Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
Gagal


__ADS_3

Dan mengigit bibir Vio agar membuka mulutnya untuk Dan lebih leluasa mengabsen rongga mulut Vio, membelit lidahnya membuat ciuman itu semakin dalam.


Vio baru merasakan nikmatnya berciuman, hanya seperti ini saja sudah membuatnya terbang melambung merasakan nikmat dan sensasi yang luar biasa, Dan begitu lihai mempermainkannya. "sungguh ini benar-benar nikmat" batin Vio.


Ciuman itu terus berlanjut, tanpa memberi jeda si pemilik bernafas. Semua seakan sudah terbuai mengikuti naluri yang ada dan saling merasakan debaran jantung mereka. Dan semakin menjadi-jadi gerakannya semakin brutal, tangannya sudah mengabsen setiap lekukan tubuh Vio.


Dan melepaskan saat dia sudah kehabisan pasokan oksigen tidak terhitung lama, Dan memulai lagi dengan mendorong tubuh Vio kedinding balkon merapatkan tanpa memberi jeda antara mereka.


Vio mulai merasakan ada benda asing yang mengeras dibawah sana, tepat di depan area sensitinya. Vio menelan salivanya membayangkan benda itu memasukinya "apakah rasanya akan lebih nikmat?" tanya Vio dengan muka yang sudah mengharapkan akan mendapat lebih dari sekedar ciuman.


Dan menarik sudut bibirnya tersenyum samar menatap wajah landaknya yang sudah memerah menahan malu, "lucu sekali" ucapnya. Dan membelai rambut lalu mengarahkannya kebelakang punggung Vio.


"apa yang lucu, aku sedang tidak melucu Dan!" tangkas Vio.


"katakan sekarang?"


"apa" ucap Vio pura-pura melupakan perjanjian mereka. Vio masih bingung dengan apa yang dirasakannya.


"katakan atau....___" Vio langsung memotong ucapan Dan, karena Vio sudah mengetahui lanjutan dari kalimat yang akan Dan ucapkan.


"aku merasakan jantungku seperti ingin copot, lalu tubuhku seakan meminta lebih dari itu" ucap Vio jujur dengan apa yang dia rasa.


Kalimat itu sebuah kesenangan untuk si pria berhati dingin, ya dia berhasil membuat Vio merasakan perasaannya sendiri. Masih terlihat abu-abu untuk Dan menafsirkan lebih tapi ini tahap awal yang bagus agar si landaknya bisa ikut mencintai dia juga. Maka harus sering-sering berinteraksi secara fisik, membiasakan si tubuh mengenali si pawangnya, pikiran Dan sudah teralihkan. Dan lebih dikuasai perasaan bahagianya dibandingkan nafsunya.


Dan ingin mempercepat semuanya, semuanya harus jelas dulu sebelum menjadikan Vio milik Dan seutuhnya. "sepertinya cukup sampai disini dulu ya, kita harus memperjelas hubungan ini" ucapan Dan langsung membuat Vio lemas karena tidak berhasil merasakan lebih lagi.


Vio memasang muka kecewanya, Dan bisa menangkap perubahan mimik si wanitanya.


"kenapa? apa kamu kecewa... kamu ingin yang lebih dari ini" Dan menyentuh bibir Vio dengan jarinya.


"atau mau merasakan seperti ini" Dan menari Vio kedalam dekapannya, Vio mengelus dada Dan dengan gerakan sensual membuat Dan mendesak, landaknya sudah pintar bermain. Dan menangkap pergerakan tangan Vio, dia menggenggam erat tangan itu lalu menciumnya.


"jangan memancing ku lagi, Vi" lirih Dan.


Vio yang keras kepala tidak mendengarkan penuturan Dan, dia asik dengan permainan jarinya seperti anak kecil yang sedang menapaki bukit.


"Vi, cukup!" mata Dan kembali berkabut.


"bisakah kamu menghentikan ini, ini tidak lucu Vi. Ayo kita bicarakan dulu hubungan kita".

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Mereka duduk kembali dengan saling berhadapan, Dan menatap lekat Vio, matanya penuh harap agar Vio mau menerima dia untuk mengisi hatinya.


"Vi, ini saatnya untuk aku jujur dengan perasaan ku selama ini" Dan menjeda ucapannya untuk melihat ekspresi Vio, namun sayangnya Vio memasang ekspresi datar dengan sorot mata yang tidak bisa Dan ketahui.


"Vi, aku mencintaimu bukan hanya sekedar rasa sayang sebagai teman tapi rasaku lebih dari itu. Aku mencintaimu sebagai wanita dewasa, bisakah kamu menerimaku?"


"ayoo kita memulainya sebagai pasangan, pasangan yang semestinya sebagai suami istri. Kita publikasikan hubungan ini. Kita bisa membuat pesta pernikahan dan mengundang semua teman-teman agar mereka tau kalau kamu selama ini sudah sah menjadi istriku".


"aku tidak mau, kita akan mengalami sesuatu yang tidak kita harapkan atas pernikahan ini. Meskipun pernikahan kita dimulai dari sebuah keseharusan hanya untuk menjaga mu tapi tidak dengan hatiku, Vi. Kesepakatan yang kita buat bersama sebenarnya aku jadikan sebuah alasan agar kamu tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya".


"Vi, biarkan aku berada disisi mu selamanya. Aku berjanji akan menjagamu, mencintaimu, menyayangi mu lebih dari diriku sendiri. Kita akan lalui semuanya bersama, kita sembuhkan luka itu bersama hingga rasa sakitnya tidak dapat kamu rasakan kembali". ucap Dan yang begitu tulus membuat landaknya meneteskan air mata.


"jangan menangis, jangan menjadikan aku alasan untukmu menangis. Aku tidak akan sanggup untuk itu, aku hanya ingin melihat kamu tersenyum bahagia hidup bersamaku".


Vio langsung menghambur memeluk Dan erat, Vio sampai naik kembali ke atas pangkuan Dan. Lagi-lagi buat Dan menghela nafasnya, posisi ini sungguh bisa merusak semua.


"Vi, jangan begini posisinya. Aku tidak akan tahan untuk tidak menerkammu sekarang juga" ucap Dan lirih sambil menundukkan kepalanya.


Tapi beda hal dengan Vio yang begitu sangat menyukai duduk di atas kedua paha Dan.


"Vi ayoo turun kita belum selesai, kamu juga belum menjawab" pinta Dan sambil menurunkan landaknya.


"kita sudah selesai bicaranya, Dan!"


Dan menaikan sebelas alisnya, tanda dia tidak mengerti apa maksud Vio.

__ADS_1


"kenapa dengan wajahmu, hmm baiklah maksudku kita akan satu kamar seterusnya. Tugasmu adalah membantuku bereskan semua pakaian ku beserta barang-barang ku ke kamar ini, ayo cepat kita bebenah sekarang" Vio menari tangan Dan agar segera bangun dari duduknya.


"Vi, sebentar .. jadi maksud ucapanmu kita akan memulai hubungan ini, di mulai dari malam ini? kamu serius kan?" ucap Dan tidak percaya.


Vio langsung mencium bibir Dan sekilas, untuk menjawab pertanyaan Dan. Dengan cara itu sudah cukup bagi Vio, dia malas bersuara lagi.


Dan langsung menarik pinggang Vio lalu menggendongnya. Mendaratkan banyak kecupan di leher jenjang Vio, menyesapnya membuat Vio mendesah. "Dan, aku akan belajar mencintai mu sebagai suamiku" ucap Vio pelan sambil meremas rambut Dan, "ini... iniii aahh". Tubuh Vio merasakan hawa panas, sementara Dan masih asik menjelajah setiap titip sensitif Vio.


Tangan Dan mulai meremas dua gundukan yang sudah sejak dulu menggodanya, sekarang dia bebas menyentuh sesuka hatinya. Vio menikmati setiap sentuhan Dan, tiba-tiba pergerakan Dan terhenti. Dan menurunkan landaknya tepat disisi tempat tidur mereka sekarang.


"cukup segini dulu yaa, aku akan menjadikan milikku seutuhnya saat kamu sudah benar-benar mencintaiku, saat hati ini sudah ku penuhi" Dan menunjuk dada Vio dengan tangannya.


Vio memanyunkan bibirnya tanda dia tidak suka dengan keputusan Dan. Terasa nanggung ingin meloncat tapi ditarik kembali.


Dan tertawa terbahak-bahak melihat landaknya begitu menginginkan mereka melakukan lebih dari ini.


"nyicil dulu ya sayang, cup" Dan memberi kecupan singkat di dahi Vio.


.


.


.


.


.


______


Sekarang tidurlah, besok kita akan bereskan semua barang-barang mu. Ini sudah terlalu malam.


"mau tidur disampingku atau kamu kembali ke kamarmu?" tawar Dan.


Bukannya menjawab Vio malah berlari naik ke pinggul prianya lagi. "aawww, hati-hati. Apa kamu sudah tidak sabar sekarang" Dan mengacak-acak rambut Vio lalu merebahkannya disisi kanan tempat tidur mereka.


Ini seperti mimpi indah buat Dan, dia bahagia malam ini dan seterusnya bisa melihat Vio tertidur disampingnya.


🌼

__ADS_1


🌼


🌼


__ADS_2