.
''Cobalah dulu, jangan lagi mencoba mencari tau tentang nya cukup doa kan saja semoga ia bahagia dan sehat selalu''.
Dan hanya menatap lekat punggung ibu nya yang berjalan keluar dari kamar nya. ''Haruskah aku mulai merelakan mu, Vii?''. Tiba-tiba saja air mata itu menetes, rasa bersalah akan kelakuan bejat nya sudah berhasil menghilangkan orang yang paling terpenting dalam hidup nya setelah keluarga nya.
''Bahagia lah Vii, aku akan mulai melepaskan mu untuk memilih jalan hidup mu sendiri. Maafkan semua kesalahan ku pada mu, maaf jika aku tak bisa mengatakan ini langsung karena orang-orang di belakang mu melarang ku menemui mu''.
''Bahagia lah sayang ku, landak kecil ku.. Kamu akan selalu menjadi istri ku meski status kita sudah berubah''. Lirih Dan ketika menghapus jejak air mata di wajahnya.
Ini adalah bayaran mahal yang harus dia tanggung. Kalau saja bisa mengubah semua nya ia tak akan melakukan hal tersebut jika pada akhirnya menghancurkan semua impian indah hidup berasama selalu bersama landak nya.
Keserakahan, hasrat, harta, keinginan bukan lagi menjadi tujuan pria tampan itu. Dia akan menikmati rasa sakit nya kehilangan tanpa berniat kembali membangun mahliga rumah tangga. Vio tetaplah menjadi istrinya hanya itu yang ia tetapkan dalam hati nya, tidak ada satu pun yang pantas menyandang gelar istri bagi Dan. Cuma Vio dan hanya Vio seorang.
__ADS_1
.
.
.
.
Kediaman Eyang Putri.
Vio yang sudah di bawa pulang ke kediaman Eyang, di sambut meriah segala hiasan tertata rapi dengan banyak nya mawar putih memenuhi rumah megah itu. Vio hanya menatap tanpa ekspresi wajah nya datar tak ada lagi senyum ceria seperti pertama kali menginjakan kaki di rumah ini.
''Kamu suka dengan tataan ini, nak?!''.
Sementara yang di tanya hanya diam saja, raut wajah Eyang Putri langsung berubah menjadi sendu dan itu di sadari oleh Nando.
''Aku harus berbuat apa, Vii untuk mengembalikan senyum itu'', pikir nya keras.
Melihat perubahan wajah Eyang nya menjadi sedih tentunya menjadi beban tambahan bagi Nando. ''Tunggulah sebentar lagi, Eyang.. Aku akan berusaha buat Vio kembali'', ucap nya memegang bahu sang Eyang.
__ADS_1
''Aku antar Vio dulu ke kamar ya? Eyang istirahatlah. Nando janji dalam seminggu Vio akan kembali ceria lagi''.
Wajah Eyang langsung sumringah mendengar janji sang cucu nakal nya. ''Benarkah?'', ucap Eyang agak sedikit meragukan kemampuan tipu daya sang cucu.
''Eyang hanya tunggu saja hari itu akan tiba, sekarang Eyang kembali ya ke kamar jangan lupa vitamin nya di minum biar kuat'', ejek bercanda Nando dan di sambut jeweran telinga jurus sang Eyang.
''Ampun Eyang.....''.
''Kasihan itu Vio tungguin aku'', Eyang pun melepaskan jurus andalan nya.
Nando sedikit berlari memegang telinga nya yang terasa kebas. ''Sakit juga'', ujarnya seraya menarik tangan Vio agar berjalan beriringan dengan nya.
.
.
.
.
__ADS_1
_____