Kegagalan Seorang Ibu

Kegagalan Seorang Ibu
#52


__ADS_3

Vio yang di buat terpaku akan apa yang dia saksikan barusan dengan mata kepala nya sendiri, seperti sebuah film yang berputar dari setiap kejadian-kejadian yang menjadikan nya seperti sekarang. Vio melemas, kedua kaki nya seakan tak mampu menopang bobot tubuhnya yang mungil membuat Vio duduk seraya tak ada tenaga untuk berjalan keluar meninggalkan semua yang menatap tajam ke arahnya.


Vio mengerti sekarang.


Setelah sesaat merasa tak berdaya, Vio berusaha mengembalikan kesadaran nya. Dia berlari sekencang mungkin untuk jauh dari tempat memuakan itu.


Dia membenci mama nya sekarang, tidak habis pikir dia mempunyai mama yang begitu keji terhadap hidup orang lain yang mama nya permainkan, termasuk juga dengan hidup anaknya sendiri. Vio tidak menyangka mama yang ia kenal lembut dan baik hati ternyata menyimpan kebusukan yang menyengatkan indra penciumannya. Vio ingin pulang, ia ingin memeluk suaminya saat ini.


Air mata menetes membasahi baju yang Dan kenakan, membuat ia menoleh melihat istrinya yang sudah berapa jam tak kunjung bangun. Tubuhnya sudah kram menahan berjam-jam tanpa pergerakan.


Dan mengguncang istrinya dengan lembut, namun sia-sia saja, Vio tetap diam seperti mayat. Dan di buat kelabakan dengan ini, rasa takutnya mulai memenuhi pikiran kalau sang istri pergi ke alam lain tanpa seizin nya. (eh gimana mau izin orang mendadak).


"Vii kamu dengar aku? Ikuti suara aku vii, aku akan menuntun kamu kembali sayang..." lirih Dan tak kuasa di buat takut sama landaknya.


"Terus jalan... Ikuti sumber suara yang kamu dengar ya, ingat hanya suara aku saja yang boleh kamu ikuti, kamu mengerti kan sayang!" Dan terus berbicara menuntun sang istri kembali ke tubuhnya.

__ADS_1


Vio yang mendengar suara suaminya, hanya patuh mengikuti suara itu tanpa memperdulikan suara-suara lain yang memanggil nya. Kini bukan waktunya ia meratapi kesedihan nya ia harus pulang kembali di dekapan orang yang tulus menjaganya.


Vio menyelusuri jalan yang semakin jelas sumber suara suaminya berasal, Vio memasuki ruang yang menyilaukan dan melewatinya.


Vio terbangun dengan teriakan akan rasa takutnya, Dan berusaha menenangkan sang istri. Dan begitu rela tubuhnya menjadi tempat ternyaman sang istri merebahkan diri, rasa pegal yang ia rasakan tadi seketika hilang begitu saja. Dan ikut menangis melihat sang istri sudah kembali di sisi nya dekapan erat itu menjadi penenang Vio, sampailah Vio membuka mata nya yang sudah sembab karena terus menangis.


Dan tidak menanyakan langsung apa yang terjadi, Dan memberi waktu sang istri untuk menstabilkan kondisinya.


"Sayang, bangun dulu yuk.. Aku ambilkan air untuk mengisi dahaga mu, kamu lelah kn sayang?'' ucap Dan sangat lembut di dengar Vio, Vio mengangguk mengiyakan ucapan sang suami.


"Engga nyaman", ucap nya singkat. Membuat Dan tersenyum, sempat-sempat nya istrinya membandingkan ia dengan ranjang.


"Iya nanti kamu bisa tidur lagi di atas aku sesuka mu, sayang... Sekarang minumlah dulu tenangkan diri kamu, nanti cerita sama aku ya?!''.


''Jangan pergi kemana pun", hanya itu jawaban Vio. Dan menatap lekat sang istri lalu memeluknya, dada bidang nya menjadi sandaran akan kegundahan yang jelas terpancar dari sorot teduh istrinya.

__ADS_1


.


.


.


.


🌸


🌸


🌸


🌸

__ADS_1


__ADS_2