
Semua berlalu begitu saja, seakan-akan tidak pernah terjadi apa pun. Vio memilih untuk melupakan semuanya. "hari ini semakin terasa indah, aku udah tumbuh semakin cantik" ucap Vio yang sedang melihat dirinya di depan cermin, sungguh tingkat kepercayaan dirinya meningkat drastis. Dia menatap sambil mempercantik riasan wajahnya, yaa saat ini Vio sudah beranjak menjadi wanita dewasa.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga sekarang yang ada adalah Vio yang tumbuh menjadi wanita yang disukai banyak orang. Vio sudah lulus sekolah akhir beberapa tahun lalu, semenjak kejadian itu Vio fokus dengan semua kegiatan yang membuatnya sibuk agar melupakan trauma pada dirinya. Dan selalu menemaninya sampai mereka lulus sekolahpun Dan masih saja mengekor kemana pun Vio pergi, seperti saat ini Dan sudah siap mengantar Vio. Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari harus menjemput sekaligus mengantarkan kembali landak kecilnya ke apartemen dengan selamat tanpa lecet sedikitpun.
"Vio cepat sedikit, atau kita akan telat ke kampus" teriak Dan.
"kenapa wanita begitu merepotkan diri sendiri, berdandan berjam-jam, apa mereka tidak lelah dengan kedua tangannya yang selalu di gerakan" pikir Dan membayangkan betapa repotnya menjadi wanita harus selalu tampil sempurna.
Dan berjalan menuju pintu lift, dia akan menunggu Vio selesai di dalam mobil saja, pikirnya akan lebih menghemat waktu dan membuat Vio mau tak mau akan turun menyusulnya.
Vio pun menyudahi acara hias menghias wajah karena sang pria sudah menunggunya dengan tidak sabar. Vio membuka pintu kendaraan itu dengan muka ditekuk.
"iya iyaaa kamu bawel sekali, kenapa engga berubah dari dulu. Masih aja suka mengoceh".
"masuk" jawab dingin Dan.
"huuuhh pria satu ini, kalau bukan temen kecil ku sudah aku pecat dia" gumam Vio pelan namun masih terdengar jelas oleh Dan. Tapi Dan tidak lagi menanggapi, Dan hanya tersenyum tipis nyaris tidak terlihat oleh Vio.
Mereka sudah melalui banyak hal untuk bisa sampai ke titik ini. Dimana mereka berbagi suka dan duka bersama, melewati masa-masa sulit untuk menyembuhkan trauma yang dialami Vio bertahun-tahun. Dan menepati janjinya, dia selalu ada untuk Vio kejadian itu tidak pernah terulang lagi sampai saat ini.
.
.
.
.
.
.
"Hari ini, kamu ada mata kuliah berapa?"
"tidak ada" jawab singkat Vio.
"terus kalau tidak ada kenapa masuk kuliah". Dan tiba-tiba mengerem mendadak, membuat Vio terbentuk dasboard mobil. Dan menatap tajam wanita disampingnya yang sudah dari pagi sibuk menghubunginya hanya untuk memintanya anter ke kampus, namun kenyataannya tidak ada jadwal apa-apa hari ini. Sungguh Dan dibuat gemas sendiri oleh tingkah usil landaknya.
"duh sakit Dan, hhiiizzkk". jurus tangis Vio keluar untuk menghindari amarah pria dingin di sampingnya, Vio harus berakting agar meredam amarah Dan.
"aahh maaf, aku tidak sengaja, mana yang sakit sini aku liat" jawab Dan khawatir. Jelas saja khawatir Dan mana rela landaknya mendapatkan luka.
Dan terus menatap wajah Vio memastikan ada luka atau tidak, wajah Vio di gerakan kekanan kekiri berulang-ulang mencari luka ternyata tidak ditemukannya. Hanya memar sedikit dibagian kening Vio.
"sekalian lagi maafkan aku ya" ucap Dan.
"iya, tapi jangan marah ya, janji?" tawar Vio.
"ok" dengan senyum manis Dan, wah wah wah Vio dibuat terpanah melihatnya. Sudah lama bahkan jarang banget Dan tersenyum semanis itu. "indahnya ciptaan tuhan" lolos sudah ucapan polos Vio tanpa filter.
__ADS_1
"eehhh cukup lihat wajahku seperti itu, jangan kelamaan nanti kamu naksir" Dan langsung menunjuk dahi Vio untuk mundur dari hadapannya, yaa saat ini jarak mereka begitu dekat sampai hembusan nafas Dan bisa dirasakan oleh Vio.
"oohh tuhan hati ini sepertinya sudah tidak aman" ucap Vio pelan yang masih menatap Dan tanpa berniat menyudahinya.
Dan dibuat gemas. "landakku sudah mulai nakal" ucap Dan dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
__________
Mereka melanjutkan perjalanan menuju kampus, selama itu juga Dan tidak menoleh sedikitpun ke arah Vio. Dan mengendarai mobil dengan tenang tidak ada suara-suara bising knalpot lagi, ternyata landaknya tertidur pulas.
"bisa, bisanya dia menyempatkan diri untuk pergi ke alam mimpi" Dan tidak habis pikir.
"Vi, bangun kita sudah sampai" ucap Dan mengusap lembut rambut Vio.
"hmmm" hanya deheman yang di berikan Vio.
"wahh, kalau saja aku diizinkan berteman dengan yang lain. Aku pastikan, aku tidak akan mengalami hal seperti ini".
Yaa Dan tidak diizinkan mendekati siapapun atau ada yang mendekati pria nya, Vio punya sejuta cara untuk membuat si wanita-wanita itu menjadi ilfil oleh ke aslian Dan. Vio tidak rela temannya mempunyai teman dekat apalagi kekasih, Vio tidak mau seluruh perhatian Dan terhadapnya berkurang sedikitpun. Egois memang cuma Vio yang tau persis tentang hatinya.
.
.
.
.
.
Lama menunggu Vio bangun, Dan mulai merasa bosan. Dan keluar dari kendaraannya dan tak lupa mengunci pintu mobil, sedikit membuka jendela untuk udara masuk kedalam.
"Vi aku tinggal sebentar yaa, aku ada kelas hari ini menunggu mu terbangun terlalu lama nanti aku akan cepat kembali hanya 2jam saja, ok" Dan mengusap kepala Vio dengan lembut.
"Dan.." sapa seorang wanita.
__ADS_1
Dan menoleh kebelakang tanpa menjawab sapaan wanita itu, Dan melanjutkan langkah kakinya.
"hey, tunggu" tidak dihiraukan oleh Dan membuatnya harus mengejar si pria dingin itu, ya tidak ada yang bisa mendekatinya selain wanita yang bernama Vio itu, wanita itu sampai membenci Vio karena terlalu dekat dengan Dan.
"kenapa masih jalan terus aku kan memanggil mu?" hardik marah si wanita itu.
Dan tetap tidak menjawabnya, hanya sebuah lirikan tajam yang keluar dari sorot matanya.
"Dan tumben tidak bersama dengan ulet keket, apa dia sudah bosan mengikuti kamu terus? kalau iya aku siap menggantikannya, bagaimana? lihatlah aku jauh lebih menarik dari Vio mu itu" ucap penuh percaya diri si wanita itu, ya wanita itu teman seangkatan dengan Dan maupun Vio.
Dia sudah menyukai Dan sejak lama tapi perasaannya tidak terbalas sama sekali. Dia sampai rela mengubah jurusan yang disukainya hanya untuk satu jurusan dengan Dan, namun Vio memilih beda jurusan karena untuk kali ini tujuan Vio berbeda dengan Dan. sudah berbagi cara dia mendekati Dan tapi tidak berhasil sedikitpun.
Yaa wanita yang menyukai Dan itu bernama Sisil, Sisil adalah gadis yang manja, cantik dari keluarga yang terbilang kaya. Semua yang di inginkan Sisil selalu didapatkannya tapi tidak dengan ini, cintanya tak bisa menembus hati pria dingin itu.
"Dan apa kamu tidak bisa bicara kalau tidak dengan si ulet keket?" ujar Sisil.
Lagi-lagi Dan hanya melirik sinis.
"apa aku harus menyingkirkan ulet keket mu dulu, baru kau mau bicara dengan ku, hah?!" ucap Sisil frustrasi karena tidak mendapat respon sama sekali.
Tiba-tiba Dan menghentikan langkahnya, berbalik lalu mendorong Sisil tepat di pojok ruangan, yaa mereka sudah sampai di dalam kelas. Lamanya mendengar Sisil mengoceh tanpa terasa mereka sudah sampai dikelas. Sorot mata Dan menajam menatap wanita yang dari tadi mengganggunya.
"Dengar baik-baik, kau begitu ingin mendengar suaraku bukan? jadi dengarkan aku tidak akan mengulangi ucapan ku" jelas Dan.
Sisil dibuat tersenyum senang akhirnya bisa mendengar suara itu, suara yang tidak sekalipun bisa memenuhi pendengaran nya. Suara itu terdengar menggoda bagi Sisil tanpa kesadaran penuh dia mengangguk setuju atas pernyataan Dan.
"bagus" ucap Dan kembali. Dan mengebrak meja disana tetap sorot matanya tidak teralihkan menatap jijik wanita itu.
"aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk kau menyentuh Vio sedikitpun sampai itu terjadi kau akan tau akibatnya sudah mengganggu wanitaku" ucap Dan dengan rahang mengeras menunjukkan begitu sangat marahnya dia.
"satu lagi, jaga mulut kotormu, Vio terlalu berharga untukku. Dia tidak sepadan dengan penilaian murahanmu sampai aku mendengar sekali lagi kau menjelekan Vio aku tidak akan segan merobek mulutmu dengan tanganku sendiri, paham!".
Seketika sekujur tubuh Sisil gemetar ketakutan, untuk pertama mendengar suara pujaan hatinya tapi sudah membuatnya marah yang begitu menyeramkan, tidak sedikitpun Sisil berpikir akan mendapatkan perlakuan kasar ini, dia berpikir bahwa Dan adalah pria dingin saja namun saat ini, pria itu bisa berubah begitu murka terhadapnya tidak ada sorot mata yang damai, yang biasa dia lihat ketika Dan menatap Vio. Mata indah itu tidak ada, senyuman manis menawan itu juga hilang.
.
.
.
.
.
.
.
Sisil menatap gamang, matanya lurus melihat punggung pujaannya yang makin menjauh berlalu begitu saja.
__ADS_1