
Dan terus melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan tersebut, dia tidak jadi mengikuti kelas hari ini moodnya sudah rusak karena ulah Sisil. Entah kenapa Dan akan menjadi begitu sensitif jika menyangkut landak kecilnya.
Dan keluar gedung kampus dengan amarah yang dibawanya, banyak para mahasiswi menatap heran kearah pria dingin dengan wajah tampan itu. "Dan, kenapa si tampan terlihat sangat murka wajahnya jadi menakutkan tapi tetap tampan, ahh rasanya aku ingin memilikinya" ucap salah satu mahasiswi.
Dan menuju tempat parkir, dimana si landak kecilnya berada. Dan langsung memencet tombol di kunci mobilnya, terdengarlah bunyi menandakan mobil itu sudah tidak terkunci lagi.
Dan melihat wanita cantiknya dengan air mata yang masih menetes. "kamu kenapa, Vi?" ujarnya.
"kenapa meninggalkan aku sendiri disini, kamu jahat Dan, aku pun tidak bisa keluar karena kamu kunci mobilnya" ucap Vio yang masih saja menangis sambil memeluk Dan erat.
"jangan tinggalkan aku seperti ini lagi, aku engga suka sendirian" lanjutnya.
"iya iya, sudah jangan nangis lagi, maafin aku yaa" Dan membalas pelukan hangat Vio. Mengusap punggung wanitanya.
"kamu kemana aja, kenapa tidak bangunkan aku?" cecar Vio.
"aku tadi ada kelas, aku sudah menunggu kamu bangun sampai satu jam lamanya tapi kamu masih betah menutup mata jadi aku tinggal saja" Dan menyengir kuda, tangannya diangkat membentuk tanda piis ✌️.
"lalu kenapa udah selesai aja, apa dosennya tidak ada?"
Muka Dan langsung berubah seketika, Vio menyadari perubahan mimik wajah Dan.
"wajahmu kenapa jadi jelek begitu, kasihan sekali sudah tampan tapi dibuat jelek nanti tuhan marah sama kamu loh, karena tidak menjaganya" tawa pecah Vio membuat si punya muka langsung menatap sinis.
"sudahlah kita pulang saja".
"tidak mau, kamu harus cerita dulu ada apa? apa aku melewatkan kejadian seru hari ini?"
Vio mengusap wajah tampan itu, lalu menarik sisi kanan dan kiri membentuk sebuah senyum meski dipaksakan. "nah begini lebih baik, aku tidak suka melihat wajah jelekmu" ucap Vio.
"cepat katakan ada apa?" paksa Vio.
"tidak ada apa-apa Vi" jawab Dan.
__ADS_1
"baiklah kalau kamu tidak mau jujur, aku juga tidak akan jujur lagi jika terjadi apa-apa"
Dan menghela nafas dalam lalu menghembusnya dengan kasar. Dan sebenarnya tidak mau Vio sampai tau kejadian tadi, dia tidak mau melukai hati Vio meski semua ucapan Sisil tidak akan pernah terjadi.
"iya, aku cerita. Tadi Sisil seperti biasa selalu mengoceh karena aku tidak meresponnya dia bicara ingin menyingkirkan mu dari hidupku agar dia bisa menggantikan posisimu di samping ku, aku tidak menyukai perkataanya sampai aku mendorongnya kasar ke pojok ruangan dan mengacamnya, sudah hanya itu saja" ungkap Dan.
"apa yang kamu katakan?" Vio masih penasaran saja, dia tidak puas dengan cerita Dan seperti ada yang di tutupi.
"kalau sampai terjadi apa-apa dengan mu atau dia mencoba menjelekan mu lagi dengan mulut kotornya, hmm aku hanya bilang bahwa aku tidak akan segan merobek mulutnya itu" ucap Dan jujur.
"oh tuhan kenapa temanku sekejam ini dengan perempuan, kasihan dia Dan. Kenapa kamu menyakitinya seperti itu"
"aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu Vi" tegas Dan.
Vio lagi lagi di buat terkejut dengan sikap teman baiknya itu, kenapa kasar sekali. Vio sejujurnya senang dengan perhatian Dan yang menurutnya melebihi mama Meri, sikapnya yang over protektif terhadap Vio membuat Vio merasakan sesuatu dalam hatinya. Vio takut rasa itu akan terus muncul dan tumbuh tanpa kendalinya.
________
Sementara ditempat berbeda. Sisil masih terpukul atas apa yang telah dikatakan Dan padanya, dia tidak habis pikir apa kelebihan Vio sampai membuat Dan begitu sangat menjaganya. Mungkin jika seekor semut mengigit pasti akan dapat makian dari si pria berhati dingin.
Sisil mencoba melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut. Dia tidak bisa lagi mengikuti kelas hari ini, hatinya sudah berantakan pikirannya sudah tak menentu, matanya sudah menahan bendungan air yang sebentar lagi akan keluar derasnya.
Rasa sesak yang menyelimuti dadanya begitu menyiksa. Sisil ingin cepat-cepat sampai kerumahnya, dia ingin teriak sejadi-jadinya untuk meluapkan rasa kecewa yang telah di torehkan sang pujaan hati.
"pak, kita pulang sekarang" ucap sendu Sisil sama supir pribadinya.
"baik non" jawab supirnya.
Sang supir menatap kaca spion yang di depannya untuk melihat nona mudanya yang sudah dipastikan suasana hatinya sedang tidak baik. Sang supir ingin menanyakan lebih pun di urungkan, karena takut terkena amukan nona mudanya.
Sisil berasal dari keluarga berada, menjadi anak satu-satunya di keluarga membuat sifatnya begitu sangat arogan dan manja. Sering kali semua pelayan dirumahnya mendapatkan amarahnya jika tidak menuruti semua keinginan nona mudanya, belum lagi mendapatkan hukuman atau pemecatan sepihak.
Kendaraan itu melaju menelusuri perkotaan, Sisil masih termenung menghadap jendela mobil, pikirannya sudah entah dimana.
__ADS_1
Sampailah mereka kerumah megah bercat abu-abu tersebut. "non Sisil, kita sudah sampai" ujar sang supir.
"iya" Sisil pun turun dari mobilnya. Langsung berjalan memasukin rumah megah itu. Sambutan langsung didapatkannya. Semua menunduk hormat kepada anak majikannya. Sudah menjadi peraturan dirumah itu, segala kedisplinan, ketaatan, kesetiaan, dan penghormatan harus dimiliki setiap pekerja yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk mereka.
Imbalan yang didapatkan pun setimpal dengan segala peraturan yang ada.
"aku lelah, aku tidak mau di ganggu siapapun kecuali itu memang penting. Apa kalian paham?" ucapannya terhadap semua pelayan rumah.
"paham non" jawab serentak para pelayan yang masih menunduk pandanganya. Sebagai rasa hormat.
"bagus" ucap Sisil lagi.
"satu lagi, aku tidak mau makan, jadi jangan mengingat aku makan sampai aku yang memintanya sendiri. Saat ini aku sudah kenyang dengan kata-kata seseorang" lirih Sisil.
Para pelayan saling pandang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan sang majikan.
Sisil mulai melangkah lagi setelah menyampaikan pesannya. Dia mulai menaiki anak tangga, ingin segera sampai dan merebahkan tubuhnya yang sudah tidak bisa lagi menopang keseimbangan.
"ahhh akhirnya sampai juga ke tempat ternyaman untuk saat ini"
Dia memegang dadanya yang sejak tadi terasa sesak, semua perkataan Dan terngiang-ngiang kembali dalam otaknya. Sisil menatap langit kamarnya, silauan lampu membuatnya langsung menutup mata hingga tanpa aba-aba Sisil sudah pergi ke alam mimpi membawa rasa sakit hatinya.
Malam sudah menampakkan dirinya, tapi si punya kamar tetap terjaga dalam tidur. Semua pelayan ingin mencoba membangunkan nona mudanya cuma rasa takut lebih memenuhi pikiran mereka. Mereka takut jika melewati garis batas yang sudah diterapkan sama pemilik wajah cantik itu.
Rasa cemas menerpa para pelayan karena nona mudanya sudah 2x melewati jam makan, mereka takut tuan besar marah jika anak kesayangannya nanti sampai jatuh sakit. "bagaimana kamu saja yang mengetuk pintu nona Sisil, dia tidak boleh sama telat makan nanti maagnya akan kambuh dan ini malah sudah sangat terlambat dari waktu yang seharusnya" ucap salah satu pelayan.
Semua masih saling pandang, terlalu sulit sepertinya. Tidak ada pilihan yang menguntungkan mereka jika hanya sebagai pesuruh yang siap kapan saja melayani majikannya.
🌼
🌼
🌼
__ADS_1